
🪧 Guys part ini gak ada manis-manisnya... Brill diajar mikir tentang kehidupannya dulu... maklum dia masih seorang remaja yang gak punya tujuan apapun...
.
Brill memang sedang melakukan sesuatu yang besar untuk dirinya. Hari ini Brill ada di sebuah ruangan tempat pelaksanaan ujian Seleksi Mandiri. Dia menjawab seadanya sesuai yang dia tahu, karena menyadari dia gak pernah serius saat pembelajaran dulu di sekolah, gak heran banyak yang dia isi secara acak, tik-tak betool, mungkin milih jawaban yang benar makai trik kancing baju, entahlah hanya Brill yang tahu.
Om Markus begitu peduli dengan anak asuhnya, dia yang daftarkan Brill, dia yang menyelesaikan saat test daring, tapi untuk test luring Brill harus maju sendiri.
Oma Susan dan om Manuel, pak Rektor Universitas ini berhasil meyakinkan Brill untuk melakukan sesuatu buat dirinya.
Saat bicara dengan om Manuel di rumah om Manuel tadi malam...
¤ Flashback ¤
"Hei... ganteng..."
Om Manuel menyapa Brill di ruang keluarga di rumah pribadi om Manuel, Brill hanya tersenyum tipis pada kakak maminya.
Om yang satu ini punya pembawaan yang hangat seperti oma Susan, tidak terlihat kaku meskipun punya jabatan, dan tidak terlihat tua meskipun bergelar Profesor, terlebih bila bercakap dengannya tidak pernah membosankan, bahkan dia jadi belajar berargumen dengan om Manuel ini, setiap kali datang melihat oma Susan suka memancing dia masuk ke dalam sebuah percakapan dan menunggunya mengucapkan sesuatu tentang hal yang dia bahas dengan oma.
Kenapa pria yang lain selalu terlihat lebih baik dibanding pria yang dia panggil papi?
"Sudah siap untuk test besok?"
Brill mengangkat bahu diikuti kekehan om Rektor.
"Kenapa terlihat tidak antusias?"
Brill melirik sejenak om Manuel yang duduk santai dengan melipat sebelah kaki, tangan yang satu menepuk-nepuk sandaran tangan seperti sedang mengikuti irama tertentu.
"Om... apa kuliah itu jalan satu-satunya untuk hidup menjadi lebih baik?"
"Tergantung dari sudut mana kamu berangkat, untuk kalangan tertentu iya..."
"Aku ingin tahu sudut pandang om Man..."
"Om?"
Om Manuel menunjuk dirinya dengan gaya kocak, telunjuk bergoyang di depan dada dengan dua alis terangkat di wajah ramah miliknya. Brill mengangguk, dia butuh pendapat orang saat ini, dia masih gamang soal kuliah dan memang belum memiliki tujuan apapun untuk hidupnya sendiri.
"Orang-orang bilang hidup yang baik itu karena dia sukses mencapai sesuatu... jadi kamu lulus SMA itu juga sudah masuk kategori hidup yang lebih baik... karena ada orang yang tidak bisa lulus SMA karena keadaan..."
Brill teringat Rilly, karena keadaan gak bisa menamatkan sekolah.
Apa di sana dia lanjut sekolah ya?
"Tapi... semua orang punya skema sukses dalam dirinya sendiri... maka mereka berjuang mendapatkan sukses menurut orientasi mereka... mengejar status, kedudukan, ketenaran, kekayaan, mengejar degree yang lebih tinggi, lebih banyak... nah kamu mau mengejar yang mana Brill?"
"Gak ada... aku gak butuh itu semua..."
"Hmmm... "
Om Manuel masih menepuk sandaran tangan sofanya, memandang ponakannya yang terlihat punya sikap skeptis yang mencolok.
"Gak punya cinta untuk dikejar?"
__ADS_1
Om Manuel bertanya dengan suara jenaka juga raut wajah yang menggoda keponakannya.
