Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Jingga terluka


__ADS_3

Doni dan Faro saling lirik"Jangan-jangan" ucap mereka secara bersamaan.


"Jangan-jangan apa?" balas om Iwan.


"Jangan-jangan anaknya om itu Rey bacot temen nya kita lagi"seru Doni sambil menoleh pada om Iwan.


"Bisa jadi. Sebentar"


Om Iwan mengeluarkan ponselnya lalu membuka galeri dan menunjukkan foto anaknya pada mereka. Dan ternyata memang benar, Anak om Iwan adalah Rey bacot anggota geng the boys.


"Ini anak om" ujarnya sambil menunjukkan ponsel itu pada mereka.


"Lah, Ini sih Rey bacot temen kita om. Jadi si Rey anaknya om Iwan. Astaga, Kenapa dia tidak pernah bilang kalau anak orang kaya" ucap Doni


Mendengar perkataan Doni membuat om Iwan mengulum bibir, Memang seperti itulah anaknya. Tidak pernah ingin ada orang lain yang tau tentang jati dirinya yang sebenarnya.


"Rey memang begitu. Dia tidak ingin ada yang tau jika sebenarnya dia anak saya. Ada satu alasan yang membuat Rey melakukan hal itu" seru om Iwan sambil mengambil ponselnya lagi.


Doni dan Faro mengerutkan keningnya. Ada rasa penasaran dari lubuk hati mereka"Ada satu alasan? Kalau boleh tau apa itu, Om? Maaf kalau kami kepo. Hehehe"


"Trauma masa lalu" ucap om Iwan pelan.


"Trauma? Maksudnya om bagaimana? Saya tidak paham" gumam Doni yang memang selalu kepo.


"Ada trauma masa lalu yang sudah membuat Rey memutuskan untuk tidak mempublikasikan siapa dia sebenarnya" balas om Iwan lagi.


Tak berselang lama, Langit yang sudah memarkirkan motornya masuk ke dalam tempat itu, Melihat kedatangan Langit membuat mereka semua menoleh ke arahnya.


"Lho baru sampai paketu?"


"Seperti yang lho liat" balas Langit seperti biasa.


"Oke, Berhubung sekarang Langit sudah datang, Sebaiknya kita segera berangkat ke markas United. Jangan lupa bilang sama anggota the boys yang lain, Suruh mereka memantau di tempat masing-masing" ucap Alexander sambil menoleh pada Langit.


"Baik, Ayah. Langit akan mengirimkan pesan broadcast pada mereka" balas Langit dan langsung mengeluarkan ponselnya.


"Sudah siap, Kan?" tanya Alexander lagi.


"Siap" balas mereka bersamaan.


Jam menunjukkan pukul 22:00. Langit dan yang lain berangkat ke markas united dengan menggunakan satu mobil hitam milik Alexander.


"Bagaimana, Kalian sudah menemukan lacak Erlangga dan juga Darwin?" tanya Alexander pada Damian dan juga Sandi.


"Gawat, Om. Menurut chip yang tadi siang Sandi letakkan di salah satu barang Darwin dan Erlangga, Saat ini posisinya menunjukkan di salah satu tempat yang tidak asing"


"Maksud anda bagaimana?" tanya Alexander.


"Di sini terlacak, Chip itu berhenti di salah satu perumahan elit, Di jalan merdeka nomor 15" terang Sandi lagi.


"Apa! itu kan alamat mansion nya Langit" balas Alexander.

__ADS_1


"Jingga" seru Langit yang terlihat panik.


"Ayah, Jingga dalam bahaya, Apa yang harus kita lakukan?"


"Kamu tenang saja, Boy. Om sudah meminta teman-teman Jingga untuk stay di area mansion kamu"


Mendengar perkataan Alexander membuat Langit mengerutkan keningnya"Maksudnya, Yah?" tanya nya.


"Iya, Jadi"


Ingatan Alexander kembali pada kejadian pagi tadi, Saat dimana dia meminta bantuan pada Gibran dan juga yang lain untuk melindungi Jingga dari hal-hal yang bisa saja terjadi malam ini.


Setelah Jingga, Langit dan juga Revan sudah berangkat kesekolah, Alexander menatap kepergian mereka dengan hati yang bahagia. Namun, Sedetik kemudian, Pria paruh baya itu teringat akan perkataan Sandi yang mengatakan jika Erlangga dan Darwin sedang merencanakan satu rencana jahat. Hal itu membuatnya teringat akan Jingga.


"Kalau nanti Langit ikut dalam misi, Itu artinya Jingga di rumah hanya di temani oleh asisten rumah di sana. Saya tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada putriku" ucap Alexander sambil memikirkan jalan terbaik tanpa harus membuat Langit tidak ikut andil dalam misi yang sudah dia persiapkan.


Hingga tak berselang lama, Alexander teringat akan geng motor Jingga yang ada di bandung. Pria paruh baya itu mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor kontak atas nama Gibran. Tak butuh waktu lama, Panggilannya langsung terjawab.


📲:Assalamualaikum, Om. Ada apa? Tumben om Alex menghubungi Gibran


📲:Waalaikumsalam, Apa om bisa minta tolong sesuatu?


📲:Minta tolong apa, Om?


📲 :Om butuh bantuan kamu untuk menjaga Jingga. Apa kamu mau?


📲:Mau, Om.


📲:Baiklah, Om. Saya akan segera berangkat ke jakarta setelah pulang sekolah.


📲:Terimakasih, Gibran.


