
Brill yang dikuasai rasa jengkel, marah, dan sejumlah emosi negatif yang lain memilih masuk ke studio musiknya, mengunci pintu dari dalam. Wajahnya memerah sejak dari ruangan sang mami. Di dalam, Brill menendang sebuah speaker aktif hingga terbalik. Dia hampir membanting quitar kesayangannya. Untung akal sehat segera datang, itu quitar kenangan pemberian oma Susan, quitar yang pertama memunculkan bakat musiknya, lewat quitar itu dia mengenal nada-nada dan mulai bernyanyi.
Maka Brill menuju drum dan mulai memukul drum sekencang-kencangnya. Awalnya pukulannya tak beraturan hanya pukulan acak tanpa ritme. Pelampiasan emosinya terhenti saat salah satu stick drumnya patah, benar-benar dia memukul dengan segenap kekuatannya. Brill mengambil stick yang baru lalu menyetel sebuah lagu di pemutar musiknya, yang melintas di kepalanya adalah I Hate Everything About You, dari Three Days Grace... Brill mulai memukul drum mengikuti beat lagu itu.
Lagu-lagu aliran keras yang singgah di kepalanya semua dimainkan berganti-ganti, hingga dia kelelahan sendiri. Akhirnya Brill melepaskan stick drum dan beralih ke quitarnya, mengambil alat musik kesayangan itu dari stand penyanggah lalu duduk di kursi bulat tanpa sandaran dan mulai memetik quitarnya, kali ini emosi telah reda terlepaskan saat bermain drum tadi.
Sekarang ini justru kesedihan yang bermain di hatinya, dalam kesehariannya dia jarang berjumpa mami dan papinya, tapi saat bertemu yang ada adalah perselisihan, interaksi di antara mereka selalu dingin, muram, jauh dari kehangatan kasih sayang. Selalu saja mereka tersesat pada pertengkaran yang destruktif yang menghasilkan kekecewaan dan melukai hatinya sebagai anak. Semuanya sangat dalam tertanam di lahan kenangan dan pengalamannya.
Perasaan sedihnya bertambah saat dia mengingat sebuah nama, Rilly... sosok yang begitu ingin dijumpai tapi terhalang aturan sang mami. Sedihnya tertuang lewat lagu yang dia nyanyikan kemudian...
🎶 Kisah Sebentar ~Tulus
Denganmu senang hati terasa
Bangun dari mimpi kutahu aku tak sendiri
Matahari pun serasa lebih cerah
Dengan kecup manismu 'ku mulai melangkah
Kunikmati tiap detikku dengan namamu di hatiku
Kurasa bahagia dan hati berbunga-bunga
Kau buatku tergila-gila, tunduk hati aku setia
Selayaknya sihir kau buatku terjatuh
Tapi tak berlangsung lama
Kau tinggalkan aku
Kau pergi berjejak tanya
Ayo ingat kata-katamu
Kau tak akan tinggalkan aku
Ayo ingat kata-katamu
Selamanya kamu hanya untuk aku
Ayo ingat kata-katamu
Sayang, cinta, kamu segalanya
Ayo ingat kata-katamu
Selamanya kamu hanya untuk aku
^_^
🎶 Langit Abu-abu ~Tulus
Tak mungkin secepat itu kau lupa
Air mata sedihmu kala itu
Mengungkapkan semua kekurangannya
Semua dariku yang tak dia punya
Daya pikat yang memang engkau punya
Sungguh, sungguh, ingin aku lindungi
Dan setelah luka-lukamu reda
Kau lupa, aku juga punya rasa
Lalu kau pergi, kembali dengannya
Aku pernah menyentuhmu, apa kau malu?
__ADS_1
Di bawah basah langit abu-abu
Kau di mana?
Di lengangnya malam menuju Minggu
Kau di mana?
Kadang dering masih ada namamu
Beberapa pesan singkat untukku
Entah apa maksudmu yang kutahu
Sayangimu, aku telah keliru
Ayo, tulis di buku harianmu
Kelak jelaskan bila engkau punya waktu
Di bawah basah langit abu-abu
Kau di mana?
Di lengangnya malam menuju Minggu
Kau di mana?
Bertemukah kau dengan sang puas?
Benar senangkah rasa hatimu?
Bertemukah kau dengan sang puas?
Benar senangkah rasa hatimu?
