Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 59. Rasa Cinta yang Besar


__ADS_3

Waktu itu saat Rilly meninggalkan dirinya di kafe, Brilll mencari tapi tidak menemukan Rilly di tempat kost. Besoknya Brill menunggu Rilly di kampus, tapi Rilly tidak muncul. Saat membuka ruang chat mereka berdua, tidak ada sepotong berita. Brill jadi kesal dan malas menghubungi Rilly.


Sementara Rilly yang galau menghabiskan sisa hari dengan mengelilingi mall, merasa sedih Brill marah karena dia tidak menyetujui ide menikah, sedih karena Brill tidak mengacuhkan dirinya. Dan dia belum ingin menikah, dia takut Brill memaksa sehingga saat Brill tidak menelpon, Rilly memilih menunggu saja. Besoknya, oma Betsy masuk rumah sakit dan Rilly memilih bolos kuliah dan menjagai sosok yang paling dia sayang di dunia ini.


Cinta Brill untuk Rilly memang selalu ada di hatinya, tapi Brill tidak dapat bersabar, ingin cepat-cepat mendapatkan apa yang paling dia inginkan sekarang yaitu menikahi Rilly, dan ketika dia merasa ditolak, maka rasa marah dan sakit hati menjadi lebih besar dari rasa cintanya, dan parahnya dia termasuk orang yang suka menyimpan marah.


Itulah awal kerengangan mereka, Rilly menunggu Brill tapi Brill marah menganggap Rilly sudah menolak dirinya.


Di rumah mereka, ujian semester sudah selesai, libur telah datang dan kegalauan masih belum pergi dari hati Brill.


“Om gak pernah denger kamu cerita soal Rilly. Terus kayaknya gak pernah ke Tomohon lagi deh... ” Om Markus menelisik wajah tampan di hadapannya, dia ingin menanyakan sejak lama tentang Rilly dan anak asuhnya yang tidak pernah lagi terlihat bersama.


"Lagian, mukanya cemberut terus… kenapa? Masa udah putus sih, baru sebentar pacarannya…” Om Markus bertanya penasaran.


Brill melengos, muka auto kesal ditanyai soal Rilly.


Biasanya wajah Brill selalu antusias setiap bertemu hari baru karena seharian nanti dia akan bersama Rilly, belakangan wajah itu terlihat sama seperti wajah Brill yang dulu.


“Apa beneran putus?” Om Markus melanjutkan walau sudah melihat dari ekspresi boss mudanya tanda-tanda angin badai akan segera bertiup.


“Tauk ahh… jangan nanya-nanya soal dia! Aku ngelarang om ya… bicara soal dia!!” Semprot Brill, emosinya segera meledak dalam suara setengah berteriaknya.


Brill meninggalkan om Markus di ruang keluarga lantai dua itu. Brill turun menuju ke ruang makan, mendadak tenggorokannya kering, hati yang panas tapi leher yang butuh air es.


“Tante Rani, minta air es… banyakin es batunya!” Brill teriak, nada-nada galau jelas sekali pada kalimat perintahnya.


Om Markus yang mengekori anak asuhnya mengirim isyarat pada istrinya untuk bergegas.


“Mau es teh atau es kopi? Atau sekalian tante Rani bikinkan juice alpukad, juice sirsak, juice mangga?”


Om Markus menyebutkan daftar minuman dingin secara sembarangan coba menawarkan sesuatu, siapa tahu bisa memperbaiki mood Brill. Di kulkas ada banyak buah, kalau Brill tertarik dan memilih yang gak ada stoknya, gampang aja tinggal memesan secara online.


“Memang di sini kafe? Udahlah gangguin aja! Sana om!” Brill bersuara besar, intonasinya benar-benar jengkel.


Buat om Markus, lebih baik melihat dan mendengar Brill yang marah-marah dari pada melihat Brill yang gak semangat atau menjadi Brill yang dulu yang begitu apatis.

__ADS_1


“Kenapa? Rilly menjengkelkan ya?”


“Gaaak… kenapa masih nanya-nanya soal dia sih? Gak denger aku bilang apa tadi?” Brill udah gak teriak lagi, trik om Markus berhasil, begitulah udah tahu a sampai z, udah ngerti dalam hal apa Brill akan benar-benar marah. Rilly bukan seseorang yang akan membuat Brill benar-benar marah, di sini sikap penolakan Rilly yang membuatnya gusar bukan Rillynya sebenarnya.


“Jadi beneran putus sama Rilly? Kenapa bisa putus? Bukannya udah sayang banget?” Om Markus mengambil gelas besar yang dibawa istrinya, “nih minum dulu,” sambung om Markus.


Gelas besar itu segera habis diteguk tuntas oleh Brill, om Markus menyimpan senyum, anak asuhnya sudah sebesar ini tapi dirinya masih saja belum lepas untuk memperlakukan Brill sebagai seorang anak kecil.


“Dia gak mau nikah om. Jadi jangan bahas soal dia.” Ketus suara Brill dan lebih ketus mukanya.


“Apa? Menikah? Kamu ingin menikah?” Om Markus terkejut.


“Iya, aku ingin menikah sekarang, Rilly menolak, ahhh!!” Brill berkata sambil mengayunkan kepalan tinjunya, sebuah reaksi yang membuat om Markus semakin penasaran terhadap niat Brill.


“Kamu udah siap menikah?”


“Gak usah nanya-nanya ahh, udah jelas kan mau aku apa… AKU INGIN MENIKAH!! Tapi… Rilly gak mau.” Bagian terakhirnya disampaikan Brill dengan wajah sedih.


