Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 28. Tidak Pernah Memiliki


__ADS_3

Menerima telpon dari Brill, di hati Rilly senang dan sedih datang bersamaan. Kehidupannya seperti spiral yang merambat ke atas dan tak akan pernah selesai berputar pada keadaan yang sama, dia hidup di bawah kuasa orang lain, perasaan tak memiliki hak untuk menjalani hidup seperti yang diinginkannya begitu dominan.


“Maaf ya Brill… mungkin Rilly gak bisa eh kita gak bisa ketemuan…”


Rilly menjawab dengan suara lirih, dia hanya berpindah satu meja dari tempat duduk sebelumnya, sedikit menjauh karena ada teman barunya Giveel, dia masih belum bisa bersikap bebas dengan Giveel, mereka baru aja lebih akrab.


“Kenapa Ril? Aku ke sini karena kamu loh… aku pengen banget ketemu kamu sekarang… makanya aku minta alamatmu, aku yang ke rumahmu kalau kamu gak enak untuk keluar rumah…”


Rilly merasa bersalah dan merasa tersanjung sekaligus, ada cowok ganteng dan kaya anak pejabat pula, sangat populer dan digilai cewek seantero kabupaten Minahasa Selatan tetapi memilih untuk mendekatinya, bukankah sikap Brill yang semacam ini, yang baru saja berkata pengen banget ketemu dirinya bisa disebut pdkt? Rilly merasakan debaran di dadanya ketika menyimpulkan hal itu.


Tapi, Rilly ingat bahwa dia tidak boleh sembarangan bersikap, dia tidak boleh serampangan bertindak, pertama dia hanya menumpang hidup, kedua om Armando nampaknya keberatan tante Isye membiayai sekolahnya dan ketiga tante Isye telah melakukan banyak hal untuknya yang baru beberapa waktu tinggal di sini, dia harus menjaga kepercayaan mereka. Jadi…


“Ril?”


Suara Brill sedikit kencang karena Rilly tidak menjawab.


“Eh? Iya?”


“Aku yang datang ke rumahmu kalau kamu gak enak sama tante Isye…”


“Makanya Rilly minta maaf, Rilly sungkan menerima teman di rumah itu, Rilly baru di situ, Rilly gak bisa walaupun Rilly juga ingin ketemu Brill…”


Di seberang telpon Brill merasakan sesuatu merambat di dadanya, meskipun Rilly sekarang kembali dengan terus terang menolak ketemuan tapi dia lebih fokus pada kalimat terakhir Rilly, ahh… ternyata Rilly juga punya perasaan yang sama dengan yang dia miliki sekarang.


“Bener… Rilly juga pengen ketemu denganku?”


Brill memastikan apa yang baru saja didengarnya.


“Eh? Iya… tapi…”


“Kamu kangen aku?”


“Hahh??? Eh… maksud Rilly…”


“Aku kangen juga kok, kalau gak kangen mana mungkin aku datang ke Jakarta nyariin kamu…”


Wajah Rilly memerah, rasa senang menguasai hatinya bahkan seperti melambungkan dirinya naik ke langit sehingga bisa menggapai salah satu bintang. Brill ibaratnya seperti bintang dan dia ada di bumi, dalam keadaan biasa dia hanya bisa memandang bintang yang berjuta-juta tahun cahaya jaraknya. Tapi telinganya tidak salah mendengar kan, bintang itu justru datang ke bumi turun dari langit mencari dirinya.


“Rilly… jawab dong, jangan menolak ya…”


Nada suara Brill di gawai itu begitu indah, seperti sedang merayu dirinya. Seandainya saja dia bisa menanggapinya… ingin sekali, sangat-sangat ingin menyambut Brill…


Kali ini mungkin situasinya lebih baik tapi tetap saja dia takut mengikuti hasrat hatinya tentang Brill, dia tidak berani mempunyai perasaan yang khusus kepada seseorang. Jika saja ada sebuah pintu yang terbuka dan jalan bebas yang bisa dilalui sehingga Rilly bisa menggapai semua yang menjadi hasrat dan impiannya, tapi sekarang pun itu masih bisa dia sebut sebuah khayalan yang tak berujung, jika dia salah bersikap impiannya bisa hilang dalam sekejap, kalimat Om Armando yang dia dengar seperti telah mengikat erat jiwa bebasnya.


Jadi Rilly memilih mengubur semua hal tentang Brill.


“Rilly…”

__ADS_1


Rilly menghela napas lalu dengan suara menahan emosi, dia sedih harus melakukan ini pada Brill…


“Brill… Rilly senang sekali Brill menganggap Rilly teman, sangat senang Brill datang mencari Rilly jauh-jauh, tapi Rilly gak seperti orang lain, jadi maaf ya, sekali lagi maaf… Rilly gak bisa ketemu Brill sekarang... makasih ya, Brill udah peduli sama Rilly, tapi Brill jangan mencari Rilly lagi ya… Rilly tutup ya…”


Rilly menutup panggilan dengan cepat, dia tidak menunggu Brill bersuara. Ada rasa sakit saat melakukannya tapi dia tidak punya pilihan. Hpnya segera dia matikan powernya biar Brill tidak menelpon lagi.


Di tempatnya Brill terhenyak. Ucapan Rilly sangat lembut bahkan terdengar seperti mau menangis, tapi isi kalimatnya menohok perasaan Brill dan itu cukup untuk melempar Brill ke dasar jurang kekecewaan. Brill terpaku di tempatnya berdiri dan rasa sakit segera menusuk-nusuk jantungnya.


