
"Gue benci sama lho Rey. Bagaimanapun caranya, Gue sudah tidak mau lagi si jodohkan dengan pria menyebalkan seperti lho" ucap Sisil di sela isak tangisnya.
Batinnya benar-benar terasa sangat sakit saat mendengar bentakan Rey yang begitu lantang. Sehingga membuat orang di sekeliling menatap Sisil dan menjadikanya sebagai pusat perhatian.
Sedangkan Rey, Setelah kepergian Sisil, Pria itu memutuskan untuk mengejar Khanza yang sudah masuk ke tempat pusat pembelanjaan baju.
"Om, Khanza mau ini boleh gak?" ucap Khanza sambil menunjuk pada salah satu lingerie berwarna merah cerah.
"Tentu saja boleh dong, Sayang. Jangan kan satu, Kamu mau lima sekalipun akan om bayarin, Asal jangan lupa di pakai saat sedang bersama om saja"
Deg!
Mendengar percakapan antara Sisil dengan om itu membuat Rey terpaku di tempat, Merasa semakin penasaran dengan apa maksud dari pembicaraan mereka. Terlebih lagi perkataan om itu.
"Apa maksudnya? Asal jangan lupa di pakai saat sedang bersama dengan om saja. Apa maksud dari perkataan om itu?" ucap Rey sambil berjalan mendekat pada mereka.
Pandangan Rey menoleh ke arah tangan Sisil menunjuk"Itu kan baju seperti yang pernah aku liat di video sholawatan. Untuk apa Khanza membeli baju seperti itu dan di gunakan saat bersama om itu" ucap Rey lagi sambil terus memperhatikan Khanza.
Tiba-tiba saja perkataan Sisil terngiang begitu saja."Jangan-jangan apa yang di katakan Sisil benar, Khanza bukan wanita baik-baik. Aku harus mencoba menghubunginya dan menanyakan posisinya saat ini" gumam Rey lagi sambil mengeluarkan ponselnya.
Tut....tut....tut ...
Nomornya aktif namun tidak ada jawaban. Rey bisa melihat saat Khanza menatap layar ponselnya namun tidak menjawab panggilannya.
"Siapa, Sayang?" tanya om itu pada Khanza.
"Biasalah om, Telpon dari nomor tidak di kenal. Palingan juga cuma mau nawarin kartu kredit" balas Khanza sambil kembali meletakkan ponselnya ke dalam tasnya.
Namun bukan Rey namanya jika berhenti menghubunginya. Rey bisa melihat ada raut kesal dari wajah khanza.
"Khanza mau ke kamar mandi sebentar ya, Om. Tiba-tiba saja kebelet pipis"'bohong Khanza.
__ADS_1
Setelah tiba di dalam kamar mandi, Khanza langsung menjawab panggilan Rey.
📲:Halo, Sayang. Ada apa kamu telfon aku?
📲:Kenapa kamu masih tanya sih baby. Kalau aku telfon itu artinya aku kangen baby. Kita jalan yuk baby, Aku jemput kamu ke kostan ya.
📲:Maaf ya baby, Hari ini aku lagi sibuk mau ngantar mama periksa ke rumah sakit. Ini saja aku masih sempet-sempetin angkat telpon dari kamu.
📲:Oh yaudah, Kalau begitu aku antar kamu sama mama ke rumah sakit, Bagaimana?
📲:Tidak perlu. Iya tidak perlu baby, Soalnya aku sudah pesan taksi. Sudah dulu ya baby, Ini sudah di panggil mama.
Setelah mengatakan hal itu, Khanza langsung memutuskan sambungan telponnya tanpa menunggu balasan dari Rey. Dari balik tembok Rey bisa melihat bagaimana reaksi Khanza setelah sambungan telpon itu terputus.
"Dasar pria tak berguna. Sudah tau kere masih saja berniat jadi pacar gue. Lebih baik sama om-om yang sudah jelas bisa membelikan apa yang gue mau" ucap Khanza sambil melangkah kah kakinya kembali ke tempat yang tadi.
