Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Menang Tender


__ADS_3

"Ada apa, Sayang? Apa yang terjadi?" tanyaku lembut sambil menatap kedua matanya yang sudah terlihat basah. Bahkan bukan hanya itu, Kedua mata Jingga juga terlihat sangat merah. Seperti sedang menahan amarah yang amat besar.


Melihat itu tentu saja semakin membuatku merasa penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi di sekolah tadi, Kanapa Jingga sampai seperti ini.


"Sayang, Kenapa?" ulang ku lagi. Namun Jingga masih diam tak menjawab sepatah katapun dari pertanyaanku. Aku semakin merasa bingung saat melihat tangisnya semakin pecah dalam dekapanku.


Setelah cukup lama terdiam, Akhirnya Jingga membuka suara. Walaupun tak langsung mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Mereka jahat, Kak. Mereka jahat" ucapnya yang terdengar sangat lirih.


"Mereka? Mereka siapa, Sayang?" tanyaku sambil membelai lembut kepalanya.


"Mereka jahat. Hiks... Hikss..."


Lagi-lagi hanya itu yang keluar dari mulut Jingga. Melihat hujan semakin deras, Akhirnya aku memutuskan untuk mengajak Jingga pulang. Aku kesampingkan rasa penasaran itu. Yang terpenting untuk saat ini adalah, Aku harus segera membawa Jingga pulang. Karna aku tidak mau jika sampai Jingga sakit karna terlalu lama di bawah derasnya hujan.


"Kita pulang ya, Sayang" ujarku lembut sambil mengusap kedua mata Jingga.


Jingga tak menjawab, Dia hanya memberi anggukan pelan. Entah apa yang sebenarnya terjadi, Tapi aku melihat ada luka dari kedua sorot matanya.


Aku membawa tubuh Jingga masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobil itu menjauh dari sana. Di sepanjang perjalanan, Tidak ada seuntai kata yang terucap, Air mata itu masih saja mengalir dan Jingga biarkan begitu saja.


"Ya allah. Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Jingga sampai terlihat begitu terluka" batinku sambil sesekali melirik ke arah Jingga yang terus terdiam sambil menatap keluar arah jendela dengan air mata yang terus mengalir.


Aku semakin mempercepat laju mobilku saat melihat bibir Jingga mulai kebiruan dan tubuhnya gemetar. "Astaga, Kamu demam, Sayang" ucapku sambil menempelkan tanganku pada keningnya.


Jingga tertidur dengan tangan yang memeluk tubuhnya sendiri. Hingga tak berselang lama, Mobilku pun tiba di mansion. Dengan cepat aku membawa tubuh Jingga keluar dari mobil.


Tok.....Tok.....Tok....


"Bi Siti, Buka pintunya bi" teriakku memanggil bi Siti.


Cukup lama aku menunggu, Akhirnya bi Siti datang membuka pintu itu"Kenapa lama sekali buka pintunya bi" omel ku sambil berjalan masuk


"Maaf king, Tadi bibi lagi di dapur. Ya allah ini Queen kenapa, King?" tanya bi Siti sambil mengekor di belakangku.


"Nanti akan saya ceritakan. Sekarang bibi tolong siapkan baju ganti buat Jingga"


"Baik, Den"


Bi Siti berjalan lebih cepat mendahuluiku. Menyiapkan baju ganti buat Jingga. "Astaga, Badan kamu panas sekali, Sayang" ucapku di sela langkahku.


Tanpa terasa hari sudah berlalu. Aku duduk di samping Jingga yang masih tertidur. Suhu tubuhnya sudah tidak sepanas tadi, Karna tadi Jingga sempat aku berikan obat penurun panas.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Sayang? Kenapa kamu sampai seperti itu. Siapa yang sudah berani membuat kamu membuang air mata itu" ucapku sambil menggenggam tangan Jingga.

__ADS_1


****


"Bagaimana, Daddy. Sisil bisa kan membuat Club Daddy beroperasi lagi" ucap Sisil pada Daddy nya.


"Iya. Kalau boleh tau, Apa sih yang kamu lakukan sayang?" tanya daddy nya pada Sisil.


"Ada deh, Tapi itu tidak gampang Dad, Sisil sangat berjuang untuk Club kita" jawab Sisil lesu.


"Berjuang? Memangnya apa yang kamu lakukan?"


Ingatan Sisil kembali pada kejadian beberapa hari yang lalu, Tepatnya saat Sisil sedang melakukan kerja kelompok di apartemen Langit.


