Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Nyawa di balas Nyawa!


__ADS_3

"Mustahil gue jatuh cinta sama wanita jadi-jadian sepertinya" Balas Rey dan langsung berlalu dari hadapan Sisil dan juga kedua temennya.


"Dasar pria tak tau diri. Seenaknya bilang gue wanita jadi-jadian. Gak sadar kalo dirinya juga kayak laki jadi-jadian" balas Sisil yang terlihat kesal.


"Tapi ya Sil, Awas nanti lho sama Rey malah berakhir menjadi jodoh, Biasanya kan begitu ya"


"Sekali lagi lho ngomong, Gue tipuk tu pala"


"Iya iya, Yaudah kita ke kelas aja yuk. Bentar lagi bel masuk"


"Iya, Ayo"


Di Dalam Kelas


Jingga baru saja duduk di tempat duduknya, Wanita itu mengambil nafas pelan saat melihat tempat duduk Langit. Karna hingga saat ini Jingga tidak tau apa yang sebenarnya sedang Langit lakukan. Sebab semalam Langit langsung pergi begitu saja setelah mengantar Jingga pulang ke Mansion setelah pulang dari rumah sakit.


"Kemana sebenarnya kamu, Kak. Kenapa kamu tidak mengatakan apapun padaku malam tadi" ucap Jingga dalam batinnya.


Ingatan Jingga kembali pada kejadian malam tadi, Tepatnya saat mereka masih di rumah sakit MANDALA.


"Kak, yang bener mama sudah tau tentang pernikahan papa dengan istri keduanya?" tanya Jingga sambil menatap Langit


"Iya, Sayang. Sam sendiri yang sudah mengatakan pada ku, Malam itu memang aku seperti melihat ada yang berbeda dari raut wajah mama. Ternyata ini yang mama sembunyikan"


"Malam itu, Maksudnya kak?"


"Malam di mana aku mengalami kecelakaan, Mama datang ke rumah sakit ini bersama dengan Sam, Tanpa sengaja Mama malah bertemu dengan papa yang sedang keluar dari ruangan kandungan bersama dengan istri barunya"


"Astagfirullah, Gak bisa bayangin apa yang mama rasakan, Kak"


Di saat Langit dan Jingga masih membicarakan perihal Ayudia, Tiba-tiba saja ponselnya berdering, Ada sebuah panggilan masuk yang membuat Langit menjauh dari Jingga. Entah apa yang sedang Langit bicarakan, Namun dari raut wajahnya saja sudah membuat Jingga paham jika Langit sedang serius.


Setelah selesai menerima telfon itu, Langit langsung mengajak Jingga untuk kembali ke Mansion.


"Sayang, Kita pulang sekarang ya" ucapnya pada Jingga yang terlihat sedikit bingung.

__ADS_1


"Kenapa, Kak? kok tiba-tiba saja kak Langit ngajak pulang. Ada hal yang terjadi?"


"Tidak ada, Sayang. Hanya saja aku sedang ada urusan mendadak, Ayo aku antar kamu pulang dulu"


Jingga mengangguk pelan, membuang rasa penasaran yang sejak tadi menghantui pikirannya. "Ayo kak" balas Jingga sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


Sebelum pergi dari sana, Langit menghampiri beberapa bodyguard yang sudah di bawa oleh Ferdi.


"Saya minta kalian jangan sampai lengah, Pastikan kejadian tadi tidak terulang kembali" ucap Langit sambil menatap satu persatu bodyguard itu dengan raut wajah dinginnya.


"Siap, Tuan muda. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik buat tuan Pratama"


"Jika ada orang yang mencurigakan, Kalian harus interogasi siapapun itu. Saya tidak mau hal tadi terulang kembali"


"Baik, Tuan muda"


Setelah itu, Langit berlalu dari hadapan mereka sambil menggenggam tangan Jingga. Jingga hanya mengekor tanpa mau membuka suara, Cukup paham dengan perasaan Langit saat ini.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi" lagi-lagi Jingga hanya bisa bermonolog dalam batinnya sambil melirik Langit yang masih terdiam.


Setelah tiba di parkiran, Langit membukakan pintu mobil buat Jingga dan langsung memasangkan safety belt pada wanita itu.


