
"Sebenarnya aku anak siapa, Yah?" tanyaku sambil menatap raut wajah ayah yang terlihat sangat terkejut.
Mendengar pertanyaan yang baru saja aku lontarkan, Paper Bag yang ayah bawa jatuh begitu saja. Aku bisa melihat wajah ayah yang mendadak menjadi pucat setelah mendengar apa yang baru saja aku katakan.
"Jawab, Ayah. Sebenarnya Jingga anak ayah atau bukan?"tanyaku lagi sambil terus menatap raut wajah ayah.
Ayah mendekat dan langsung memelukku lagi, Kedua matanya berkaca-kaca. Seakan tak dapat menjawab apa yang baru saja aku tanyakan.
"Jingga anak ayah, Selamanya akan selalu menjadi anak ayah"ucap ayah yang terdengar sangat lirih. Tangan kekarnya membelai lembut rambutku.
"Lalu kenapa golongan darah Jingga berbeda dengan ayah dan juga bunda? Jawab ayah! Sebenarnya Jingga anak siapa?" tanyaku yang lagi-lagi mengulang pertanyaan ku.
Entah kenapa aku merasa begitu penasaran bagaimana bisa golongan darahku berbeda dengan mereka. Aku ingin tau siapa orang tua kandungku yang sebenarnya.
Namun lagi-lagi ayah bungkam, Seakan tak dapat menjawab sepatah katapun dari pertanyaan ku. Hingga cukup lama ayah membuka suara dan memberikan jawaban yang membuat duniaku seakan berhenti berputar. Jantungku seakan berhenti berdetak, Dadaku terasa sangat sesak. Seakan pasokan oksigen itu sulit untuk sekedar masuk pada rongga paru-paruku.
"Kemungkinan kamu memang bukan anak ayah, Jingga" ucapnya sambil semakin mengeratkan pelukannya padaku.
"Apa maksud, Ayah? Jingga tidak paham" tanyaku karna tidak terlalu paham dengan perkataan ayah.
"Kemungkinan besar kamu tertukar saat kejadian kebakaran 17 tahun yang lalu di rumah. Tepatnya sehari setelah kamu di lahirkan" ucap papa sambil menatapku yang sudah terdiam dalam pelukan ayah.
Perkataan ayah membuatku terpaku, Fakta apa ini? Berita ini seakan menjadi mimpi terburuk yang pernah aku alami.
"Lalu siapa orang tua kandung Jingga, Yah?"tanyaku sambil melepaskan pelukan ayah.
Ayah tak langsung menjawab. Ayah masih menatapku sambil menggenggam erat tangan kiriku. "Kemungkinan besar orang tua kandung kamu adalah" perkataan ayah terpotong saat tiba-tiba ada dokter Dika masuk ke ruangan rawat inapku.
"Selamat pagi" ucap dokter Dika sambil tersenyum ramah padaku.
"Pagi, Dokter" balas ayah sambil mengusap sisa air matanya.
"Saya periksa dulu ya, Jingga" ucapnya sambil menunjukkan senyumannya.
"Iya dokter" balasku.
"Alhamdulilah keadaan kamu sudah baik-baik saja, Nanti malam kamu sudah boleh pulang" ucap dokter Dika dan langsung keluar dari ruang rawat inap ku.
__ADS_1
Di Tempat Lain
"Huuff" Aku mengambil nafas pelan sambil mengganti pakaian dengan seragam sekolah. Hari ini rasanya tidak ada semangat untuk pergi ke sekolah. Apalagi saat melihat Jingga seperti itu. Rasanya duniaku seakan berhenti berputar untuk sesaat.
Wanita yang begitu aku cintai harus terluka karna urusan pribadiku. Mungkin memang benar apa yang di katakan Jingga, Aku harus bisa berdamai dengan masa lalu. Karna masa lalu itu, Aku hampir saja kehilangan wanita yang paling berharga dalam hidupku.
Setelah selesai bersiap, Ku langkahkan kakiku yang terasa sangat berat keluar dari kamar. Pagi ini tidak ada suara manja yang terdengar dari Jingga, Aku sangat merindukan suara manja itu.
Di bawah, Aku bertemu dengan bi Siti yang masih sibuk membersihkan dapur, Tadi pagi aku memang sudah mengatakan pada bi Siti untuk tidak memasak, Karna hari ini mood makan ku sudah tidak ada.
"Langit berangkat sekolah dulu bik" ucapku sambil melewati bi Siti.
