
Sesuatu yang menarik, seseorang bisa membuat cucunya begitu emosi, dan itu adalah seorang gadis. Jika cucunya jadi sedih dan marah tetapi sesaat setelah membahas gadis itu suasana hatinya dengan cepat berubah berarti memang ada sesuatu di hati cucunya untuk gadis itu, dia pasti sedang tertarik dengan gadis itu walaupun fisik gadis itu boleh dikata tidak menarik.
"Oma..."
Senyum oma Susan makin lebar. Gadis ini penting ternyata, raut wajahnya berganti sekarang, begitu antusias dan bersemangat.
"Apa oma?"
Brill tak sabar menanti jawaban oma yang masih tersenyum padanya.
"Test masuk perguruan tinggi kapan? Kita pergi setelah kamu mengikuti test masuk..."
"Ahh... aku gak mau kuliah..."
Brill menjawab dengan kesal.
Oma sama aja dengan mami.
"Brill... Memangnya setelah ini apa yang mau kamu lakukan kalau tidak ingin kuliah?"
"Gak ada."
Brill memalingkan muka dari tatapan oma.
"Gak ada rencana ya?"
"Gak."
Jawaban Brill semakin pendek. Oma Susan bersabar, dia paham Brill telah bertumbuh dewasa dengan kecenderungan sikap Brill yang seperti ini, bersikap masa bodoh dan naif. Dari cerita Markus Brill cenderung memadamkan keinginan untuk belajar, tak peduli dengan pendidikannya, tidak heran tidak ada keinginan untuk melanjutkan sekolah.
"Jadi... apa yang kamu lakukan di rumah kalau tidak mau lanjut belajar..."
Brill mengangkat bahu.
"Okey... oma senang saja kamu di sini dengan oma setiap hari... tapi... oma sudah tua, entah berapa lama lagi umur oma, jika saat itu datang, saat oma sudah tidak ada lagi bersamamu, sebelum itu oma sebenarnya ingin melihat kamu hidup bahagia, menikmati hidupmu sendiri... tidak terus-terusan mengurung diri di studio ini... punya kehidupan yang baik..."
Brill memandang oma Susan dengan memincingkan mata tapi enggan menanggapi kalimat panjang oma Susan.
"Oma akan menyesal seumur hidup kalau kamu tidak mencapai sesuatu untuk dirimu sendiri... Kamu pasti punya mimpi Brill, mau jadi apa nanti... mungkin masih tersimpan dalam hati, tapi kamu harus cari tahu apa yang paling kamu inginkan... itu saja cukup untuk mulai..."
Brill menyandarkan lagi kepalanya ke sandaran sofa, merenungkan kalimat oma Susan, matanya menerawang, dia menggali pikirannya sendiri, apa pernah dia punya keinginan untuk hidupnya? Oma Susan telah melihat potensi terpendam dalam dirinya sehingga dia bisa bermain musik dan bernyanyi. Apa dia punya minat untuk memperdalam kemampuannya bermusik? Atau memperdalam kemampuannya bernyanyi?
__ADS_1
Dia ragu apa dia harus belajar lagi, sejak dia mendapatkan quitar pertamanya, dia telah mengikuti semua kursus alat musik yang dia sukai, tapi rasanya dia tak punya dorongan lagi untuk menambah kemampuannya atau melakukan sesuatu di bidang ini.
Dia punya masalah untuk mendefinisikan impian apa yang dia punya, dan dia pun mulai mencerna konsep yang oma Susan jelaskan, suatu saat dia harus hidup sendiri, dengan kemampuan sendiri, tapi dia harus mulai dari mana? Dia terbiasa bertahun-tahun tak memikirkan masa depan harus seperti apa.
"Aku harus apa oma?"
"Lakukan apa yang kamu inginkan..."
"Gak ada yang ingin aku lakukan... aku hanya ingin ke Jakarta... sekarang."
Oma Susan kembali tersenyum, pengaruh gadis itu luar biasa.
"Itu bisa kamu lakukan berkali-kali sesukamu... sendiri pun tidak harus oma temani pasti bisa..."
"Mana bisa... gak mungkin mami ijinkan... mami diktator atau apa, aneh... dengan masyarakatnya dia suka sarapan bersama sambil menerima masukan mereka, sama aku... aku harus mengikuti semua keinginannya."
Brill mengeluh dengan wajah mengeras dengan suara memendam marah, suara seorang anak yang terkungkung tapi tidak punya kemampuan untuk melepaskan diri mendapatkan hak mewujudkan keinginannya sendiri tapi tidak bisa bersuara apalagi berontak.
"Iya... oma juga tidak habis pikir dengan cara-cara mamimu sekarang, jauh dari apa yang oma ajarkan dan teladankan... Tapi... oma ingin menceritakan kamu satu hal penting..."
