Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 42. Ketularan


__ADS_3

Sungguh kontras dengan hari-hari sebelumnya, suasana hati Brill langsung berubah cemerlang berbintang-bintang sejak bertemu Rilly. Hari-hari ini di cuaca selalu mendung dan langit selalu tampak berwarna abu-abu tapi wajah Brill sangat cerah. Sikap coolnya tetap nampak sebagai ciri kepribadiannya, tapi gestur tubuhnya lebih dinamis. Sesekali akan muncul senyum kecil di sudut bibirnya, jika pun tidak tersenyum wajahnya lebih kalem.


Dan Brill punya kegiatan baru, suka sekali menyeberang ke gedung depan, pada waktu tertentu. Kadang menghabiskan waktu jedah sebelum masuk MK yang lain dengan nongkrong di sana. Tentu saja itu karena Rilly. Dan sesuatu yang beda terjadi padanya saat bersama Rilly.


Di tempat Brill dan Rilly berdiri setengah jam ini, Rilly melihat sebagian temannya sudah mulai masuk ke ruang kuliah.


“Rilly udah mau masuk Brill…”


“Berapa menit lagi?”


Rilly melihat jam yang melingkar di tangannya.


“Lima belas menit lagi sih…”


“Masih lama, kamu masuk pas jamnya ya?”


“Hah? Biasaya Rilly setengah jam sebelumnya udah di dalam ruangan…”


“Pokoknya selagi ada aku, kamu masuk pas jamnya, oke? Aku masih belum mau kamu ke dalam…”


“Kenapa? Brill ada perlu sesuatu? Kenapa gak ngomong dari tadi?”


“Gak ada, hanya pengen lihat Rilly aja…”


“Haha… Brill lucu deh, sejak tadi udah liatin Rilly terus kan…”


Brill mengaruk belakang kepalanya, kadang Rilly mengatakan sesuatu begitu terus terang.


“Eh... Itu gak cukup Ril, pengennya lama-lama…”


Akhirnya Brill ikutan berterus terang.


“Eh?? Brill gak boleh lama-lama mandangin Rilly, bahaya loh…”


“Kenapa?”


“Entar jahitan di bibir Rilly lepas… hahaha…”


“Kamu ihh…”


Sesuatu yang baru sekarang dirasakan Brill, rasa geram dibecandain tapi kok menyenangkan. Hal yang sangat remeh tapi kok jadi menginginkan ada hal lain lagi dari tingkah Rilly untuknya.


Menyalurkan rasa di hati yang entah apa judulnya, Brill memegang telinga Rilly, kesannya ingin menjewer tapi sebenarnya hanya ingin menyentuh bagian dari Rilly saja. Brill menggoyang-goyangkan dan Rilly menyambut dengan jenaka mengikuti arah tangan Brill…


“Entar telinga Rilly lepas juga loh, lama-lama digituin…”


“Kamu ihh…”


“Hahaha…”


Lagi-lagi Brill merasakan kegeraman indah di hatinya, dan ini mendorong keinginan hati untuk berbuat lebih banyak. Brill mencubit cuping hidung Rilly. Saat memandang wajah Rilly yang tertawa, Brill akhirnya ikut tertawa dengan suara pelan, rasanya hepi berlama-lama bersama RIlly.


“Brill…”


“Kenapa? Hidungnya mau lepas juga? Mau ngomong itu kan?”


Brill sedikit mendekatkan wajahnya dan belum melepaskan tangannya di hidung Rilly.


“Kok tahu?”


“Ihh…”


“Hahaha… lepasin Brill…”


“Gak…”


Brill tambah mengeratkan dua jarinya.


“Sakit…”


Brill segera melapas cubitannya lalu ganti mengusap hidung yang memerah.

__ADS_1


“Hah? Sorry… beneran sakit?”


“Eh… udah, gak papa kok…”


Rilly menghindar dari sentuhan tangan Brill.


“Sorry ya…”


“Eh beneran gak papa, tadi kena kuku aja. Kuku Brill perlu digunting tuh, udah panjang-panjang…”


“Ah iya… bentar aku suruh tante Rina.”


“Tante siapa?”


“Itu… tante yang ngurus aku, istrinya om Markus… ingat kan om Markus?”


“Iya… iya, Rilly ingat… salam aja buat si om ya…”


“Kapan-kapan aku ajak ke rumah ya? Biar kamu bisa ketemu om Markus…”


“Om udah gak temenin Brill ke mana-mana ya?”


“Iya… sejak kuliah setahun ini udah gak pernah lagi…”


“Oh gitu… ya udah… Rilly mau masuk sekarang, udah telat…”


“Aku tungguin ya… aku anterin pulang nanti…”


“Gak usah Brill, Rilly pulang bareng Tere aja…”


“Gak, bareng aku.”


“Lama loh kuliah kali ini… Brill pulang aja ya?”