Di bawah basah langit abu-abu
Kau di mana?
Di lengangnya malam menuju Minggu
Kau di mana?
.
.
Betapa banyak waktu berlalu di mana apa yang ada dalam hatinya hanya bisa dia ungkapkan lewat lagu yang dia nyanyikan, tak ada yang mendengar, hanya dirinya sendiri, di ruang kedap suara miliknya.
Setelah beberapa waktu Brill menyanyikan perasaan hatinya, Brill meletakkan quitarnya lalu berbaring di sofa kulit berwarna hitam, tempat tidur keduanya di rumah ini, dia enggan keluar dari ruangan itu.
Sebuah ketukan pelan di pintu terdengar... dari cara dan bunyi ketukan dia bisa menduga siapa itu. Brill melangkah pelan dan membuka pintu membiarkan oma Susan masuk. Oma Susan menutup pintu lalu duduk di sebuah kursi tinggi tempat duduk saat bermain musik.
"Dari tadi oma mengetuk loh..."
Brill diam tak menanggapi, dia tahu omanya paham jika dia sedang bermain musik suara dari luar tak akan terdengar.
"Oma pengen nyanyi..."
"Aku cape..."
Brill menjawab singkat sambil berbaring lagi di sofa panjang dengan bagian punggung tangannya menutup matanya.
Oma Susan prihatin dengan keadaan Brill terutama karena melihat kondisi emosional masih melekat di gesture tubuh cucu kesayangan. Tak ada niat untuk bernyanyi sebenarnya, hanya ingin membuka ruang bicara dengan sang cucu.
"Oke..."
Oma Susan menangkap dengan mata tuanya sebuah speaker yang terbalik dan stick drum yang patah di lantai. Oma Susan membetulkan posisi benda yang lumayan berat itu lalu memungut stick drum itu dan membawa ke tempat sampah yang ada di ruangan itu. Pasti itu menjadi pelampiasan amarah cucunya yang tergambar jelas saat berpapasan tadi. Kemarahan yang telah menggerogoti hati cucunya mencuat ke permukaan lewat bermain musik. Di satu sisi itu baik, cucunya punya pelarian yang lebih positif, dari pada dia lari ke pergaulan di luar sana lewat kenakalan dan kebebasan bergaul.
Tapi Brill telah tertekan sepanjang hidupnya sejak dia mampu memahami sendiri aturan dari puterinya yang tidak dia mengerti mengapa jauh berbeda dengan apa yang dia berlakukan pada putrinya. Itu bisa menghancurkan Brill, kelak dia bisa naik pitam dan tak bisa mengendalikan dirinya bahkan bisa menjadi suatu temperamen yang buruk.
Dalam hal ini cucunya punya masalah, putrinya juga. Sebagai oma dia merasakan panggilan hatinya yang lebih peduli dengan kesehatan emosional cucunya. Berbeda jauh saat putrinya Inggried saat seusia Brill, hubungan mereka akrab dan terbuka, dia menjadi pendukung putrinya dalam semua kegiatannya, selalu hadir di sisi putrinya mendapingi ke mana saja dan menjadi teman terbaik bagi putrinya itu. Ingatan tentang masa itu, rasanya dia tidak pernah memarahi putrinya atau bertengkar hebat dengannya.
__ADS_1
Tapi yang terjadi sekarang antara putrinya dengan cucunya adalah hal yang bertolak belakang. Apa putri tidak belajar dari dirinya? Atau semua kesibukan dan pencapaiannya membuat dia melupakan bahwa dia seorang mami?
"Brill... kalau mau tidur ke kamarmu saja..."
Brill tak menjawab, setelah menghempaskan seluruh emosinya dengan bermain musik dia jadi malas untuk bicara, sepertinya semua energinya telah terkuras tak bersisa.
"Brill... oma boleh tahu ada apa?"
Brill masih diam membisu, tak bereaksi apapun bahkan tak ada gerakan dari tubuhnya yang berbaring seperti membeku.
"Brill... oma menunggu ya... Oma siap mendengar apa keluhanmu..."
Lembut suara oma Susan, tak direspon Brill. Beberapa saat berlalu, oma Susan sabar menunggu di kursinya, dia tahu Brill tak bergerak tapi bukan berarti dia telah tertidur.
Oma Susan bersenandung pelan menyanyikan sebuah lagu kesukaannya, I Can't Stop Loving You...
