
Selama ini Alexander memang tidak pernah tau apa golongan darah Jingga, Karna memang semenjak kecil Jingga selalu sehat dan membuatnya tidak pernah melakukan tes golongan darah. Berbeda dengan Revan yang memang sering sakit sakitan di saat usianya masih dini.
"Apa jangan-jangan anakku tertukar saat kebakaran itu" ucap Alexander dalam batinnya.
Ingatan Alexander kembali pada bayangan kejadian 17 tahun yang lalu, Tepatnya sehari setelah istrinya meninggal karna melahirkan anaknya.
"*Bunda, Kenapa bunda harus pergi tinggalkan kami bertiga" ucap Alexander sambil memperhatikan foto istrinya di layar ponselnya.
Di saat Alexander masih sibuk memperhatikan foto istrinya, Tiba-tiba saja ada seseorang yang duduk di sampingnya sambil menepuk pelan pundaknya.
"Saya tau anda terluka, Tapi anda harus kuat demi anak yang dilahirkan istri anda" ucap pria itu sambil menatap Alexander yang tanpa sadar menjatuhkan air matanya.
"Kenapa anda bisa tau jika istri saya meninggal karna melahirkan anak saya?" balas Alexander sambil menoleh pada pria itu.
"Karna kebetulan istri saya juga melahirkan kemarin di jam dan waktu yang sama" balasnya.
"Jadi anda suami dari wanita yang melahirkan di sebelah ruangan istri saya?"
"Benar sekali. Perkenalkan nama saya Darwin mahendra. Panggil saja Darwin" ucap Darwin sambil mengulurkan tangannya.
"Salam kenal, Darwin. Saya Alexander, Panggil saja Alex"
Di saat Alexander dan juga Darwin masih berbincang-bincang di sana. Tiba-tiba saja ada sebuah peringatan jika sedang terjadi kebakaran di ruangan bayi. Mendengar itu membuat mereka berdua berlari ke arah ruangan bayi dan mengambil salah satu bayi di sana tanpa melihat nama. Mereka berdua sama-sama hanya mengingat letak bayinya masing-masing. Padahal posisi bayinya sudah di tukar oleh pihak rumah sakit. Karna kebetulan anak dari Alexander beratnya tanya 2000 gram dan membuatnya perlu di tempatkan di tempat khusus*.
Sedangkan anak Darwin yang awalnya juga beratnya hanya 2300 gram sudah berhasil naik karna kecukupan asi yang di berikan oleh mamanya. Sehingga tempat yang awalnya di tempati oleh anak Darwin di gantikan pada anak Alexander tanpa memberitahu mereka berdua.
"Ayah, Kenapa ayah diam saja"
Suara Langit menyadarkan Alexander dari lamunan kejadian 17 tahun yang lalu. "Maaf, Boy. Ayah tidak fokus" balasnya.
"Lalu bagaimana ini, Pak. Jingga membutuhkan donor darah itu segera, Kalau tidak, Kemungkinan besar dia tidak bisa tertolong"
Mendengar itu membuat Langit membulatkan kedua matanya"Jangan bercanda, Dokter" ucapnya.
"Ini bukan waktunya bercanda. Cepat carikan donor darah paling lambat satu jam dari sekarang, Kalau sampai dalam waktu satu jam darah itu belum di temukan, Saya tidak tau apa yang akan terjadi pada Jingga"
__ADS_1
Langit langsung mengambil ponselnya dan meminta bantuan pada teman-temannya untuk mencarikan golongan darah yang sesuai dengan milik Jingga di rumah sakit lain.
"Bang, Tolong batu gue buat dapatin donor darah buat Jingga. Gue gak mau jika harus kehilangan dia bang" ucap Langit yang terdengar sangat lirih.
Damian mendekat lalu menepuk pundak Langit sejenak"Sabar, Jingga pasti akan baik-baik saja" ucapnya
Gibran yang melihat raut wajah Langit membuatnya sadar jika Langit ternyata mencintai Jingga dengan sebesar itu, Bahkan perasaan yang dia miliki tak sebesar perasaan Langit.
"Kita juga ikut bantu cari donor buat Queen. Kalian ikut gue, Kita tes darah. Siapa tau salah satu dari kita ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan nya" ucap Gibran dan langsung melangkahkan kakinya dari sana.
Namun langkah Gibran terhenti saat mendengar suara Langit memanggil namanya"Tunggu, Katakan sama gue siapa yang sudah melakukan ini pada Jingga?" tanya Langit sambil menatap Gibran.
"Pelakunya ada di dalam" balasnya dan langsung melangkahkan kakinya kembali.
Mendengar perkataan Gibran membuat Langit langsung masuk ke dalam ruangan itu karna merasa penasaran dengan orang yang sudah merani melukai wanita yang amat di cintanya.
