
Saat teringat akan mendiang mamanya, Rasa marah Langit semakin naik ke ubun-ubun. Ingin rasanya membalaskan rasa luka yang saat ini sedang dia rasakan karna ulah dari om nya sendiri.
"Maafkan Langit, Ma. Maafkan Langit yang masih harus menunggu saat yang tepat untuk membalaskan kematian mama terhadap saudara mama yang tidak tau diri itu. Tapi mama percaya pada Langit, Langit akan pastikan, Darwin tidak bisa hidup dengan tenang" ucap Langit sambil mengepalkan kuat kedua tangannya.
Jika di tanya sakit, Jawabannya sudah pasti ita. Hal yang selama ini sudah membuat Langit benar-benar terluka adalah kehilangan sosok sang mama. Sosok yang selama ini selalu menjadi tempatnya bergelayut manja. Surga yang selalu Langit utamakan.
Bayangan mamanya kembali melintas dalam benaknya. Langit benar-benar merasa begitu kesepian dan begitu merindukan sosok Ayudia.
"Langit sangat merindukan mama" ucap Langit yang terdengar sangat lirih.
Setelah itu, Langit kembali fokus pada beberapa berkas yang ada di tangannya, Mempelajari berkas untuk dia gunakan meeting penting siang ini.
"Hufff, Apa aku bisa mempelajari semua berkas ini hanya dengan sisa waktu yang aku punya" ucap Langit sambil mengambil nafas panjang.
Jangan menyerah, Kak. Yakin jika kamu pasti bisa melewati masa tersulit ini. Ingat, Kamu tidak sendiri, Ada aku yang akan selalu menjadi partner terbaik yang pernah kamu miliki. Semangat! Semua hanya tentang waktu. Tentang bagaimana kamu menyikapinya, Percayalah, Kamu bisa melewati masa tersulit ini. Selama ada kemauan, di situ pasti terselip jalan yang terbaik.
Kata-kata itu terngiang pada indra pendengaran Langit. Membuatnya yang tadi sempat ingin menyerah kembali semangat lagi. Karna memang apa yang di katakan Jingga memang benar adanya. Setiap ada kemauan, Di situ ada jalan.
"Apa yang Jingga katakan memang benar, Aku harus bisa melewati masa tersulit ini. Semua hanya tentang waktu. Dan akan berlalu dengan semestinya. Aku pasti bisa memenangkan tender ini, Semangat Langit. Ini semua demi Jingga" ucap Langit sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Selama satu tahun, Langit memang sudah biasa menghadiri berbagai meeting, Tapi meeting kali ini berbeda. Karna yang ikut dalam tender kali ini bukan orang sembarangan, Mereka adalah orang-orang yang sangat ahli di bidang itu.
"Semangat, Langit. Kamu pasti bisa" ucap Langit lagi.
****
"Apa lho sudah menyiapkan semuanya?" tanya Lexan pada Veros
"Sudah, Nanti sepulang sekolah kita hanya perlu menjalankan rencana. Dengan begitu, Kita akan segera tau siapa wanita itu sebenarnya. Apa hubungannya dengan geng the boys"
"Good, Kita harus melakukan rencana kali ini dengan sangat hati-hati, Jangan sampai geng the boys mencurigai apa yang akan kita lakukan"
"Tentu, Lho tenang saja. Gue jamin semuanya pasti akan aman dan rencana kita akan berjalan dengan sangat lancar"
"Sebentar, Bukan kah malam itu Revan sedang bersamanya. Itu artinya Revan juga ada hubungan dengan wanita itu"
"Iya ya. Kenapa gue baru ingat kalau malam itu si Revan bersama dengan wanita itu ya" gumam Lexan sambil menoleh ke arau meja Revan yang ternyata masih kosong.
"Kemana itu anak?. Tumben jak segini belum ada di tempatnya"
"Kayak kagak tau sama si Revan, Palingan dia lagi di belakang gedung"
"Emang ngapain di belakang gedung"
"Ngapain lagi kalau bukan rokoan"
*****
"Ayuning, Itu kan suamimu sedang koma di rumah sakit, Kalau misalnya dia meninggal, Itu artinya Bintang akan mendapatkan sebagian dari hartanya dong. Secara Bintang kan anak kandung Pratama, Seorang direktur utama serta pemilik perusahaan Pratama group" ucap ibunya pada Ayuning yang saat ini sedang sibuk memakaikan baju pada anaknya.
"Apaan sih bu, Jangan bilang seperti itu, Mas Pratama pasti akan sembuh, Dia akan membantu aku mengurus Bintang. Lagian kalau seandainya mas Pratama meninggal, Bintang tidak ada hak untuk soal harta"
__ADS_1
"Siapa bilang tidak ada hak, Secara Bintang kan anak kandungnya. Harus adil dong"
"Buk, Pernikahan Ayuning sama mas Pratama kan hanya sirih. Lagian harta itu dia miliki bersama dengan mbk Ayudia. Mas Pratama menjadi seperti itu berkat dukungan dari mbk Ayudia"
"Menikah sah ataupun hanya menikah sirih, Kedudukan Bintang itu sama dengan anak Pratama yang bernama Langit, Sama-sama benih Pratama. Kalau sampai Pratama meninggal, Ibu yang akan meminta bagian Bintang pada mereka"
"Buk, Jangan begitu. Kita tidak ada hak apa-apa atas harta itu"
"Memang, Tapi tidak dengan Bintang. Dia memiliki hak yang sama dengan Langit" ucapnya dan langsung berlalu dari hadapan Ayuning.
Ayuning hanya bisa mengambil nafas panjang, Memang seperti itulah ibunya, Selalu ingin mendapatkan hal yang bukan haknya.
