Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Darah di balas dengan darah!


__ADS_3

"Galvin, Kenapa kamu malah bengong? Kamu dengar saya kan?"ucap Darwin sambil menepuk pundak Galvin.


Hal itu tentu saja membuat Galvin tersadar dari lamunan kejadian yang dia lihat beberapa saat yang lalu, Saat dimana Toni menjadi korban atas keegoisan Erlangga.


"Iya, Tuan. Saya dengar" balas Galvin sambil menundukkan wajahnya.


"Saya mau kamu mencari tau apa yang sudah Yuna lakukan malam ini. Karna saya seperti melihat ada keanehan dari sikapnya" ucap Darwin lagi.


"Baiklah, Tuan. Saya akan mencari tau apa yang sudah Yuna lakukan malam ini" balas Galvin pelan.


"Maafkan saya yang belum bisa mengatakan hal yang sebenarnya tuan, Saya tau pasti anda akan sangat terkejut saat mengetahui apa yang baru saja Yuna lakukan di luar sana"ucap Galvin dalam batinnya sambil menoleh pada Darwin.


"Yasudah. Kamu bisa istirahat sekarang. Jangan lupa besok antarkan Yuna sekolah"


"Siap, Tuan"


Setelah itu, Galvin melangkahkan kakinya menjauh dari tempat Darwin. Pria itu melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya.

__ADS_1


"Huufftttt, Gak nyangka juga Yuna bisa melakukan hal itu. Bagaimana jika sampai hal ini terbongkar, Entah apa yang akan terjadi selanjutnya" ucap Galvin setelah sampai di dalam kamarnya.


Di dalam kamar Yuna.


Yuna mengunci pintu dengan tubuh yang masih gemetar. Ada rasa sesal dari dalam relung hatinya. Menyesal karna sudah mau ikut campur dengan apa yang sudah di lakukan oleh Erlangga pada Toni.


"Maafkan, Gue Ton. Maafkan gue yang harus mengorbankan lo untuk kali ini. Tapi gue tidak ada pilihan lain, Gue belum siap jika semua orang tau bagaimana kelakuan gue. Sorry" ucap Yuna dengan suara gemetar.


Prankkkk


Wanita itu merasa sangat terkejut saat mendengar suara benda jatuh dari arah balkon kamarnya.


Yuna membuka pintu balkon, Namun tidak ada siapa-siapa di sana. Hal itu tentu saja membuat Yuna mengerutkan kecil keningnya. "Gak ada siapa-siapa. Ya iyalah gak bakal ada siapa-siapa, Kan hanya aku yang bisa kesini" ucap Yuna pelan.


Di saat Yuna sedang ingin masuk kembali ke dalam kamarnya, Tanpa sengaja wanita itu menginjak sebuah kertas. Yuna mengambilnya dan membuka kertas itu. Betapa terkejutnya Yuna saat membaca isi dari kertas yang dia temukan.


JIKA MATA DI BALAS DENGAN MATA, MAKA NYAWA AKAN DI BALAS DENGAN NYAWA!!!!

__ADS_1


Degggg!!!


Yuna membulatkan kedua matanya setelah membaca isi kertas itu, Tubuhnya gemetar serta membuat Yuna menoleh ke berbagai arah. Mencoba mencari siapa yang sudah melempar kertas itu. Namun hasilnya nihil, Karna Yuna tidak menemukan sedikit jejak apapun di sana.


"S...siapa yang sudah melempar kertas ini. Apa maksudnya. Nyawa di balas dengan nyawa" ucapnya dan langsung masuk kembali ke dalam kamarnya.


******


"Kita lihat saja, Yuna. Aku akan membuat kamu sendiri mengakui apa yang sudah kamu lakukan tadi" ucap seseorang yang saat ini sedang menatap foto Yuna.


Entah apa yang saat ini menjadi rencananya, Tapi yang pasti, Dia adalah sosok yang sudah melemparkan kertas pada balkon kamar Yuna. Siapakah orang itu?


Di Tempat Lain


2 Jam sudah berlalu. Acara pemakaman jenazah Toni sudah selesai di laksanakan. Saat ini semua anggota geng the boys masih ada di kediaman orang tua Toni.


"Kira-kira siapa yang sudah melakukan hal ini pada Ton?"ucap Rey sambil menatap Langit.

__ADS_1


"Entah, Tapi siapapun dia. Dia sudah mengangkat bendera perang. Bagaimanapun caranya, Gue akan menemukan siapa yang sudah melakukan ini pada Toni" ucap Langit dingin tanpa ekspresi


"Dan gue akan membunuhnya seperti apa yang sudah dia lakukan pada Toni. darah harus di balas dengan darah!" ucap Langit lagi


__ADS_2