
"Berdamai Lah dengan masa lalu, Kak. Karna hanya itu satu-satunya cara untuk menyembuhkan luka yang terasa begitu menyakitkan" ucap Jingga lembut sambil menggenggam tanga Langit.
"Sulit, Sayang. Cukup sulit buat aku damai dengan masa lalu. Apalagi masa lalu yang begitu menggores. Melupakan rasa sakit itu tak semudah kita mengatakan" balas Langit sambil menatap Jingga.
"Jingga tau, Kak. Tapi apa salahnya jika kamu berusaha menerima semua kejadian yang sudah berlalu. Karna pada dasarnya, Hidup adalah bagaimana kita menerima keadaan tanpa harus menyalahkan kenyataan"
"Ikuti alur skenario yang sudah di tentukan buat kita, Kak. Jalankan peran kita dengan sebaik mungkin" ucap Jingga sambil menatap Langit.
Tidak ada kata yang bisa Langit ucapkan. Jika di pikir-pikir, ucapan Jingga memang ada benarnya. Kita hanya perlu mengikuti alur skenario yang sudah di tetapkan. Jalani peran dengan semestinya.
"Entahlah, Sayang. rasanya begitu sulit untuk sekedar melupakan luka itu. Setiap kali aku teringat akan hubungan papa dengan wanita itu membuatku teringat akan mendiang mama" ucap Langit sambil menatap Jingga.
"Aku tidak bisa bayangkan bagaimana luka hati mama saat tau papa menikah lagi" ucapnya yang terdengar begitu lirih.
"Semua sudah berlalu, Kak. Biarkan mama tenang di alam sana. Jika mama saja bisa memaafkan papa, Lantas kenapa kak Langit sulit untuk memberikan kata maaf itu"
"Kalau hanya kata maaf memang gampang, Sayang. Namun melupakan hal itu tak semudah aku membalikkan telapak tanganku. Rasa sakit itu sudah benar-benar menggores sampai meninggalkan bekas yang terasa begitu menyakitkan" ucap Langit lagi.
Jingga terdiam, Tidak tau apa lagi yang harus dia katakan pada Langit. Karna memang Langit cukup keras kepala dan sulit untuk di bilang.
"Butuh waktu untuk aku melupakan semua kejadian itu, Sayang"
****
"Nek, Siapkan semua barang-barang. Malam ini kita akan segera terbang ke indonesia. Kakek dapat kabar kalau Yuna dan juga Darwin sudah pindah dan menetap di sana" ucap kakek Abimana sambil menoleh pada Istrinya yang sedang menikmati secangkir teh panas manis.
"Yakin kakek mau kita kembali ke jakarta, Apa kakek sudah bisa melupakan kejadian yang sudah menimpa anak kita"
"Bisa tidak bisa, Kita tetap harus segera kembali ke indonesia. Kakek tidak mau buang-buang waktu lagi. Kakek akan mengatakan pada Langit perihal rencana perjodohan dengan Yuna"
"Kakek benar-benar mau melakukan hal itu. Tolong di pikirkan lagi, Kek. Karna Yuna tak sebaik yang kakek pikirkan"
"Keputusan kakek sudah bulat, Nek. Apapun yang terjadi kakek akan tetap menjodohkan Langit dengan Yuna demi menyelamatkan perusahaan Pratama" ucap Kakak Abimana lagi.
__ADS_1
"Tapi kek, Bukan kah kita tidak ada hak atas perusahaan itu"
"Memang, Tapi selama untuk kebaikan mereka, Kenapa tidak"
Setelah mengatakan hal itu, Kakek Abimana meninggalkan istrinya yang masih terdiam di sana"Astaga kakek, Bagaimana caranya agar kamu tau seperti apa Yuna sebenarnya. Dia hanyalah ular berbisa yang menjelma menjadi sosok merpati" ucap nenek Langit sambil menatap kepergian suaminya.
Ada satu hal yang nenek Langit ketahui tentang Yuna. Namun sampai detik ini wanita tua itu memilih untuk diam dan tak mengatakan apapun yang dia tau pada suaminya.
"Aku tidak akan membiarkan kakek menjodohkan Langit dengan wanita sialan itu. Lagi pula Langit sudah punya istri" ucap neneknya Langit sambil mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
📲:Selamat siang. Tolong bantu saya membongkar kebusukan anaknya Darwin. Kamu masih ada buktinya bukan?
📲:Tentu, Nyonya. Saya masih menyimpan semua rekaman yang dulu sempat saya tunjukkan pada nyonya.
