
"Yah bagaimana ya Lan, Gue kan memang belum pernah pacaran, Masih volos. Jadi kalau mau tanya soal begituan langsung hubungi Rey alvaro si master cinta" ucap Faro sambil menoleh pada Lana.
"Makanya cari cewek biar hidup lho berwarna, Biar gak Jodi mulu"
"Hilih, Biar hidup gue berwarna katanya. Emangnya pelangi, Warna-warni"
"Kenapa gak balon ku aja biar ada lima" ucap Doni yang mendengar itu sambil terkekeh.
"Hahhaha, Nanti nyanyi dong" ucap Faro
Mereka bertiga menoleh pada Rey yang sejak tadi hanya diam tidak seperti biasa. Pria itu terlihat sangat tidak mood hari ini. Seperti tidak memiliki rasa semangat.
Sejak pagi tadi Rey sama sekali tidak ada suaranya. Pria itu terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Rasanya kelas seketika menjadi sunyi sepi tanpa ada ocehan yang keluar dari mulut Rey bacot seperti hari-hari biasanya.
Faro, Doni dan Lana saling lirik saat melihat teman mereka seperti itu, Rasanya ada yang aneh dengan Rey hari ini.
"Kenapa dengan om Jelangkung" ucap Faro pada Doni.
Doni hanya mengangkat kedua bahunya"Mungkin lagi berantem sama mak Lampir" balas Doni.
"Pantas, Mak Lampir sama om Jelangkung seketika tercosplay menjadi patung penjaga kelas ini"
"Kenapa begitu?"
"Iyalah, Coba liat deh mereka, Sama-sama tak bersuara"
Sedangkan Rey yang sejak tadi hanya diam saja merasa cukup pusing. Entah kenapa perkataan Sisil selalu saja terngiang pada indra pendengarannya. Mungkin saat ini memang hanya raganya yang ada di tempat ini, Namun pikirannya berkelana entah kemana.
"Bagaimana caranya agar gue bisa mendapatkan maaf dari Sisil, Kenapa rasanya gue tiba-tiba saja takut saat mendengar Sisil mengatakan hal itu" ucap Rey dalam batinnya.
Kata penyesalan itu memang akan datang di saat kita sudah terlanjur melakukan.
Di saat Rey masih sibuk mencari cara untuk meminta maaf pada Sisil, Tiba-tiba saja Doni menepuk pundaknya dan membuat pria itu terkejut sambil memanggil nama Sisil.
"Woy" ucap Doni sambil menepuk pundak Rey.
"Sisil" ucap Rey tanpa sadar.
Doni serta yang lain yang mendengar itu tentu saja langsung menoleh ke arah Rey, Pasalnya ini pertama kalinya mereka mendengar Rey tanpa sengaja memanggil nama Sisil.
"Wih,. Ternyata om jelangkung sedang memikirkan mak Lampir. Hahhah" ucap Doni seperti biasa.
"Iya, Jangan-jangan sudah ada benih-benih cintah yang mulai tumbuh" timpal Faro.
"Harus dong itu, Mereka berdua kan calon sweet couple" seru Doni lagi.
__ADS_1
"Cie, Sepertinya kita bakal dapat pejeh nanti ya. Gak sabar deh" timpal Faro lagi.
Tak berselang lama, Langit dan Jingga masuk ke dalam kelas itu, Langit mengerutkan keningnya saat melihat semua temannya mengulum bibir sambil menatap Rey.
"Ada apa?" tanya Langit penasaran.
"Paketu di larang kepo. Hhahha"'
"Mau di pecat jadi anggota?" balas Langit sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Is paketu mah suka ngancam. Nanti bidadari Jingga marah baru nanges"
"Apa hubungannya monyet" seru Faro pada Doni.
"Gak tau juga, Apa hubungannya ya, Kenapa gue bawa-bawa bidadari. Maaf paketu, Otak lagi gesrek"
"Otak lho kan emang gak tau bener. Perasaan tiap hari begitu mulu ya"
Tak berselang lama, Yuna masuk ke dalam kelas itu sambil melirik pada Langit yang sudah menunjukkan wajah datar dinginnya. Melihat kedatangan Yuna membuat Langit teringat akan Darwin.
"Muak rasanya melihat Yuna. Gue gak sabar dengan rencana nanti malam. Akan gue pastikan jika Darwin menyesali apa yang sudah pernah dia lakukan" batin Langit yang menatap malas pada Yuna.
Sedangkan Yuna, Setelah duduk di tempatnya, Wanita itu teringat akan rencana yang sudah di katakan oleh Lexan beberapa saat yang lalu.