"Yakin gak mau sarapan dulu king? Biar bibi buatkan susu hangat ya. Tunggu sebentar" ucapnya dan langsung kembali ke dapur.
Melihat bi Siti seperti itu membuatku teringat akan almarhumah mama. Mengingat mama membuat jantungku terasa sangat sakit. Ingin rasanya aku membalas Darwin mengan melenyapkannya dari dunia ini. Tapi aku masih teringat akan perkataan Jingga, Berdamai dengan masa lalu.
30 menit kemudian, Motorku sudah tiba di sekolah NUSA BANGSA. Dari luar gerbang aku sudah bisa melihat keberadaan mereka di tempat biasa.
"Bagaimana keadaan bidadari?" tanya Doni saat aku sudah memarkirkan motorku.
"Jingga sudah sadar. Keadaannya juga sudah baik-baik saja" jawabku sambil duduk di samping Rey yang sedang terdiam tanpa banyak bicara. Tak seperti hari-hari biasanya.
Mendengar perkataan Langit membuat Rey mengangkat wajahnya. Pria itu mengambil nafas pelan sambil mengusap kasar wajahnya.
"Masih tentang mak Lampir ya, Om Jelangkung?"tanya Doni sambil menatap Rey.
"Ya begitulah, Mak Lampir bikin gue stres tau gak sih" balas Rey
Mendengar itu membuat Doni turun dari atas motornya. Doni mendekat pada Rey lalu menempelkan tangannya pada kening pria itu.
Semua teman-temannya yang melihat itu tentu saja merasa bingung dengan tingkah yang sedang Doni lakukan. Kecuali Langit yang langsung mengulum bibir.
"Lho sehat kan Rey?" tanya Doni sambil menempelkan tangannya pada Rey yang sudah mengerutkan kecil keningnya.
"Sehatlah gue. Memangnya kenapa coba?" ucap Rey sambil menatap Doni.
"Kalo lho gak lagi sakit, Itu artinya lho sudah jatuh cinta sama mak Lampir"
__ADS_1
Perkataan Doni membuat Rey seketika tertawa"Hahahhha. Gue jatuh cinta sama mak Lampir? Itu salah satu hal mustahil yang tak akan pernah terjadi. Ya kali gue mau jatuh cinta sama wanita menyebalkan sepertinya"ucap Rey yang sambil mengekor di belakang Langit.
"Hati-hati sama ucapan lho, Nanti yang ada lho tergila-gila lagi sama Sisil" timpal Langit sambil mengulum bibir.
"Kagak bakalan paketu, Ya kali Rey Alvaro yang paling ganteng setelah Langit mau jatuh cinta sama Mak Lampir"
"Dih, Nanti lho beneran cinta mati sama Sisil baru tau rasa" timpal Faro.
"Jomblo di larang ikut berkomentar!" balas Rey sambil menoleh pada Faro sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Di iyain ajalah. Maklum orang galau"
Sejak tadi Lana tak ikut membuka suara. Pria itu hanya diam seperti biasa. Yang ada di pikirannya masih seputar tentang Olivia.
Setelah semalaman begadang, Akhirnya Lana memutuskan untuk mengatakan perasannya pada Olivia malam nanti.
"Kenapa lho hanya diam saja Lana?" ucap Faro sambil menyenggol lengan Lana yang langsung menyebutkan nama Olivia.
"Ya Olive" ucap Lana yang berhasil menghentikan langkah semua teman-temannya, Termasuk Langit.
"Astaga, Kau sedang menghayal tentang Olivia?"
"Ganggu aja sih lho!" ucap Lana kesal
Langit menggelengkan pelan kepalanya. Hari ini rasanya tidak ada yang normal dengan teman-temannya. Hanya raga mereka yang ada di san, Namun pikirannya berkelana kemana-mana.
"Lho mau sekolah apa menghayal?" ucap Faro pada Maulana.
"Kalo menghayal bisa buat gue bahagia, Kenapa tidak"
Di saat mereka masih terdiam, Tiba-tiba saja ada Samudra yang datang menghampiri mereka.
"Kak. Kakek sudah tiba di jakarta" ucap Samudra pada Langit.
"Biarkan saja" balas Langit cuek sambil melanjutkan langkahnya.
Namun langkah itu terhenti saat Samudra mengatakan perihal perjodohan yang sudah di rencanakan oleh kakek Abimana.
__ADS_1
"Kakek akan menjodohkan kak Langit dengan anaknya om Darwin, Yaitu Yuna"
"Apa!" balas mereka secara bersamaan