
“Rilly mana?”
Brill bertanya pada salah seorang cewek yang ada di ruangan kuliah. Brill sampai masuk ke ruang kuliah Fekon ini karena sejak tadi gak melihat Rilly. Dia tahu jadwal kuliah Rilly masih satu jam lagi. Dan sejak chat terakhir hp Rilly gak aktif.
“Eh… hai Brill…”
Salah satu cewek di ruangan itu gak menjawab pertanyaan malah menyapa dirinya.
“Rilly mana?”
Brill hanya mengulangi pertanyaannya bukannya menanggapi keramahan cewek itu serta teman-temannya yang semua sedang tersenyum padanya.
“Rilly lagi ke ruang BEM… tunggu di sini aja Brill, Rilly pasti ke sini kok… ngobrol sama kita-kita dulu lah… ya gak temen-temen…”
Cewek itu berkata penuh percaya diri ditimpali senyuman teman-temannya.
“Di mana ruang BEM?”
“Di gedung warna abu-abu, di lantai dasar, ada kok papan namanya.
Brill segera keluar dari ruangan tanpa mengucapkan terima kasih ataupun meninggalkan senyum untuk membalas sikap teman-teman Rilly.
Brill sejak lama gak suka menanggapi orang-orang. Orang-orang ditanggapi dan bisa berinteraksi dengannya hanyalah yang dipilih hatinya. Semisal Tory, terhubung karena statusnya sebagai ketua kelas lalu berlanjut menjadi teman karena Brill menginginkannya dan pada akhirnya dua teman Tory yaitu Pascal dan Beno masuk ke lingkaran pertemanan Brill.
Kemudian Holly, hanya Holly aja yang diacuhkan Brill, Joy dan Faithly tidak bahkan nama mereka berdua tidak dingatnya.
Karena itulah kesan anak pejabat sombong sering disematkan padanya. Pembawaannya yang sedikit ekstrim: gak akan senyum, gak akan bilang permisi, gak akan bilang terima kasih, gak akan menjawab pertanyaan orang yang gak masuk lingkarannya meskipun orang itu teman seangkatan atau teman sekelas. Sejak dia kuliah, hidupnya gak ada lagi drama menjadi Brill yang manis sopan dan ramah.
Dan Brill yang berubah hangat serta selalu tersenyum dan tertawa hanyalah bersama Rilly. Sikap yang sama sesekali muncul jika bersama tiga temannya. Tapi Brill yang berkarakter seperti itu justru membuatnya populer di dua fakultas yang bertetangga ini.
Saat Brill menuju gedung bercat abu-abu dia harus melewati lapangan dan sebuah gedung kuliah yang ramai penuh dengan mahasiswa entah sudah selesai atau masih menunggu jam masuk. Wajah ganteng dengan gaya coolnya merupakan perpaduan yang membuat penampilannya yang begitu menonjol. Langsung aja kehadirannya disorot banyak mata, dan Bril melangkah tak acuh, tujuannya hanya mencari Rilly, gak melihat kanan-kiri terus melangkah ke tujuan.
Di depan pintu yang bertuliskan BEM FEKON Brill berhenti, pintu itu tertutup, di depan ruangan itu ada beberapa orang sedang ngobrol.
Tanpa basa-basi panjang Brill langsung bertanya…
“Di dalam ada Rilly?”
“Rilly?”
“Cewek, rambut panjang…”
“Wah, gak tahu…”
Mendapatkan jawaban seperti itu Brill langsung membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan. Di dalam ada beberapa mahasiswa yang segera melihat ketika pintu terbuka. Seorang cewek yang melihat Brill seperti otomatis langsung ingin menyapa. Dia gak kenal tapi makhluk ganteng yang ini terlalu sayang untuk diabaikan.
“Hai… cari siapa? Ada perlu apa?”
“Rilly.”
“Siapa?”
“Rilly, dia ada di sini kan?”
__ADS_1
“Rilly? Oh.. yang bersama Tama tadi kayaknya… ada di dalam…”
Cewek itu menunjuk sebuah pintu yang juga tertutup, sebuah ruangan yang tampaknya hanya disekat. Lalu mahasiswa cewek tadi mendekat pada Brill.
“Duduk dulu deh… pilih tempat sendiri ya... di sini bebas kok. Eh, teman seangkatan Rilly ya? Semester dua dong… tapi sepertinya belum pernah aku lihat… Aku Amy, kamu siapa?”
