Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Aldebaran Alano


__ADS_3

Semua hanya tentang waktu, Percayalah, semua akan baik-baik saja dan berlalu dengan semestinya. Yakin jika akan indah pada waktunya. Karna kita hanya perlu mengikuti alur skenario yang sudah di tentukan harus seperti apa jalannya.


Jangan pernah merasa sendiri, Karna aku akan selalu menjadi partner serta support sistem terbaik yang pernah kamu miliki. I Love you, Surgaku. Maafkan aku yang belum bisa mengatakan seburuk apa masalaluku, Semoga kamu tidak akan kecewa setelah mengetahui fakta tentang bagaimana aku di masa lalu.


~Jingga Alexadiandra~


"Kak, Ayo kita cepat masuk ke kelas. Jangan sampai kita telat" ucap Jingga sambil berjalan cepat hingga mendahului Langit yang sudah mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Pelan-pelan, Sayang. Jangan sampai kamu jatoh, Sepertinya bel masuk juga belum bunyi"


"Aku tidak mau terlambat masuk ke kelas, Kak. Apalagi kan ini ujian pertama aku di sekolah ini"


"Iya tau, Tapi pelan-pelan lah, Sayang. Jangan buru-buru seperti itu. Nanti kamu ja-"


Belum sempat Langit bicara. Jingga sudah hilang keseimbangan saat tali sepatunya sendiri terlepas dan kena injak oleh dirinya sendiri. Beruntung karna ada seseorang yang dengan sangat sigap menangkap tubuh Jingga dan membuat tubuh wanita itu tenggelam dalam dalam dada bidangnya.


Langit yang melihat itu tentu saja merasa sangat tidak suka, Wanita yang begitu dia cintai ada dalam dekapan orang lain.


"Jangan lama-lama" ucap Langit dingin sambil menarik tubuh Jingga dari pria itu.


"Terimakasih, Kak" ucap Jingga sambil menundukkan kepalanya.


Sedangkan pria yang tadi hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun, Pandangannya masih fokus menatap Jingga tanpa mau berkedip sedetikpun.


"Apa wanita ini yang di maksud oleh kakek Abimana" ucapnya dalam batin sambil terus menatap Jingga.


"Jaga itu mata, Gak usah pandang-pandang dia. Karna dia milik gue" ucap Langit dan langsung menarik tangan Jingga untuk berlalu dari hadapan pria itu.


Sedangkan pria tadi masih terus fokus menatap Jingga dan Langit yang sudah naik ke lantai dua. "Bagaimana caranya agar aku bisa memisahkan mereka, Jika aku perhatikan, Sepertinya mereka berdua sama-sama saling mencintai" batinnya lagi.


Hal itu membuatnya teringat dengan alasan kenapa kakeknya meminta agar Devano pindah sekolah ke indonesia.


Ya, Pria tadi bernama Devano Kurniawan, Salah satu saudara sepupu Langit yang memang tidak pernah bertemu sama sekali dengan Langit. Karna sejak kecil Devano memang sudah tinggal di paris bersama dengan kedua orang tuanya.


"Devano, Kakek minta kamu pindah sekolah ke indonesia" ucap Abimana pada Devano yang baru saja pulang sekolah.


"Untuk apa, Kek. Bahkan Dev sudah kelas 3. Bentar lagi ujian akhir, Gak mungkin kan Dev main pindan begitu saja. Semua ada prosedurnya kek. Lagian eman juga sekolah Dev yang disini. Itu adalah sekolah yang selama ini Dev impikan" balas Devano sambi mendekat dan duduk di samping kakek Abimana.


"Kalau soal itu, Biar kakek yang urus semuanya. Kamu tetap bisa mengikuti ujian di sekolah mu yang di sini. Tapi nanti kakek akan daftarkan kamu dengan menggunakan identitas lain di jakarta, Tepatnya di sekolah tempat Langit"


Devano mengerutkan kecil keningnya"Untuk apa memangnya, Kek?" tanya Devano sambil menatap raut wajah kakeknya"Untuk kebaikan saudara sepupumu" balasnya.


"Saudara sepupu? Siapa memangnya?"


"Langit namanya, Dia adalah saudara sepupu satu-satunya yang kamu miliki. Mamanya sudah meninggal, Sedangkan papanya saat ini sedang mengalami koma karna kecelakaan. Kakek mau kamu melindungi Langit dari orang-orang yang hanya datang untuk memanfaatkannya"


"Maksud kakek bagaimana, Devano tidak paham?"


"Ck! Kau ini sudah mau lulus sekolah masih saja bodoh"


"Bukan bodoh, Kek. Hanya saja Devano memang benar-benar tidak paham dengan maksud kakek"

__ADS_1


"Jadi begini. Papanya Langit saat ini sedang koma, Semua urusan perusahaan di urus sendiri sama Langit. Tapi ada seseorang yang mau memanfaatkan keadaan ini"


"Siapa, Kek?"


"Om Darwin"


"Om Darwin, Bukan kah dia saudara sepupunya papa?"


"Iya, Kecelakaan kedua orang tua Langit juga ada sangkut pautnya dengan dia"


"Jangan bilang kalau kecelakaan itu om Darwin dalang dari semuanya"


"Memang, Tapi karna dia terlalu licik, Kakek tidak bisa mengungkap kebenarannya. Kamu tau sendiri bukan, Om Darwin adalah seorang gangster yang cukup berbahaya di asia"


"Iya, Kek. Kalau soal itu Devano tau. Lalu apa yang harus Devano lakukan, Kek?"


"Untuk menjamin keamanan perusahaan Langit, Kamu harus bisa memisahkan Langit dengan istrinya yang bernama Jingga, Karna kakek sudah memiliki satu rencana agar perusahaan itu tetap aman terkendali"


"Apa itu, Kek?"


