Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Memperketat penjagaan


__ADS_3

"Berani-beraninya mereka mau membunuh papaku" ucap Langit dengan penuh amarah. Tangannya mengepal kuat.


Langit melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Bahkan pria itu menyalip setiap pengendara yang berusaha menghalangi jalannya. Hingga tak butuh waktu lama, Mobil itu sudah tiba di depan rumah sakit MANDALA. Rumah sakit keluarga Abimana.


Langit berjalan cepat sambil menggandeng tangan Jingga. Raut wajahnya terlihat begitu marah, Jingga yang melihat raut wajah Langit hanya bisa mengambil nafas pelan. Terkadang memang seperti itulah Langit, Amarah nya akan keluar saat ada seseorang yang sudah berani mengusik ketenangan keluarganya.


Semua perawat yang Langit lewati hanya bisa menatapnya tanpa mau menyapa. Mereka semua sudah paham akan Langit.


"Ngeri ya kalau tuan muda marah. Pasti dia marah karna kejadian tadi yang hampir menewaskan tuan Pratama" ucap salah satu dari mereka.


"Ya pasti marahlah, Secara kan tuan Pratama satu-satu nya orang tua yang masih tuan muda miliki. Aku tau apa yang di rasakan tuan muda" balas satunya.


"Untung saja si suster Hera datang tepat waktu ya. Kalau tidak, Gau deh apa yang akan terjadi pada tuan Pratama"


"Iya, Tapi kira-kira siapa yang sudah melakukan itu ya. Bisa-bisanya mau melakukan percobaan di rumah sakit ini"


"Entahlah. Kita lihat saja nanti"


Langit dan Jingga sudah tiba di ruangan papanya. Langit semakin mempercepat langkahnya mendekat pada papanya yang masih setia menutup kedua matanya.


"Ayah, Bagaimana keadaan papa?" tanya Langit pada Alexander.


"Papa mu sudah baik-baik saja, Boy. Beruntung tadi ada suster yang datang tepat waktu. Kalau tidak, Ayah tidak tau apa yang akan terjadi pada papamu"


"Penjagaan buat papa harus lebih diperketat, Langit tidak mau jika sampai hal ini terulang kembali. Langit akan meminta om Ferdi buat menyiapkan bodyguard untuk menjaga ruangan papa"


"Itu lebih baik, Boy. Jangan sampai penjagaan kita terhadap papa bisa lengah sedikitpun"


"Iya, Ayah"


Langit menatap raut wajah papanya. Biarpun dalam batinnya ada rasa kecewa, Namun Langit masih begitu menyayangi sosok yang sudah membuatnya kecewa. Karna mau bagaimanapun, Pratama adalah satu-satunya harta paling berharga yang Langit miliki saat ini.


"Papa, Mau sampai kapan papa terbaring seperti ini. Langit mohon, pa. Papa sadar. Buka kedua mata papa" ucap Langit dalam batinnya


Mendengar berita jika ada yang mencoba melakukan percobaan pembunuhan terhadap papanya, Langit merasa hatinya begitu sakit dan nyeri. Ingin rasanya memberantas orang yang sudah melakukan hal ini.


"Apa ayah tau siapa pelakunya?"


"Coba kamu liat rekaman cctv ini, Boy. Tapi sayang, Pelakunya menggunakan masker. Sehingga tidak jelas seperti apa wajahnya" ucap Alexander sambil menunjukkan ponselnya pada Langit.


Langit memperhatikan sebuah video yang sedang di putar, Kedua matanya memicing untuk memastikan siapa orang itu. Namun Langit sama sekali tidak mengenal kedua orang itu. Karna memang mereka bukan orang jakarta, Lebih tepatnya meraka baru menginjakkan kaki di jakarta beberapa jam yang lalu.


"Bagaimana, Apa kamu mengenal salah satu dari mereka, Boy?"

__ADS_1


"Tidak, Ayah. Langit tidak mengenal mereka berdua"


"Langit akan menghubungi om Ferdi"


Langit mengambil ponselnya dan langsung mencari nomor kontak ajudannya yang dia berikan nama Om Ferdi. Tak butuh waktu lama, Orang di ujung telpon sudah menjawab panggilannya.


📲:Selamat malam tuan muda. Ada yang bisa saya bantu?


📲:Ke rumah sakit sekarang, Om. Tolong om Ferdi bawa beberapa bodyguard terbaik kepercayaan om.


