
"Dasar partner bodoh" ucapnya sambil menatap layar ponselnya. .
"Darwin Darwin, Setelah kita berhasil mengambil semua harta kekayaan Pratama, Siap-siap kamu yang akan aku singkirkan. Untuk saat ini aku harus memanfaatkan partner bodoh sepertimu" ucapnya lagi sambil menikmati segelas kopi susu yang ada di tangannya.
"Papa, Lexan minta uang dong" ucap Lexan yang baru saja turun dari dalam kamarnya.
Mendengar suara anaknya, Erlangga menoleh ke arah Lexan yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Uang untuk apa, Boy. Bukan kah papa sudah mengirimkan uang 20 juta 3 hari yang lalu" jawab Erlangga sambil menatap Lexan.
"Lexan ada keperluan pa, Kirim 10 juta lagi ya pa. Lexan membutuhkan uang itu siang ini"
"Iya untuk apa? Coba kamu katakan pada papa untuk apa uang itu?"
"Papa terlalu banyak tanya. Ini urusan pribadi Lexan dan papa tidak perlu tau"
"Kau ini benar-benar. Nanti papa akan kirimkan"
"Terimakasih, Pa. Kalau begitu aku berangkat sekolah dulu"
Lexan keluar dari dalam rumahnya dengan gaya cool nya. Di rumah ini Lexan memang hanya tinggal bersama dengan papanya, Karna sang mama sedang ada urusan di luar negri untuk beberapa minggu.
Ya, Lexan adalah anak dari Erlangga wijaya. Seorang penguasa dunia hitam serta seorang psikopat gila yang akan dengan mudah menghabisi siapapun yang dia pikir menghalangi rencana yang sudah di siapkan oleh Erlangga.
"Untuk apa uang sebanyak itu. Apa yang sebenarnya sedang Lexan lakukan" ucap Erlangga sambil menatap punggung Lexan yang sudah semakin menjauh.
Sedangkan Lexan, Pria itu menyalakan mesin motornya dan melesatkan motor itu menjauh dari rumahnya. Pagi ini Lexan memang sengaja berangkat lebih awal karna ingin menjalankan rencananya terhadap Jingga.
Entah apa yang akan Lexan lakukan hari ini. Namun yang pasti, Lexan sudah memutuskan untuk memberi Jingga pelajaran dengan cara yang halus.
"Kita lihat saja, Jingga. Aku akan membalas kelakuan kamu dengan cara yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya" ucap Lexan sambil melajukan cepat motor itu.
Entah kenapa pagi ini semesta seakan mendukung rencana Lexan. Di tengah perjalanan, Lexan melihat sebuah mobil hitam yang sedang berhenti di tempat yang cukup jauh dari kata keramaian. Melihat sosok Jingga ada di sana membuat Lexan menepikan motornya. Pria itu turun dari motornya dan berjalan mendekat pada Jingga dan juga ayahnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Lexan setelah tiba di sana.
Mendengar suara yang tidak asing membuat Jingga mengangkat wajahnya. Wanita itu melirik malas pada Lexan yang sudah mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Kenapa mobilnya, Om?" Tanya Lexan yang terlihat berbeda hari ini.
"Mobil saya mogok. Entah apa penyebabnya. Malah saya lagi buri-buru mau antar anak saya ke sekolah lagi" jawab Alexander yang masih sibuk dengan mobilnya.
"Bagaimana kalau anak om berangkat bareng saya saya, Kebetulan kita satu sekolah"
Mendengar itu membuat Jingga menatap tajam Lexan"Tidak perlu, Lebih baik saya telat sekolah dari pada harus berangkat sama kamu" balasnya dengan nada dingin.
"Kamu lupa kalau hari ini semua murid tidak boleh datang terlambat, Kalau sampai hal itu terjadi, Apa kamu mau menerima hukuman membersihkan seluruh ruangan di sekolah" ucap Lexan sambil menatap Jingga.
"Saya tidak perduli. Tapi yang pasti, Saya tidak akan pernah mau berangkat bersama dengan pria sepertimu"
Alexander menatap jam di tangannya, Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 06:50. Itu artinya Jingga hanya memiliki waktu 10 menit untuk tiba di sekolahnya.
