
"Mau sampai kapan kamu tidur seperti ini, Mas. Apa kamu tidak ingin melihat anak kita" ucap Ayuning sambil menggenggam tangan Pratama dengan sangat erat. Kedua matanya berkaca-kaca, Serta dadanya terasa begitu sesak.
"Mas, Sudah satu tahun lebih kamu terbaring seperti ini, Apa kamu tidak lelah. Apa kamu tidak ada niatan untuk sekedar membuka kedua matamu. Aku mohon sadar, Mas. Aku, Bintang dan juga Langit masih begitu membutuhkan kehadiran mu, Mas" ucapnya lagi.
Malam ini, Ayuning memang hanya datang seorang diri. Karna Bintang sudah dia titipkan pada ibunya. Sebab balita itu sudah tertidur saat Ayuning sedang bersiap. Sehingga dengan berat hati, Ayuning meninggalkan Bintang kepada ibunya.
"Maaf ya, Mas. Malam ini aku tidak bisa temani kamu di sini. Bintang aku tinggalkan pada ibu, Tidak mungkin jika aku tinggalkan dia sampai besok pagi" ucapnya lagi.
Tanpa Ayuning sadari, Ternyata sejak tadi ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Orang itu mendengus kesal karna Ayuning tak kunjung meninggalkan ruangan Pratama.
"Ck! Lama sekali wanita itu perginya. Apa kita harus menyingkirkan nya juga" ucap salah satu dari orang itu.
"Tahan. Kita hanya perlu menyingkirkan Pratama. Tidak dengan wanita itu"
"Tapi dia hanya membuang-buang waktu kita saja"
"Aku ada satu rencana. Ayo ikut saya"
Mereka berdua berlalu dari ruangan Pratama. Melakukan satu rencana yang tiba-tiba saja muncul dalam benak salah satunya.
"Boleh juga ide Lho. Kenapa gue tidak kepikiran dari tadi ya"
"Kan lho memang agak bodoh"
"Kurang ajar Lho"
"Sudah, Jangan banyak bacot. Lebih baik kita eksekusi sekarang, Bukan kah lebih cepat lebih baik"
"Tentu. Dengan begitu, Kita akan mendapat uang 100 juta"
Mereka berdua kembali ke ruangan Pratama. Di sana ternyata masih ada Ayuning yang duduk di samping Pratama sambil menggenggam tangannya.
Salah satu dari mereka memberikan sebuah isyarat dengan mengedipkan mata. Dan tentunya sudah langsung membuat satunya paham.
"Permisi, Selamat malam bu"
Mendengar suara itu membuat Ayuning melepaskan genggaman tangannya sambil mengusap kedua matanya yang sudah mulai basah.
"Iya, Dokter. Ada apa ya?" tanya Ayuning saat melihat keberadaan sosok seorang pria yang menggunakan almamater dokter dengan masker yang terpasang sempurna di wajahnya.
"Mohon maaf, Bu. Untuk hari ini rumah sakit Mandala tutup lebih awal. Bagi keluarga yang menjenguk tidak boleh lebih dari jam 19:00"
__ADS_1
"Oh begitu ya Dok. Mohon maaf saya tidak tau, Kalau begitu saya titip suami saya ya. Kalau ada apa-apa, Dokter hubungi saya"
"Baiklah, Bu. Hati-hati di jalan"
Setelah itu, Ayuning keluar dari ruangan Pratama, Wanita itu sama sekali tidak menaruh rasa curiga dengan kedua orang yang ada di hadapannya.
"Tumben sekali rumah sakit ini jam besuk tutup lebih awal" ucapnya di sela langkahnya.
Entah kenapa. Ayuning sama sekali tidak menaruh rasa curiga pada kedua orang itu. Karna terlalu kepikiran pada Bintang, Ayuning sampai lupa jika di ruangan lain masih banyak orang besuk.
Ayuning terus melewati setiap koridor di sana. Melangkahkan kakinya keluar dari gedung rumah sakit itu tanpa perasaan tak enak sedikitpun.
"Itu kan wanita yang kemaren di ruangan Pratama. Istri kedua pratama" ucap Alexander yang baru saja tiba di sana.
