Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Promise


__ADS_3

Setelah sambungan telponnya terputus, Langit memasukkan ponselnya pada saku celananya. Tak lupa juga Langit mengambil ponsel Toni yang sejak tadi dia letakkan di atas meja kerjanya.


Ceklek...


Langit membuka pintu kamarnya. Di sana Langit sudah bisa melihat Jingga yang sudah lelap dan damai dalam tidurnya. Melihat itu membuat Langit mengangkat kedua sudut bibirnya. Ada rasa damai saat melihat Jingga seperti itu.


"Aku sangat mencintaimu, Sayang. Akan aku pastikan, Darwin mendapatkan balasan atas apa yang sudah dia perbuat terhadap kamu. Aku tidak perduli, Mau dia paman ku sekalipun, Siapapun yang sudah berani melukai kamu, Maka mereka akan berhadapan dengan ku, Suami kamu" kata Langit sembari membelai lembut rambut panjang Jingga.


Langit masih terlihat nyaman menatap wajah cantik nan damai itu, Hingga tak berselang lama, Satu butiran bening itu pun berhasil lolos begitu saja"Aku tidak tau apa yang akan terjadi dengan hidupku jika seandainya waktu itu kamu tidak tertolong, Sayang. Aku bisa gila tanpa ada kamu di samping ku. Kamu yang selalu mampu membuat aku menemukan titik kebahagiaanku yang sempat hilang" ucapnya lagi.


Kemudian Langit mencium lembut kening Jingga dengan penuh kasih sayang. Sangat terlihat jelas bahwa Langit sangat menyayangi wanita itu.

__ADS_1


Setelah cukup puas menatap Jingga, Langit ikut merebahkan tubuhnya di samping Jingga, Mencoba memejamkan kedua matanya yang memang sudah cukup terasa berat. Hingga tak butuh waktu lama, Langit sudah benar-benar terlelap. Bahkan karna terlalu lelah, Suara dengkuran halus terdengar di ruangan itu.


*


*


*


"Aku bahagia bisa memiliki pria sepertimu, Kak. Semoga saja kita akan selalu bersama hingga maut memisahkan kita. Aku mencintaimu, Kak. Sangat" batin Jingga sambil mengusap lembut rambut Langit.


"Untukku, Kakak bukan hanya suami, Tapi juga hidup dan matiku. Aku rela melakukan apa saja jika seandainya ada orang yang berusaha memisahkan kita, Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Karna apa, Langit hanyalah milik Jingga, Dan Jingga hanyalah milik Langit" kata Jingga lagi sambil terus menatap wajah Langit yang masih sangat lelap dalam tidurnya. Bahkan Langit sama sekali tidak merasa terganggu dengan apa yang Jingga lakukan.

__ADS_1


Jingga memejamkan sejenak kedua matanya. Tiba-tiba saja perkataan Yuna waktu itu terngiang begitu saja dan berhasil mengganggu pikirannya.


"Ingat, Jingga. Sampai kapan pun, Gue akan berusaha merebut Langit dari Lho. Gue tidak perduli, Sesulit apapun itu, Yang pasti Langit harus menjadi milik gue. LANGIT HANYA PANTAS BUAT GUE. INGAT ITU! " Tiba-tiba saja perkataan Yuna terngiang. ..


"Jujur, Aku benar-benar takut kehilangan kamu, Kak. Aku tidak tau bagaimana hidupku tanpa ada kakak di sampingku" ucap Jingga lagi yang terdengar sangat lirih.


Di saat Jingga memejamkan kedua matanya yang terasa panas, Tiba-tiba saja suara Langit menerpa lembut indra pendengarannya" Aku juga sangat takut kehilangan kamu, Sayang. Karna mau bagaimanapun, Kamu adalah hidup dan mati ku. Kamu adalah segalanya. Tetaplah di sampingku walaupun angin badai itu akan datang menguji kekokohan kita" ucap Langit sambil menatap Jingga.


"Promise" kata Jingga sambil mengangkat jari kelingkingnya.


"Promise" balas Langit sambil mengangkat kedua sudut bibirnya serta menampakkan deretan gigi putihnya

__ADS_1


__ADS_2