
"Bagaimana, Kapan sebaiknya kita melakukan Planning B kita yang sudah tertunda begitu lama?" tanya Darwin pada Erlangga.
"Slow. Jangan terlalu terburu-buru. Butuh waktu yang pas untuk melakukan rencana kita yang itu. Masalahnya ini juga menyangkut keselamatan kita" jawab Erlangga sambil menatap Darwin.
"Bukan kah lebih cepat itu lebih baik. Saya ingin secepatnya mendapatkan seluruh harta kekayaan milik Pratama. Setidaknya setelah dia bangun nanti, Dia sudah harus kehilangan semuanya" ucap Darwin lagi.
"Tentu. Bersamaan dengan itu, Anda yang harus bersiap untuk saya singkirkan, Partner bodoh!" ucap Erlangga dalam batinnya sambil mengulum bibir. Tidak sabar menunggu hadi itu tiba.
"Baiklah. Jika memang itu yang anda inginkan. Sebagai partner yang baik, Saya akan selalu menuruti kapan pun itu" balas Erlangga sambil tersenyum licik.
"Bagaimana kalau malam ini?"
"Jangan malam ini. Persiapan kita masih kurang. Besok lusa bagaimana?"
"Baiklah, Saya akan berusaha sabar menunggu sampai besok lusa"
Mereka berdua tersenyum licik sambil bersulang. Entah apa yang sebenarnya sedang di rencanakan oleh kedua orang busuk ini. Yang satu gila harta, Yang satu bodoh.
"Kita lihat saja, Pratama. Aku sudah tidak sabar memiliki seluruh harta kekayaan mu dan melihat kamu memohon bersimpuh untuk mendapatkan pekerjaan" batin Darwin.
"Darwin Darwin. Dasar manusia bodoh! Bagaimana bisa dia mempercayai musuh dalam selimut serta duri di dalam daging sepertiku"batin Erlangga sambil menatap Darwin yang sudah mengulum bibir.
Tanpa terasa hari sudah semakin sore. Setelah puas keliling Plaza. Langit dan Jingga keluar dari tempat itu. Tempat terakhir yang mau mereka kunjungi sebelum kembali ke mansion adalah taman.
Sudah seperti biasa kalau hari Weekend taman pusat kota akan selalu ramai dengan pengunjung."Wah masih rame juga ternyata kak, Padahal kan ini sudah jam 14:30" ucap Jingga di sela langkahnya sambil menoleh pada Langit.
"Iyalah, Sayang. Ini kan hari weekend. Banyak orang yang memilih Quality time bersama dengan keluarga mereka di sini"
"Iya kak, Itu liat deh. Ada yang main bola, Ada yang piknik juga kak. Suasananya juga sangat mendukung hari ini"
"Suatu saat kalau kita sudah punya anak, Pasti aku akan merasakan apa yang mereka rasakan saat ini" ucap Langit sambil menatap sebuah keluarga yang terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
Setelah cukup puas melihat keluarga itu, Langit dan Jingga mencari tempat duduk kosong yang ada di taman itu.
Mereka berdua menatap orang-orang yang berlalu lalang di sana. Hingga tanpa sengaja Langit melihat sosok Aldebaran di sana. Ya, Devano masih saja setia menjadi penguntit Langit dan juga Jingga hingga ke taman ini.
"Itu kan anak baru yang bernama Aldebaran. Ini suatu kebetulan apa memang dia mengikuti kami berdua" ucap Langit dalam batinnya sambil menatap tajam Devano.
"Astaga, Sepertinya si Langit sudah melihat keberadaan ku. Sudah kepalang tanggung juga. Lebih baik aku samperin dan ikut gabung bersama dengan mereka. Itung-itung buat melepas rindu pada Jingga, Wanita cengeng yang dulu sudah menjadi cinta monyet pertamaku" batin Devano sambil berjalan ke tempat Langit dan juga Jingga.
Langit yang melihat sosok yang dia kenal sebagai Aldebaran berjalan ke arahnya membuat Langit merasa sangat tidak suka. "Ngapain orang itu kok kayaknya mau kesini"batin Langit yang merasa sangat tidak suka dengan kehadiran Devano.
