
Brill masuk ke dalam rumah dinas dua lantai yang sangat besar itu dengan tergesa, ingin segera bertemu sespri maminya, ciri yang diingatnya hanyalah warna rambut sang sespri.
"Brill, ditunggu di ruang tamu depan..."
Justru sespri yang lain yang menyambutnya.
"Kepala Sekolah dan guru-guru sudah menunggu sejak tadi.."
Brill membanting ranselnya dengan kesal di sebuah sofa mewah model kerajaan yang sangat besar berwarna coklat susu yang kulitnya sangat lembut.
"Maaf Brill, tolong ganti pakaian yang lebih pantas, ini pertemuan resmi..."
Brill menatap tajam pada wanita di usia tiga puluhan itu yang sedang tersenyum padanya. Kalimatnya bernada mengatur membuat derajat kejengkelan terus bertambah. Brill melangkah tak acuh melihat sejenak tampilannya yang hanya menggunakan celana sport longgar warna hitam dan kaos oblong tanpa lengah, outfit sehari-harinya.
"Brill..."
Sang sespri masih sabar untuk menangani Brill. Salah satu tugasnya adalah menjaga image sang bupati, itu berarti termasuk di dalamnya ikut mengatur Brill jika hendak bertemu tamu sang bupati.
"Brill... nanti pasti tamu-tamu ibu minta foto bersama, pasti juga diposting di medsos mereka, kesannya kurang baik nanti jika..."
Brill berjalan terus tanpa menggubris omongan sespri yang tak dia hafal siapa namanya. Mendekati ruangan di mana terdapat tamu dari sekolahnya Brill berhenti.
"Mami sudah di sana?"
Brill menunjuk ruangan, menatap sekilas sespri yang selalu harus berdandan cantik itu.
"Belum, menunggu Brill sampai di sini, ibu masih di dalam kantor pribadinya..."
Sespri menunjuk sebuah ruangan tertutup, Brill melengos, dia juga hafal ruangan apa itu.
"Itu... yang rambut merah mana?"
"Hah?? Oh... nyari Deisi?"
"Ehh iya... mana?"
"Di dalam bersama ibu..."
Brill menuju pintu besar berwarna putih, hanya di dalam rumah ini saja maka dua polwan yang selalu mengawal sang mami tak terlihat. Jika diingat-ingat maminya ke mana-mana selalu diikuti enam orang yang siap meladeni kebutuhannya.
Brill membuka pintu tanpa mengetuk, matanya segera mencari si rambut merah, setelah mendapatkan sosok yang dibutuhkan Brill berjalan santai menuju sebuah meja di mana Deisi terlihat sibuk menghadap sebuah layar monitor berwarna putih.
"Brill... sayang, sini nak..."
Brill tak mengacuhkan panggilan maminya, dia bukan mau menyapa atau bertemu sang mami, dia punya maksud lain.
Seseorang berdiri dari tempat duduk di sofa yang berada di tengah ruangan, datang mendekat seperti mencegat Brill di bagian yang sedang dilewatinya. Ruang kantor di rumah dinas ini memang lumayan besar. Menjadi ruangan tempat sang mami memajang semua pencapaiannya, semua penghargaan, piala dan medali kebanggaan selama ini.
"Brill... senang bisa bertemu langsung..."
Brill teralih dan berhenti saat si bapak mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Matanya segera memperhatikan ada tiga orang lagi di sekitar bapak itu yang ikut berdiri. Mode anak baik pun aktif di otaknya. Brill menyambut uluran tangan dengan sedikit anggukan dan senyum tipis. Hanya itu, dia malas untuk menyimak perkataan bapak tersebut yang sedang menjelaskan jabatannya, hanya bagian akhir kalimat yang sampai di telinganya.
"Debra anak saya... dia teman sekelas Brill..."
__ADS_1
Debra? Siapa?
Brill enggan mencari ingatannya tentang nama itu, dia berpindah menjabat tangan pria yang lain. Dia sudah terbiasa kadang harus menyapa tamu sang mami yang diterima di rumah dinas ini. Begitulah maminya, membebaskan siapa pun mendatangi rumah dinas bupati, menerima beberapa tamu di pagi hari di tempat ini, sebelum beranjak ke kantor yang sebenarnya.
"Brill..."
Suara maminya terdengar lagi, Brill segera meninggalkan bapak-bapak itu tak ingin memperpanjang basa-basi. Mami berdiri dari tahtanya yang berwarna gold, merentangkan tangannya menyambut Brill. Pelukan dan ciuman di kepalanya sesaat kemudian.