📲:Bagus. Malam ini saya akan terbang ke indonesia. Jangan lupa kamu persiapkan semuanya.
Setelah mengatakan hal itu, Nenek Langit yang bernama Moza memutuskan sambungan telponnya. Wanita tua itu mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Kejadian dimana ada seseorang yang mengirimkan beberapa video Yuna padanya. Melihat Video itu membuat nenek Moza semakin menaruh rasa tidak suka terhadap Yuna.
"Jangan pernah bermimpi untuk menjadi pendamping hidup Langit, Yuna. Karna kamu jauh dari kata pantas untuk cucuku satu-satunya" ucap Nenek Moza sambil menatap layar ponselnya.
*****
"Langit dimana sih?. Kenapa dia tidak ada dimana-mana" ucap Yuna yang terlihat sangat kesal. Sudah lebih 20 menit wanita itu keliling mencari keberadaan Langit, Namun Langit tidak di temukan di mana-mana.
Yuna menghentikan langkahnya saat tiba di lapangan basket. Wanita itu memicingkan kedua matanya untuk mencari keberadaan Langit di sana, Namun hasilnya tetap Nihil. Langit tidak ada di sana.
"Arrgghh. Kemana sih Langit" ucap Yuna kesal.
Tanpa Yuna sadari, Ternyata sejak tadi Lexan mengikutinya. Memperhatikan Yuna yang sejak tadi berkeliling sekolah NUSA BANGSA.
"Woy, Lho kenapa dari tadi gue perhatikan kok keliling-keliling saja. Memangnya tidak capek itu kaki"ucap Lexan pada Yuna.
Yuna membalikkan tubuhnya menoleh pada sumber suara"Lho bicara sama gue?"ucapnya.
__ADS_1
"Bukan, Gue bicara sama patung. Yaiya lah gue ngomong sama lho"
"Lho anak baru yang kemaren sudah membuat Jingga nangis bukan sih?"
Mendengar nama Jingga membuat Yuna merasa tidak suka."Kalo iya kenapa? Apa urusannya sama lho" seru Yuna sambil melirik Lexan.
Lexan masih terdiam. Melihat Yuna seperti itu membuatnya menyimpulkan jika kemungkinan besar Yuna tidak menyukai Jingga. Hingga satu akan licik melintas begitu saja.
"Gue ingin menawarkan kerjasama sama lho yang tentunya akan sangat menguntungkan buat kita berdua" tawar Lexan.
"Sayangnya gue tidak tertarik" jawab Yuna dan langsung berlalu dari hadapan Lexan.
Namun langkahnya terhenti saat Lexan menyebutkan nama Langit"Lho yakin? Padahal ini menyangkut lho bisa mendapatkan Langit"ucap Lexan lagi.
Mendengar itu, Seketika Yuna membalikkan tubuhnya, Menoleh cepat pada Lexan yang sudah memainkan sebelah matanya"Masih tidak tertarik?" ucapnya.
"Kerja sama apa yang mau lho tawarkan? Jika itu bisa membuat gue mendapatkan Langit, Kenapa tidak"
"Ck! Dasar wanita. Tadi saja sok bilang tidak tertarik. Setelah mendengar nama Langit langsung gerak cepat. Apa hebatnya coba itu anak, Ganteng juga gue gak kalah saing. Tapi perasaan kalau sudah ada Langit gue bagaikan abu yang tak terlihat" ucap Lexan sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.
Perkataan Lexan membuat tawa Yuna pecah"Hahahhah, Lucu sih. Coba lho ambil kaca, Lalu liat, Lho sama Langit itu jauuuhh. Bagaikan langit dan bumi" ucap Yuna di sela tawanya.
"Kurang ajar lho. Gini-gini, Banyak cewek yang antre mau jadi pacar gue"
"Masak, Gue gak percaya. Seperti sedikit meragukan"
*****
"Bagaimana, Apa anda sudah siap untuk malam ini?" tanya Darwin pada Erlangga.
"Tentu, Bukan kah lebih cepat lebih baik" balas Erlangga sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.
Entah apa yang sedang mereka rencanakan, Namun yang pasti, Rencana mereka sudah terbaca oleh Sandi dan juga orang suruhan Langit.
__ADS_1
Saat ini mereka sudah membentuk suatu kumpulan untuk menjalankan misi malam nanti, Sebuah strategi brilian yang sudah di rencanakan oleh Alexander.