
"Langit sangat setuju dengan strategi brilian yang ayah bicarakan malam tadi" ucap Langit sambil tersenyum.
"Baguslah kalau kamu setuju, Boy. Kita hanya perlu mempersiapkan segala sesuatunya"
"Iya, Ayah. Semoga saja setelah ini om Darwin sadar maka kawan dan mana Lawan" ucap Langit pelan.
Setelah selesai sarapan. Langit, Jingga dan juga Revan pamit pada Alexander. Hari ini pria paruh baya itu tidak ada hal penting di kantor, Sehingga Alexander bisa santai-santai dan berangkat siang ke kantornya.
Alexander menatap mereka bertiga dengan kedua sudut bibir yang terangkat sempurna. Rasanya begitu bahagia saat melihat anak-anaknya.
"Bunda, Anak kita sudah dewasa. Semoga bunda selalu tenang di sana. Ayah janji akan selalu berusaha menjadi ayah sekaligus bunda buat mereka" ucapnya pelan.
Langit melesatkan mobilnya keluar dari mansion keluarga Jingga. Langit semakin mempercepat laju mobilnya saat melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 06:45.
"Sayang" panggil Langit lembut sambil melirik Jingga dari kaca spion.
"Iya, Kak. Ada apa?"
"Aku sudah tau siapa yang menyebarkan video kamu hari itu"
"Siapa orangnya kak?"
"Angga. Salah satu anggota geng the boys. Aah bukan-bukan. Lebih tepatnya penghianat"
"Penghianat? Maksudnya bagaimana kak?" tanya Jingga yang merasa tidak terlalu paham dengan perkataan Langit.
"Angga itu adalah salah satu anggota geng the boys yang saat ini masih kelas 1. Dia juga sekolah di NUSA BANGSA"
"Wait. Jadi maksud kakak dia berkhianat pada the boys?"
"Yup. Tapi tidak ada yang tau mengenai hal ini kecuali akur dan juga Ridho. Anggota geng the boys yang satu kelas dengan Angga" terang Langit lagi.
"Tapi apa alasannya menyebarkan video Jingga, Kak?"
__ADS_1
"Untuk itu kakak belum tau, Sayang. Tapi aku sudah meminta bang Damian untuk menghapus video itu dari semua media. Karna memang kebetulan bang Damian adalah seorang hacker"
"Waw, Benarkah kak?"
"Iya, Sayang. Kemampuan peretas bang Damian no kaleng-kaleng sayang. Dia sangat ahli dalam bidang IT. Karna memang kebetulan bang Damian memiliki perusahaan yang bergerak di bidang tekhnologi"
Tanpa mereka sadari, Ternyata mobil itu sudah tiba di sekolah NUSA BANGSA. Jingga turun lebih dulu. Namun sebelum itu Jingga tidak melupakan kebiasaan transfer energi pagi sebelum keluar dari dalam mobil.
Langit keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah teman-temannya yang masih setia menunggu kedatangan paketu mereka. Namun pagi ini ada yang sedikit berbeda, Rey yang biasanya selalu ngoceh mendadak jadi pendiam. Tidak ada Sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa lho Rey?, Tumben bener pagi ini adem ayem.Lupa gak makan pisang apa bagaimana?" ucap Doni sambil menatap Rey yang sejak tadi terdiam.
"Gak papa kok gue Don"
"Yakin kagak papa. Tapi kagak bisanya lho kalem Rey, Lagi ada masalah memangnya?"
"Iya yakin gue" balas Rey sambil menatap pada sebuah taksi yang sedang berhenti di depan gerbang.
Melihat jika Sisil yang turun dari taksi itu membuat Rey menghampiri sosok wanita yang biasa dia panggil dengan sebutan mak Lampir.
"Sil, Berhenti" ujar Rey lagi sambil menarik tangan Sisil dan membuat wanita itu menghentikan langkah kakinya.
Sisil menatap tangannya yang di tarik oleh Rey"Lepaskan tangan gue" ucapnya dingin tanpa menoleh pada Rey.
"Gue gak mau lepasin sebelum lho mau maafin gue" seru Rey sambil menatap Sisil.
