
Setelah membaca pesan dari Jingga, Langit mengambil nafas pelan, Memang benar apa yang Jingga katakan, Jangan emosi, Istighfar.
"Astagfirullah. Tidak seharusnya aku emosi seperti ini. Tapi apa yang sudah di katakan Samudra benar-benar membuat aku sakit hati. Tidak pernah menyangka jika papa tega sama mama" ucap Langit dalam batinnya.
Langit memejamkan kedua matanya yang terasa sangat panas, Pria itu tiba-tiba saja teringat akan mendiang mamanya dan merindukan sosok sang mama saat itu juga.
"Ma, Kenapa mama harus merahasiakan semua ini dari Langit. Kenapa mama tidak mengatakan hal yang sejujurnya" batin Langit lagi
Bayangan mamanya melintas begitu saja, Langit teringat kejadian malam di mana dia baru saja sadar setelah menjalankan operasi.
"Pantas saja malam itu aku melihat ada kesedihan yang begitu mendalam dari diri mama. Ternyata ini yang sudah membuat mama seperti itu" ucap Langit dalam batinnya lagi.
Tak berselang kama, Guru mata pelajaran pertama datang memasuki kelas itu.
"Selamat pagi, Anak-anak"
"Pagi, Bu" ucap Mereka secara bersamaan.
"Seperti yang sudah ibu katakan minggu lalu, Kali ini ibu akan membentuk kalian menjadi beberapa kelompok. Kalian bisa mengerjakan tugas yang nanti akan ibu berikan di rumah"
Bu Melly membentuk mereka menjadi 8 kelompok, Yang masing-masing kelompok terdiri dari 8 orang.
"Baik, Tolong di catat siapa saja kelompoknya ya"
"Iya, Bu"
"Kelompok pertama. Langit, Rey, Sisil,Doni, Lana, Olive, Faro"
"Kurang satu, Bu"
"Eh iya, Ada nama yang lupa ibu sebutin. Yang terakhir, Jingga"
"Alhamdulilah, Akhirnya gue bisa satu kelompok sama my bidadari Jingga. Untung gak cuma sama mak lampir, Kalo ceweknya cuma dia, Bisa uek uek gue" celoteh Rey yang tentu saja membuat heboh seisi kelas.
"Uek uek? Hamil dong" timpal Doni seperti biasa.
"Iya hamil, 9 bulan kemudian"
"Hahhahahhah"
Sisil yang mendengar itu merasa tidak suka. Kenapa akhir-akhir ini rasanya dia yang selalu menjadi bahan tawaan para teman-temannya.
__ADS_1
"Berisik lho setan! Lho pikir gue seneng satu kelompok sama cowok modelan kayak lho gitu" ucap Sisil sambil menoleh pada Rey
"Menurut gue sih lho seneng. Sudah terlihat dari raut wajah lho yang berbinar-binar. Tapi sorry ya mak lampir, Cinta dan sayangku hanya untuk my baby hany Khanza" balas Rey
Biarpun banyak bacot, Tapi di antara mereka yang memiliki kekasih hanyalah Rey, Yang lain masih ada di tahap pendekatan saja. Kecuali Langit yang sudah diam-diam memiliki pawang.
"Yeeee, Siapa juga yang mau sama lho. Biarpun seandainya lho jomblo, Gue gak mau sama cowok modelan kayak lho. Banyak bacot"
"Biarin saja banyak bacot. Asal gak banyak hutang"
"Hahhahhah"
Mendengar kata hutang membuat Sisil terdiam, Tak lagi menjawab perkataan Rey. Tiba-tiba saja Sisil teringat akan perkataan Daddy nya malam tadi.
Kalau seandainya club kita masih tidak buka dalam waktu dekat, Kemungkinan besar kita akan jatuh miskin. Mau tidak mau kita harus menjual rumah ini untuk membayar hutan
Tiba-tiba saja perkataan itu berhasil terngiang pada indra pendengaran Sisil.
"Astaga. Apa yang harus aku lakukan untuk membantu Daddy. Aku tidak mau jika sampai harus jatuh miskin. BIG NO" ucap Sisil dalam batinnya.
"Sudah-sudah. Setelah pulang dari sekolah, Kalian bisa membicarakan tempat untuk mengerjakan tugas kelompok yang ibu berikan ya"
"Langit alvarelza pratama" panggil bu Melly
"Astaga, Kenapa aku baru ingat jika tuan muda pratama itu kan Langit" batin Sisil lagi.
