Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Rasa malu Lexan


__ADS_3

Tanpa terasa sudah dua jam berlalu. jingga dan Olivia keluar dari dalam kelas dan berjalan menuju kantin seperti biasa.


"Ji, Nanti kita masih mai kerja kelompok soal tugasnya buk Tiwi gak?" tanya Olivia di sela langkahnya.


"Aku gak tau, Liv. Kak Langit kam sedang tidak ada. Kita tanya sama yang lain saja ya. Aku ngikut aja"


"Yaudah. Nanti kita tanya sama mereka"


Jingga dan Olive yang sedang asing mengobrol perihal tugas kelompok yang di berikan oleh bu Tiwi sampai-sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang juga sedang berjalan ke arah mereka.


BUGH


Jingga hilang keseimbangan dan membuatnya hampir saja terjatuh, Namun pria itu dengan cepat menangkap tubuh Jingga dan membuatnya terjatuh dalam pelukannya.


"Hai, Nona cantik. Akhirnya kita bertemu lagi"ucap orang itu sambil menatap kedua mata Jingga.


Melihat sosok Lexan yang mendekap tubuhnya membuat Jingga dengan cepat menjauh dan melepaskan pelukan Lexan.


"Jauhkan tangan mu dari tubuh saya" ucap Jingga dengan nada dinginnya dan memalingkan wajahnya pada lain arah.


"Hei, Nona. Kenapa kau harus galak, Jangan galak-galak lah sayang" ucap Lexan lagi sambil mau menyentuh wajah Jingga.


"JAUHKAN TANGAN MU! JANGAN PERNAH SENTUH-SENTUH SAYA" balas Jingga sambil menatap tajam Lexan.


"Uuuuu atut. Galak amer sih cantik" ucap Lexa lagi sambil menyentuh pipi Jingga. Melihat itu membuat Jingga menarik tangan Lexan dan memelintir tangan pria itu, Sehingga Lexan mendengus kesakitan.


"Aaaaaaaaa, Bangsat Lho!" teriak Lexan kesakitan karna tangannya sudah menjadi korban Jingga.


"Bukankah malam itu sudah saya peringatkan, Jangan pernah mencari masalah sama saya ataupun geng the boys"


Setelah mengatakan hal itu, Jingga berlalu dari hadapan Lexan dan juga teman-temannya. Olive hanya mengekor di belakang Jingga sambil menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Merasa heran dengan apa yang baru saja Jingga lakukan pada seorang Lexan.


"Gilak, Jingga kok berani banget sama si Lexan ya. Padahal di sekolah ini tidak ada yang berani sama dia kecuali gang the boys. Apalagi seorang wanita sepertinya. Hebat sekali si Jingga. Kapan-kapan aku harus banyak belajar darinya" ucap Olive dalam batinnya sambil terus mengekor di belakang Jingga.


"Jingga, Kamu kok hebat banget sih. Selama ini tidak ada yang berani sama si Lexan kecuali gang the boys. Jangankan wanita, Laki aja gak ada yang berani" ucap Olive setelah mereka tiba di kantin.


"Sesekali orang seperti dia memang harus di beri pelajaran. Biar dia gak selalu seenaknya" balas Jingga pelan.

__ADS_1


"Kayaknya aku harus banyak belajar sama kamu. Kamu benar-benar hebat"


Jingga tersenyum"Iyalah, Gini-gini kan aku mantan ketua gang motor" batin Jingga


"Boleh, Memangnya apa yang mau kamu pelajari dari aku?" ujarnya


"Aku ingin belajar berbagai hal sih Ji. Kamu selain cantik, Soleha, Pintar, Pemberani lagi. Nilai plus-plus" puji Olive


"Nggak gitu juga lah Liv. Selama kamu mau, Kamu juga pasti bisa seperti aku"


Kabar mengenai Jingga memelintir tangan Lexan sudah menyebar menjadi satu sekolah. Hal itu tentu saja semakin membuat Lexan dendam terhadap Jingga.


"Gila ya, Gue gak nyangka kalau wanita seperti Jingga bisa melakukan hal itu loh" ucap seorang murid di koridor sekolah.


