
“Rill… udah lihat KHS?”
Tere melongok ke dalam kamar Rilly. Rilly sedang membersihkan kamarnya makanya pintu kamar terbuka. Akhirnya mereka tinggal di kost yang sama, Tere mendapatkan kamar di lantai dua sementara Rilly di lantai bawah.
“Udah… kamu?”
Rilly berhenti menyapu.
“Udah sih… lumayan… IP 3,00. Kamu berapa Rill?”
“Rilly? Eh Rilly 3,80…”
Rilly menjawab dengan suara rendah ada perasaan malu mengatakannya padahal itu hal yang sangat luar biasa, Rilly belum percaya bahwa dia bisa melakukan sesuatu dengan baik.
“Hah? Wow Rill… keren, sesuai namamu sih, Brilliant…”
Rilly tidak percaya saat membuka KHSnya lewat hpnya tadi pagi, dan masih terheran-heran hingga sekarang bahwa nilainya nyaris sempurna. Dia menangis tadi pagi, pencapaian baru ini menunjukkan bahwa keadaan dalam hidupnya dapat berubah. Ini hal terbaik tentang dirinya hingga umurnya sekarang.
Kerlip harap sempat redup ketika dia memutuskan tidak kuliah, tapi oma Betsy punya keinginan yang kuat untuk pendidikannya. Satu hal yang baik bahwa tante Irma walaupun selalu berpenampilan tegas dan serius, mungkin sesuai jabatannya, tapi tidak keberatan untuk mewujudkan keinginan oma Betsy.
“Rilly sempat gak percaya juga, Tere… dulu zaman SMA, nilai Rilly selalu jelek.”
Rilly seperti sedang melihat sebuah pintu terbuka, pintu yang mengijinkan dia melihat siapa dirinya dengan lebih percaya diri, merasa ada kebaikan dari Pengatur Hidup yang bertambah untuknya sehingga dia mulai yakin bahwa impian-impiannya akan terwujud.
.
🐬
.
“Ril, ada lomba debat Ekonomi Kreatif dalam rangka Dies Natalis Fakultas kita, kamu mewakili angkatan kita ya…”
Tama sang ketua kelas menghampiri Rilly dan Tere…
“Hah?? Tama gak salah? Jangan Rilly dong, Rilly gak punya kemapuan seperti itu…”
“Semua kita bisa Ril… materi gampang dicari, browsing aja terus nanti aku minta juga ke Mner Kenny tambahan materi yang lain. Jangan nolak ya Ril… aku milih kamu karena aku yakin sama kamu, lagian debat itu tiga orang kok...”
“Iya Rill, jangan nolak dong, kamu bisa kok… aku juga yakin sama kamu…”
Tere memberi dukungan untuk sahabatnya.
“Rilly dengan siapa aja?”
Ragu-ragu Rilly bertanya, belum menemukan keyakinan bahwa dia bisa melakukan sesuatu yang menurutnya harus dilakukan oleh mahasiswa yang smart, dia bukan dari golongan itu.
“Aku dan Fila, kita bertiga… nanti kita pelajari materi sama-sama ya, masih seminggu lagi kok, masih banyak waktu untuk mempersiapkan diri… nanti aku wa ya kapan kita ketemu…”
Tama meninggalkan Rilly dan Tere.
“Aduuh Tere, aku gak yakin aku bisa…”
“Makanya ikut aja, buktikan pada diri sendiri, bisa atau gak. Ini modalnya cuma berani bicara aja, semua peserta pasti belajar dan bakal menguasai hal-hal yang umumnya samactentang topik debat itu. Kalau pun kalah yang penting udah pernah menantang diri sendiri… sesimple itu kok nona…”
Rilly merenungkan kesempatan yang datang, ternyata benar-benar tak ada seorang pun yang dapat mengetahui langkah selanjutnya dalam hidup. Dada Rilly berdebar perlahan, dia memang hanya butuh kesempatan, mungkin saja kesempatan untuk menjadi Rilly yang berbeda sudah ditetapkan untuknya ada di waktu sekarang.
.
🐳
__ADS_1
.
Lain Rilly, lain pula Brill. Di tempat mereka masing-masing hidup tetap berjalan sebagaimana seharusnya, apapun situasinya waktu akan tetap bergulir.