Mata dan bibir om Markus membulat, anak asuhnya sudah memikirkan untuk menikah? Bukannya masih terlalu muda? Tapi ini menggemaskan, setelah lepas dari kaget om Markus merasa hendak tertawa saat melihat ekpresi lanjutan dari anak-asuhnya. Gurat-gurat kecewa, gurat-gurat marah tapi bercampur dengan gurat-gurat rindu dan sayang, haha… lucunya anak ini, punya wajah perpaduan ganteng dan manis meskipun sedang galau tetap aja enak dilihat. Om Markus aja bisa terpesona dengan wajah ganteng anak asuhnya ini, apalagi gadis-gadis ya...


Bril menatap sekilas wajah om Markus, jelas kalimat itu dan dia paham.


Brill memang belum matang dan jika dirunut ke belakang dia bukan pribadi yang hidupnya berdasarkan rencana. Kuliah aja karena diarahkan oleh om Rektornya. Dan jika boleh mengatakan, motivasi kuliahnya up and down dan baru bisa bener karena berhubungan dengan Holly lalu Rilly.


Karena Brill diam om Markus meneruskan…


“Emang alasan Rilly apa saat dia menolak menikah?"


"Ya... yang om bilang tadi... mau selesaikan kuliahnya dulu, tapi itu masih lama om, aku maunya sekarang," ungkap Brill seperti merengek sekarang.


O Markus paham anak asuhnya belum memikirkan oernikahan dari sudut pandang lain, hanya yang indah-indah saja.


"Brill, hargai dong keinginan Rilly, seperti kamu dia juga punya keinginan, gitu cara pacaran yang bener. Cinta yang sejati itu gak memaksakan kehendak sendiri, malahan cinta yang sebenarnya adalah mencintai dan memperlakukan pacar atau pasangan lebih dari diri sendiri... kalau kamu memaksakan kehendakmu ya namanya kamu lebih mencintai dirimu sendiri."


Brill diam dan menatap ke samping, sebuah tanda sedang merenungkan perkataan om Markus, lalu nyeletuk kemudian...

__ADS_1


"Jadi menurut om aku gak cinta Rilly, gitu?" Brill bukan gak yakin tentang cintanya, hanya sekarang pikirannya gak bisa menilai cinta yang dia punya untuk Rilly seperti apa.


"Kamu cinta kok, dari awal om mengantarkanmu ke rumah Rilly di Amurang dulu, om udah bisa lihat cinta di matamu... hehe lucu kamu waktu itu...hahaha."


"Om ahh, aku serius..." Brill meradang diketawain, dia ingin mendengarkan om Markus yang menjabarkan hatinya, om ini yang paling tahu kan.


"Kan om udah bilang, kamu itu mencintai Rilly, kamu sayang sama dia. Om sendiri heran waktu itu kenapa hati kamu memilih Rilly, secara Rilly kan wajahnya kurang menarik... cacat malah. Jadi udah bisa mengukur kadar sayangmu bukan main-main... hanya sekarang..." om Markus berhenti.


"Apa??" Brill gak sabar.


"Sekarang kamu bergerak berdasarkan emosi, pengen segera memiliki Rilly sepenuhnya... makanya kamu menjadi marah ketika Rilly menolak.... eh sebentar, bagaimana cara kamu meminta Rilly menikah?”


“Maksud om?”


“Kamu udah lamar Rilly? Ngasih cincin… gitu?” Om Markus senyum-senyum, dia membayangkan sebuah adegan romantis lamaran Brill yang gagal.


“Gak, ngapain ngasih cincin, emangnya cerita film? Norak ahh… aku nanya biasa aja... aku pengen kita nikah Rill… gitu aja.” Baru sekarang Brill membahas ini, tapi sepertinya memang perlu dikeluarkan dari hati karena setelah cerita perasaan jadi gak segalau biasanya.


“Ehh? Astaga, gitu doang? Kayak gak punya modal aja… om kira kamu booking seluruh resto terus dinner romantis ngasih bunga, ngasih cincin… terus lamar Rilly dengan kata-kata romantis… lalu Rillynya bilang… maaf Brill, Rilly mau fokus kuliah dulu…” Om Markus membahas adegan yang sekilas melintas di benaknya tadi.


“Apa sih om? Norak ahh…” Brill ingin meninju om Markus jadinya karena sekarang om Markus tertawa.


“Hahaha…” Gelak tawa om Markus makin besar.


“Om!! Aku marah nih…” Brill bersuara besar walau gak sungguh-sungguh marah.


“Iya… iya… maaf.” Om Markus mengendalikan otot wajahnya agar gak tertawa lagi, tapi ada perasaan hangat yang muncul di dadanya, Brill setidaknya terlihat mendengarkan perkataannya.


Sesungguhnya buat Brill, dengan om Markus ini dia bisa cerita apa saja, dan dia suka cara om Markus memberikan pandangan untuknya.


Brill mengambil hp di saku celananya, tiba-tiba rindu menyeruak untuk Rilly. Sambil mencari nama Rilly di aplikasi berlogo f Brill menghitung lamanya waktu gak bertemu. Ternyata hampir dua bulan. Ahh… akibat dia merajuk begitu banyak waktu yang terbuang gak bersama-sama.


Rilly gak posting apapun selama ini, jadi khawatir dan jadi menginginkan kabar. Brill menelpon di aplikasi hijau, dan hp Rilly gak aktif.


Brill Langsung beranjak ke garasi dan tancap gas meluncur ke rumah kost Rilly. Dalam hati menyerbu semua rasa, rasa bersalah yang besar berpadu dengan rasa kangen yang besar dilengkapi rasa cintanya yang juga sama besar.

__ADS_1


.


__ADS_2