"Mau sampai kapan ibu seperti itu terus, Kok makin hari rasanya aku semakin lelah saja dengan sikap ibu yang selalu semena-mena" ucap Ayuning pelan.
Di Sekolah Nusa Bangsa
Jam mata pelajaran pertama sudah di mulai, Namun kali ini kelas itu terlihat sedikit rusuh karna tidak ada Langit di antara mereka. Bukan hanya itu, Guru mata pelajaran bahasa indonesia hanya memberikan tugas karna sedang ada rapat mendadak.
"Gak asik ya kalau gak asda si paketu" celoteh Rey seperti biasa
"Iya, Rasanya seperti ada yang kurang" timpal Doni
"Elah, Palingan lho berdua ngerasa gak nyaman tidak ada Langit karna gak ada yang traktir ntar di kantin, Yekan?" celoteh Faro pada Rey dan Doni.
"Enak aja ngomong. Tapi iya juga sih, Kenapa gue dari tadi gak ingat itu ya, Kalau gak ada si paketu nanti siapa yang bakal bayarin kita makan yak, Mana dompet gue ilang lagi. Gak tau ada dimana" ucap Doni sambil menoleh pada Lana dan Faro.
"Ilang apa ilang" timpal Rey sambil menatap Doni
"Ya gue ingat, Gue masih muda dan belum pikun kalek"
"Kali aja lho mendadak pikun karna kebanyakan mikirin mak Lampir"
"Apa lho kata? Coba ngomong lagi" ujar Rey sambil menatap Doni
"Kebanyakan mikirin mak Lampir" ulang Doni.
"Gue tampol juga tu mulut. Seenak nya aja ngomong"
"Lah, Kam situ yang minta buat gue ngulang kan"
"Kirain ulangan, Ada remidinya"
"Tapi ya Rey, Apa yang gue katakan bener deh, Lho pantes sama si Sisil" ucap Doni lagi.
"Apa bawa-bawa nama gue!" ucap Sisil yang mendengar Doni menyebutkan namanya.
"Gak ada mak Lampir, Ini om jelangkung rindu katanya. Hahhah"
"Mulut lho minta di jait emang ya don" titah Rey kesal
"Dih, Om jelangkung ngambekan deh. Canda ini, Biar otak gak stres"
__ADS_1
"Terserah kau saja lah" jawab Rey yang sudah terlihat kesal.
*****
Di Kelas 12A
Sudah seperti biasa, Demian akan menghabiskan waktu di kelas hanya dengan memainkan ponselnya, Apalagi saat jam kosong seperti saat ini. Demian memang jarang bergabung dengan geng the boys. Namun biarpun begitu, Demian masih menjadi wakil ketua yang kedudukannya satu tingkat lebih rendah dari Langit.
Di saat Demian sedang asyik main game, Tiba-tiba saja ada sebuah panggilan masuk dari kontak yang dia berinama Langit luknut. Melihat itu membuat Demian dengan cepat menjawab panggilan Langit.
📲:Halo Ngit, Ada apa lho telfon? Kan bisa langsung ke kelas gue elah.
📲:Gue lagi tidak sekolah sad, Gue sedang ada pekerjaan penting yang tak bisa gue tinggal.
📲:Iya paham pak direktur.
📲:Idih pak Direktur katanya.
📲:Kan emang iya lho pak Direktur.
📲:Terlalu muda umur gue buat di panggil direktur.
📲:Lah maunya apa? Suami Jingga?
Mendengar Demian mengucapkan kata Jingga membuat Langit sadar apa tujuannya menghubungi pri itu.
📲: Kan emang suami Jingga. Gue boleh minta tolong gak? Tapi maaf kalau ngerepotin.
📲:Minta tolong apa? Sudah biasa kali lho ngerepotin gue
📲:Bangsat lho
📲:Iya iya, Minta tolong apa?
📲:Jagain Jingga saat gue gak ada, Gue baru saja mendapat kabar dari seseorang jika geng Mortal enemy memiliki satu rencana jahat, Gue takut mereka mengincar Jingga karna kejadian malam itu.
📲: Kejadian malam itu? Kejadian apa memangnya?
📲:Nanti kalau gue sudah kembali bakal gue ceritakan semuanya. Tapi untuk saat ini gue titip Jingga. bilang juga sama bang Revan, Gue gak bisa hubungi dia.
📲:Oke siap laksanakan paketu
📲:Bangsat lho. Udah ya gue sibuk
Setelah mengatakan hal itu Langit langsung memutuskan sambungan telponnya tanpa mau mendengarkan balasan dari Demian.
Tutt....tut...tut...
"Yaelah, Kebiasaan ini anak satu, Belom juga gue kelar ngomong, Sudah main di matiin saja. Dasar paketu bang sad"
Sebenarnya Langit sudah tau semua tentang bagaimana Jingga di masa lalu. Karna kejadian malam balapan itu. Langit merasa ada yang janggal. Sehingga Langjt mengirim om Ferdian dan memintanya untuk mencari info tentang Jingga di sekolah lamanya.
__ADS_1
Bukan hanya itu, Langit juga sudah tau apa yang saat ini sedang di rencanakan oleh anggota geng mortal Enemy. Begitulah Langit, Suka bergerak sendiri untuk mencaritahu hal yang mengganjal di pikirannya. Bahkan Langit tau jika salah satu dari anggotanya adalah mata-mata geng mortal enemy. Hanya saja Langit masih menunggu saat yang tepat untuk memberikan pelajaran pada orang itu. Siapa kira-kira yang menjadi mata-mata mortal enemy?