"Gak ada sangkut pautnya om... aku gak nanya soal itu..."
Brill ternyata gamang juga soal itu... ada nama seorang gadis dalam hati dan pikirannya sekarang, tapi apa itu termasuk kategori cinta?
"Mendapatkan pacar itu termasuk keberhasilan kan... berhasil mematahkan status kejombloan... hehehe..."
"Om kayak bukan profesor deh... terlalu santai, kan katanya kalau udah profesor serius banget, kaku, mikir terus sampai ubanan atau botak..."
"Begitu ya... iya ya itu profesor linglung kayaknya, udah kehilangan orientasi hidup yang sesungguh, betul-betul fokus membuktikan banyak hal aneh... hehehe... itu stigma yang salah... profesor itu jabatan akademik tertinggi... dia memang harus punya wawasan dan pengetahuan yang luas dan punya keahlian khusus, harus punya banyak penelitian, punya banyak karya ilmiah... ya memang harus mikir terus... hehehe... tapi hidup harus dinikmati juga dengan santai, saat harus mikir ya serius... tapi masa sama kamu juga harus serius sih..."
Brill mendengarkan omnya yang bicara dengan santai tapi lugas dan tanpa sadar terbawa pada interaksi yang dibangun omnya...
"Tanda orang itu hidup maka dia akan mengejar sesuatu, akan melakukan sesuatu, menginginkan sesuatu... apa yang kamu paling inginkan untuk kamu kejar sekarang?"
Rilly? Iya... kayaknya dia yang ingin kukejar...
"Jika kamu mau mengejar seorang gadis pun, orang tuanya akan melihat siapa kamu, apa yang kamu punya... itu termasuk materi atau status bahkan gelar yang bertengker di belakang namamu..."
Brill mengernyit, om ini seperti tahu apa yang terbit di hatinya soal apa yang paling ingin dia kejar.
"Karena om orientasinya di dunia pendidikan... maka menurut om pendidikan itu penting. Mendapatkan degree memang bukan tolok ukur keberhasilan, hanya seperti membentangkan jalan saja di antara banyak jalan yang harus dipilih... khusus buat kamu Brill... kalau kamu ingin membuat jalan sendiri... silahkan..."
"Maksud om?"
"Kamu bebas menentukan pilihan menggunakan jalan yang mana, lewat kuliah atau lewat bangun usaha sendiri... tapi yang terpenting adalah kamu harus memilih satu jalan... karena hidupmu harus kamu bangun sendiri..."
Brill terlihat berpikir...
"Kenapa tidak mengikuti jalan yang sudah ada dulu, jalan yang lain akan bermunculan di depan sana..."
"Apa?"
"Kuliah?"
"Om kayak mami papi... aku harus kuliah..."
"Beda dong... om menyuruh kamu ambil jalan sendiri terus kamu bilang tidak punya, karena om Rektor om wajib menawarkan jalan ini untukmu..."
"Tapi itu ide mami papi juga..."
"Orang tua juga berkewajiban menyekolahkan anak-anak sesuai undang-undang, Brill... termasuk mami papimu..."
"Tapi malas banget kalau harus dipaksa mengikuti keinginan mereka... Kenapa orang tua selalu merasa paling tahu tentang hidup anaknya..."
"Hehehe... itu pertanyaan anak-anak sedunia... jawabannya sama, karena kami telah hidup lebih lama dari kalian dan telah melewati yang kalian sementara hadapi sekarang..."
"Tapi mereka orang tua yang terlalu menuntut dan gak pernah melakukan kewajibannya terhadap anak..."
Om Manuel melihat seorang anak yang tersakiti dan merintih mengenai jeritan hatinya. Dia menatap ponakannya...
"Orang tuamu orang hebat loh... mereka masuk deretan pemimpin terbaik negara ini..."
Om Manuel menatap Brill dengan tatapan penuh makna...