Setelah itu, Alexander langsung memutuskan sambungan telponnya. Setidaknya malam ini masalah Jingga bisa teratasi oleh geng uks.


"Jangan harap kalian bisa mencelakai anak saya" ucap Alexander sambil meletakkan kembali ponselnya.


"Apa! Jadi ayah minta bantuan mereka?" tanya Langit yang terlihat tidak suka saat mendengar nama Gibran. Ketua dari geng uks. Partner Jingga saat masih di bandung.


"Kenapa, Boy. Apa kamu keberatan?"


"Oh, Tidak kok ayah. Langit tidak keberatan" jawabnya berbohong. Padahal dalam batinnya Langit merasa sangat cemburu saat mendengar jika ayah mertuanya meminta Gibran untuk melindungi Jingga malam ini.


Tak butuh waktu lama, Ternyata mobil itu sudah tiba di markas United. Markas anggota gangster yang di pimpin oleh Erlangga.


Sesuai dengan tugas, Langit dan Lana keluar mobil itu. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam markas yang terlihat cukup sepi, Kemungkinan besar mereka juga sedang menjalankan misi malam ini.


"Tempatnya sangat sepi" ucap Langit sambil menoleh pada Lana.


"Iya, Sepertinya tempat ini kosong. Tapi kenapa chip yang bang Damian letakkan pada barang milik Erlangga titiknya ada di tempat ini, Itu artinya si Erlangga ada di sini" jawab Lana pelan.


"Hati-hati, Lima langkah dari tempat kalian ada seseorang yang sedang mengobrol, Gue gak bisa dengar apa yang sedang mereka bicarakan" ucap Damian dengan menggunakan alat komunikasi yang sudah di siapkan.

__ADS_1


"Baiklah. Jika ada yang aneh, Segera di infokan" balas Langit sambil berjalan mengendap.


Langit dan Lana berjalan pelan ke tempat yang di maksud oleh Damian. Dan ternyata memang benar, Di ruangan itu sedang ada dua sosok yang sedang mengobrol sambil sesekali tertawa lepas di sana.


Mendengar pembicaraan mereka membuat Langit mengeluarkan ponselnya. Pria itu mengambil sebuah rekaman yang tentu saja bisa menjadi bukti yang sangat kuat untuk melaporkan Erlangga pada kepolisian.


"Tepat seperti yang kita rencanakan" ucap Langit sambil tersenyum.


"Benar, Bukti sudah ada. Sekarang kita hanya perlu mencari berkas-berkas itu, Bagaimana kalau kita berpencar, Lho ke kanan, Gue ke kiri" ujar Lana


"Ide bagus"


Lana dan Langit berpencar untuk mencari beberapa berkas milik perusahaan Pratama group dan juga milik perusahaan Darwin yang di ambil oleh Erlangga satu tahun yang lalu.


Di Tempat Lain


"Mereka sudah datang, Pastikan Queen kita baik-baik saja" ucap Gibran pada teman-temannya.


"Siap,King. Kami semua akan berusaha melindungi Queen sebisa mungkin"


Semua anggota uks masih terdiam di tempat persembunyian mereka, Saat sudah melihat Darwin dan yang lain keluar dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam mansion Pratama, Gibran dan yang lain mengekor di belakang.


"Berhenti di sana, Anda mau apa di tempat ini"


Suara itu membuat Darwin menghentikan langkah kakinya, Pria itu membalikkan tubuhnya dan menatap Gibran yang sudah berdiri di sana.


"Anda siapa? Tidak perlu ikut campur, Ini bukan urusanmu anak kecil" ucap Darwin pada mereka.


"Apapun yang berhubungan dengan Jingga, Akan selalu menjadi urusan saya"


Mendengar perkataan Gibran membuat Darwin dan yang lain tertawa"Tidak usah sok mau jadi pahlawan. Kalian masuk dan bawa wanita itu. Biar mereka menjadi urusan saya" Gumam Darwin pada yang lain.


20 Menit kemudian, Mereka benar-benar keluar dengan membawa Jingga. Gibran dan anggota uks yang lain menjadi semakin marah saat melihat Queen mereka di seret dengan tangan yang di ikat kuat"Queen" ucap mereka secara bersamaan.


"Beraninya kalian menyakiti Queen, Apa kalian tidak tau siapa kita" ucapnya sambil mengepalkan kuat kedua tangannya.


"Jangan mendekat kalau lho masih mau dia hidup" ucap Darwin sambil memperlihatkan pisau yang sudah dia siapkan.


"Lepaskan dia, Brengsek!" seru Gibran yang terlihat sangat marah.


Gibran yang sudah terlanjur marah tidak menghiraukan perkataan Darwin. Pria itu mengira jika Darwin hanya menggertak nya saja. Namun siapa sangka jika Darwin benar-benar menusukkan pisau itu pada Jingga.


"Jingga" teriak Gibran saat pisau itu sudah mendarat sempurna pada perut Jingga.


Melihat Jingga seperti itu membuat Gibran melayangkan beberapa pukulan pada Darwin. Serta anggota uks yang lain juga ikut menyerang orang-orang yang di bawa Darwin kesana.


"Beraninya anda melukainya! rasakan ini" ucapnya sambil kembali melayangkan pukulan pada Darwin hingga membuat pria itu tak sadarkan diri.


"Kita bawa Queen ke rumah sakit" ucap Gibran sambil menggendong tubuh Jingga yang sudah tak sadarkan diri.


Bukan hanya mereka, Tapi orang-orang Darwin juga ikut membawa Darwin ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


"Hubungi om Alex, Bilang kalau Jingga terluka"


__ADS_2