
"Apa! " ucap Mereka secara bersamaan.
Bukan hanya Langit, Tapi juga semua teman-temannya merasa sangat kaget dengan apa yang baru saja samudra katakan. Pasalnya memang selama ini Samudra belum mengatakan apa-apa terhadap Langit.
"Kapan kakek mengatakan itu? " tanya Langit sambil menatap Samudra.
"Waktu itu, Kak. Kakek mengatakan jika dia akan menjodohkan kakak dengan Yuna, Anaknya om Darwin" terang Samudra sambil menatap Langit
"Kenapa lho baru mengatakan hal ini sekarang? "
"Karna kakak gak pernah memberikan waktu untuk Sam mengatakan semua ini"
Setelah itu, Langit kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Samudra yang masih berdiri di sana. Langit menghentakkan kakinya merasa sangat kesal dengan apa yang baru saja dia dengar dari Samudra.
"Astaga, Berita apa lagi ini. Masalah satu belum kelar kenapa harus datang masalah lain" ucap Langit dalam batinnya.
Semua teman-temannya Langit hanya bisa saling lirik, Mereka bisa tau apa yang saat ini sedang Langit rasakan.
"Sabar, Paketu. Yakinlah jika semua akan baik-baik saja. Lho dan Jingga tak kan pernah terpisahkan. Kalian akan bisa bersama selamanya. Yakin, Pasti ada jalan untuk semua itu" ucap Doni sambil menepuk pelan pundak Langit.
"Astaga, Kenapa semua ini harus terjadi dalam hidupku. Aku sudah kehilangan mama, Apa iya aku juga harus terpisahkan dari Jingga, Satu-satunya wanita yang sangat berarti dalam hidupku. Sosok yang menjadi hidup dan mati ku" ucap Langit dalam batinnya.
Langit mengambil nafas panjang sambil menoleh pada meja Jingga yang hanya ada Olivia di sana. "Bagaimana hidupku tanpa Jingga" Lagi-lagi Langit hanya bisa bermonolog dalam batinnya.
Tak berselang lama, Yuna datang dan berjalan menuju meja Langit dengan kedua sudut bibir yang terangkat sempurna, langit yang melihat itu tentu saja merasa sangat muak, Apalagi mengingat video Jingga yang sempat menggegerkan sekolah NUSA BANGSA hari itu.
Ya, Pelakunya adalah salah satu penghianat di geng the boys atas perintah dari Yuna. Entah apa tujuan wanita itu membeberkan bagaimana Jingga di masa lalu. Tapi yang pasti, Di sekolah ini sudah ada beberapa dari mereka yang hilang respect terhadap Jingga setelah tau jika Jingga mantan ketua geng motor di bandung.
"Hai calon suami, Siap-siap nanti malam kita dinner romantis" ucap Yuna pada Langit dan langsung duduk di tempat duduknya.
"Gak usah ngimpi! Karna gue gak bakal pernah mau melakukan hal itu" balas Langit dingin sambil menatap tajam Yuna.
__ADS_1
"Oh ya, Memangnya kamu bisa menolak permintaan kakek Abimana?" Jawab Yuna yang tentu langsung bisa membuat Langit merasa sangat kesal.
"Tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa gue untuk melakukan hal yang tak ingin gue lakukan, Termasuk kakek sekalipun!"
"Kita lihat saja nanti nanti calon suami" balas Yuna dengan pedenya.
Semua teman-teman Langit yang mendengar itu tentu saja merasa tidak suka. Bagaimana mungkin Langit akan di pisahkan dengan Jingga.
"Heh, Gak usah kepedean, Langit selamanya hanya akan menjadi milik Jingga. Karna Langit hanya tercipta untuknya, Bukan untuk orang lain apalagi wanita jahat seperti lho! " ucap Rey yang tiba-tiba saja membuka suaranya
"Tau nih, Jadi cewek kok kepedean banget, Cantikan juga bidadari Jingga ke mana-mana. Tak sadar diri" timpal Doni yang ikut membalas perkataan Yuna.