__ADS_1
"Mereka pemimpin yang baik tapi bukan orang tua yang baik, mereka tidak pernah ada untukku..."
"Tapi kamu ada karena mereka, kamu tidak bisa menyangkali itu..."
"Ya.. tapi apakah aku hanya dilahirkan untuk ditelantarkan?"
"Hmm... Kamu tidak pernah terlantar... kamu cukup segala sesuatunya, kamu mungkin satu-satunya anak di provinsi ini yang punya semuanya..."
"Tapi aku merasa seperti itu... aku bahkan diperalat untuk memuluskan semua tujuan mereka..."
"Untuk mencapai sesuatu yang tinggi... ada yang harus dikorbankan, no cross no crown..."
"Tapi kenapa aku? Kenapa aku yang harus dikorbankan? Mengapa berusaha mendapatkan aku hanya untuk dikorbankan? Aku suka mikir lebih baik aku tidak pernah dilahirkan aja..."
"Kamu milik mereka, sudah di tangan mereka, apapun yang terjadi selamanya kamu tetap di sana sebagai milik mereka... kedudukan dan jabatan sangat rentan untuk hilang, orang bisa sekejab berada di tahta tertinggi dan dalam sekejab bisa terlempar ke tempat paling rendah dan terhina... maka dengan segala daya upaya jabatan, kedudukan itu harus dijaga agar langgeng untuk beberapa saat, sekalipun terlihat stabil tapi politisi tetap punya rasa takut yang besar terutama tentang konspirasi di sekitar mereka, kawan pun bisa mencurigakan..."
"Maksud om?"
"Orang tuamu di posisi mereka sebenarnya tidak nyaman juga... hati kecil mereka tetap ingin menjagamu... mereka bukan tidak sayang padamu, tapi mereka punya keterbatasan untuk menggenggam semua di tangan mereka, jadi... mereka memilih untuk melepaskanmu sesaat... memang sekarang kamu bukan prioritas di hidup mereka... tapi sebenarnya semua tujuan mereka pada akhirnya adalah anak... jadi biarkan mereka menikmati pencapaian mereka sekarang Brill, biarkan mereka menikmati kemuliaan mereka... karena suatu saat masa ini akan berakhir... dan siapa tempat mereka pulang? Kamu... karena kamu tetap ada di sana..."
"Jadi aku harus menerima saja keadaan ini? Ini gak adil buatku kan om..."
"Iya... semua orang mengeluhkan ketidakadilan di tempat mereka..."
"Om ribet ahh... aku gak sanggup mikir sejauh itu..."
"Hahaha..."
Om Manuel sengaja mengajak Brill berdebat, ingin membuka pengertian anak ini supaya tidak terlalu mengasihani diri sendiri dan terus menerus bersikap apatis, dan terlalu sinis pada orang tuanya sendiri.
"Yang penting sebenarnya dirimu sendiri Brill... kalau kamu tidak puas dengan hidupmu yang sekarang, maka kamu yang harus mengubahnya... jangan menuntut orang tuamu berubah padamu... kamu akan selamanya tidak puas jika hanya orang tua satu-satunya sumber kepuasan hidupmu, kenapa kamu gak kejar yang lainnya aja sekarang..."
"Jadi menurut om aku harus apa?"
"Lah... dari tadi om sudah bilang... gak nyimak ya?"
"Ada sih... kuliah ya?"
"Ya..."
"Terus... aku harus pilih fakultas apa? Aku gak punya ide..."
"Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik? Jurusan Administrasi Negara?"
"Om... sebel deh... itu kan kayak niru papi..."
"Like Father Like Son? Hahaha... Om dari situ juga... om Dekan di sana sebelum jadi Rektor... Anggap aja ikut om, bukan papimu..."
.
🪁
.
🪧 Membosankan ya... maaf ya readers... aku lagi berpikir serius untuk alurnya... ✌️...
__ADS_1
.