Sekali lagi Brill melihat layar hpnya yang menghitam sekarang sama seperti harapan di hatinya yang seketika menjadi gelap. Dengan langkah gontai Brill membawa tubuhnya ke arah tempat tidurnya, membanting dirinya tengkurap di atas kasur dan membenamkan kepalanya di atas bantal lembut, mengambil bantal yang lain dan meletakkan di atas kepalanya, seperti ingin membenamkan kekecewaannya dengan cara itu.


Rilly…


Rilly…


Aku pikir kamu bisa jadi sahabat dekatku… Aku pikir kita bisa punya hubungan yang baik… kenapa kamu gak mau? Kenapa kamu menolak?


Kenapa Rill??


.


Rilly menghapus ujung matanya, ada kristal lembut di kedua sisi matanya. Hanya sekejap sepertinya, jika diingat-ingat hanya tiga kali sebenarnya mereka pernah bertemu dan berinteraksi langsung dan baru dua minggu ini mereka intens bicara lewat telpon, tetapi hal itu terasa begitu istimewa untuk Rilly, ya… Brill begitu istimewa untuknya. Hanya, dia bukan seseorang yang bisa menjangkau Brill meskipun sebenarnya dia hanya perlu menyambut apa yang Brill tawarkan.


Rilly kembali ke meja di mana Giveel sedang duduk menunggunya.


“Sudah Ril? Lama sekali ngobrolnya, jangan-jangan beneran pacarnya…”


“Bukaaan Veel… beneran teman kok, kebetulan dia ada di sini…”


Rilly duduk berhadapan dengan Giveel kemudian menyesap minumannya.


“Gak papa kali kalau pacar… ganteng gak? Mau ketemuan ya? Aku ikut boleh, pengen kenalan sama pacar kamu…”


Giveel masih senyum-senyum dengan dua siku bertumpu di meja menopang dagunya.


“Hah?? Eh gak kok, kita gak akan ketemuan, dia hanya pengen tahu aku gimana sekarang… itu aja…”


“Kenalin entar ya… pacar kamu itu… eh tau gak, aku tuh penasaran... kata mami aku cowok Manado ganteng-ganteng, bener gak sih?”


“Hah? Itu aku gak tau, gak pernah merhatiin…”


“Mulai ngomong soal cowok, belum boleh pacaran loh… mami gak ijinin sekarang, belum waktunya.”


Seorang wanita bertubuh ciri wanita Indonesia pada umumnya dengan baju casual datang mendekati tempat duduk mereka, membawa nampan berisi sepotong chiffon cake dan satu gelas minuman hangat.


Rilly dan Giveel sama-sama menoleh.


“Mami… siapa yang pacaran? Masa gak boleh ngobrol soal cowok… kita cewek yang ada di fase yang udah tertarik sama cowok dan itu alami gak bisa ditolak. Gak papa dong mengagumi, menilai, atau malah jatuh cinta sama cowok itu tandanya kita bertumbuh dengan normal… kalau kita malah tertarik sama cewek baru gak normal… mami gak boleh menolak realitas hidup manusia…”

__ADS_1


Giveel bicara dengan bibir mengerucut, rasa kesal untuk sang mami belum terselesaikan.


“Kamu pintar menjawab sekarang ya…”


Maminya Giveel mengambil tempat duduk di sebelah anaknya.


“Harusnya kita gak makan kue, ini jam makan siangnya sudah lewat, nanti di rumah jadi males makan siang yang seharusnya…”


Sang mami meneruskan.


“Ayin udah makan di kantin sekolah kok… lah mami kenapa malah beli kue bukannya langsung pulang ke rumah terus makan, nanti ketahuan papi mami diceramahin… nanti maag mami kambuh lagi…”


“Mami mau jemput kamu, liat kamu makan kue mami jadi pengen makan satu yang mami suka… eh iya… ini temanmu namanya siapa?”


Maminya Giveel tersenyum memandang Rilly.


“Saya Rilly tante…”


“Rilly ya? Kalau tante… panggil tante Kharis aja ya…”


“Iya tante…”


Rilly tersenyum menyambut keramahan tante yang ada di hadapannya.


“Mi, tau gak… Rilly tuh dari Manado…”


“Oh ya? Wah bagus kalian bisa temenan… tante juga dari sana walaupun bukan asli orang sana sih… hanya tante lahir dan besar di kota itu…”


“Ketemu papi juga di sana kan? Tetangga yang jadi suami kan… hehe…”


Giveel menggoda sang mami dengan dua alis matanya di gerak-gerakkan.


“Kamu… ayo cepet habisin kuenya, setelah itu kita pulang.”


“Iya… iya…”


Rilly memperhatikan interaksi temannya dengan sang mami, nampak sangat dekat dan itu membuat dia merasakan lagi lubang kosong di hatinya terbuka, ada banyak hal yang dia tidak pernah miliki dalam hidupnya, kasih sayang seorang mama dan mungkin juga kasih sayang seorang pacar.


Brill, jika kesempatan berpihak padaku, Rilly ingin sekali menyambut kehadiranmu… tapi Rilly tidak punya itu… maafkan Rilly ya…


Sediiiih, Rilly hanya bisa menyimpan sedihnya.


.


🌻


.

__ADS_1


__ADS_2