
Brill iseng membuka sebuah aplikasi yang digunakan tiga milyar umat manusia di seluruh dunia. Ingatan pada Rilly tiba-tiba mendorong dia untuk mencari tahu tentang Rilly lewat aplikasi ini. Dia jarang sekali menggunakan aplikasi ini, gak heran sebelum ini dia lupa dia bisa mengetahui kabar tentang Rilly dari aplikasi itu. Baru aja ingat bahwa Rilly aktif menggunakan aplikasi ini.
Benar saja, banyak aktivitas Rilly bisa dia temukan di sana. Rilly ternyata masih di Jakarta. Kuliah memang belum sepenuhnya dilakukan onsite, semester ini masih kuliah online.
Brill menelusuri setiap postingan Rilly, memberi like pada beberapa status Rilly. Lalu dia terpaku pada sebuah postingan dari seorang teman Rilly yang menandai Rilly, kelihatannya sebuah acara liburan keluarga mungkin di sebuah villa karena terlihat bukan di kompleks rumah biasa.
Brill menonton sebuah video yang ada di postingan itu, beberapa bercakap dengan menggunakan dialek Manado. Kemudian video itu menyoroti Rilly yang sedang duduk berdua dengan seorang cowok dan suara si perekam video itu membuat Brill sesak…
.
Guys ini otw jadi kakak ipar…
(Suara dari si perekam, suara seorang cewek. Kamera menyoroti dua orang yang sedang bercakap dengan cara saling memandang intens)
Hihihi, berharap banget guys, hari ini mereka jadian, yeay…
(Kamera sudah semakin mendekati dan menyorot tepat pada dua orang itu dengan jarak yang dekat)
Tahu gak, susah banget ngebujuk kakak Muel untuk ikut liburan, tapi hari ini dia mau dan sejak tadi udah ngobrol berdua dengan Rilly aja hehehe…
(Lalu suara di rekaman berubah jadi bisik-bisik, mungkin biar yang sedang diambil rekamannya tidak mendengarkan, suara itu terdengar centil manja dan terdengar begitu senang dengan apa yang sedang direkamnya)
Jangan-jangan udah jadian… hehehe… tapi ngeliat wajah kakakku ini yang selalu bertampang serius jadi sumringah begini kayaknya udah hahaha… senangnya aku... yeaaay… dulu mamiku tuh, Tetangga Jadi Suami, kayaknya kali ini… Temanku Jadi Iparku… hahaha…
Dan selanjutnya dalam tayangan itu si cewek yang merekam video menganggu kakaknya dan Rilly. Brill lemes melihat itu. Langsung berpikir… pantas aja waktu itu Rilly menolak ketika dia bilang kangen, rupanya Rilly menyukai orang lain, dan sekarang sudah jadian..
.
Jika Rilly ada di sini pasti dia sudah mencari dan mengkorfirmasi sendiri, bahkan Brill bisa nekad mendatangi cowok itu dan mengatakan bahwa dia lebih berhak jadian dengan Rilly. Rasa marah segera menguasainya sepagi ini. Brill melempar hp mahalnya dan benda tak berdosa itu tepisah menjadi beberapa bagian.
“Brill?” Om Markus yang sempat melihat apa yang dilakukan anak asuhnya datang mendekati Brill yang sedang berjalan menuju studionya.
“Ada apa Brill?” Om Markus mengejar Brill.
“Tauuuk!!” Brill menjawab dengan teriakan marahnya dan kemudian membanting pintu studionya.
Om Markus hanya mengurut dada, segera bisa mengetahui akar masalahnya, mungkin ada sesuatu yang diketahuinya mengenai Rilly, beberapa bulan menyaksikan kegalauan Brill setiap hari dan ini sepertinya adalah puncaknya, karena Brill tidak bisa mengendalikan dirinya. Dentuman keras pada drum jadi salah satu bukti Brilll sedang sakit hati.
.
🪅
.
Brill keluar dari kamarnya dan mendapati mami sedang kesusahan berjalan tapi nampaknya memang sengaja melakukan itu mengitari ruang keluarga yang menyatu dengan ruang makan di rumah yang begitu luas.
Tangan mama ada di pinggang seperti menahan lelah dan mungkin juga rasa sakit.
“Mam… kapan datang?”
__ADS_1
“Baru aja… mami bosan di rumah sana…”
“Papi mana?”
“Papi hanya mengantar mami sekarang udah ke kantor. Sini Brill… duduk sama mami…”
Si mami menuju sofa, Brill mengikuti. Mami mundur dari jabatannya sebagai anggota dewan provinsi dengan alasan kesehatan, maminya mendapatkan anugrah hamil di usia empat puluh lima tahun. Melihat sendiri bagaimana keadaan mami saat hamil sedikit demi sedikit membuat Brill semakin membuka diri dan menerima semua hal tentang mami, melepaskan semua kemarahan yang sempat merajai hati bertahun-tahun. Dia menyadari bahwa saat mami hamil dirinya penderitaannya pasti sama.
Brill membantu mami Inggrid duduk di sofa, mengatur bagian sofa untuk kaki maminya supaya maminya nyaman meluruskan kaki.
“Mau aku pijit, mam?”
“Mami pengen peluk kamu aja, sini duduk di samping mami.” Mami Inggrid mengulurkan dua tangannya ke arah Brill.
Sejak hamil tidak telihat lagi tampang seorang ibu pejabat yang berwibawa, tidak terdengar suara yang penuh otoritas, Brill seperti menemukan maminya yang dulu, bahkan mami yang sekarang adalah mami yang bermanja padanya.