📲:Ada apa tuan? Kenapa tuan muda meminta saya untuk membawa bodyguard?


📲:Ada seseorang yang hampir melakukan percobaan pembunuhan pada papa.


📲:Apa! Lalu bagaimana keadaan tuan Pratama saat ini.


📲:Papa baik-baik saja. Langit mau om Ferdi membawa Bodyguard itu malam ini juga.


📲:Baik, Tuan muda. Saya akan segera kesana dengan membawa beberapa bodyguard sesuai yang tuan muda minta.


Setelah itu, Langit langsung memutuskan sambungan telponnya. Pria itu kembali menatap raut wajah ayahnya. Mendadak Langit teringat akan perkataan Samudra.


"Ayah" Panggil nya pada Alexander


"Apa ayah tau jika selama ini papa sudah mengkhianati mama"


"Apa maksud kamu, Boy" jawab Alexander yang pura-pura tidak tau apa-apa.


"Kata Samudra. Papa sudah menikah lagi dengan wanita lain, Yah"


"Apa! Kamu tidak sedang bercanda kan, Boy?"


"Tidak, Ayah. Memang itu yang sempat Samudra katakan pada Langit. Dan lebih parahnya lagi, Mama sebenarnya tau jika selama ini papa sudah menikah lagi dengan wanita lain"


"Apa! Jadi mama kamu tau?"


"Iya, Ayah" jawab Langit lirih.


******


Di Tempat Party


"Si paketu sama my bidadari Jingga kemana ya? Kenapa mereka belum juga sampai, Bukan kah tadi saat lho telfon mereka sudah jalan kesini ya" ucap Rey sambil menoleh pada Doni.

__ADS_1


"Entahlah, Rey. Mungkin saja mereka kena macet di jalan"


"Mana acaranya sudah mau di mulai lagi, Kemana mereka ya" Titah Rey sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Lho bingung nyari Langit apa nyari mak Lampir om Jelangkung"


"Ngapain juga gue nyari mak Lampir, Gak ada kerjaan apa"


"Ya kali aja lho nyari mak Lampir karna rindu"


"Ogah banget rindu sama wanita jadi-jadian kayak si mak Lampir"


"Hati-hati, Nanti lambat laun lho cinta mati lagi ama si mak Lampir"


"Kagak bakalan. Mending gue nyari my baby hany Khanza deh, Dari pada sama lho ngomongin mak Lampir" gumam Rey sambil berlalu dari hadapan Doni, Lana dan juga Faro.


"Dih ngambek. Hahahah. Hati-hati ntar jatuh cintah sama mak Lampir ya om Jelangkung" teriak Doni sambil mengulum bibir.


"Berisik lho!" balas Rey di sela langkahnya.


Setelah kepergian Rey, Faro dan Lana menatap Doni yang mengulum bibir. "Lho suka amat jodoh-jodohin Rey sama Sisil. Awas nanti terbalik" ucap Faro pelan.


"Terbalik bagaimana maksud lho?"


"Ya terbalik, Elo yang jadi jodohnya si Sisil. Karna kebanyakan ini ya, Yang suka ngejodoh-jodohin malah jadi takdirnya"


"Ogah banget gue. Amit-amit jabang bayik"


Di Tempat Lain


Rey ngedumel sambil mencari keberadaan Khanza, Kekasihnya. Namun ternyata wanita itu tidak ada di mana-mana.


"My baby hany khanza dimana ya" ucap Rey sambil terus menoleh ke kanan dan ke kiri.


Di saat Rey masih celingak celinguk mencari keberadaan Sisil, Tiba-tiba saja dia tak sengaja menabrak tubuh seorang gadis dan membuatnya hilang keseimbangan hingga hampir terjatuh ke kolam renang. Beruntung Rey dengan cepat menarik tangannya.


"Sorry, gue gak senga" Perkataannya terpotong saat menoleh wajah siapa yang saat ini sedang ada dalam dekapannya.


"Aiss, Lho lagi lho lagi"ucapnya saat menemukan keberadaan Sisil.


*****


"Saya sudah membawa beberapa bodyguard untuk berjaga di sini, Tuan muda"

__ADS_1


"Bagus. Mulai malam ini, Kita perketat penjagaan terhadap papa. Jangan sampai hal yang tadi terulang kembali"


__ADS_2