"Kakek akan menjodohkan Langit dengan Yuna, Anaknya om Darwin"


"Sebentar, Tadi kakek bilang pisahkan Langit dengan istrinya? Memangnya Langit sudah menikah?"


Kakek Abimana mengangguk"Iya, Langit dengan Jingga sudah menikah sejak 2 tahun yang lalu. Tapi pernikahan mereka hanya di ketahui oleh keluarga besar saja. Bahkan mereka mengira kakek tidak tau akan hal ini" ucap kakek Abimana sambil menoleh pada Devano yang terlihat bingung.


"Astaga, Umur berapa si Langit sama Jingga. Kenapa sudah menikah saja"


"Malam ini kamu akan terbang ke indonesia, Besok lusa kamu sudah bisa sekolah di sana dengan identitas baru. Bukan sebagai Devano, Tapi sebagai Aldebaran. Kamu hanya perlu menjadi orang lain di sekolah itu minimal sampai papanya Langit sadar dari koma"


"Apa! Lalu bagaimana dengan sekolah Dav yang disini Kek?"


"Bisa melalui online kan"


"Terserah kakek sajalah"


Flashback off


"Bagaimana caranya agar aku bisa memisahkan Langit dengan Jingga. Sepertinya mereka akan sulit untuk di pisahkan, Dari kedua sorot mata Langit tadi sudah membuat aku paham, Jika Langit begitu mencintai Jingga"


Setelah tubuh Langit dan Jingga sudah tidak terlihat lagi, Pria yang bernama Devano akhirnya kembali melangkahkan kakinya menuju ruang guru. Sebagai murid baru tentu saja dia harus mengonfirmasi terlebih dahulu kepada kepala sekolah.


Di sekolah ini Devano tidak masuk di kelas 3, Melainkan kelas 2 dan meminta untuk satu kelas bersama dengan Langit dan juga Jingga.


Di Dalam kelas


"Kenapa kau paketu? Datang-datang muka kok kusut bener" ucap Rey pada Langit yang baru saja duduk di tempatnya.


"Gpp" jawabnya dingin tanpa ekspresi apapun yang terlihat dari wajahnya.


Teman-temannya yang hanya hanya mengangkat bahu seperti biasa. Mereka bisa menebak jika saat ini Langit sedang tidak baik-baik saja. Namun untuk bertanya apa masalahnya tidak ada yang berani.

__ADS_1


"Siapa orang itu, Sepertinya dia murid baru di sekolah ini" ucap Langit dalam batinnya.


Di saat Langit masih teringat kejadian beberapa menit yang lalu. Tiba-tiba saja pintu kelas terbuka. Langit bisa melihat siapa yang sedang mengekor di belakang bu tiwi.


"Diakan orang yang tadi" batin Langit lagi.


"Selamat pagi anak-anak"


"Pagi bu"


"Hari ini kita kedatangan teman baru, Silahkan perkenalkan namamu" ucap bu Tiwi sambil menoleh pada Devano"Baik, Bu"


"Perkenalkan, Nama saya Aldebaran alano, Biasa di panggil Al. Semoga kita bisa berteman baik, Terimakasih" titah Devano dengan gaya cool nya.


Ketampanan Devano hampir setara dengan Langit, Walaupun masih lebih tampan Langit. Wajah mereka seperti ada kemiripan.


"Dia kan pria yang tadi menolongku" ucap Jingga dalam batinnya.


"Wuuuu, Ganteng banget anak barunya. Kayaknya gue bakal pindah hati dari Faro ke Aldebaran" ucap salah satu teman Sisil.


"Itu mata kenapa kagak bisa liat yang bening sedikit, Dasar mak Lampir and the gang" ucap Rey dari tempat duduknya.


"Kenapa lho yang sakit perut om jelangkung. Ngiri karna gak pernah di lirik kita-kita" balas Sisil sambil menoleh pada Rey.


"Ogah banget gue. Gak level di lirik mak Lampir"


"Iya, Karna lho levelnya di lirik mbk kunti kek khanza"


"Idih, Mbk kunti katanya. My bidadari Khanza itu lebih segala-galanya dari lho keles"


"Iya kalo di liat dari sedotan. Atau kali aja mata lho itu burem"


Bu Tiwi mengambil nafas panjang. Memang sudah selalu seperti itu kelakuan Sisil dengan Rey. Selalu berdebat karna hal yang sepele.


"Sudah, Sudah. Kalian ini seperti anak SD saja. Ingat loh ya, Jangan terlalu benci, Takut malah berakhir cinta. Karna benci dan cinta bera tipis" ujar bu Tiwi sambil melirik ke arah tempat duduk Sisil dan juga Rey.


Doni yang mendengar itu tentu saja langsung menimpali perkataan bu Tiwi sambil mengulum bibir menahan tawa.


"Nah, Bener itu bu. Sepertinya mak Lampir sama om Jelangkung bakal jadi pasangan sejati"


"DIEM LHO" ucap Sisil dan Rey secara bersamaan.


"Fix, Kalian berdua itu jodoh yang sudah di gariskan bersama selamanya, Hahaahah"


"Sudah sudah. Al, Kamu bisa duduk di belakang Langit" gumamnya sambil menunjuk ke meja kosong yang ada di belakang Langit.


Devano mengangguk"Iya bu" jawabnya pelan.


Langit memperhatikan Devano dengan raut wajah tidak suka. Kedatangan Devano Entah kenapa Langit bisa merasakan ancaman buat hubungannya dengan Jingga.


"Jangan sampai dia menjadi toxic dalam hubungan aku dengan Jingga" batin Langit yang merasa tidak suka saat mengingat kejadian tadi.

__ADS_1


__ADS_2