
Aduhh rasanya cukup ngeri saat mendengar perkataan kak Langit. Aku tau sih bagaimana perasaan dia. Kecewa, Luka, Sakit. Itu sudah pasti. Aku lihat kedua sorot matanya seperti ada kebencian yang begitu dalam saat dia menyebutkan nama Darwin.
Jika sudah seperti ini aku tidak bisa apa-apa lagi, Aku harus paham bagaimana perasaan kak Langit saat tau siapa yang sudah menjadi dalang kecelakaan yang di alami mama dan papa satu tahun yang lalu. gara-gara hal itu, Kak Langit di paksa dewasa oleh keadaan. Menjadi seorang pemimpin di usianya yang masih 18 tahun.
Melihat kak Langit seperti itu membuat aku terdiam, Tidak tau apa yang harus aku katakan. Aku tidak ingin salah bicara untuk saat ini. Apalagi kak Langit sudah tau bagaimana aku di masa lalu.
"Aku akan memberikan pelajaran pada siapapun yang sudah berani mengusik ketenangan orang-orang yang aku sayang" ucapnya lagi.
"Kak, Ingat. Jangan pernah melakukan hal di saat emosi sedang menguasai mu" ucapku sambil menggenggam tangannya.
"Kamu tenang saja,Sayang. Aku pasti akan menunggu saat yang tepat untuk membalaskan apa yang sudah Darwin lakukan" jawabnya sambil membalas genggaman tangan ku.
*****
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 23:00. Lexan masih terjaga, Entah kenapa malam ini rasanya dia begitu susah untuk sekedar menutup kedua matanya. Bayangan Jingga selalu saja muncul dalam benaknya.
"Astaga, Kenapa aku malah kebayang wanita sialan itu terus" ucap Lexan sambil mengacak rambutnya sendiri.
"Jadi wanita itu adalah mantan ketua geng motor, Pantas saja malam itu dia bisa mengalahkan gue dan juga Langit yang sudah jelas-jelas raja jalanan"
Lexan mengambil ponselnya dan kembali memutar video yang dia dapatkan siang tadi. "Memang benar-benar jago sih. Gue aja belum bisa yang begini" ucap Lexan sambil terus memperhatikan video itu.
"Astaga, Wanita ini benar-benar ahli. Aku semakin penasaran saja dengannya. Apa sebaiknya gue deketin wanita itu ya. Sepertinya dia cocok untuk di jadikan istri" ucap Lexan yang sudah mulai ngaco.
"Aahhh, Apa yang sudah aku pikirkan. Jangan gila lho Lexan! Tujuan lho ingin mendekati wanita itu bukan karna perasaan, Ingat Lexan, Jangan sampai lho jatuh cinta sama wanita itu" ucap Lexan pada dirinya sendiri.
Di Tempat Lain
"Bagaimana caranya agar aku bisa memisahkan Langit dengan Jingga, Sedangkan aku sendiri bisa membaca dari sorot mata mereka jika mereka berdua sama-sama saling mencintai" ucap Devano sambil menatap langit-langit di dalam kamarnya.
"Sebenarnya apa alasan kakek meminta ku untuk menghancurkan hubungan mereka. Aku benar-benar tidak paham"
"Mereka berdua juga sudah menikah. Rasanya akan sulit buat memisahkan mereka" ucap Devano lagi.
__ADS_1
"Tapi kalau aku perhatikan, Sepertinya Jingga adalah wanita yang sangat cantik. Matanya benar-benar indah" tanpa sadar Devano memuji Jingga sambil mengingat kejadian dua hari yang lalu.
"Tapi aku gak nyangka jika gadis sepertinya adalah mantan ketua geng motor yang terkenal di bandung"
Saat ini Devano tinggal sendiri di apartemen milih Abimana, Letaknya tidak jauh dari tempat apartemen Langit. Hanya berjarak sekitar 6-7 unit saja.
"Rasanya sangat sepi di sini. Kenapa aku malah tidak bisa tidur begini" ucapnya yang memang terasa sangat sulit untuk tertidur. Beruntung besok adalah hari minggu. Hari di mana yang paling di tunggu setiap anak-anak sekolah.
Tanpa terasa malam sudah berlalu. Jingga menggeliat saat merasakan ada tangan yang melingkar di perutnya. Siapa lagi kalau bukan Langit.
