Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Perdebatan Rey sama Sisil


__ADS_3

Setelah pintu utama terbuka, Samudra serta bi Siti bisa melihat keberadaan Sisil yang sudah berdiri di depan pintu sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Ngapain lho kesini, Sisil?" tanya Samudra sambil menatap Sisil yang sudah berdiri di sana.


"Gue kesini yang pasti bukan buat lho, Gue cari Langit"


"Kak Langit gak ada. Mendingan lho pulang sekarang" ucap Samudra sambil mendorong tubuh Sisil.


"Gak mau. Gue ada kepentingan sama Langit"


"Kak Langit belum pulang"


"Gue bisa nunggu sampai dia pulang" balas Sisil yang masih kekeh tidak mau pergi dari sana.


"Serah kau saja lah"


Setelah itu Samudra kembali masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Sisil tanpa menyuruhnya untuk masuk ke dalam mansion itu. Entah kenapa Samudra tidak pernah menyukai Sisil, Bahkan Samudra sendiri tidak tau apa alasannya.


"Den, Apa itu si non Sisil tidak di suruh masuk?" tanya Bi Siti sambil mengekor di belakang Samudra.


"Gak usah bik. Buat apa menyuruh masuk orang ngeselin kayak Sisil. Biarkan saja dia nunggu kak Langit di luar. Saya mau ke kamar dulu, Bi. Kalau kak Langit pulang, Bibi jangan lupa panggil saya di kamar ya"


"Siap atuh den"


Bi Siti kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karna kedatangan Sisil. Sedangkan Samudra memutuskan untuk istirahat di dalam kamarnya yang ada di sebelah kamar Langit.


Sejenak Samudra menatap pintu kamar Langit. Pria itu mengingat semua kenangan masa kecil yang masih bisa terekam jelas dalam memorinya.


Akhirnya Samudra memutuskan untuk masuk ke dalam kamar itu, Memperhatikan setiap sudut di dalam kamar Langit. Semua masih sama, Tidak ada yang berubah sedikitpun di sana,Masih sama persis seperti beberapa bulan yang lalu.


"Aku sangat merindukan masa kecil kita, Kak. Aku benar-benar merindukan kak Langit yang dulu selalu mengayomi aku, Menjadi sosok terdepan yang menjadi pelindungku, Memberikan kasih sayang yang begitu besar dan juga tulus. Aku sangat merindukan masa-masa itu kak" ucapnya yang terdengar sangat lirih.


Samudra duduk di sisi Ranjang di dalam kamar Langit sambil memperhatikan sebuah foto anak kecil yang masih terpajang di atas nakas samping ranjang di sana.


"Ternyata kak Langit masih menyimpan foto ini" ucap Samudra lagi sambil mengambil foto itu.


Setelah itu, Samudra keluar dari dalam kamar Langit dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Berdiri di atas balkon kamarnya sambil memperhatikan Sisil yang ternyata masih setia menunggu di sana.


"Sisil masih di sini saja. Tapi kenapa kak Langit belum pulang juga ya" ucap Samudra sambil terus menatap Sisil dari atas balkon kamarnya.


Tak berselang lama, Ada suara mesin motor yang masuk ke sana. Samudra memperhatikan dua sosok yang baru saja membuka helmnya.


"Rey sama Doni. Ngapain mereka kesini?" ucapnya sambil menatap Rey dan juga Doni yang berjalan mendekat pada Sisil.

__ADS_1


Di Bawah


Setelah membuka Helmnya, Rey dan juga Doni saling pandang karna melihat keberadaan sosok yang biasa mereka panggil dengan sebutan mak lampir ada di sana.


Melihat keberadaan Sisil tentu saja membuat mereka merasa sangat penasaran, Untuk apa Sisil datang ke tempat tinggal Langit.


"Ngapain lho kesini, Mak lampir?" ucap Rey sambil duduk di kursi depan Sisil.


Sisil diam saja, Tak menggubris perkataan Rey sama sekali. Wanita itu masih sibuk dengan ponselnya. Sisil ternyata sedang main game Mobile Legend dan sedang melakukan push rank.


"Woy mak lampir, Lho dengar gue kan!"


Lagi-lagi Sisil hanya terdiam, Sama sekali tak menjawab perkataan Rey.