Brill masuk ke dalam pelukan sang mami dan perut sang mami menempel padanya, sehingga posisinya kurang nyaman untuk si mami.
“Sini, aku aja…” Brill berkata dalam senyumannya.
Brill gantian yang memeluk sang mami dan membuat sang mami nyaman bersandar di dadanya. Ternyata ada masa seperti ini dalam hidupnya, bisa memeluk dan dipeluk sang mami dengan perasaan yang bahagia bukan hanya sebuah gimmick yang hanya dilakukan demi pencitraan. Drama seperti itu entah kapan telah menghilang dari hidupnya.
“Brill…” Suara mami sangat lembut.
“Iya…” Brill menjawab sambil mengusap-usap punggung sang mami.
“Mami pasti kuat… tenang ya… gak usah takut…” Brill hanya bisa mengatakan kalimat itu, dia gak tahu apa itu tepat.
“Resiko terburuknya mami pergi tinggalin kalian selama-lamanya…”
“Mam… jangan mengatakan itu… kita berharap semuanya berjalan baik… ya mam…” Serasa ada yang menusuk perasaan Brill mendengar ucapan sang mami.
“Mami hanya mengatakan sesuatu yang bisa saja terjadi Brill, kita gak tahu kan…”
“Tapi tetap gak boleh ya… berharap yang baik-baik ya mam, jangan pikirkan yang buruk-buruk…”
Rasa takut segera menyergap Brill. Baru sekarang dia merasakan ini tentang sang mami, dan serta-merta rasa sesal muncul di hati karena perilaku buruk yang ditunjukkannya bertahun-tahun pada sang mami.
“Brill…”
“Iya mam…”
Mengikuti perasaan sayang yang sekarang dia sadari ada dalam hatinya untuk sang mami, Brill mencium pipi maminya.
“Kamu tahu kan, mami selalu sayang sama kamu… mami pernah gak peduli sama kamu, mami pernah terlalu menuntut kamu menjadi seperti yang mami inginkan… maafkan mami ya…”
“Mam… mami harus berpikir yang baik-baik aja, mami udah kayak mau pergi beneran… gak ahh, aku gak mau denger mami ngomong yang sedih-sedih…”
Mami Inggrid malah menangis.
__ADS_1
“Udahlah mam… udah yaa, aku sayang mami… sayang banget…. Jangan nangis ahh…”
“Iya… nanti, sayangi adikmu juga ya…”
“Iya… iya…” Brill menjawab sambil mengeratkan sedikit pelukannya. Rasa nyaman tumbuh di hati bersama rasa galau karena penjelasan sang mami.
.
🪅
.
Brill tidak bersemangat sebenarnya untuk menghadiri acara syukuran Silver Wedding dari om Gub, tapi karena tidak ada kegiatan di rumah, mami udah ke rumah dinas lagi, udah bosan juga hanya berdiam di rumah dan masih galau karena cintanya untuk Rilly telah kandas, dia perlu pengalihan.
Para sepupu di grup wa keluarga udah saling mengajak biar semua pada ngumpul karena selama masa pandemi mereka tidak pernah bertemu dan sepupu-sepupu yang di luar negeri udah bisa pulang. Akhirnya Brill ada di rumah om Gub sekarang.
“Brill… dari tadi bengong aja…”
Jere mengambil tempat duduk di sofa dekat Brill lalu menepuk papa sepupunya. Brill hanya menanggapi Jere dengan senyum tipis. Para sepupu duduk di bagian dalam di rumah pribadi om Gub, bercakap sebelum acara utama dimulai.
“Bram mau menikah dua bulan depan loh… tapi di Bali, terus pesta keduanya di Jakarta… semua pada hadir kan?” Suara Briana terdengar dan langsung ditanggapi dengan persetujuan dari mulut para sepupu, hanya Brill yang diam saja. Abram itu anak tertua om Gub.
“Brill… nanti ikut ya?” Briana bertanya langsung pada Brill
“Lihat nanti, Yana…” Brill menjawab saja, malas memikirkan dan malas ke mana-mana.
“Bierna mana?” Jere menanyakan anak kedua om Gub.”
“Di luar, dia sedang diatur biar kenalan sama salah seorang anak pengusaha…” Briana menjawab.
“Hah, mamimu selau saja seperti itu, siapa dulu, Leon kan? Anaknya pengusaha juga dikenalin ke Bierna…” Joel meringis saat mengatakannya.
“Salah satu cara mami mungkin biar masa depan anak-anaknya lebih baik, hahaha…” Briana menanggapi santai.
“Brill, mami Inggrid kapan melahirkan? Keren loh, kamu masih bisa dapet adik bayi, katanya perempuan ya?” Briana sekarang memandang Brill.
“Bulan ini sih… kamu bilang keren, aku sedang takut, mami hamil usianya udah empat puluh lima, resikonya banyak…” Brill menjawab ketus.
Masih tergiang-ngiang penjelasan sang mami mengenai kondisinya waktu ngobrol berdua dengannya.
Lalu Brill melihat Bierna masuk dengan seorang cowok, tidak ingin memperhatikan tapi suara cowok itu bercakap dengan Bierna seperti dikenalnya. Brill menyipitkan mata dan segera tahu itu Tenry, pacarnya Holly. Brill jadi ingat Holly setelah sekian waktu berjalan nama itu sempat tersingkir dari hatinya. Brill berdiri mendekati Tenry.
.
.
Keterusan nulis eh lebih dua ribu kata, maka aku bagi dua eps... Jd hari ini upnya 2 hehe
.
__ADS_1