
Setelah membaca pesan yang Jingga kirimkan, Perlahan Langit mengangkat kedua sudut bibirnya. Ada rasa bahagia dengan kalimat yang baru saja dia baca.
"Semoga saja kita memang akan selalu menua bersama. Sayang. Karna aku tidak tau bagaimana hidupku jika tanpa ada sosok kamu yang ada menemaniku" ucap Langit dalam batinnya sambil menatap layar ponselnya.
Langit mengambil nafas pelan sambil meletakkan ponsel itu dalam saku seragamnya. Tiba-tiba saja dia teringat akan papanya.
"Rasanya masih berasa kayak mimpi saat mendengar jika papa sudah mengkhianati mama"
"Sosok laki-laki yang selama ini selalu menjadi panutanku. Menjadi sosok yang selalu aku idolakan. Tapi kenapa papa harus melukai perasaan mama dengan menikahi wanita lain" batin Langit yang terdengar sangat lirih.
Mungkin kecewa yang saat ini sedang Langit rasakan. Sosok yang dia pikir sempurna sudah melukai perasaannya.
"Huuff, Aku benar-benar tidak percaya jika papa sudah tega melakukan hal itu" batin Langit lagi.
*****
Di Tempat Lain
"Saya minta, Kalian atur semuanya. Saya kau kalian berdua menghabisi si Pratama hari ini juga. Jangan sampai tinggalkan jejak sedikitpun"
"Baik, Tuan" ucap seseorang yang berdiri di hadapannya.
"Ingat, Kalian harus bisa main cantik. Jangan sampai meninggalkan jejak apapun di sana"
"Tuan Darwin tenang saja. Serahkan semua tugas inu pada kita berdua. Saya pastikan tidak akan ada jejak yang tertinggal di sana"
"Bagus. Kalau begitu kalian atur semuanya. Saya mau malam ini kalian sudah memberikan kabar yang membahagiakan terhadap saya"
"Siap, Tuan. Akan kami pastikan, Jika anda akan menerima kabar bahagia itu sebelum jam 20:00 malam"
"Good"
Setelah itu, Kedua orang tadi keluar dari ruangan kerja Darwin. Sosok yang selama ini menjadi penyebab kecelakaan kedua orang tua Langit. Sehingga membuat mama Langit meninggal dan papanya koma seperti saat ini.
"Saya tidak sabar ingin melihat kematian mu, Pratama. Saya benar-benar tidak sabar menunggu kabar yang begitu membahagiakan malam ini" ucapnya sambil tersenyum.
"Ternyata tidak sia-sia malam itu aku membuat mobil mereka kecelakaan. Setidaknya, Masih ada kesempatan untuk saya bisa memiliki seluruh kekayaan Pratama" ucapnya lagi.
Darwin mengambil ponselnya, Menatap sebuah foto seorang wanita yang dia jadikan sebagai Wallpaper ponselnya.
"Gara-gara Pratama, Aku harus kehilangan kamu, Sayang" ucapnya sambil mengepalkan kuat kedua tangannya.
__ADS_1
Darwin terdiam sambil terus menatap gambar itu, Bayangannya kembali pada kejadian 2 tahun yang lalu. Tepatnya saat wanita yang begitu di cintanya meninggal karna sebuah insiden yang membuat Darwin menaruh rasa dendam terhadap Pratama hingga detik ini.
Flashback 2 tahun yang lalu.
"Kamu kenapa, Sayang. Apa yang terjadi, Kenapa kamu bisa seperti ini?" Tanya Darwin pada Sela istrinya.
"Pratama" Belum sempat Sela menyelesaikan perkataannya, Takdir sudah berkata lain. Sela meninggal dalam pangkuan Darwin dengan darah yang masih mengalir deras dari perutnya.
Entah apa yang sebenarnya terjadi, Tapi yang pasti, Darwin menyimpulkan jika Sela meninggal karna di bunuh oleh Pratama, Suami dari saudara sepupunya yang bernama Ayudia.
"Tidak. Jangan tinggalkan aku, Sayang. Jangan pergi! Aku mohon kamu bangun demi aku dan juga Yuna" ucap Darwin sambil membelai lembut rambut Sela, Istrinya.
"Sayang, Bangun. Tolong jangan seperti ini. Aku dan Yuna masih begitu membutuhkan kamu, Sayang" ucap Darwin sambil memeluk tubuh Yuna yang sudah tak berdaya dengan begitu banyak darah.