"Biasa Rey, Mak lampir lagi sakit sariawan, Makanya males ngomong"


"Atau sakit gigi" timpal Rey sambil terkekeh


"Sabar, Sil. Tidak perlu dengarkan apapun perkataan mereka, Mereka berdua hanya akan membuat mu kesal" ucap Sisil dalam batinnya sambil terus berpura-pura fokus pada ponselnya.


"Eh mak lampir, Ada perlu apa lho datang kesini?" tanya Rey lagi


"Bukan urusan lho kali, Mau gue kemana pun, Itu tidak ada urusannya sama lho. Paham!"


"Idih mak lampir, Gue cuma tanya doang, Siapa juga yang mau ngurus urusan lho. Dasar mak lampir"


"Eleh-eleh. Seenak jidat bilang gue jelangkung"


"Tapi itu cocok sih kayaknya buat jadi panggilan baru lho. Fix mulai malam ini gue bakal panggil lho dengan sebutan om jelangkung" balas Sisil sambil tertawa.


"Bengek lho" ucap Rey yang terlihat kesal.


"Lebih bengek lho kali, Gak sadar emang. Hahahahah"


Melihat Sisil menertawakannya membuat Rey merasa sangat kesal. Ini pertama kalinya Sisil membalas perkataannya dan berbalik membuat dirinya yang menahan rasa kesal.


"Dasar mak lampir kau" ujar Rey sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.


"Dasar om jelangkung kau, Hahah. Itu panggilan paling cocok buat lho sih Rey, Buat si tukang bacot. Hahahah"


Doni sejak tadi hanya menyimak, Tiba-tiba saja Doni membuka suara dan langsung berhasil membuat Rey serta Sisil mengatakan amit-amit secara bersamaan.


"Kalau gue perhatiin nih ya, Sepertinya kalian berdua itu cocok kalau jadi pasangan kekasih. Yang satu mak Lampir, Yang satu om Jelangkung, Bener-bener clop" ucap Doni sambil tertawa.

__ADS_1


"Amit-amit jabang bayi" ucap mereka secara bersamaan.


"Hati-hati loh ya, Banyak pepatah yang mengatakan jika terlalu sering berantem, Nanti akan tumbuh bibit cintah" ucap Doni lagi sambil terus terkekeh.


"Gue cinta sama mak Lampir? Ueekk, Gak bakalan. Mending jomblo dari pada punya pacar kayak si mak lampir"


"Sok kegantengan banget sih lho. Lho pikir gue mau, Ogak banget gue sama cowok banyak bacot jelek kayak lho"


"Jelek? Orang ganteng begini di bilang jelek. Mata lho siwer"


"Iya ganteng, Tapi kalo di lihat dari sedotan. Hahhahahha"


"Beneran dah, Kalian itu kalo di satuin bakal jadi pasangan ter-clop sejagat raya" timpal Doni lagi.


"DIEM LHO" ucap Rey dan Sisil secara bersamaan.


"Nah kan, Ngomong aja bareng lho berdua. Jangan-jangan"


"Jangan-jangan apa?" timpal Rey sambil menatap tajam Doni


"Jodoh. Hahhahahah"


Tanpa mereka sadari, Hari sudah semakin malam, Namun sama sekali tidak ada tanda-tanda kepulangan Langit. Bahkan jam sudah menunjukkan pukul 22:00.


"Kemana tuh si Langit, kok gak pulang-pulang yak. Kita nunggu sudah lebih 4 jam kan yak"


"Hooh, Gue kayaknya sudah mulai ngantuk. Gue balik dulu lah Rey"


Setelah mengatakan hal itu, Doni benar-benar pergi dari sana meninggalkan Rey dan Sisil berdua.


"Aduh. Kenapa tidak ada satupun taksi yang mau nerima orderan gue" ucap Sisil dalam batinnya.


Rey yang menyadari raut wajah Sisil akhirnya menawarkan untuk pulang bersama.


"Mau balik bareng gue gak?"


"Ogah" balas Sisil yang mencoba jual mahal sambil berjalan keluar dari mansion itu. Meninggalkan Rey yang sudah memasang helm miliknya.


"Yakin gak mau pulang bareng gue?' ulang Rey lagi.


"Yakin, Banyak bacot lho"


"Yaudah, Dasar mak Lampir gak tau diri. Sudah baik gue ajak pulang bareng. Gue doain semoga gak dapet taksi, Jalan kaki-jalan kaki deh lho"

__ADS_1


"Itu mulut emang gak pernah bisa ngomong baik ya, Ngeselin banget. Dasar om jelangkung!"


"Bodo amat"


__ADS_2