Rey yang mendengar itu seketika mengepalkan kuat kedua tangannya. Ternyata apa yang baru saja Sisil katakan memang benar adanya. Jika Khanza adalah seorang sugar baby yang suka mencari sugar daddy untuk mendapatkan apapun yang dia mau.
Selama ini memang tidak ada yang tau jika Rey adalah anak orang kaya. Pria itu selalu bersikap seperti orang yang tidak punya apa-apa. Sering minta di bayarkan Langit saat sedang di kantin. Padahal sebenarnya Rey keturunan konglomerat yang sengaja menyembunyikan identitasnya sebagai tuan muda Lorenzo. Anak kandung dari Iwan lorenzo dan Mariana Lorenzo.
Setelah itu, Rey keluar dari mall dengan membawa perasaan luka serta perasaan bersalah terhadap Sisil. "Maafkan gue, Sil. Maafkan gue yang sudah membentak lho di tempat umum hanya karna ingin membela Khanza sialan itu" gumam Rey sambil melajukan motornya.
Rey melesatkan motor itu dengan sangat cepat, Tujuan nya saat ini adalah menemui Sisil dan meminta maaf pada wanita itu.
45 Menit kemudian, Rey sudah tiba di kediaman Sisil. Namun rumah itu terlihat sangat sepi, Seperti tidak ada siapa-siapa di sana.
tok....tok...tok ..
Rey berusaha mengetuk pintu rumah Sisil dan berharap jika wanita itulah yang membuka pintu. Namun ternyata Rey salah. Karna yang membuka pintu hanyalah asisten rumah tangga di sana.
"Maaf den, Cari siapa?" tanya Asisten rumah tangga Sisil.
__ADS_1
"Sisil nya ada gak bik?"
"Ooh non Sisil. Non Sisil belum pulang, Den. Ada yang bisa bibi bantu?"
" Sisil belum pulang ya, Bi. Biasanya dia kalau pulang jam berapa?"
"Kalau soal itu bibi tidak tau den"
***
Di Tempat Lain
Setelah keluar dari mall. Sisil memang tidak langsung pulang. Wanita itu masih meminta supir taksi untuk mengantarnya ke sebuah tempat yang biasanya selalu Sisil datangi saat keadaan hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Selamat sore adek-adek" ucap Sisil setelah tiba di tempat itu.
"Kak Sisil" jawab mereka sambil berlari pada Sisil.
"Bagaimana kabar kalian? Maaf ya kak Sisil sudah lama tidak datang ke sini. Kak Sisil dengan sibuk, Banyak urusan yang harus kakak selesaikan"
"Kabar kita baik kak. Kalau kabar kak Sisil sendiri bagaimana?"
"Kabar kakak juga baik"
Seperti biasa, Setiap kali datang ke tempat ini Sisil selalu menatap raut wajah mereka, Ada rasa bersyukur karna hidupnya jauh lebih beruntung dari pada mereka. Walaupun terkadang Sisil merasa hidupnya tidak adil. Karna kedua orang tuanya yang selalu bertengkar. Bahkan tiada hari tanpa pertengkaran di rumah itu.
Tanpa Sisil sadari hari sudah semakin malam. Namun Sisil masih saja terdiam di sana. Memperhatikan anak-anak jalanan yang hidup tanpa siapa-siapa di tempat itu.
"Rasanya hidup mereka lebih bahagia dari pada hidup gue. Gue punya orang gua lengkap namun terasa seperti hidup sebatang kara, Daddy tidak terlalu perduli, Mommy selalu menuntut. Rasanya cukup lelah dengan semua ini" batin Sisil sambil terus menatap anak-anak itu. Intinya Sisil sangat kurang akan kata kasih sayang.
Itu adalah salah satu alasan kenapa Sisil berubah menjadi pribadi yang cukup menyedihkan. Karakter nya benar-benar berubah setelah pertengkaran yang selalu terjadi di antara kedua orang tuanya.
__ADS_1