"Mami kangen, maaf ya mami sibuk sekali... berapa lama gak ketemu kamu sayang... satu bulan ya... kangen banget nak..."
Mami masih memeluk dan mengusap kepalanya. Entah apa rasa ini, tapi Brill terlalu sinis sekarang, menganggap ini hanya bagian dari banyak gimmick dalam hubungan mereka, serangkaian adegan penuh kepalsuan, dan Brill pintar memainkan itu sekarang, kadang dia memang sengaja melebay-lebaykan diri. Walaupun tanpa secuil rindu di dada Brill memeluk sang mami...
"I miss you, too... mam..."
Pelukan terlepas... tangan lembut terawat sang mami mengusap pipinya.
"Siap-siap ya sayang, kita ditunggu guru-guru dan kepala sekolahmu di luar, bapak-bapak ini juga mau sekalian sarapan bersama..."
Rupanya ini sarapan bersama mereka. Maminya punya aktivitas itu sekarang, sarapan bersama beberapa komunitas perwakilan dari rakyatnya, mengikuti teladan tokoh republik ini yang fenomenal.
"Iya mam..."
Brill si 'anak baik' melangkah keluar, sebelum mencapai pintu dia ingat tujuannya masuk ke sini, dia mendekati sespri berambut merah.
"Ehh Tante..."
Si rambut merah mendongak, kalau bukan anak bupati pasti dia akan protes keras, umur baru dua puluh lima, masih single, dandanan sudah flawless setara cantiknya dengan ibu bupati yang mantan putri Indonesia, ehh malah dipanggil tante...
"Iya Brill?"
Nih berondong kok makin ganteng sih...
Pikiran liar Deisi muncul saat memperhatikan wajah mulus Brill.
"Operasi bibir sumbing udah dilakukan?"
"Oh itu... iya udah... tahap duanya baru seminggu yang lalu..."
"Rilly berarti udah dioperasi kan?"
Brill memastikan.
"Temennya Brill?"
"Iya..."
Brill menatap penuh harap mendapatkan secuil informasi dari si rambut merah.
"Bentar ya... aku periksa laporan kegiatannya..."
Brill menunggu dengan tidak sabar, telunjuknya mengetuk-ngetuk meja Deisi.
"Brill... kenapa belum siap-siap? Ganti pakaiannya sayang..."
__ADS_1
Suara mami terdengar kemudian.
"Bentar mam... aku lagi butuh informasi dari..."
Kalimat Brill terhenti di sana. Otak Brill langsung hang untuk sekadar mengingat nama si rambut merah.
Beberapa saat kemudian...
"Gimana?"
"Bentar Brill... ini... Rilly kan? Gak ada nama itu..."
"Mami minta dia di daftar pertama loh waktu itu..."
Wajah Brill mulai tidak sabar.
"Tapi daftar diurutkan menurut abjad. Nama lengkapnya apa?"
"Brillianty Jeanetta Tendean..."
Wow, nama sepanjang itu dihafal dengan baik dan benar oleh Brill, nama Deisi yang hanya sepotong tak melekat di memori.
"Belum, dia melewatkan jadwalnya. Dia termasuk pada tahap pertama, bulan yang lalu pelaksanaannya, dia gak datang berarti..."
"Apa gak diingatkan atau bagaimana?"
"Ada... tim kerja mendatangi rumah calon pasien untuk verifikasi data sekalian memberi jadwal operasi... Rilly tidak ada di daftar orang-orang yang sudah mendapatkan operasi..."
Brill berlalu dari ruangan itu dengan kecewa sekaligus ada tanya di hati...
Kenapa kamu melewatkannya Rilly? Masa kamu lupa sesuatu yang penting untuk dirimu?
Di luar... Om Markus datang menghampiri.
"Nak Brill, om udah siapin baju... ganti baju dulu ya..."
"Iya... om, kita ke rumah Rilly..."
"Eitt... nanti kita ke sana, tapi sekarang ikutin acara ibu dulu ya? Please... om pasti anterin... mau ngajak Rilly jalan-jalan pun om siap anterin, tapi ikutin acara di sini dulu, ok?"
"Iya... iya..."
Dengan kesal Brill menuju ke kamarnya tepat di bagian tengah rumah ini.
.
🌿
.
Hi... mana dukungan buatku... hehehe
Selamat beraktivitas, sehat selalu ya...
__ADS_1
.