Brill hanya mengerling sebentar, oma Susan meneruskan menuturkan cerita tentang hidupnya dengan perlahan, tak ingin menekan Brill, hanya membagi pengalaman saja, siapa tahu cucunya bisa terbuka pikirannya.
"Papa dari oma sangat keras dan disiplin. Di jaman oma orang tua memukul anaknya dengan rotan itu biasa, kebetulan oma paling aktif di antara kakak adik, jadi oma suka sekali ikut organisasi sana sini, akibatnya suka pulang larut malam dan sering melalaikan tugas oma di rumah... papa dan mama tidak punya ART dan anak-anak punya kewajiban mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Oma paling sering kena rotan, dipukul sampai kulit biru membengkak, dihukum berdiri berjam-jam, dihukum mengerjakan semua pekerjaan di rumah... oma pernah dipukul di depan teman-teman oma, malu sekali waktu itu... oma merasa bahwa papa itu orang tua yang kejam dan tidak punya rasa sayang sama oma..."
"Oma lari dari rumah... tidak mau sekolah lagi, akhirnya oma ke Manado... untuk hidup oma terpaksa kerja, karena tidak ada ijazah SMA oma tidak bisa melamar di kantor-kantor, jadinya oma kerja jadi penjaga toko sepatu, pernah jadi penjaga toko kain, karyawan restoran. Sampai akhirnya papa meninggal, oma pulang dan menyesal hanya bisa mendengar pesan papa, bahwa papa hanya ingin mendidik oma supaya jadi anak yang mengerti kehidupan. Kakak dan adik oma... mereka bisa mendapat pekerjaan yang baik dan oma menyesal karena tidak menyelesaikan sekolah, lebih menyesal lagi karena tidak dengar-dengaran sama papa..."
Tangan oma kembali mengusap rambut gondrong cucunya di bagian puncak kepala.
"Sekejam-kejamnya orang tua... tidak ada orang tua yang akan memberikan batu padahal anaknya minta roti, atau memberi ular padahal dia minta ikan..."
"Maksud oma?"
"Siapapun orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, meskipun mereka tidak bisa mengetahui dengan benar keinginan anak tapi mereka pasti tidak akan menjerumuskan anak pada hal yang salah... papi dan mamimu teralih dengan semua urusan mereka, tapi mereka tetap menginginkan kamu memiliki kehidupan yang baik nantinya..."
"Jadi aku harus ikutin kemauan mami lagi?"
"Kalau kamu gak punya keinginan sendiri, mengapa tidak mencoba? Berkat anak di masa depan tergantung juga pada sikap anak yang menghormati orang tua... oma setelah kepergian papa, berusaha menebus kesalahan oma dengan menghormati mama... dan menurut oma itu berdampak pada hidup oma yang sekarang... oma bisa hidup berkelimpahan, mendapat almarhum suami yang luar biasa, anak-anak yang luar biasa... dan cucu-cucu yang luar biasa... termasuk kamu..."
"Aku belum jadi apa-apa oma..."
"Tapi mau menjadi sesuatu kan? Demi hidupmu saja... bukan demi oma atau mami papimu..."
__ADS_1
Brill teringat sepotong percakapannya dengan Rilly...
¤ flashback ¤
"Kamu pernah punya keinginan untuk kuliah?"
"Udah gak bisa kan..."
"Tapi apa punya keinginan itu?"
"Pernah sih, tapi Rilly takut berharap..."
"Kenapa?"
"Karena keadaan Rilly gak memungkinkan, Rilly gak punya kesempatan. Brill punya... harusnya Brill kuliah..."
"Untuk apa? Gak ada gunanya buatku..."
"Ada pastinya, untuk hidup Brill sendiri... gak ada yang tahu masa depan kan..."
"Kalau ada kesempatan kamu mau kuliah, Ril?"
"Iya... mau..."
¤ End ¤
Sesuatu bangkit dalam hatinya... dua wanita berbeda generasi punya pandangan yang sama untuknya, dia harus melakukan sesuatu demi hidupnya sendiri. Sesuatu mulai tumbuh di hatinya, sebuah benih yang bernama impian telah disirami oleh dua wanita lewat kalimat sederhana mereka. Benih yang tidak terlihat yang sedang mengarahkan hati Brill untuk meraih sesuatu dalam dirinya.
.
🪧 Kata yang tepat di saat yang tepat bisa menjadi motivasi terbaik bagi seseorang.
🪧 Setiap orang memiliki sebuah impian... impian itu mungkin masih terpendam, belum dapat disadari atau dikenali. Impian dapat hancur atau berkembang... mungkin kita bisa menjadi pemicu bertumbuhnya sebuah impian atau justru membuat impian itu mati... hanya dengan kata-kata...
.
Salam bahagia buat semua...
.
🎸🎸🎸
__ADS_1
.