“Brill, kenapa suntuk banget?”
Tory menepuk pundak Brill lalu duduk di depan Brill.
Kuliah sudah selesai, tapi Brill masih duduk di tempat duduknya tidak beranjak seperti mahasiswa yang lain. Tory karena ketua kelas biasa duduk paling depan, selesai dengan urusan tanda tangan absen serta menyimpan LCD dia mendekati Brill yang duduk paling belakang.
Sejalan dengan waktu, Tory lah sekarang menjadi teman akrab Brill bukan mahasiswa yang seangkatan dengannya. Meskipun akhir-akhir ini Brill tidak antusias mengikuti pembelajaran di kelas tapi dia tetap datang. Berbeda dengan Brill yang dulu yang bisa tidak masuk seminggu penuh, kali ini Brill lebih bertanggung jawab terhadap statusnya.
“Hei… boss…”
Kembali Tory menepuk Brill yang kelihatan tidak bersemangat.
“Eh? ”
“Cabut yuk… udah laper juga tapi malas makan di kantin, bosan makanannya itu-itu aja…”
Brill berdiri dan melangkah keluar ruangan kuliah masih tanpa suara, tapi dari gelagatnya dia memahami keinginan Tory. Brill termasuk royal sering mengajak beberapa teman kuliahnya makan di resto atau kafe sepulang kuliah atau bahkan di hari libur mereka.
Lingkaran pertemanan Brill memang masih terbatas, dia merasa nyaman dengan Tory, bukan karena ketua kelas ini intens mendekatinya, tapi justru karena Tory menjaga jarak membuat hati Brill seperti memilih Tory ketimbang mahasiswa yang lain. Maka teman-teman Tory menjadi teman Brill juga. Brill memang berbeda dibanding saat SMA, di mana dia tidak memberikan ruang untuk orang lain masuk apalagi mendapatkan keuntungan menjadi temannya, saat itu dia benar-benar sendiri.
Di sebuah kafe di kawasan bisnis ternama di kota Manado ini, Brill duduk berdua saja dengan Tory. Makanan telah berganti dengan beberapa gelas kopi, sudah beberapa jam mereka masih nongkrong di sini.
“Galau nampaknya, boss… dari tadi irit bicara…”
Tory memancing pembicaraan lagi, sejak tadi cowok yang lebih sering berpenampilan cool ini hanya duduk diam dan menjawab seperlunya.
Sekarang Brill menarik bibirnya membentuk sebuah seringai saja, tak ada niat menjawab nampaknya.
Brill memandang Tory sekilas, lalu…
“Cewek itu… gak nyangka, terlihat lemah tapi ternyata punya keteguhan hati.”
“Kenapa?”
Brill diam.
“Kamu suka dia tapi dia gak suka kamu?”
Brill tidak menjawab hanya segaris tipis senyum yang justru terlihat sedih yang muncul di ekspresi wajahnya.
“Aku baru niat nembak... dia udah ngomong bahwa aku gak boleh bilang apapun yang ada di hatiku, karena dia udah punya pacar… hahh…”
“Hah? Jadi dia menolak?”
Tak ada anggukan apalagi jawaban, karena sudah jelas sebenarnya di telinga Tory. Sejak kuliah mulai memang Brill sudah intens mendekati si mungil itu, dan itu bukan rahasia lagi untuk teman-teman seangkatan dengan Tory. Dan tidak menyangka Holly tidak menyambut usaha Brill itu.
“Aku sebenarnya gak percaya dia udah punya pacar…”
“Mungkin hanya sebuah cara untuk menolakmu…”
“Iya… dan aku gak terima ditolak seperti ini… aku bakal kejar dia terus sampai dia jadi pacarku…”
Sekarang Brill terlihat bersemangat.
“Hahaha… mantap boss. Kejar teroos, jangan dikasih kendor. Tapi hati-hati loh… entar rasa di hati bukan lagi rasa suka tapi hanya obsesi ingin mendapatkan Holly aja…”
__ADS_1
Brill tidak menanggapi, mengambil gelas kopinya dan langsung meneguk sampai habis.
