
"Kenapa hari ini aku siap sekali" ucap Sisil dalam batinnya.
30 Menit kemudian, Pertandingan itu akhirnya selesai. Dan tim Jingga yang menjadi pemenangnya. Dengan skor 20/5.
Sisil semakin merasa sangat kesal, Karna ternyata dugaannya tentang Jingga sudah salah besar. Jingga benar-benar menjadi ancaman besar untuk nya di sekolah ini.
"Arrggg. Kenapa tim kita bisa kalah sih" ucap Sisil sambil menghentakkan kakinya.
"Kamu sih, Sil. Kok bisa kamu kalah sama Jingga. Tapi aku gak nyangka sih kalau wanita sholeha sepertinya bisa sangat ahli dalam hal ini"
"Iya, Aku juga sangat tidak nyangka, Jika seorang Sisil praditya kalah pada seorang Jingga" timpal satunya.
"Diam kalian! Lebih baik kalian berdua tidak usah bicara jika hanya mau menambah rasa kesal ku!" geramnya.
Sedangkan Jingga, Saat ini wanita itu sudah menjadi topik pembicaraan teman kelasnya. Mereka semua merasa salut akan Jingga, Biarpun Jingga berhijab, Tapi ternyata hal itu tidak membuatnya terbatas.
"Yeeeee, Besti tim kita menang" ucap Olive sambil memeluk Jingga.
"Iya, Alhamdulillah ya"ucap Jingga pelan.
"Eh aku gak nyangka deh besti, Kamu ternyata hebat. Bisa mengalahkan si mak lampir Sisil"
"Kebetulan saja hari ini aku sedang beruntung, Makanya bisa mengalahkan dia"
"Tapi kayaknya aku harus banyak belajar sih besti dari kamu"
"Boleh-boleh, Dengan senang hati aku mau mengajarimu"
"Makasih besti ku"
"Sama-sama" ucap Jingga sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Sejak tadi, Pandangan Langit tak pernah lepas dari Jingga. Bukan hanya mereka yang merasa heran, Langit pun merasa heran dengan istrinya sendiri. Karna memang selama ini Langit tidak pernah tau bagaimana Jingga di sekolah lamanya.
"Woy, Kenapa lho liatin my bidadari begitu amat paketu?"
Mendengar suara Rey membuat Langit terkejut, Pria itu menatap Rey tanpa ekspresi"Ganggu aja lho" ucapnya
"Eh paketu, Bagaimana dengan balapan nanti malam? Jangan sampai lho lupa ya"
"Hmmm, Gue gak akan pernah lupa. Jam berapa dan dimana?"
"Jam 20:00 di tempat biasa"
Langit terdiam, Masih memikirkan alasan apa yang akak dia berikan pada Jingga malam nanti. Karna mau bagaimanapun, Langit tau jika Jingga tidak akan pernah mengijinkan nya untuk balapan liar.
"Kenapa lho malah diam saja paketu? Lho bisa kan?"
"Banyak bacot lho, Iya gue bisa"
"Yailah, Garang banget sih lho paketu, Lagi datang bulan?"
__ADS_1
"Mau gue pecat jadi anggota?"
"Nggak lah king, King mah sensi bener"
"Stttt, Diem gak usah banyak ngomong. Suara lho itu bikin kuping gue sakit"
Ketiga temannya yang sejak tadi hanya menyimak langsung terkekeh saat mendengar perkataan Langit. "Gak usah ketawa lho pada" ucap Rey sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Sokorr. Tapi emang bener sih yang Langit bilang. Suara elo kayak apa ya. Gak enak di dengar. Hahahhah"
"Bangsat lho"
Di Tempat Lain
Sudah seperti biasa, Ayahnya Jingga akan datang menjenguk papa Langit setiap pagi sebelum berangkat ke kantor. Hari ini agak siang, Karna memang jadwalnya di kantor tidak terlalu padat.
Alexander memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil itu. Berjalan sangat pelan, Menyusuri koridor rumah sakit dan menaiki beberapa anak tangga untuk membawanya ke tempat di mana papanya Langit di rawat.
Ceklek
Alexander membuka pintu ruang rawat papa Langit yang ada di ruangan VVIP. Kedua matanya memicing saat melihat adanya sosok wanita di sana. Menangis sambil menggenggam erat tangan pratama.
Melihat keberadaan wanita itu membuat Alexander terdiam di ambang pintu, Mendengarkan apa yang sedang wanita itu ucapkan. Lagi-lagi Alexander di buat terkejut dengan apa yang dia dengar.
"Mas, Sampai kapan kamu akan tidur seperti ini, Mas. Aku mohon bangun, Mas. Anak kita masih sangat membutuhkan mu"
Deg!!
"Apa ini? Kenapa wanita itu mengatakan anak kita. Siapa wanita itu sebenarnya?" ucap Alexander sambil terus memperhatikan sosok wanita yang menggendong bayi kecil. Umurnya kisaran masih 5 bulan.
"Mas, Aku mohon sadar demi Bintang. Bintang masih sangat membutuhkan kamu, Mas. Coba kamu liat, Wajahnya tampan, Sangat persis seperti dirimu. Aku memberikannya nama Bintang tepat seperti yang sudah kamu minta dulu"
Karna semakin merasa penasaran, Alexander pun masuk dan mendekat pada sosok wanita itu. Mendengar ada langkah kaki, Wanita itu langsung melepaskan genggaman tangannya dan menoleh ke arah Alexander.