"Gue bilang, Lepasin tangan gue! Ingat ya, Setelah kejadian kemaren, Gue gak mau lagi menerima perjodohan kita, Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya" ucap Sisil dengan penuh penekanan.
Entah kenapa apa yang sudah Rey katakan kemaren masih bisa terngiang jelas pada indra pendengarannya. Dan hal itu membuat Sisil berubah menjadi benci pada sosok Rey.
"Tapi, Sil. Gue mohon maafin gue. Gue ngaku kalau gue salah, Ternyata apa yang lho bilang memang benar, Dia tak sebaik yang gue pikirkan"
"Sudah terlambat, Gue sudah terlanjur benci sama lho. Oh iya, Bilang sama tante mariana, Batalin tentang rencana perjodohan kita" ucap Sisil dan langsung berlalu dari hadapan Rey. Meninggalkannya yang masih terdiam seakan terpaku di tempat.
__ADS_1
"Dasar bodoh lho, Rey" ucapnya sambil mengacak rambutnya sendiri.
Sejak tadi teman-temannya hanya menyaksikan apa yang baru saja Sisil dan Rey bicarakan.
"Wow, Sepertinya sedang ada perang dunia kelima ini. Pantas saja om jelangkung tak banyak bicara, Di cuekin sama mak Lampir" ucap Doni yang langsung berhasil membuat teman-temannya mengulum bibir.
"Tapi om jelangkung sama mak Lampir sedang ada masalah apa ya. Bikin penasaran saja" ucap Doni si paling kepo.
"Kepo aja lho. Gal ngalahin ibu-ibu komplek" Seru Lana sambil menggelengkan kepalanya.
Doni memang sudah biasa di kasih julukan si tukang kepo, Sedangkan Rey, Si tukang bacot. Sedangkan Faro,Lana jomblo ngenes. Dan Lana biasa mereka kasih julukan si dingin irit bicara. Karakternya hampir sama dengan Langit.
Rey melangkahkan kakinya yang terasa begitu berat. Tiba-tiba saja Rey merasa tidak suka saat Sisil mengatakan tidak akan menerima perjodohan yang di lakukan oleh kedua orang tuanya.
"Kenapa gue merasa gak Rela saat mendengar Sisil meminta untuk membatalkan perjodohan itu. Bukan kah itu yang gue harapkan kemarin. Tapi kenapa hari ini rasanya malah sebaliknya" ucap Rey dalam batinnya.
Rey masuk kedalam kelasnya sambil menatap Sisil yang masih saja terdiam dengan raut wajah dinginnya. Tidak terlihat seperti hari-hari biasanya.
"Maafkan gue, Sil. Maafkan gue yang sudah tanpa sengaja membentak lho di tempat umum hanya karna Khanza sialan itu. Ternyata gue benar-benar menyesal tepat seperti apa yang kemarin lho bilang. Gue menyesal, Sangat menyesal"batin Rey lagi
*****
Seperti hari-hari biasa. Saat jam istirahat, Langit akan menghabiskan waktu di Rooftop sambil menatap ke arah Langit yang hari ini terlihat sangat cerah.
"Apa aku salah jika aku kecewa akan apa yang sudah papa dan wanita itu lakukan" ucap Langit yang terdengar sangat lirih.
"Apa aku salah jika membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka ini" ucap Langit lagi.
Tanpa Langit sadari, Ternyata di sana dia tidak sendiri, Karna Jingga mengekor saat melihat Langit tidak ikut ke kantin dengan teman-temannya yang lain.
"Tidak ada yang salah dengan apa yang kamu lakukan, Kak. Satu hal yang perlu kamu lakukan untuk saat ini"
Mendengar suara itu membuat Langit membalikkan tubuhnya menatap Jingga yang sudah berdiri di sana sambil tersenyum hangat seperti biasa.
__ADS_1
"Apa itu, Sayang?" tanya Langit sambil mendekat pada Jingga.
"Berdamai lah dengan masa lalu. Karna hanya itu satu-satunya cara untuk menyembuhkan luka yang terasa begitu menyakitkan" seru Jingga yang terdengar sangat lembut