"Terimakasih, Kak"


"Sama-sama, Sayang" jawab Langit lembut seperti biasa.


Semenjak awal pernikahan, Langit memang selalu berbicara dengan sangat lembut pada Jingga, Hanya kepada Jingga dia bisa berbicara selembut itu, Karna biasanya Langit akan berbicara dengan nada dingin kepada siapapun. Termasuk teman-temannya.


Langit melesatkan mobil itu menjauh dari gedung rumah sakit milik keluarga Abimana, Hingga tak berselang lama, Hujan turun membasahi kota itu. Langit fokus mengemudi, Sedangkan Jingga memilih fokus pada arah luar jendela sambil memainkan air hujan di sana.


Tak butuh waktu lama, Mobil itu sudah tiba di depan mansion Pratama, Langit tak ikut turun dari mobil. Karna pria itu kembali melesatkan mobilnya keluar dari sana. Namun sebelum itu, Langit masih sempat mencium kening Jingga tanpa mengatakan kemana iya akan pergi malam ini di tengah hujan deras.


"Mau kemana kamu sebenarnya, Kak" ucap Jingga sambil terus memperhatikan mobil Langit yang sudah keluar dari sana.


"Jingga, Kamu kenapa diam saja?"

__ADS_1


Suara itu menyadarkan Jingga dari lamunan kejadian malam tadi. "Eh, Iya Liv. Kenapa?"jawabnya sambil menoleh pada Olive


"Kamu kenapa aku perhatiin dari tadi diam saja, Lagi mikirin sesuatu?"


"Oh nggak kok"


****


"Terimakasih, Om. Terimakasih karna om sudah mau membantu Langit untuk menyelidiki semua ini" ucap Langit pada seseorang yang ada di hadapannya.


"Sama-sama, Langit. Bukan kah memang sudah tugas om untuk selalu membantu kamu. Om banyak hutang budi pada papa kamu"


"Sekali lagi terimakasih ya, Om. Langit masih tidak percaya jika yang sudah menyebabkan mama meninggal dan papa koma adalah om Darwin"


"Seseorang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, Termasuk apa yang sudah Darwin lakukan pada kedua orang tua kamu"


"Iya, Om. Siapapun bisa gelap mata jika sudah di hadapkan dengan rasa iri dengki"


"Kamu tenang saja, Om tidak akan pernah membiarkan Darwin berhasil dengan apa yang sedang dia rencanakan. Untuk saat ini, Lebih baik kita ikuti permainan yang akan Darwin mainkan. Kita mainkan peran kita dengan sangat baik"


"Om benar, Memang lebih baik untuk saat ini kita ikuti permainan Darwin, Kita tunggu masa yang tepat untuk menghancurkannya sehancur-hancurnya. Berani-beraninya dia melakukan hal ini pada keluargaku, Langit akan pastikan, Om Darwin menerima konsekuensi yang sudah dia perbuat. Sampai membuat Langit harus kehilangan mama" ucap Langit dengan kedua mata yang terlihat merah serta kedua tangan mengepal kuat.


"Sabar, Om tau apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi kita hanya perlu menunggu saat yang tepat untuk membalas apa yang sudah Darwin lakukan pada kedua orang tuamu"


"Jangan lupa, Pelajari semua dokumen yang sudah om berikan padamu. Nanti siang kita ada meeting buat tender besar, Jika sampai kamu bisa memenangkan tender itu, Perusahaan Pratama Group akan semakin maju pesat"


"Langit akan berusaha untuk itu, Om. Semoga Langit bisa"


"Selama kamu kau berusaha, Pasti bisa. Semangat, Om keluar dulu, Ada hal penting yang harus om urus"


"Iya, Om"


Setelah kepergian orang itu, Langit memejamkan kedua matanya yang terasa panas, Mengepalkan kuat kedua tangannya.


"Awas kamu Darwin! Berani-beraninya mengusik keluargaku. Akan aku pastikan, Kamu merasakan hal yang jauh lebih menyakitkan dari pada apa yang papa dan mama rasakan. Akan aku pastikan, Nyawa di bayar dengan nyawa!" ucap Langit sambil mengatupkan giginya.

__ADS_1


__ADS_2