"Iya, Bu. Kenapa panggil saya?" jawab Langit pelan.
"Kamu ikut ibu sebentar ya, Ada hak yang mau kepala sekolah bicarakan"
"Baik, Bu"
*****
Tiiiinnnnn.....Tiiiinnnn.....Tiiiiiinnnnn
Suara bel pulang sudah terdengar di sekolah itu. Semua murid sudah bersiap untuk pulang hari ini. Seperti yang sudah di sepakati, Kelompok Langit akan melakukan tugas kerja kelompok di salah satu apartemen milik Langit.
"Kita langsung ke apartemen gue ya" ucap Langit tanpa menoleh pada mereka.
"Siap paketu, Untung saj gue satu kelompok sama lho Ngit, Kalau tidak, Bisa pingsan gue jika seandainya hanya satu kelompok sama si mak lampir" ucap Rey di sela langkahnya.
__ADS_1
"Mulut lho gak pernah di sekolahin ya. Kayaknya sensi banget sam gue. Ada masalah apa lho sama gue?" ucap Sisil yang sudah merasa sangat kesal.
"Ada atau tidak ada masalah, Kalau liat muka lho buat gue kesel. Muka lho itu sangat menyebalkan"
"Kampret lho, Dikira muka gue apaan ngeselin. Siwer apa gimana? Cantik begini di bilang ngeselin"
"Memang begitu kenyataannya"
Langit dan Jingga berjalan lebih pelan dari mereka"I Love you bidadariku" bisik Langit tepat di telinga kanan Jingga.
Jingga membulatkan kedua matanya"I Love You more, Surgaku" jawab Jingga dengan wajah yang terlihat merona.
"Nanti ikut ke makamnya mama, Ya. Aku sangat merindukan mama"
"Iya, Kak. Aku juga sangat merindukan mama"
Setelah mendengar perkataan Langit, Jingga bisa langsung menebak jika kemungkinan besar raut wajah Langit tadi pagi ada hubungannya dengan mamanya.
"Apa sikap kak Langit tadi pagi ada hubungannya dengan mama" ucap Jingga dalam batinnya sambil sedikit melirik pada Langit yang sedang berjalan tanpa menunjukkan ekspresi apapun dari wajahnya.
******
Sedangkan Revan, Sudah seperti biasa setiap pulang sekolah pria itu akan menunggu salah satu wanita yang sudah berhasil mengambil hatinya sejak satu bulan yang lalu. Namun hingga detik ini Revan belum bisa mendapatkan hati wanita itu.
"Siang Felisa. Pulang sama aku mau gak?" tanya Revan sambil berjalan di samping gadis bernama Felisa.
"No, Thanks" jawabnya cuek seperti biasa.
"Ayolah Fel, Kali ini saja. Mau ya pulang bareng sama aku" ucap Revan lagi sambil memohon.
Gadis itu mengambil nafas pelan. Melihat raut wajah Revan membuatnya luluh"Baiklah, Tapi hanya untuk kali ini saja" ucapnya yang masih terdengar cuek.
"Cuek-cuek deh. Tapi gue gak akan pernah nyerah untuk bisa mendapatkan hati kamu Fel. Akan aku pastikan jika suatu saat nanti kamu bisa aku taklukkan. Jangan panggil aku Revan jika gagal mengambil hatimu" ucap Revan dalam batinnya.
Setelah sampai di parkiran, Revan mengambil satu helm yang selalu dia siapkan untuk berjaga-jaga. Dan kebetulan hari ini helm itu akhirnya berguna.
Revan memakaikan helm itu pada Felisa"Kamu makan apa sih, Fel?" tanyanya sambil memakaikan helm itu.
"Kenapa memangnya?"
"Kenapa bisa cantik seperti ini. Kamu seperti bidadari tak bersayap yang ingin aku miliki"
__ADS_1
Felisa terdiam saat mendengar perkataan Revan"Sebenarnya aku juga menyukaimu, Van. Hanya saja aku masih ingin tau seperti apa perjuangan mu untuk bisa mendapatkan ku" batin Felisa sambil berusaha mengontrol jantungnya agar tak terdengar oleh Revan.