“Tapi ya… kalau Holly nolak lagi dan beneran udah punya pacar… ya udah cari yang laen… banyak kok yang cantik-cantik, yang bening-bening yang suka liatin kamu dengan tatapan penuh harap pengen jadi pacarnya kamu Brill… hehehe…”
Brill melengos mendengarkan perkataan Tory, sejak dulu dia sudah sering melihat tatapan-tatapan cewek-cewek yang menginginkan dirinya, dan Holly satu-satunya yang tidak menatapnya dengan tatapan sepeti itu. Ya… dia merasakan dorongan untuk mendapatkan Holly justru karena gadis itu tidak menanggapi dirinya, cenderung bersikap datar dan bahkan sering menatapnya dengan marah saat dia berbuat sesuatu untuk Holly.
Brill menyandarkan kepalanya di kursi nyaman yang ada di kafe ini. Ini seperti terulang saat dia tertarik dengan sosok seorang gadis yang juga tidak melihat dirinya dengan cara yang sama dengan banyak gadis lain di sekolahnya, dan mirisnya, gadis itu juga menolak dirinya di saat dia baru memulai untuk melakukan pendekatan.
Brill mengambil hpnya, otaknya yang membuat perbandingan tentang yang dialaminya dari Holly dengan Rilly, membuat dia ingat untuk mengecek sesuatu, makanya dengan cepat jarinya berselancar di hpnya membuka sebuah aplikasi. Hanya saat dibuatkan akun oleh Briana saja dia sempat bermain dengan aplikasi itu setelahnya dia lupa.
Brill kemudian menemukan bahwa permintaannya telah ditanggapi Rilly. Dia juga menemukan sebuah komentar dari Rilly di sebuah postingan terakhir, dan itu enam bulan yang lalu…
Hi Brill, pa kabar?
Brill segera membuka akun Rilly Jean Tendean.
Jadi ini bener dia?
Dan banyak informasi terkini tentang Rilly yang Brill peroleh. Ternyata Rilly aktif menggunakan medsos ini. Setiap postingan Rilly dicermati Brill dengan seksama, dan sekali lagi dia semakin yakin bahwa akunitu milik Rilly yang dia kenal.
Dan… dada Brill berdesir, dia merasakan sesuatu saat memandangi foto Rilly lekat-lekat, dia ingat sekarang, ya… ada bagian dari wajah Rilly yang dia ingat. Bentuk mata dan hidung serta dagu itu rasanya persis sama… wajah yang sekarang memang telah sepenuhnya berubah, yang sekarang telah menonjolkan kecantikan Rilly yang utuh.
Sebuah postingan terakhir ada beberapa foto dan video. Brill membuka video dan itu Rilly sedang berbicara… entah di sebuah acara apa, video itu memang resolusi gambarnya kurang baik tapi bisa dia pastikan memang itu Rilly.
Brill mencari lagi, dan menemukan sebuah foto Rilly bersama tiga orang dengan latar belakang sebuah baliho, yang terbaca adalah, “Dies Natalis” tertera nama Fakultas Ekonomi tertanggal minggu yang lalu.
“Jadi Rilly kuliah di sini, di Fakultas Ekonomi? Itu gak jauh dari fakultasku… ah Rilly, kamu di sini ternyata… akhirnya kamu jadi kuliah…”
“Siapa?”
Tory bertanya heran.
“Hah? Eh… aku menemukan teman SMAku dulu…”
“Cewek? Tadi sepertinya nama cewek.”
Brill mengangguk, ada senyum di sana.
“Brill? Tadi galau karena Holly dan masih bertekad untuk mendapatkan Holly. Sekarang malah hepi kayaknya menyebutkan nama cewek yang lain.”
Brill tersenyum.
“Ini temanku, udah lama gak ada informasi tentang dia…”
“Oh begitu… dan kayaknya kamu begitu senang boss…”
Brill hanya menatap Tory. Dalam waktu bersamaan Brill merasa senang dan sedih karena dua gadis yang berbeda.
.
Hi... bunda kakak, teman2 reader, aku nulis judul baru karena mengikuti tantangan menulis NT selama 30 hari, dukung aku ya... Judulnya My Neighbor, My Ex?
.
.
🪵
.
__ADS_1