
"Bodo amat" ucap Rey sambil melajukan pelan motornya.
"Dasar jelangkung menyebalkan. Gue doain semoga mogok tu motor"
"Doa mak Lampir kagak bakal mempan, Apa lagi banyak dosa kek lho"
"Siap-siap saja, Di sini kalau malem biasanya ada mbk kunti yang gentayangan, Dadah mak Lampir. Selamat menikmati gentayangan si kunti" ucap Rey lagi dan langsung melajukan cepat motornya. Meninggalkan Sisil yang sudah terlihat sangat kesal terhadap Rey.
"Dasar cowok jadi-jadian. Mana ada di tempat ini yang namanya kunti. Ya kali di perumahan elit afa begituan" gumam Sisil yang mencoba biasa saja, Walaupun sebenarnya hatinya memiliki sedikit rasa takut.
"Bagaimana jika yang di katakan Rey benar, Duh kok malah suasananya jadi horor begini ya" ucap Sisil sambil memperhatikan bulu tangannya yang sudah mulai berdiri.
"Rileks Sil, Jaman sekarang tidak ada yang namanya mbk kunti, Jangan parno hanya karna perkataan si Ray Jelangkung"
Sisil berusaha untuk bersikap biasa saja, Tapi semakin dia berusaha biasa saja, Rasanya suasananya semakin menumbuhkan rasa takut.
"Duuh kenapa sepoy begini ya, Bikin merinding aja"
Tanpa sengaja Sisil menoleh ke arah pohon yang ada di sebelah kamar Samudra. Melihat itu membuat Sisil takut dan berteriak bukan main.
"Aaaaaaa" teriak Sisil sambil menutup matanya.
"Aduuh, Kenapa gue harus terjebak di sini. Bagaimana caranya gue pulang, Kenapa gak ada satu pun taksi yang mau nerima orderan gue. Hiks...Hiks.."
Sisil yang merasa benar-benar takut akhirnya menangis sambil terus menutup kedua mata dengan tangannya. Hingga tak berselang lama, Sisil bisa mendengar suara mesin motor yang berhenti tepat di depannya.
Mendengar itu membuat Sisil menurunkan tangannya dan langsung menemukan Rey yang sudah menatapnya. "Rey, gue takut Rey. Jangan tinggalin gue" ucapnya dan langsung naik ke atas motor Rey lalu memeluknya dari belakang dengan sangat erat.
"Jangan tinggalin gue Ray. Antarkan gue pulang, Ya"
Rey terdiam, Tak membalas sepatah katapun dari perkataan Sisil. Pria itu hanya melirik tangan Sisil yang sudah memeluknya dengan sangat erat.
"Ehhmmm, Kayaknya nyaman bener meluk gue" ucapnya setelah cukup lama membiarkan Sisil memeluk tubuhnya.
Mendengar suara itu membuat Sisil mengangkat wajahnya dari pundak Rey dan juga melepaskan pelukannya.
"Sorry" ucapnya sambil mengusap kedua matanya yang sudah mulai basah.
"Makanya, Jadi orang jangan keras kepala dan sok jual mahal. Untung gue laki-laki yang gak tegaan, Makanya gue balik lagi buat mastiin lho udah dapet taksi apa belum" titah Rey sambil menoleh pada Sisil.
"Iya gue minta maaf. Habisnya lho jadi cowok ngeselin banget. Tolong anterin gue pulang ya, Rey"
"Baiklah, Lho pakek dulu helmnya"
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, Sejak tadi ternyata Samudra memperhatikan kejadian di sana. Pria itu tertawa sambil memegang perutnya saat melihat raut wajah Sisil yang begitu lucu.
Ya, Hal yang tadi adalah kelakuan Samudra, Pria itu ingin memberikan sedikit pelajaran terhadap Sisil yang menurutnya begitu menyebalkan. "Seru juga ngerjain si Sisil" ucapnya di sela tawanya.
"Tapi kalo di perhatikan, Apa yang di katakan Doni bener juga. Mereka terlihat serasi, Momen ini harus di abadikan" ucapnya dan mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar saat Rey memasangkan helm di kepala Sisil.
"Atutu, Romantis juga" ucapnya dan langsung mengirimkan gambar itu pada Doni.
Di Tempat Lain
"Kenapa lho bang, Muka kok kusut begitu. Jelek tau gak sih" ucap Jingga pada Revan saat pria itu ikut duduk dan berkumpul di ruang keluarga.