"Kita lihat saja nanti, Langit. Gue pastiin lho bakal menjadi milik gue selamanya. Gue akan merebut Lho dari Jingga, Karna pada dasarnya lho tercipta hanya untuk gue, Bukan untuk yang lain apalagi Jingga" batin Yuna sambil menoleh pada Langit.
*****
Tanpa terasa hari sudah berlalu. Malam ini Langit sudah berangkat ke tempat di mana dia dan yang lain sudah membuat janji temu. Bukan hanya Langit dan Alexander, Tapi semua anggota geng the boys juga ikut andil dalam misi yang akan mereka lakukan malam ini.
Namun sebelum berangkat, Sudah seperti biasa Langit akan pamit pada wanitanya dan meminta tambahan transfer energi pada Jingga.
"Sayang, Aku pamit ya. Jangan lupa kamu kunci pintu kamar, Jangan tidur malam-malam. Aku akan segera kembali" ucap Langit sambil mencium kening Jingga cukup lama dan membelai lembut rambut panjang Jingga.
"Iya, Kak. Hati-hati, Jaga diri baik-baik ya kak. Jingga titip ayah" balas Jingga sambil mencium punggung tangan Langit seperti biasanya.
"Sudah sana pergi, Nanti di tunggu sama ayah" ucap Jingga lagi.
"Transfer energinya dulu dong sayang. Lagi butuh asupan energi sebelum menjalankan misi ini" seru Langit sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Modus"
"Modus sama pasangan halal gak di larang loh, Sayang. Malah itu salah satu cara untuk menambah pahala kita" ujar Langit sambil menatap Jingga.
"Kakak bisa aja modusnya. Yaudah sini deketan" ucap Jingga sambil tersenyum.
__ADS_1
Jingga melakukan kebiasaan mereka, Mencium kening Langit, Kedua mata, Hidung, Pipi dan berakhir di bibir Langit.
"Dah ya kak"
"Iya, Sayang. Terimakasih transfer energi malam nya. Aku berangkat"
****
Di tempat janjian, Saat ini sudah ada Alexander, Sandi, om Iwan dan juga semua anggota geng the boys. Namun tidak ada Rey di sana. Pria itu tidak ada datang ke markas hari ini.
"Bagaimana, Apa semuanya sudah siap?" tanya Alexander pada mereka.
"Sudah om" balas mereka secara bersamaan.
"Oke, Jalankan sesuai posisi masing-masing ya. Damian dengan Sandi bagian IT, Doni dan Faro bagian kamera. Langit dengan Lana yang menjalankan misi. Saya sama anda yang memantau di depan" ucap Alexander sambil menoleh pada om Iwan.
"Siap" balas om Iwan.
Alexander yang baru menyadari jika Langit belum datang langsung menanyakan pria itu pada mereka"Oh iya. Langit dimana?"tanya nya.
"Belum sampai kayaknya, Om. Palingan juga masih bucin-bucinan sama bidadari" jawab Doni sambil mengulum bibirnya.
Alexander mengerutkan keningnya"Bucin-bucinan sama bidadari, Maksudnya Jingga?"
"Siapa lagi kalau bukan bidadari Jingga om"
Tak berselang lama, Mereka mendengar suara mesin motor yang begitu familiar, Siapa lagi kalau bukan Langit. Si paketu the boys.
"Nah, Itu kayaknya si paketu sudah datang" seru Doni sambil menoleh pada arah pintu.
Lagi-lagi Alexander mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Doni"Paketu? Siapa yang kamu maksud?" tanya Alexander.
"Langit om. Heheh"
"Duh panggilan kamu bikin om puyeng"
"Maklum bahasa anak muda suka bikin sakit kepala, Sama kayak anak saya, Si Rey" ucap Iwan
"Lah, Om punya anak yang sudah besar?" tanya Damian pada om Iwan.
"Sudah, Anak saya sebaya dengan kalian. Namanya Rey"
Mendengar nama Rey membuat mereka teringat akan Rey bacot"Wah, Ini kebetulan apa gimana ya, Nama anak om sama dengan teman kami. Namanya juga Rey, Tapi sayang malam ini tidak bisa ikut misi karna lagi galau" timpal Doni.
"Biasalah anak jaman sekarang kerjaannya galau. Anak saya saja tadi sepulang sekolah langsung gak keluar di kamar, Padahal biasanya tidak ada hari tanpa keluyuran. Kayaknya anak om juga lagi galau" balas om Iwan.
__ADS_1
Doni dan Faro saling lirik"Jangan-jangan" ucap mereka secara bersamaan.