"Pratamaaa" teriaknya dengan kedua tangan yang mengepal kuat.
"Pelan tapi pasti, Aku akan membuat kamu merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Tidak perduli walaupun Ayudia adalah saudara sepupuku. Yang pasti, Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan saat ini" ucapnya dengan penuh amarah.
"Daddy"
Suara itu membuat Darwin tersadar dari lamunan kejadian 2 tahun yang lalu. Mendengar suara Yuna, Dengan cepat Darwin mengusap kedua matanya yang sudah mulai basah.
"Sudah, Daddy. Daddy kenapa sejak tadi Yuna perhatikan diam saja. Ada apa, Dad? Apa yang saat ini sedang Daddy pikirkan" tanya Yuna sambil menatap sosok yang dia panggil dengan sebutan Daddy.
"Tidak ada, Sayang. Hanya saja Daddy sedang banyak pikiran tentang pekerjaan"
"Daddy tidak sedang berbohong pada Yuna kan?"
"Tentu saja tidak, Sayang. Mana mungkin Daddy bohong sama anak kesayangan Daddy"
"Syukurlah. Oh iya, Dad. Yuna di ajak kakek Abimana ke indonesia. Boleh ya, Katanya buat ketemu sama Langit"
Mendengar itu membuat kakek Abimana mengerutkan kecil keningnya. "Sepertinya kamu bahagia sekali saat menyebutkan nama Langit. Daddy seperti mencium bau-bau orang jatuh cinta" ucap Darwin yang sengaja ingin menggoda anaknya.
"Daddy tau saja, Memang sudah sejak smp aku menyukai Langit. Hanya saja dia yang tak pernah mengerti dengan perasaan ku"
"Boleh kan kalau Yuna ikut ke indonesia. Kalau perlu, Yuna pindah sekolah di sana"
"Kalau kamu mau, Kenapa tidak, Sayang"
*****
__ADS_1
Tanpa terasa hari sudah berlalu. Malam ini Jingga dan Langit sudah bersiap untuk menghadiri pesta ulang tahun teman kelas meraka yang bernama Sofia.
"Sayang, Kamu sudah siap kan?" tanya Langit sambil menatap Jingga yang masih sibuk menggunakan cadar.
"Sebentar lagi, Kak. Tinggal pakai cadar aja"
"Ya sudah. Aku tunggu di bawah ya, Sayang. Sekalian mau panasin mobil"
"Oke kak"
Langit keluar dari dalam kamarnya, Menyusuri anak-anak tangga di sana. Dari atas tangga Langit memperhatikan bi Siti yang tengah fokus menonton siaran televisi.
"Hahhaha. Sukurin tuh pelakor. Memangnya enak di keroyok sama ibu-ibu" ucap Bi Siti sambil terus fokus pada acara tv di depannya.
Langit yang melihat itu hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya"Astaga, Bi Siti memang benar-benar penggemar setia film pelakor ini" ucap Langit dan membuat bi Siti menoleh ke arahnya.
"Eh, Ada king"
"Seru amat nontonnya bi. Sampek gak sadar Langit datang"
"Heheh. Iya ini lagi seru den. Itu si pelakor sudah ketahuan"
"Seneng gak bi?"
"Ya seneng banget atuh Den. Akhirnya si Ayu kena karma. Puas bibi tuh"
"Bibi ada-ada saja. Lanjut deh nontonnya. Langit sama Jingga mau ke acara ulang tahun temen, Bibi jangan lupa kunci pintu ya"
"Siap aden ganteng. Hati-hati di jalan"
Tak berselang lama, Jingga turun dari dalam kamarnya, Berjalan cepat sambil mendekati Langit yang masih mengobrol bersama dengan bi Siti.
"Ayo, Kak" ucap Jingga setelah tiba di sana.
"Masyallah, Queen kamu cantik sekali. Seperti bidadari" ucap bi Siti sambil terus memperhatikan Jingga yang memang terlihat sempurna malam ini.
Biarpun wajahnya tertutup oleh cadar, Namun kecantikannya masih terpancar jelas.
"Bibi bisa aja"
Langit diam tak bersuara, Pria itu menatap Jingga tanpa mau berkedip sedetikpun"Benar-benar seperti bidadari" ucapnya pelan.
__ADS_1