
"Jadi maksud kamu tadi siang Toni sempat ke rumah sakit. Sayang?" tanya Langit sambil menatap Jingga.
Jingga mengangguk pelan "Iya, Kak. Tadi siang setelah kepergian ayah. Toni datang dan pamit untuk pindah sekolah ke luar negri. Tapi ternyata tadi siang adalah pertemuan terakhir ku sama dia" kata Jingga yabg terdengar lirih.
"Jadi ini maksud dari perkataan kamu, Toni. Selamat jalan. Surga tempatmu Ton. Terimakasih atas semua kebaikan mu selama ini" batin Jingga sambil menundukkan wajahnya.
Entah kenapa setelah mendengar berita kematian tentang Toni, Jingga merasa ada kesedihan tersendiri. Seperti ada rasa kehilangan yang cukup mendalam. Kebaikan Toni membuatnya merasa ada sesuatu hal hilang.
"Sekarang kita ke kamar ya, Sayang. Kamu harus istirahat. Ini sudah tengah malam. Gak baik buat kesehatan kamu" ujar Langit sambil mengusap punggung Jingga lembut.
"Iya kak. Ayah, Jingga tidur dulu ya. Ayah juga jangan lupa istirahat" ucapnya sambil menoleh pada Alexander.
"Iya, Sayang. Selamat istirahat princes nya ayah"
Jingga dan Langit berlalu dari hadapan Alexander. Mereka berdua menyusuri setiap anak-anak tangga di sana. Sedangkan Alexander hanya menatap anak serta anak menantunya.
Setiap kali menatap Jingga. Rasa takut kehilangan itu selalu saja mengganggu pikirannya. Alexander benar-benar belum siap akan hal itu. Apalagi setelah mengetahui jika Jingga memiliki golongan darah yang sama dengan Darwin.
"Aku tidak sabar menunggu hasil tes DNA keluar. Semoga saja apa yang aku takutkan tidak benar. Semoga bukan dia ayah kandung Jingga" batinnya sembari berjalan menuju kamar tamu. Kamar yang akan dia gunakan malam ini.
Setelah tiba di dalam kamarnya. Langit meminta Jingga untuk langsung tidur. Karna memang jam sudah menunjukkan pukul 00:20 dini hari.
"Sayang. Kamu langsung istirahat ya. Ini sudah larut malam" kata Langit lembut sambil mengusap lembut wajah Jingga.
"Kok cuma aku? Memangnya kak Langit gak mau langsung tidur?"
Mendengar jawaban Jingga. Langit tersenyum seperti biasa. "Nanti aku nyusul ya sayang. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sudah ayo tidur sekarang" balasnya sambil mencium kening Jingga.
"Iya,Kak. Jangan tidur terlalu pagi ya kak, Ingat kesehatan juga penting. Aku juga gak mau kalau sampai suamiku sakit" seru Jingga sambil menatap Langit yang sudah tersenyum hangat. Menampakkan deretan gigi putihnya yang tentu saja semakin membuatnya terlihat sangat tampah bahkan sempurna.
__ADS_1
"Siap, Bidadariku. Sudah ayo tidur"
Langit masih menemani Jingga hingga memastikan jika Jingga benar-benar terlelap. 10 Menit kemudian, Langit sudah bisa melihat Jingga benar-benar tertidur pulas. Suara dengkuran halus sudah menggema dan masuk pada indra pendengarannya.
Setelah itu. Langit keluar dari dalam kamarnya. Karna memang kebetulan masih ada sedikit pekerjaan yang belum sempat Langit selesaikan.
Langit melangkahkan kakinya ke ruangan kerja yang letaknya tak jauh dari kamarnya. Kira-kira hanya berjarak 3 kamar saja.
"Huuufffftt. Lelah juga hari ini. Mana kerjaan masih banyak banget" gumamnya sambil duduk di kursi tempatnya melakukan pekerjaan
Langit mengambil kaca mata yang biasa dia gunakan saat sedang lembur tengah malam seperti ini. Langit membuka beberapa berkas yang sama sekali belum sempat dia pelajari.
Beruntung karna Langit sosok yang cerdas. Sehingga dengan sangat mudah dia menyelesaikan semua sisa pekerjaannya. "Akhirnya beres" ucapnya sambil melepaskan kacamata itu dan meletakkan nya di tempat biasa.
Setelah itu. Langit mengambil ponsel Toni dari dalam saku celananya. Mendengarkan kembali rekaman suara Toni di sana.
"Maafkan gue yang sudah salah paham sama lo Toni. Gue janji akan membalaskan semua ini" ucapnya
"Kenapa gue baru ingat jika di setiap motor anggota the boys sudah gue pasang kamera tersembunyi tanpa sepengetahuan mereka. Kecuali anggota inti yang memang sudah tau" ujarnya sambil mengambil ponselnya sendiri.
Langit melakukan panggilan telepon pada Damian, Lana, Faro juga Rey. Tak butuh waktu lama, Panggilan pun langsung terhubung. Mereka semua ternyata juga belum tidur di jam yang sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari.
*Damian: Ada apa lu telpon kita Ngit? Jam segini pula. Lu belum tidur
Langit: Ya belum lah bang. Kalau gue sudah tidur mana bisa telpon lu pada.
Rey:Kali aja lu lagi ngimpi kan paketu
Lana:Ada apa, Ngit? Tumben lu gak telfon lewat grup
__ADS_1
Langit:Ini soal Toni
Faro:Toni? Memangnya lho sudah tau sesuatu tentang Toni?
Langit: Kalian masih ingat kan, Waktu itu kita pernah pasang kamera berupa chip berukuran sangat kecil di setiap motor anggota the boys. Kita bisa mencari tau siapa pelaku pembunuhan terhadap Toni dari sana.
Rey:Nah. Kenapa gue gak kepikiran ke situ ya. Kalau begitu bagaimana besok setelah pulang sekolah kita langsung ke rumah Toni.
Faro:Memangnya lho yakin motor Toni ada di rumahnya.
Damian:Sepertinya motor Toni ada di kantor polisi. Bukan kah biasanya seperti itu setiap kali ada insiden di jalan.
Lana:Bang Dam benar. Lebih baik kita langsung ke kantor polisi
Langit:Baiklah, Besok setelah pulang sekolah kita langsung ke kantor polisi. Tapi ingat, Jangan sampai ada anggota lain yang tau jika kita pernah memasang kamera di motor mereka.
Damian:Wait. Dengan kamera itu juga, Kita bisa tau siapa yang sebenarnya berkhianat.
Rey: Sekali dayung dua pulai terlampaui.
Doni:Tunggu. Sebenarnya kalau soal penghianat, Ada satu orang yang gue curigai
Damian:Siapa? Jangan bilang kita mencurigai satu orang yang sama
Faro:Jangan bilang kalau yang kalian curigai adalah Arif
Rey:Tepat seperti orang yang juga gue curigai
Langit:Baikalah. Besok kita akan usut semuanya. Kumpulkan anak-anak di markas. Dan pastikan mereka semua datang tanpa terkecuali Arif*.
__ADS_1
Setelah itu, Langit memutuskan sambungan telponnya. Mengambil ponsel Toni dan keluar dari dalam ruangan kerjanya.