"Heh, Lho berdua gak usah ikut campur! Ini urusan gue dan juga Langit. Gak ada hubungannya sama lho pada. Jadi lebih baik diem! " ucap Yuna sambil menatap Rey dan juga Doni.
"Eleh, Dasar wanita jelmaan Jin gak tau malu. Mau menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang di inginkan" ucap Rey sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya. Ikut merasa kesal dengan apa yang telah Yuna perbuat pada Jingga dua hari yang lalu.
"Tutup mulut lho! Jangan sampai gue membuat keluarga lho kehilangan segalanya"ucap Yuna pada Rey
"Heh Dedemit, Jangan pernah semena-mena sama orang lain. Ingat, Di atas langit masih ada langit. Tidak ada yang tau lho ada di langit ke berapa, Jangan sampai malah nanti lho yang terhempas ke dasar jurang" ucap Rey lagi sambil menatap tak suka pada Yuna.
Pagi ini mood Rey lagi berantakan. Tiba-tiba Yuna datang dan ikut membuat nya kesal. Setidaknya rasa kesal terhadap Sisil sudah Rey tumpahkan pada Yuna.
"Ingat, Di atas langit masih ada langit! Jadi jangan SOMBONG. Apalagi masih menumpang pada harta orang tua" ucap Rey lagi dan langsung kembali ke tempat duduknya.
Yuna tak menjawab, Perkataan Rey sudah mampu membuatnya bungkam. Tidak ada satu patah kata pun yang bisa Yuna balas untuk kata-mata itu.
"Kurang ajar! Awas saja nanti lho Rey! Gue akan memberikan perhitungan atas apa yang sudah lho katakan" ucap Yuna dalam batinnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
Tak lama kemudian, Guru mata pelajaran pertama sudah datang. Pagi ini adalah mata pelajaran matematika.
"Selamat pagi anak-anak" ucap bu Tiwi sambil memperhatikan semua murid kelas 11.
__ADS_1
"Pagi bu" balas mereka secara bersamaan.
Bu Tiwi mengerutkan keningnya saat melihat meja Jingga kosong"Jingga kemana? Tumben dia tidak masuk sekolah tanpa memberitahu saya" ucap bu Tiwi pelan.
"Olive, Kamu tau kenapa Jingga tidak masuk sekolah" ucapnya lagi.
olive yang baru menyadari jika Jingga tidak ada di tempat duduknya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal"Eh iya, si Jingga kemana ya, Kok aku baru sadar jika Jingga gak ada di sini" ucap Olive pelan.
"Liv, Apa kamu tau?"
"Maaf Bu, Saya tidak tau"
Tak berselang lama, Langit mengangkat tangannya dan mengatakan jika saat ini Jingga di rawat di rumah sakit karna insiden yang di alaminya malam tadi.
"Maaf, Bu. Saat ini Jingga sedang di rawat di rumah sakit. Ada insiden yang membuatnya harus stay di sana" ucap Langit pada bu Tiwi sambil melirik pada Yuna.
"Rumah sakit? Jingga sakit apa?"
"Jingga terkena musibah tadi malam, bu"
"Inalillahi. Lalu bagaimana keadaannya?"
"Sudah lebih baik bu"
"Syukurlah. Nanti kita jenguk Jingga sama-sama. Sekarang bagi remidi bisa kumpulkan bukunya, Yang tidak remidi bisa keluar"
Mendengar kata Remidi membuat Rey, Doni, Faro menepuk jidatnya pelan"Astaga, Kenapa bisa lupa kalau hari ini ada remidi matematika. Mampus gue" ucap Doni
Sedangkan Lana dan Langit yang waktu ulangan memiliki nilai di atas 70 langsung bangun dari tempat duduknya. Namun sebelum itu, Lana masih menoleh ke arah Olivia yang terlihat sedikit bingung.
Melihat itu membuat Lana mengulum bibirnya"Wanita itu benar-benar menggemaskan" batinnya sambil terus menatap Olivia.
__ADS_1