"Jangan kan lho, Gue juga merasa tidak percaya sih, Seorang wanita bercadar bisa melakukan itu pada Lexan..Secara kan di sini sebelumnya tidak pernah sda yang berani ya" balas satunya.


"Makanya, Hebat ya itu si Jingga"


Revan yang mendengar itu mengerutkan keningnya, Karna memang Revan sama sekali tidak tau menahu soal apa yang baru saja terjadi di sekolah itu sehingga menjadi sangat heboh di kalangan semua murid.


"Mereka membicarakan Jingga, Jangan bilang jika Jingga yang mereka bicarakan adalah Jingga adek gue. Wah berulah itu anak" ucap Revan dalam batinnya sambil melanjutkan langkahnya.


"Van" panggil Damian lagi sambil berlari mendekat pada Revan yang sudah ada di atas tangga.


"Ada apa? Kenapa lho kayak di kejar anjing begitu Dam?"


"Ikut gue" pungkas Damian sambil menatap Revan.


"Ikut kemana?"


" Gak usah banyak tanya, Ikut aja"


"Iya ikut kemana, Kan kalau gue gak tau tujuannya nanti yang ada lho bawa gue ke tempat yang sepi lagi" celoteh Revan sambil mengekor di belakang Damian.


"Dih, Buat apa juga gue mau bawa gue ke tempat yang sepi, Emang gue gak ada kerjaan"


"Ya kali aja. Lho kan gay" balas Revan sambil terkekeh.

__ADS_1


Mendengar itu membuat Damian menghentikan langkah kakinya. Pria itu menoleh ke arah Revan yang masih terkekeh di belakangnya.


"Kurang ajar lho bilang gue gay" umpatnya.


"Kan emang bener, Buktinya selama ini gue kagak pernah tuh liat lho godain cewek. Tiap hari palingan cuma sibuk sama ponsel doang" titah Revan yang masih terus terkekeh.


"Lalu. Karna begitu lho mengira gue gay?"


"Iyalah. Mana ada cowok normal kerjaannya cuma main ponsel doang. Mulai gue sekolah di sini, Gue kagak pernah tuh liat lho bareng atau deket sama cewek manapun"


"Karna wanita yang gue cinta sudah tenang di alam sana" batin Damian lirih.


"Terserah kau lah mau menganggap gue seperti apa. Yang penting gue tidak seperti yang lho katakan"


"Ayo ikut gue ke Rooftop" lanjut Demian serta kembali melangkahkan kakinya menaiki anak-anak tangga itu lagi.


"Ngapain kit ke Rooftop?" tanya Revan yang terlihat begitu penasaran.


"Nanti juga lho bakal tau"


Setelah tiba di Rooftop, Ternyata di sana sudah ada anggota geng the boys yang sudah berkumpul dan menunggu kedatangan Demian dan juga Revan.


"Nah, Akhirnya yang kita tunggu datang juga" ucap Rey setelah melihat kedatangan Revan dan Damian di sana.


Revan semakin merasa bingung saat melihat keberadaan mereka di sana"Ngapain lho bawa gue kesini, Ada mereka juga" ucap Revan sambil menoleh pada Damian.


"Gak usah banyak tanya. Nanti juga lho bakal tau apa alasan gue meminta lho untuk ikut"


"Terserah kau saja lah"


*****


Di Tempat yang berbeda


Lexan mengepalkan kuat kedua tangannya, Apa yang Jingga lakukan sudah benar-benar membuatnya malu. Apalagi hal yang tadi terjadi di lihat oleh banyak orang di sana.


"Kurang ajar wanita itu! Awas saja, Dia akan merasakan apa akibat yang sudah dia lakukan terhadap gue" ucap Lexan dengan amarah yang sudah naik ke ubun-ubun.

__ADS_1


Bukan hanya merasakan sakit di bagian tangannya, Tapi juga merasa sangat malu karna sudah menjadi tontonan banyak orang.


"Arrrggghhh, Wanita sialan! Awas saja ya Jingga. Lho sudah berani melakukan hal ini lagi sama gue, Jangan salahkan gue kalau gue melakukan hal yang tak pernah lho bayangkan sebelumnya" ucap Lexan dengan wajah yang memerah karna menahan rasa malu.


__ADS_2