Saat sudah tiba di ruangan IGD, Langit memicingkan kedua matanya saat melihat keberadaan Darwin di sana. Melihat itu membuat Langit mengepalkan kuat kedua tangannya.
"Bang sad! Jadi lho lagi yang sudah mencari masalah" ucap Langit sambil berjalan cepat ke arah Darwin yang masih tertidur lemah di atas ranjang rumah sakit.
"APA SALAH JINGGA KENAPA LHO HARUS MELUKAINYA!?" ucap Langit dengan suara lantangnya.
Darwin tersenyum"Mau tau apa alasannya, Karna saya mau kamu kehilangan wanita yang begitu kamu cintai, Tepat seperti apa yang sudah papa mu lakukan. Dia sudah membuat saya kehilangan wanita yang begitu saya cintai" balas Darwin tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikitpun.
"DASAR BEDEBAH BODOH! YANG SUDAH MEMBUNUH ISTRI LHO BUKAN PAPA, TAPI ERLANGGA!" Teriak Langit lagi.
Mendengar perkataan Langit membuat Darwin tertawa"Jangan ngada-ngada. Erlangga adalah partner saya. Mana mungkin dia mau menghancurkan hidup saya. Dia adalah yang terbaik" balas Darwin lagi.
"Oh ya. Partner baik macam apa yang sudah dengan sengaja membodohi lho!"
Setelah itu, Langit mengeluarkan ponselnya, Menunjukkan sebuah rekaman suara yang dia ambil beberapa saat yang lalu pada Darwin.
"Anda memang tidak salah dalam memilih partner" ucap seseorang di rekaman itu.
"Tentu, Sebelum menjadikan nya Partner, Saya sudah mematikan jika dia adalah orang bodoh yang bisa saya kelabui. Buktinya, Si Darwin tidak sadar jika pembunuh asli istrinya adalah saya, Bukan Pratama"
__ADS_1
"Bukan hanya itu, Sebenarnya saya juga yang sudah mengambil 80% uang perusahaan milik Darwin dengan bantuan Rendi. Orang kepercayaannya" ucap Erlangga lagi
Deg!
Suara itu seketika membuat Darwin terdiam. Apa selama ini dia terlalu percaya pada Erlangga, Sehingga tidak menyadari jika selama ini Erlangga sudah membodohi nya.
"She, Orang yang lho anggap partner terbaik hanyalah duri di dalam daging. Menjadi musuh dalam selimut dengan peran yang begitu memuaskan" ucap Langit pada Darwin.
Mendengar rekaman itu membuat Darwin terdiam. Tidak ada kata yang bisa dia ucapkan. "Brengsek, Jadi selama ini Erlangga yang sudah menjadi dalang dari semua ini adalah Erlangga" batinnya sambil mengepalkan kuat kedua tangannya.
"Anda liat. Mana kawan mana Lawan" ucap Langit lagi.
Darwin benar-benar bungkam oleh perkataan Langit, Tidak ada satu kata pun yang bisa dia ucapkan untuk saat ini.
45 Menit sudah berlalu, Namun semua teman-teman Langit dan juga yang lain masih belum mengabarkan jika mereka sudah menemukan golongan darah yang sama dengan Jingga atau nggak.
"Bagaimana, Apa sudah menemukan golongan darah yang sama dengan Jingga? Waktu kita hanya tinggal 15 menit lagi" ucap Dika yang baru saja kembali ke ruangan IGD.
Alexander dan Langit yang mendengar itu menjadi semakin panik. "Bagaimana ini, Ayah. Apa yang harus kita lakukan jika sampai tidak menemukan donor darah untuk Jingga" seru Langit sambil menggenggam tangan Jingga yang masih menutup rapat kedua matanya.
Tak berselang lama, Alexander yang teringat akan kebakaran tiba-tiba saja menoleh pada Darwin yang sudah terdiam tanpa suara di tempatnya.
"Jika memang waktu itu Jingga tertukar, Seharusnya Darwin akan memiliki golongan darah yang sama dengannya" Batin Alex sambil menatap Darwin.
Pria paruh baya itu berjalan ke arah ranjang Darwin dan langsung menanyakan apa golongan darah Darwin.
"Apa golongan darah mu?" ucap Alexander pada Darwin.
"Untuk apa kau bertanya. Tidak penting bukan"
"Penting, Ini demi keselamatan anak saya yang sudah kamu tusuk"
"AB+" ucap Darwin sambil menoleh pada Alexander.
Mendengar itu membuat Alexander seketika bungkam, Lututnya terasa begitu lemas"Tidak salah lagi, Mereka benar-benar tertukar" batinnya
__ADS_1