Tak lama senandung berganti dengan menyanyikan lagu Jim Reeves tersebut dengan liriknya dengan suara yang pelan...
Brill sering mengiringi oma Susan menyanyikan lagu itu, dan suara oma Susan membuat Brill bangkit lalu meraih quitarnya dan mulai mencari kunci nada yang pas dengan alunan suara oma Susan lalu mulai mengikuti mengiringi suara oma Susan dengan petikan quitar akustiknya.
Jika sudah seperti ini, sebentar pasti Brill bisa diajak bicara...
Jika derasnya naf*su, kekecewaan dan kemarahan yang tak terbendung mengalir dalam diri dan tak dapat membicarakannya, siap meledak tapi lidah keluh, ditambah dengan kesedihan yang parah... musik bisa jadi obatnya... menyanyi bisa menyalurkan energi negatif keluar dari jiwa...
Selesai menyanyikan lagu itu oma Susan mendekati Brill, tangannya terulur memegang kepala cucunya dengan sayang lalu mulai mengusap perlahan. Brill menutup mata lalu bersandar di sofa. Quitar masih dalam pelukannya, dia menikmati sentuhan berharga oma Susan, sentuhan yang dengan cepat meresap di jiwanya.
Tindakan oma Susan selalu menjadi pelipur gundahnya. Jika tak ada oma Susan entah bagaimana dia menjalani hidupnya. Oma Susan selalu bisa masuk di tengah kegusarannya dan membantu dia meredakan gunung berapi yang bergemuruh dalam hatinya, selalu bisa mengobati setiap luka yang bernanah di hatinya, sehingga tak ada letusan yang berbahaya yang menghancurkan dirinya, sehingga derasnya kekecewaan dan kepedihan hati selalu berganti dengan keteduhan dan kedamaian.
"Ada apa Brill?"
Brill membuka mata. Suara yang lembut serta tatapan oma selalu bisa menjadi pembuka hatinya sehingga dia bisa mengungkapkan apa yang ada di sana dengan bebas. Oma Susan akan selalu mendengarkan dia berbicara, tak pernah mendesak atau menekan dirinya, selalu sabar menunggu sampai dia selesai bicara membuat dia merasa bahwa pendapatnya itu penting. Ini merangsang otaknya untuk mengungkapkan pikirannya serta perasaannya.
"Aku ingin ke Jakarta tapi mami melarang..."
"Ohh, pasti sesuatu yang penting ya... biasanya kamu enggan bepergian, pergi liburan pun tidak terlalu suka..."
Oma menjawab pelan saja...
"Ehh... iya, aku ingin menemui seseorang, dia pindah ke sana..."
"Siapa? Wandy? Dia temanmu kan... pantas..."
Oma Susan tahu teman Brill hanya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, itu sudah termasuk Markus, jadi tak heran jika Brill merasa kehilangan Wandy.
"Bukan... dia Rilly... namanya Rilly..."
"Itu nama perempuan ya... itu siapa?"
Oma mulai paham dan jadi penasaran.
"Teman sekelas dulu... oma kenal oma Betsy? Rilly anak pungut oma itu..."
"Oh iya... oma kenal... Betsy anggota perkumpulan oma... oma kenal juga anak perempuan itu, yang sering mengantar Betsy kan... yang bibirnya..."
"Iya..."
Brill menjawab cepat.
Wah menarik... pikir oma Betsy, apa ada sesuatu di hati cucunya untuk gadis itu, terlebih mengingat keadaan fisiknya?
"Oma tidak tahu kalau Betsy pindah, pantas pertemuan kemaren beliau tidak datang lagi..."
Brill menunduk, perasaan gusar kembali datang, rasa yang ada adalah keinginan untuk bertemu Rilly.
"Brill... oma akan menemanimu ke sana, kalau pergi dengan oma mamimu pasti tak ada alasan untuk melarang... tapi oma ingin kamu mengerjakan sesuatu lebih dulu, itu bukan untuk oma sih sebenarnya, itu untuk kamu sendiri... boleh?"
"Serius oma? Apa?"
Gadis ini penting ternyata, cucunya sekarang begitu antusias dan bersemangat... Oma Susan tersenyum...
.
.
__ADS_1
Hi... maaf tidak update, semoga ke depan dilancarkan.... terima kasih untuk dukungan penuh kalian bagi Brill dan Rilly...
.