"Selamat pagi, Istriku sayang"
"Pagi, Surgaku" balas Jingga sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Hari ini mau jalan-jalan gak, Sayang?" tawar Langit sambil menatap Jingga.
Wanita itu mengangguk"Boleh, Kak. Sepertinya kita memang perlu refreshing untuk sekedar melupakan masalah yang terus saja datang" balas Jingga
"Iya, Sayang. Rasanya aku cukup lelah dengan semua ini. Ingin rasanya aku menyerah, Tapi apa yang kamu katakan memang benar. Jangan pernah menyerah! Karna kita hanya perlu menjalani alur skenario yang sudah di tentukan olehnya" balas Langit sambil tersenyum.
****
"Langsung otw sajalah, Sekalian melepas penat juga kan"
Rey keluar dari dalam kamarnya dengan menggunakan jaket the boys. Kali ini Rey terlihat lebih tampan dari pada biasanya. Karna memang kemarin saat pulang sekolah, Rey sudah memotong rambutnya dan terlihat sedikit rapih.
"Eheemm"
Suara itu berhasil menghentikan langkah Rey yang sudah tiba di ambang pintu"Eh mama" ucap Rey dan kembali berjalan menuju sang mama yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.
"Mau kemana kamu, Rey. Ini kan masih sangat pagi"
"Rey bosan di rumah ma. Rey pengen jalan sama teman"
__ADS_1
"Untuk hari ini, Mama ngelarang kamu jalan dulu. Kamu nanti ikut mama"
"Ikut kemana, Ma?" tanya Rey penasaran. Karna memang tidak biasa mamanya melarang Rey untuk keluar dari rumahnya.
"Ketemu sama anak temannya mama. Mama sudah memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan anak temen mama. Anaknya cantik loh Rey"
"Isss. Mama, Sejak kapan mama mau ngejodohin Rey sama anak teman mama. Bukan kah mama pernah bilang jika Rey bebas mencari pasangan sendiri?" tanya Rey sambil menatap mamanya.
"Memang, Tapi tidak untuk saat ini. Mama dan teman mama sudah sepakat untuk menjodohkan kalian. Nanti jam 10 kita akan menemui mereka, Jangan kemana-mana"
Setelah mengatakan hal itu, Mama nya Rey kembali masuk ke dalam kamarnya. Rey menatap layar ponselnya yang masih menunjukkan jam 09:00.
"Astaga, Mama ada-ada saja. Memangnya ini jaman nya siti nurbaya pakek acara jodoh-jodohan segala lagi" ucap Rey sambil mengambil nafas pelan.
Untuk menghilangkan rasa bosannya. Rey memutuskan untuk memainkan Game seperti biasa. Push rank untuk menghilangkan rasa kesalnya pagi ini.
"Ada-ada aja si mama. Masa iya mau ngejodohin gue sama anak temannya. Bagaimana kalau wanita itu jelek. Iihhh, Gak mau gue"
Tanpa Rey sadari, Jam sudah menunjukkan pukul 10:00. Mama nya pun sudah siap untuk bertemu dengan temannya.
"Rey, Masih di situ saja. Kamu gak siap-siap?"
"Mau siap-siap bagaimana lagi mah, Males Rey. Pakai ini saja" ucap Rey sambil menatap mamanya yang sudah terlihat glamor seperti biasanya.
"Mama mau ketemu teman mama apa mau kondangan" ucap Rey sambil terkekeh.
"Dasar anak durhaka memang kamu Rey. Penampilan mama kan harus selalu terlihat glamor Rey"
"Terserah mama saja lah. Ayo kita pergi"
Kali ini Rey pergi menggunakan mobil milik mamanya. Rey melesatkan mobil itu ke salah satu restoran yang sudah di ucapkan oleh sang mama beberapa saat yang lalu. Karna ini adalah hari weekend, Jalan cukup padat. Hingga membuat mereka membutuhkan waktu satu jam lebih untuk tiba di restoran itu.
"Akhirnya sampai juga" ucap mama Rey sambil keluar dari dalam mobilnya.
__ADS_1
Rey berjalan mengekor di belakang mamanya. Namun saat tiba di dalam restoran, Ada hal yang membuat Rey mengerutkan keningnya"Ngapain lho di sini?" ucap Rey dan gadis itu secara bersamaan.
"Jangan bilang kalau lho"