"Iya, Van. Kenapa wajah kamu kusut begitu. Ada apa?" tanya Alexander yang ikut memperhatikan raut wajah Revan.
"Ayah, Beliin Revan motor baru dong"
Mendengar perkataan Revan, Jingga dan sang ayah saling lirik. Ada apa dengan Revan, Kenapa tiba-tiba saja minta di belikan motor baru.
"Ada apa memangnya? Tumben abang minta di belikan motor baru" tanya Jingga sambil meneguk segelas susu putih di tangannya.
Revan tak langsung menjawab, Ingatannya kembali pada kejadian tadi siang. Tepatnya saat hujan sudah mulai reda.
Flashback tadi Siang
"Iya, Fel. Alhamdulilah akhirnya hujan reda juga ya"
"Tapi percuma juga reda sih Van. Motor kamu kan masih mogok"
"Astaga, Iya gue lupa. Itu artinya lho harus bantu gue dorong. Mau ya"
"Yaudah, Ayo gue bantu dorong"
Akhirnya Revan dan Felisa mendorong motor Revan yang sudah tidak bisa menyala, Entah apa yang menjadi penyebab utama motor bisa magi total. Padahal biasanya tidak pernah seperti ini.
"Maaf ya, Fel. Gara-gara motor gue mati lho harus dorong"
"Gak papa"
Jingga yang mendengar cerita Revan seketika langsung tertawa pecah di sana.
"Ngapa lho ketawa?"
"Lucu sih bang. Syukurin" ucap Jingga yang masih terus menertawakan cerita Revan.
__ADS_1
"Adek durjana memang. Gak berguna kau"
"Yah, Beliin yang baru ya, Yah. Kalau seperti ini terus bagaimana caranya Revan dapet cewek" rengek Revan pada ayahnya.
"Dih bang, Kayak bocah aja" cibir Jingga yang masih tetap menertawakan Revan.
"Diem lho. Dasar adek tau menyebalkan!"
"Yeee, Lagi ngomongin diri sendiri ya"
Langit sejak tadi hanya bisa mengulum bibir menyaksikan Jingga dengan Revan yang membuatnya merasa terhibur dengan kelakuan kakak beradik ini. Melihat itu membuat Langit teringat akan Samudra. Tiba-tiba saja Langit merindukan sosok Samudra yang biasanya selalu berdebat seperti ini dengannya.
'Kenapa gue tiba-tiba saja merindukan Samudra" ucap Langit dalam batinnya.
Sejak siang Langit memang tidak membuka ponselnya sama sekali, Pria itu menyalakan ponselnya dengan niatan mau melihat gambar dirinya bersama dengan Samudra. Namun, Tiba-tiba saja Langit memicingkan kedua matanya saat membaca sebuah pesan masuk yang ternyata dari Samudra.
Adek bang sad
[ Kak, Kak Langit dimana? Kenapa kak Langit belum juga pulang? Sam sekarang ada di mansion sedang menunggu kakak, Ada hal penting yang harus Samudra bicarakan. Kalau kaka online, Jangan lupa telpon Sam ya, Sam tunggu ]
"Ada apa, Apa yang sebenarnya mau Samudra bicarakan. Sepertinya memang sangat penting. Lebih baik gue telpon sekarang" ucap Langit dalam batinnya.
Setelah dari dermaga, Langit dan Jingga memang memutuskan untuk pulang ke mansion orang tuanya Jingga, Malam ini mereka akan menginap di sana.
"Sayang, Aku ke atas sebentar ya. Mau cuci muka, Kayaknya sudah mulai ngantuk" ucap Langit berbohong.
"Baiklah, Kak. Nanti aku nyusul ya"
"Iya, Sayang. Ayah bang Revan, Langit ke atas dulu ya"
Langit bangun dari duduknya. Pria itu menaiki anak-anak tangga dengan langkah cepat. Merasa begitu penasaran dengan apa yang mau Samudra bicarakan dengannya.
Setelah tiba di dalam kamar Jingga, Langit langsung menghubungi Samudra. Tak butuh. waktu lama, Samudra menjawab panggilannya.
📲:Ada apa lho menghubungi gue? Ada hal penting apa yang mau lho bicarakan.
📲:Ini soal hubungan kakak sama Jingga
📲:Apa maksud lho?
Mendengar kalimat soal hubungannya dengan Jingga membuat Langit sakin merasa penasaran.
📲:Kakek
__ADS_1