Flashback Apartemen.


*Saat semua teman-temannya sudah pulang, Sisil mendekat pada Langit yang saat itu hanya duduk berdua dengan Jingga.


"Langit, Ada hal yang harus gue bicarakan" ujar Sisil pada Langit.


"Tentang apa? Bicara saja"


"Tapi tidak di hadapan Jingga. Ini soal" perkataan Sisil terpotong karna Langit cepat menimpalinya. "Club Sanjuda" timpal Langit.


Sisil mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Langit. Bagaimana bisa Langit tau apa yang mau di bicarakan oleh Sisil.


"Kenapa lho bisa tau?"


"Gue tau apa maksud tujuan lho. Intinya cuma satu, Jangan pernah mencari gara-gara pada Jingga. Kalau sampai hal itu terjadi, Jangan harap Club keluarga lho bisa beroperasi seperti semestinya"


"Itu saja kan?" tanya Sisil sambil menatap Langit.


"Siapa bilang itu saja, Ada syarat kedua dan ketiga" balas Langit lagi.


"Apa memangnya?"


"Mulai minggu depan, Kamu harus datang ke mansion gue dan melakukan semua pekerjaan rumah setelah pulang sekolah"


"Apa! Gak ada syarat lain memangnya?"


"Ada syarat yang ke tiga"


"Astaga, Apa lagi?"


"Lho harus berhenti gangguin gue. Karna gue sudah menjadi milik Jingga"


Sisil yang belum paham mengerutkan kecil keningnya"Maksudnya?" tanya Sisil penasaran.

__ADS_1


"Gue dan Jingga sudah bertunangan. Jadi gue harap lho jauh-jauh. Jangan jadi toxic"


"Apa! Jadi kalian berdua"


"Ya, Tapi jangan sampai ada orang yang tau. Kalau sampai ada yang tau soal ini, Itu artinya lho yang ngebocorin. Siap-siap saja bakal gue tutup permanen itu Club"


Sisil mengambil nafa sejenak. Apa yang dia dengar dari Langit cukup berat, Tapi ini semua demi keselamatan Club keluarganya.


"Oke oke, Gue akan lakukan semua itu. Tapi itu semua berlaku mulai minggu depan kan"


"Hmm" balas Langit tanpa menoleh pada Sisil.


Jingga yang mendengar itu hanya bisa mengulum bibir, Tidak bisa membayangkan seorang Sisil mengerjakan pekerjaan rumah selama satu bulan lamanya*.


"Hahahhahaha, Daddy gak nyangka kamu bakal mau melakukan itu, Sil"


"Kenapa Daddy malah ketawa sih Dad. Ini Sisil lagi kesel, Itu artinya Sisil jadi babu di sana selama satu bulan. Huaaa daddy"


"Sudahlah, Sayang. Dari pada kita jatuh miskin, Kan hanya satu bulan"


Di saat Sisil dan Daddy nya sedang mengobrol di ruang tamu bersama dengan Daddy nya. Tiba-tiba ada suara langkah kaki yang tak lain adalah, Mommy nya.


"Dari mana kamu, Mom?"


"Bukan urusan Daddy" jawabnya dingin tanpa menoleh pada mereka berdua.


****


Dttttt.....Dttttt....Dttttt...


Langit menatap layar ponselnya saat mendengar suara dering ponsel itu, Di sana ternyata ada panggilan masuk yang ternyata dari Om Iwan.


Melihat nama itu, Langit langsung mengusap layar ponselnya. Sudah bisa Langit duga jika om Iwan menghubunginya pasti soal meeting siang tadi.


📲:Halo, Om..Ada apa?


📲:Om menghubungi kamu karna ingin menyampaikan kabar soal tadi siang, Langit.


📲:Bagaimana hasilnya, Om?


📲:Hasilnya tepat seperti yang sudah om prediksi.


📲:Maksudnya, Om? Langit tidak paham.


📲:Selamat, Langit. Kamu yang menjadi pemenang tender siang tadi. Tuan Saka sangat menyukai persentasi kamu, Beliau sudah membuat skejul pertemuan berikutnya untuk membahas perihal proyek yang akan kita bangun. Sekalian nanti langsung tanda tangan kontrak.

__ADS_1


📲:Om tidak lagi bercanda kan? Langit menang tender?


📲:Iya, Langit. Kamu berhasil


__ADS_2