Setelah tiba di tempat Langit dan juga Jingga. Devano langsung duduk di samping Jingga tanpa mengatakan sepatah kata pun pada mereka berdua.
"Astaga, Apa-apaan ini orang. Gak tau apa kalau gue dan Jingga sedang Quality time. Ngapain juga harus ikut duduk di sini. Tempat kursi kosong kan banyak, Kenapa harus duduk di antara aku dan Jingga" Batin Langit sambil menahan rasa kesal.
"Hai, Kalian berdua siswa SMA NUSA BANGSA kan. Satu kelas sama gue" ucap Devano yang berusaha sok akrab.
"Iya, Kita memang satu sekolah dan satu kelas juga. Kamh anak baru yang kemaren kan?" jawab Jingga saat Langit tak menghiraukan keberadaan Devano sama sekali.
Kedatangan Devano membuat Langit merasa takut tersaingi. Takut nanti Jingga akan berpaling darinya. Walaupun sebenarnya hal itu tidak akan pernah terjadi. Namun seketika Langit menjadi Parno saat melihat Jingga menghargai keberadaan Devano.
"Sayang, Kamu mau aku belikan eskrim?" tanya Langit sambil menoleh pada Jingga.
"Mau kak, Jingga mau. Sepertinya enak makan eskrim"
"Mau yang rasa apa, Sayang. Coklat atau strobery atau rasa apa?" tanya Langit lagi.
Namun belum sempat Jingga menjawab, Devano yang memberi jawaban terlebih dahulu. Mendengar perkataan Devano membuat Langit mengerutkan kecil keningnya, Bagaimana bisa Devano tau kalau eskrim kesukaan Jingga adalah rasa alpukat.
"Masih suka rasa alpukat kan?" ucap Devano tiba-tiba.
"Gue tanya Jingga, Kenapa malah lho yang jawab" ujar Langit yang merasa tidak suka.
__ADS_1
"Tunggu deh, Kenapa kamu bisa tau kalau aku suka yang rasa alpukat?"
"Apa sih yang nggak gue tau dari lho, Diandra" balas Devano sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Panggilan Devano membuat Jingga terdiam untuk beberapa saat, Entah kenapa panggilan itu mengingatkan nya pada sosok bocah yang dulu begitu menyebalkan.
"Diandra, Kenapa Aldebaran memanggilku dengan sebutan itu. Ah aku jadi teringat sama bocah nakal yang dulu sering membuatku menangis. Bagaimana ya kabar dia sekarang"batin Jingga sambil melirik Devano.
"Ngapain lho panggil Jingga dengan sebutan Diandra?" ucap Langit sambil menatap tajam Devano.
Devano yang melihat raut wajah Langit hanya bisa mengulum bibir. Sangat terlihat jika saat ini Langit sedang cemburu. Astaga, Padahal hanya seperti itu sudah membuat Langit merasa tidak suka.
"Kenapa lho diam saja?" ucap Langit lagi. Karna memang Devano belum menjawab hanya memberi senyuman yang membuat Langit semakin merasa kesal.
"Astaga, Ternyata saudara sepupuku sudah sebucin ini. Lebih baik gue kerjain dia saja kali ya, Gue mau tau seberapa besar cinta Langit terhadap Jingga"Batin Devano sambil menatap Langit.
*****
"Bagaimana? Apa kamu sudah tau apa penyebab si Erlangga menghilangkan nyawa Sela?" tanya Alexander pada detektif suruhannya.
"Sudah, Tuan. Menurut yang saya dapatkan, Sepertinya Erlangga membunuh Sela hanya karna satu hal"
Alexander mengerutkan keningnya"Satu hal? Apa itu?" tanya Alexander penasaran.
"Alasannya tidak jauh dari kata HARTA"
"Harta? Maksudnya bagaimana? Saya tidak terlalu paham"
"Sela tak sengaja mengetahui satu informasi tentang kejahatan Erlangga. Saya punya saksi mata"
"Siapa orangnya?"
__ADS_1
"Orangnya adalah"