
Pagi saat sarapan, oma Susan masih ada di rumah bersama Brill atas permintaan mama Inggrid.
"Oma, boleh gak aku nikah sekarang?"
Brill bertanya pada oma Susan. Sendok di tangan oma Susan terlepas, kaget dengan pertanyaan Brill.
"Kamu mau apa?" Oma Susan menanyakan lagi walaupun tadi suara Brill masih jelas sampai ke telinganya, pendengarannya masih normal.
"Aku pengen nikah." Brill bicara dengan memandang omanya.
"Nikah dengan siapa?" Oma yang melihat mimik serius Brill jadi tertarik.
"Dengan Rilly dong, siapa lagi?" Brill senyum, matanya berbinar-binar, hati sedang dipenuhi perasaan indah di skala tertinggi.
"Kenapa pengen nikah sekarang?" Oma ingin mengetahui kenapa tiba-tiba keinginan ini terucapkan.
"Karena... udah sayang banget sama Rilly, udah gak sabar pengen hidup sama-sama, udah gak mau pisah lagi oma... aku gak bisa nahan rindu aku..."
Oma Susan tersenyum melihat wajah lebay cucunya. Brill yang seperti ini, ada di level cinta sekuat maut gak bisa dilarang alias bucin... pikiran, hati, dan jiwanya sedang terpaku pada cinta.
"Kan bisa telpon, bisa ketemuan... gak harus cepet-cepet nikah, kalian masih muda loh..." oma Susan berkata lembut.
"Banyak kok yang nikah muda oma..."
"Kalian berdua masih harus selesaikan kuliah... sabar aja dulu Brill."
"Kan masih bisa kuliah walau udah nikah... gak mau ahh disuruh bersabar..." Brill masih bersikukuh dengan keinginannya.
Buat Brill tujuan hidupnya adalah menikahi Rilly sekarang, ibaratnya dia sudah bersiap untuk lari dengan kecepatan tertinggi mengejar impian tertinggi, yaitu Rilly.
"Oma, ijinin aku nikah ya?" Suara Brill terdengar memelas.
__ADS_1
Oma Susan tidak menjawab hanya senyum tenang dia berikan pada cucunya. Cucunya terlihat begitu polosnya, menganggap menikah itu sederhana saja, biar gak jauhan lagi dengan gadisnya.
"Oma bisa mengijinkan sekarang, tapi mami dan papimu pasti punya pemikiran sendiri." Oma Susan tersenyum.
"Makanya, oma bantuin aku ngomong ke mami sama papi... ya? Kalau oma yang ngomong mereka gak akan menolak."
"Brill, itu harus kamu... Dengerin oma... Salah satu tanda orang ingin menikah karena dia sudah dewasa, sudah mampu bertanggung jawab untuk istri dan keluarganya. Apalagi seorang pria itu akan menjadi kepala di keluarga barunya, nanti akan lahir anak-anak... tanggung jawabnya lebih besar lagi... di sana inti pernikahan yang sesungguhnya... Kamu harus bisa jadi suami yang bertanggung jawab."
"Gampanglah oma... itu nanti aja mikirnya kalau pas udah nikah, yang penting nikah dulu," pungkas Brill.
Oma Susan tersenyum mendapati cara berpikir Brill yang pragmatis.
"Kalau begitu, jika udah siap nikah, silahkan kamu ngomong sendiri soal ini sama mami dan papimu, tanda kamu udah dewasa..."
"Ahh oma, mami mungkin iya, tapi papi?"
"Hadapi papimu sendiri, buat dia mengijinkanmu menikah."
"Satu hal lagi yang penting, Rilly mau gak kamu ajak nikah muda? Ada keluarganya juga yang harus dipertimbangkan, mereka setuju gak Rilly nikah? Mungkin pendapat mereka sama dengan oma yaitu kalian harus selesaikan kuliah dulu," jelas Oma Susan.
Brill mengerutkan keningnya tanda menyimak oma Susan, juga berpikir apakah Rilly akan setuju dengannya? Jika Rilly tidak atau belum mau, mungkin dia akan sedikit memaksa.
"Brill... Menikah itu harus punya dasar cinta yang kuat, harus berasal dari keinginan dua orang yang setuju untuk bersama. Menikah itu banyak persoalannya karena harus menyatukan dua pribadi, dua pikiran, dua kehendak, dua keinginan, dua sifat. Pikirin yang senang-senang aja dulu lah sekarang ini, sementara itu saling belajar karakter masing-masing... hepi-hepi aja dulu," oma Susan menjelaskan berharap cucunya tidak gegabah, karena dorongan emosi saja.
Brill manyun oma Susan gak mendukung niatnya, idenya buyar begitu saja. Brill meninggalkan oma Susan mengambil hpnya dari atas meja makan lalu menghubungi Rilly, ini kali yang ketiga dia menelpon pagi ini, saat bangun, kemudian selesai mandi, lalu baru saja beberapa menit sebelum sarapan untuk memastikan Rilly gak melewatkan sarapan paginya.
Panggilan Brill ditolak Rilly membuat bibir Brill tambah manyun, tapi segera tersenyum lebar saat masuk sebuah chat...
.
R: Chat aja ya, Rilly lagi menemani oma, oma kurang sehat, jadi masih baring...
__ADS_1
B: Ril... aku jemput sekarang aja ya? Aku otw.
R: Tapi Rilly nanti sore diantar ajudan tante Irma.
B: Ya Ril, aku pengen jemput kamu...
R: Hehehe... gimana dong, Rilly sungkan melawan tante Irma, kita ketemu di Manado aja ya nanti sore.
B: Yaaaa... Kamu dianterin ya? Jari mengetik dengan hati kekecewaan.
R: "Iya... Nanti sore ya?"
B:"Ah... Masih lama...
R: "Udah hari ini loh... Sabar ya Brill.
B: "Iya... Ini udah disabar-sabarin dari kemaren.
R: Hehehe... Bril, lucu deh...
.
Dan sorenya, Brill sudah seger dan siap otw tempat kost sang kekasih hati, tau-tau masuk chat dari Rilly...
Rilly gak bisa ke Manado hari ini, mungkin besok pagi, oma Betsy sakit, Rilly pengen jagain oma malam ini
Brill langsung mengambil kunci kontak mobilnya, dan cuuus ke Tomohon, walaupun di rumah itu ketat aturannya tapi setidaknya bisa bertemu Rilly satu jam, itu lebih baik untuknya.
.
Hi.... Rilly dan Brill ringan2 aja... Udah selowww alurnya ya... otw nikah dan the end 😄
__ADS_1
.