
"Kita lihat saja, Pratama. Setelah kamu bangun, Kamu akan kehilangan segalanya" ucap Darwin sambil tersenyum puas.
Setelah itu, Darwin memanggil orang kepercayaannya untuk mengurus semuanya, Mulai dari kepulangannya ke jakarta hingga perpindahan sekolahnya Yuna.
"Tuan panggil saya?" tanya orang itu sambil menundukkan kepalanya.
"Hmm, Saya mau kamu mengurus perpindahan sekolahnya Yuna dan daftarkan dia di sekolah NUSA BANGSA di jakarta. Jangan lupa, urus besok pagi, Karna besok malam, Saya akan melakukan penerbangan ke indonesia"
"Siap, Tuan. Saya akan melakukan semua yang tuan perintahkan"
"Good. Kamu panggilkan Yuna, Suruh dia datang kesini"
"Siap, Tuan"
Setelah itu, Orang kepercayaan Darwin keluar dari ruangannya untuk memanggil Yuna dan meminta Yuna buat menemui Daddynya.
Di Dalam Kamar
Yuna menatap sebuah foto anak kecil yang selama ini selalu dia simpan di dalam buku dairy nya. Sebuah foto anak kecil yang tak lain adalah foto dirinya bersama dengan Langit yang di ambil beberapa tahun yang lalu. Tepatnya saat mereka masih berumur 10 tahun.
"Langit, Aku sangat merindukan kamu. Aku merindukan masa-masa kecil kita. Masa di mana kita sering menghabiskan waktu bersama, Karna kebersamaan itu, Hingga detik ini aku jadi mencintaimu, Cinta yang tak bisa aku pungkiri" ucap Yuna sambil terus menatap foto yang ada di tangannya.
"Bagaimanapun caranya, Kamu harus menjadi milik ku, Langit. Tidak ada yang boleh memiliki kamu kecuali aku, Yuna Darwina" ucap Yuna sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Semenjak pindah ke paris, Yuna memang sudah tidak pernah berhubungan dengan Langit, Jangan kan bertemu, berbagi kabar saja tidak pernah. Lebih tepatnya Langit yang tidak menggubris Yuna. Setiap kali Yuna mencoba menghubungi Langit, Pria itu selalu mengabaikan telfon ataupun pesan yang Yuna kirimkan.
Di saat Yuna tengah sibuk memikirkan Langit, Tiba-tiba saja ada yang ketuk pintu kamarnya. Mendengar itu membuat Yuna dengan cepat meletakkan foto itu kembali di dalam buku Dairy miliknya.
Tokk ...tok......tok ...
"Sebentar" ucap Yuna sambil berjalan mendekat ke arah pintu.
Ceklek
Setelah pintu terbuka lebar, Yuna bisa melihat siapa yang saat ini sedang berdiri di sana. "Ngapain lho ketuk pintu kamar gue!" ucap Yuna pada Galvin.
__ADS_1
Ya, Orang kepercayaan Darwin bernama Galvin. Umurnya hanya berjarak 3 tahun lebih tua dari pada Yuna. Pria itu mendekat pada Yuna sambil terus menatap wanita itu tanpa berkedip.
"Ngapain lho kesini? Kalau gak ada yang penting, Lebih baik lho pergi dari sini!" ucap Yuna dengan nada dinginnya.
"Kenapa kamu selalu terlihat cantik sih, Yun. Bahkan saat kamu bersikap dingin seperti ini. Kecantikan kamu tidak luntur sedikitpun"
"Jangan banyak bicara, Apa yang membuat lho datang kesini?"
"Jangan galak-galak, Aku kesini hanya untuk menyampaikan kabar dari tuan Darwin"
"Kabar apa?"
"Kamu di suruh datang ke ruangannya. Katanya ada hal penting yang mau tuan bicarakan"
"Oke, Makasih"
Yuna berlalu dari hadapan Galvin tanpa menoleh ke arah pria itu. Galvin menatap punggung Yuna yang sudah menuju ke ruangan Daddy nya. .
"Kenapa rasa cintaku terhadap kamu harus sebesar ini, Yuna. Kenapa kamu selalu menjadi yang pertama" ucap Galvin sambil mengambil nafas panjang sejenak.