“Bisa panggilkan Rilly?”
Brill hanya fokus pada tujuannya masuk ruangan ini.
“Wah… bisa gak ya, mungkin belum selesai diskusinya…”
“Bisa dicek dulu?”
“Kamu siapa dong, bilang dulu… baru aku cek si Rilly…”
“Brill, bilang ke Rilly dicariin Brill…”
“Brill ya? Mmh kayak pernah denger deh…”
“Aku cek sendiri…”
Dan Brill yang gak sabar dan gak suka basa-basi cewek di hadapannya malah menuju pintu yang ditunjuk tadi.
“Eh?? Hei… mahasiswa angkatan berapa sih, kok kayak gak pernah lihat di sini deh…”
Cewek bernama Amy itu kesal karena Brill tak menanggapi keramahannya.
“My…”
“Dia si Brill anak FISIP… anaknya walikota…”
“Hah?? Ihh… gak ada sopan-sopannya, asal masuk ke ruangan orang… ganteng sih tapi norak ya, sok dingin gitu… seenaknya masuk ke sini…”
Sengaja Amy bicara dengan suara besar, mungkin biar didengar si Brill, tapi Brill sudah membuka pintu dan masuk aja tanpa permisi saat melihat Rilly ada di dalam.
“Ril…”
“Eh?? Brill? Kenapa ke sini?”
“Kamu ngapain di sini?”
Brill tidak menjawab malah bertanya.
“Ahh… Rilly sedang pendalaman materi, ada lomba debat antar fakultas, Rilly jadi salah satu utusan FEKON… ini Rilly lagi persiapan bersama teman-teman, ini tim kita…”
Rilly menunjuk semua teman-temannya sementara Brill memindai satu-satu, ada tiga orang dan semua cowok, berarti Rilly doang ceweknya. Dadanya berdesir gak suka.
“Udah selesai?”
“Harusnya udah sih, tadi tinggal mengulang satu materi aja…”
“Jadi udah bisa pergi sekarang?”
__ADS_1
“Eh… bisa apa gak temen-temen?”
Rilly melempar pertanyaan pada rekan setimnya. Dan para cowok yang menerima tatapan dingin Brill tak kuasa menolak maksud si pemberi tatapan.
“Ya udah… kamu boleh pergi Rill, nanti kita yang terusin sisanya… nanti pertemuan berikut di mana dan kapan kita saling info di wa…”
“Oke… makasih Tama, Ray, Nicky... aku pamit ya…”
Tangan Brill segera meraih tangan Rilly dan mengambil tas yang dia kenal itu milik Rilly lalu keluar dari sana tanpa mengucapkan sesuatu pada teman-teman Rilly.
Di luar…
“Rill? Udah selesai?”
Salah seorang pengurus BEM bertanya.
“Udah kak… Rilly pamit ya…”
Kepergian dua orang itu diikuti dengan tatapan dan reaksi masing-masing.
“Pacarnya Rilly?”
“Ganteng, cool, keren deh…”
“Keren apa… diih…”
Si Amy protes
Di luar, berjalan digandeng si Brill membuat berbagai rasa bermunculan di dada Rilly. Mana tasnya masih ditenteng si Brill.
“Brill…”
“Kenapa?”
“Tangan Rilly dilepas aja ya? DIliatin banyak orang.”
“Kenapa? Malu?”
“Iya…”
“Cuek aja…”
“Tapi… dikira kita berdua pacaran…”
“Memang cuma orang pacaran yang bisa gandengan?”
Brill dan Rilly Saling tatap, dan Rilly segera menghindar. Risih menyinggung hal ini di hadapan Brill, seperti sedang menyinggung Brill aja.
“Rill? Apa cuma orang yang pacaran yang boleh gandengan?”
“Iya, buat Rilly iya… dan kayak buat banyak orang juga iya…”
Brill spontan melepaskan tangannya. Rilly memandang sebentar sisi wajah Brill, ingin mengetahui sesuatu di sana, tapi mereka sedang berjalan tak banyak yang Rilly bisa dapatkan. Tapi dengan sikap Brill barusan Rilly seperti merasa bahwa Brill tidak menginginkan hubungan seperti itu dengannya. Rilly merasakan kecewaaan yang segera menyusup di relung hatinya, tapi dia menyimpan itu lalu tersenyum.
__ADS_1
“Bril… mana tas Rilly…”
.