"Siapa anda? Kenapa anda mengatakan anak kita?" tanya Alexander yang langsung tho the poin.
Wanita itu tak menjawab, Masih menatap raut wajah anaknya yang saat ini sedang tenang dalam tidurnya.
"Kenapa anda diam saja" ucap Alexander lagi
Sejenak wanita itu mengambil nafas pelan, Mengingat kembali kejadian malam itu, Sebuah kejadian yang sudah membuatnya menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Ayudia dan juga Pratama.
Flashback On
Hujan lebat membuat Aning menutup warungnya lebih awal, Karna cuaca malam ini sudah tidak memungkinkan ada pelanggan yang datang.
Di saat Aning sudah menutup warung, Tiba-tiba saja dia mendengar suara ban bocor yang tak jauh dari tempatnya. Mendengar hal itu membuat Aning keluar dan menemukan sosok pria yang melihat ban mobilnya di bawah derasnya hujan.
"Astaga, Kenapa harus di saat yang tidak tepat begini. Malah jauh dari bengkel, Aku lupa bawa ban serep" ucap pratama kala itu.
Aning yang melihat itu merasa sangat kasian, Wanita itu mendekat sambil membawa payung.
__ADS_1
"Ada apa, Tuan. Kenapa mobil anda?" tanya Aning dan membuat Pratama membalikkan tubuhnya.
"Oh ini, Ban mobil saya bocor. Mana saya gak bawa ban serep" jawabnya.
"Oh kebetulan sekali, Tuan, Saya ada ban mobil serep. Ada di mobil saya. Tuan bisa menggunakannya dulu"
"Beneran?"
"Iya, Tuan. Mari ambil ban nya di mobil saya, Sebelah warung"
Pratama hanya mengangguk, Pria itu mengekor di belakang Aning di bawah payung yang sama.
Hujan semakin besar, Di saat Aning dan pratama mau mengambil ban serep milik Aning, Tiba-tiba saja terdengar suara petir dan membuat Aning dan pratama merasa sangat terkejut. Karna terlalu terkejut, Mereka jatuh dengan posisi Pratama ada di atas Aning. Bersamaan dengan itu, Ada beberapa bapak-bapak yang lewat dan mengira mereka berdua melakukan hal-hal yang tidak senonoh.
"Hei, Ngapain kalian?"
Suara itu membuat Pratama dengan cepat bangun dari atas tubuh Aning. Mencoba menjelaskan hal yang sebenarnya pada mereka. Bahwa apa yang mereka lihat tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan.
"Saya bisa jelaskan, Pak. Ini sama sekali tidak seperti yang anda pikirkan" ucap Pratama pada mereka
"Alah, Mana ada maling ngaku. Nanti yang ada penjara penuh. Lebih baik kita nikahkan mereka berdua" ucap satunya
"Tapi, Pak. Kita benar-benar tidak melakukan apa-apa" sergah Aning yang ikut membantu meyakinkan mereka.
"Memang kalian belum melakukan apa-apa, Karna ketahuan kami berdua. Coba kalau tidak ada kami, Pasti kalian sudah melakukan hal itu kan"
"Astagfirullah, Pak. Sumpah, Kami tidak ada niatan mau ngapa-ngapain"
"Iya, Pak. Tadi kami hanya mau mengambil ban mobil milik mbk ini, Karna ban mobil saya bocor"
"Saya tidak percaya. Kalian tunggu di sini, Kalian harus di nikahkan malam ini juga"
"Kami jaga mereka, Biar saya yang panggil ustad buat menikahkan mereka"
10 Menit kemudian, Orang itu benar-benar datang dengan membawa ustad yang siap untuk menikahkan mereka berdua malam ini. Awalnya Pratama mau menolak, Tapi saat melihat raut wajah Aning entah kenapa membuatnya mengatakan iya.
Malam itu, Pratama sudah mengkhianati pernikahannya dengan Ayudia. Wanita yang begitu dia cintai.
"Mas, Kenapa kamu mau menikahi saya?"
"Karna saya tidak mau nama baik mu hancur hanya karna kejadian tak sengaja itu. Maafkan saya, Saya hanya mau menyelamatkan nama baik kamu"
"Satu hal yang perlu kamu tau, Saya sudah menikah dan sudah memiliki anak. Tapi kamu tenang saja, Saya akan tetap bertanggung jawab sebagai seorang suami"
Hari dan bulan berlalu, Karna sering bertemu, Akhirnya Pratama benar-benar mengkhianati Ayudia. Aning mengandung anaknya, Darah dagingnya tanpa sepengetahuan siapapun. Hanya Pratama dan Aning yang mengetahui akan hal ini. Tepat saat usia kandungannya masuk di bulan ke-7, Aning mendapat kabar jika pratama dan istrinya mengalami kecelakaan.
"Apa! Jadi anda adalah istri kedua Pratama?" tanya Alex setelah Aning selesai dengan ceritanya.
"Iya, Saya istri kedua mas Pratama, Dan ini anak pertama kami" jawabnya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Seketika Alexander teringat akan Langit, Bagaimana jika seandainya Langit tau akan hal ini. Apa yang akan dia rasakan.
__ADS_1
"Bagaimana jika sampai Langit tau hal ini" ucap Alexander dalam batinnya.