"Seandainya saya tidak mengatakan perasaan ini sama kamu, Apa sikap kamu akan tetap hangat seperti dulu. Sering bergelayut manja dan menganggap saya sebagai sosok seorang kakak" ucap Galvin lagi.
Memang dulu Yuna selalu bersikap manja terhadap Galvin. Karna jarak mereka yang hanya terpaut 3 tahun membuat Yuna sering terbuka pada asisten kepercayaan Daddynya. Mengingat Yuna hanyalah anak tunggal, Sehingga Yuna menganggap Galvin sebagai sosok seorang kakak yang selalu dia harapkan. Menjadi tempat Yuna berbagi, Tempat Yuna mengeluh, Tempat Yuna menangis, Tempat Yuna bersandar. Tapi seketika semua sikap Yuna itu hilang tatkala Galvin mengungkapkan perasaannya satu tahun yang lalu.
"Saya benar-benar menyesal. Saya sangat merindukan sikap manja mu, Yuna" ucap Galvin lagi.
*****
Hari sudah berganti. Hari ini Jingga sekolah di antar oleh supir pribadi keluarga Pratama. Karna Langit tiba-tiba saja ada pekerjaan mendadak yang tak bisa dia tinggalkan. Bahkan pria itu belum kembali hingga pagi ini.
Jingga mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat pada Langit sebelum berangkat ke sekolah.
Surgaku
[ Kak, aku berangkat sekolah dulu ya. Kak Langit jangan lupa makan ya, I Love you surgaku ] Send
__ADS_1
Setelah mengirimkan pesan itu, Jingga keluar dari dalam rumahnya dan langsung naik ke dalam mobil yang sudah ada pak Mamat menunggu di sana.
"Sudah siap berangkat ke sekolah kan, Non?"
"Sudah, Pak. Kita berangkat sekarang ya pak" ucap Jingga sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Pak Mamat melesetkan mobil itu menjauh dari mansion keluarga Pratama, Jingga hanya menoleh ke arah luar jendela.
45 Menit kemudian, Mobil itu sudah tiba di sekolah Nusa Bangsa, Jingga keluar dari dalam mobilnya sambil menundukkan wajahnya seperti biasa.
"Lah, Itu kan si bidadari, Kenapa dia hanya datang sendiri, Si paketu kemana ya?"
"Iya, Jingga kan biasanya selalu bareng sama Langit, Tumben pagi ini nggak bareng. Mana ponsel Langit juga tidak bisa di hubungi"
"Untuk menghindari rasa penasaran. Biar gue tanya sama my bidadari" titah Rey dan berlalu dari hadapan mereka.
Rey berjalan cepat lalu berhenti di depan Jingga"Assalamualaikum, My bidadari, Jingga" ucap Rey seperti biasa"Waalaikumsalam" jawab Jingga pelan.
"Bidadari, Si Langit kemana? Tumben gak bareng sama kamu?"
"Kak Langit sedang ada urusan penting yang gak bisa di tinggalkan, Jadi untuk beberapa hari kemungkinan dia tidak akan masuk sekolah"
"Oh begitu rupanya, Memangnya urusan penting apa?"
"Kalau soal itu, Aku juga tidak tau. Aku masuk dulu"
Jingga berlalu dari hadapan Rey, Meninggalkan Rey yang masih menatapnya tanpa mau berkedip"Astagfiruallah, Sempur sekali ciptaan mu ya allah, Jika boleh meminta, Hamba mau memiliki calon seperti my bidadari" ucap Rey sambil menatap Jingga.
"Kalau ngimpi jangan ketinggian. Karna jatuh itu sakit" ucap Sisil tepat pada telinga kanan Rey.
Mendengar itu membuat Rey menoleh ke sumber suara"Setidaknya gue gak mau punya jodoh mak Lampir kayak lho!" balasnya.
"Idih! Emangnya lho pikir gue mau punya jodoh kayak lho, Jelangkung"
"Eh, Kalian berdua itu kenapa setiap bertemu selalu saja debat, Hati-hati, Nanti yang ada kalian malah saling jatuh cinta"
__ADS_1
"Mustahil gue jatuh cinta sama wanita jadi-jadian sepertinya"