Alexander memperhatikan Ayuning yang sudah masuk ke dalam taksi. Setelah itu, Alexander keluar dari dalam mobilnya dengan membawa buah di tangan nya. Karna memang kebetulan ada salah satu rekan kerjanya yang juga sedang di rawat di rumah sakit ini.
"Sebelum ke ruangan mr. Anderson. Lebih baik aku menengok keadaan Pratama sebentar. Sudah sejak pagi itu kan tidak datang lagi menjenguk keadaannya" ucap Alexander sambil naik lift untuk menuju ruangan VVIP tempat pratama di rawat.
Setelah tiba di lantai 10, Alexander mempercepat langkahnya saat melihat ada keramaian di ruangan rawat Pratama.
"Ada apa ini?" tanya Alexander setelah tiba di sana.
"Apa!! Apa dokter tau seperti apa pelakunya?"
"Sebentar, Tuan. Petugas keamanan sedang melihat rekaman cctv"
"Bagaimana bisa ini terjadi. Bukan kah saya selalu mengingatkan jika perketat penjagaan pada tuan Pratama. Kenapa kalian bisa lalai"
"Maafkan kami, Tuan. Saya sebagai dokter kepala di sini, Akan memastikan jika kejadian kali ini tidak akan terulang kembali"
Alexandre tak lagi menjawab, Pria itu langsung berlalu dari hadapan dokter Aldi dan memperhatikan keadaan Pratama yang masih begitu-begitu saja.
"Cepat sadar, Tam. Kamu harus membalaskan dendam atas kematian istrimu, Dan juga atas apa yang sudah kamu rasakan selama setahun ini" ucap Alexander dalam batinnya.
Ya, Selama ini Alexander sudah tau jika kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Langit adalah ulah dari saudara sepupu Ayudia sendiri. Hanya saja Alexander sadar tidak memiliki hak untuk melakukan balas dendam terhadap Darwin.
"Saya harus menghubungi Langit, Dia harus tau apa yang baru saja terjadi pada papanya" ucap Alexander dan Langsung mengambil ponselnya.
*****
"Kamu kenapa, Kak?" tanya Jingga saat melihat Langit sedang tidak fokus.
__ADS_1
"Entahlah, Sayang. Perasaanku sedang tidak enak, Aku kepikiran pada papa"
"Bagaimana kalau sebelum ke tempat acara kita mampir sebentar jenguk papa. Bukan kah tempat party ulang tahun Sofia melewati rumah sakit MANDALA ya"
"Kamu benar, Sayang. Lebih baik kita jenguk papa sebentar ya"
"Iya, Kak"
Dtttttt,,,,,,, Dtttttt,,,,,,,Dtttttt,,,,,
Langit melirik ponselnya yang berdering. Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Pasalnya, Papa mertuanya tidak pernah menghubunginya kecuali sedang ada hal penting.
"Sayang, Itu ayah telfon. Coba kamu angkat, Ada apa ya. Ayah kan biasanya menghubungi aku hanya sedang ada hal penting yang mau di bicarakan" pungkas Langit sambil menoleh pada Jingga.
"Mungkin papa mau bicara penting kali, Kak. Jingga angkat ya"
"Iya, Sayang"
Jingga mengambil ponsel Langit lalu menjawab panggilan dari ayahnya.
📲:Halo, Assalamualaikum, Ayah
📲:Waalaikum salam, Sayang. Suami kamu mana?
📲:Ini lagi nyetir mobil, Yah. Ada apa? Kenapa ayah seperti sedang panik
Mendengar perkataan Jingga membuat Langit melirik ke arah istrinya sambil memelankan laju mobilnya.
"Speaker sayang" ujarnya.
Jingga menyalakan speaker sesuai dengan permintaan Langit.
📲:Ayah. Ada apa? apa ada hal penting yang mau ayah bicarakan dengan Langit?
📲:Ke Rumah sakit sekarang, Boy. Ada seseorang yang sengaja mau melakukan pencobaan pembunuhan pada papamu.
📲:Apa!! Langit kesana sekarang yah
Setelah itu, Sambungan telponnya terputus, Langit mengepalkan kuat kedua tangannya sambil mengatupkan giginya. Terlihat amarah dari kedua sorot matanya.
"Berani-beraninya mereka mau membunuh papaku" ucapnya dengan penuh amarah.
__ADS_1