"Sudahlah, Sayang. Lebih baik kamu berangkat bersama dengannya, Dari pada kamu telat kesekolah"ucap Alexander sambil menata Jingga.
"Sayang, Apa kamu lupa jika hari ini ada ulangan di jam pelajaran pertama"
Jingga mengambil nafas pelan, Dia hampir lupa jika di jam pertama ada ulangan fisika. "Uhhh, Kenapa aku sampai lupa jika di jam pertama ada ulangan fisika. Bagaimana ini, Tidak mungkin aku berangkat bersama dengan pria ini. Apa nanti kata kak Langit" ucap Jingga dalam batinnya.
"Seandainya saja ada kak Langit, Mungkin sekarang aku tidak akan kebingungan seperti ini" batin Jingga lagi.
"Tau gini tadi aku berangkat bersama dengan kak Revan. Aduh bagaimana ini"
Di saat Jingga masih merasa sangat bingung, Tak berselang lama ada motor yang berhenti tepat di depannya. Jingga menoleh pada orang itu.
"Bang Damian" ucap Jingga setelah orang itu membuka helm nya.
"Selamat pagi, Om Alex" ucap Damian sambil mencium punggung tangan Alexander.
__ADS_1
"Pagi juga, Damian. Sudah lama kita tidak bertemu"
"Iya, Om. Maaf ya om saya sudah lama tidak main ke rumah om" ujarnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Tidak masalah, Boy. Apa kamu sedang akan kesibukan?"
"Begitulah om, Semenjak papa saya meninggal, Saya yang harus mengurus semuanya sendiri. Meskipun terkadang merasa lelah dan capek, Sebagai anak pertama saya harus kuat demi mama dan juga adik-adik saya" balas Damian sambil tersenyum.
"Bagus, Boy. Sebagai seorang laki-laki kita memang harus terlihat kuat, Walaupun sebenarnya kita tidak sekuat itu" ucap Alexander sambil menepuk pundak Damian.
"Iya, Om. Semenjak kepergian papa, Damian sudah biasa mengurus semuanya sendiri. Persis seperti yang terjadi pada Langit. Di paksa dewasa oleh keadaan"
"Percayalah, Akan selalu ada hikmah di balik setiap kejadian" ucap Alexander lagi.
Sejak tadi Lexan terdiam sambil mendengarkan apa yang di bicarakan oleh Damian dan juga Alexander. "Apa sebenarnya hubungan Langit dengan wanita ini, Kenapa ayahnya sampai mengenal Langit" batin Lexan yang masih terdiam di sana.
"Bang Damian, Jingga ikut sama bang Damian ya. Ini entah kenapa mobil ayah tiba-tiba saja mati" ucap Jingga sambil menatap Damian.
"Boleh boleh, Ayo kita berangkat sekarang. Sudah tidak ada waktu lagi"
Jingga mengangguk"Iya bang. Ayah, Jingga ikut sama bang Damian ya" pungkas Jingga pada ayahnya.
"Iya, Sayang. Semangat sekolahnya"
"Pasti ayah, Assalamualaikum" ucapnya sambil mencium punggung tangan ayahnya.
"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, Sayang"
Damian dan Jingga pergi tanpa memperdulikan Lexan yang masih terdiam di sana."Kenapa kamu masih terdiam di sini, Tidak mau berangkat juga?" suara Alexander menyadarkan Lexan yang masih mematung.
"Ah, Iya. Saya permisi om"
Lexan kembali naik ke atas motornya. Melajukan motor itu dengan sangat cepat. Di tengah perjalanan, Ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran Lexan."Tunggu. Kenapa aku seperti tidak asing dengan ayahnya Jingga. Kayak pernah ngeliat sebelumnya, Tapi di mana ya?" ucap Lexan pelan.
__ADS_1
"Sebentar, Bukan kah om tadi adalah ayahnya Revan. Iya aku masih sangat ingat jelas, Apa itu artinya Jingga adalah adiknya Revan yang katanya tinggal di bandung"
"Aahh kenapa aku baru sadar, Bukan kah Jingga adalah siswa pindahan dari bandung, Itu artinya Jingga memang benar-benar adiknya Revan. Bukan kah malam itu mereka sedang bersama" ucap Lexan lagi.