“Gak… aku tungguin biar lama."


“Eh??”


“Iya… sana masuk.”


Tapi tingkah mereka berdua yang terlihat semakin blended membuat teman-teman mahasiswa mulai menduga-duga bahwa ada sesuatu dengan mahasiswa beda fakultas ini.


.


🐋


.


“Brill mana?”


Tory yang selalu keluar paling belakang karena tanggung jawabnya bertanya pada Pascal.


“Di mana lagi? Tuh…”


Dengan dagunya dia menunjuk gedung yang berjarak kira-kira delapan sampai sepuluh meter dari mereka.


Brill terlihat sedang berdiri berhadapan dengan Rilly, satu tangannya ada di saku celananya dan satunya lagi dari sini terlihat seperti memegang tiang selasar di atas kepala Rilly, Rilly sendiri sedang bersandar pada tiang selasar bangunan itu. Entah apa yang dipercakapkan, tapi terlihat begitu intens dan tertawa-tawa.


“Keren kan dia saat ngejar cewek, semangat dan berani sekali… cuek aja ngobrol padahal diperhatiin banyak orang kayak gitu… tiap hari loh dia ke sana sekarang…”


Beno berkata sambil tetus memandangi aktivitas Brill.


“Udah lupain Holly kayaknya…”


Tory memberi penilaiannya.


“Iya tuh… udah hepi kan… keliatan auranya beda sekarang.”


“Apa udah jadian mereka ya?”


“Mungkin? Brill gak ngomong apa-apa.”

__ADS_1


Pascal dan Beno bersahut-sahutan.


“Tapi, jujur aku gak ngerti kriteria Brill memilih pacarnya jika mereka udah jadian… Holly sama Rilly itu dua tipe yang berbeda kan…”


“Ya… selera dia… pilihan dia… terserah dia…”


“Eh si Holly gak masuk kuliah beberapa hari ini loh… aku nanya ke Faith dan Joy mereka gak tahu, hpnya gak bisa dihubungin. Katanya gak ada di tempat kost…”


Kali ini Tory si ketua kelas yang bicara, dia yang bertanggung jawab untuk absen makanya jadi memperhatikan Holly.


“Eh iya, baru sadar gak pernah lihat dia lagi. Masih liburan kali…”


“Eh… soal liburan, aku denger kita gak akan kuliah mulai minggu depan…”


“Maksudnya?”


“Katanya kuliah nanti secara online,” jelas Tory.


“Eh kenapa? Karena wabah ini ya? Bukannya hanya di Jakarta sana?”


“Sudah ada di sini… makanya update info.”


Percakapan terhenti saat Brill datang.


“Kenapa belum pada masuk?”


“Lima belas menit lagi, boss. Kirain kamu mau bolos lagi,” Tory menjawab.


“Gak dong, masa bolos sih…”


“Ya kali aja mau tungguin pacarnya… udah jadi pacar kan?”


“Eh?? Beloomm…”


“Hah?? Udah mesra kayak gitu, udah setiap hari dua-duaan masa belum boss? Apa gak ada tujuan itu? Temenan doang? Masih ngotot mau ngejar Holly gitu?”


“Ehh gak kok… tapi, kenapa Holly gak kelihatan ya?”


“Eit… jangan omongin Holly, entar kamu balik galau lagi… udah bagus sama Rilly gak usah liatin milik orang lagi…”


Brill melempar tersenyum tipis yang jadi andalannya menanggapi kalimat Tory.


“Boss… kenapa belum nembak Rilly?”


Tory penasaran, kenapa ketika dengan Holly Brill secara gamblang segera menyatakan rasa sukanya padahal terus-menerus ditolak, kenapa dengan Rilly malah jadi sesantai ini.


“Aku gak tahu, gak kepikiran aja…”


“Gak suka ternyata ya?”


“Bukaaan… gak tahu… kenapa gitu ya?”


“Lah? Kamu yang jalanin kenapa nanya ke kita? Emang gak ada rasa ya? Udah barengan terus, kelihatan hepi banget juga…”


“Itu… mungkin aku keasyikan menikmati kedekatan kami, aku sama dia nyambung aja pas ngobrol, ya dia asyik aja diajak ngobrol macem-macem… mungkin itu kali ya…”


“Awas loh… entar ditikung orang lain… secara aku lihat dia itu primadona kayaknya di kelasnya…”


“Gak lah… emang berani saingan sama anak walikota…”


“Alaaa sombong sekarang ya… bawa-bawa nama bapaknya pula…”


“Hehehe becanda…”


“Hah? Kamu bisa becanda sekarang?”


“Hehe… ketularan si Rilly…”


.


.

__ADS_1


Hi... Yg ringan2 aja ya di sini... nulis 2 judul suka bingung alur, hehe... harap maklum kemampuan Aby ya... Makasih dukungannya.


.


__ADS_2