
Langit beserta teman-temannya yang lain melesatkan motor mereka menuju rumah sakit tempat di mana Toni di lakukan pemeriksaan. Di sepanjang perjalanan, Langit sama sekali tidak bisa fokus. Pesan suara yang dia dengar dari ponsel Toni berhasil mengganggu pikirannya.
"Siapa sebenarnya dalang dari semua ini, Jadi selama ini gue sudah salah sangka terhadap Toni. Maafkan gue, Ton. Maafkan gue yang sudah salah menuduh" Langit bermonolog dalam batinnya sambil terus melajukan cepat motornya.
30 Menit kemudian. Motor mereka sudah sampai di rumah sakit MANDALA. Rumah sakit keluarga Langit yang memang menjadi tempat di mana Toni di lakukan beberapa pemeriksaan.
Langit dan yang lain turun dari motornya. Berjalan cepat menyusuri parkiran dan koridor di sana. Dari arah kejauhan, Mereka sudah bisa melihat keberadaan keluarga Toni di depan IGD.
Kedua kata Faro memicing saat melihat wanita pujaan hatinya ada di tempat itu dengan raut wajah yang terlihat sangat sedih.
"Sofia, Untuk apa dia di sini?" batin Faro dan semakin mempercepat langkahnya.
Setelah tiba di ruangan IGD, Pria yang bernama Arif mendekat pada Sofia dan menepuk pundaknya. "Sabar, Kak. Arif tau ini sangat berat buat kak Sofi, Tapi mau bagaimana lagi, Ini sudah takdir yang di gariskan buat, Toni" ucap Arif pada Sofia.
Melihat Arif terlihat akrab seperti itu dengan Sofia membuat Faro menatap tidak suka. Ada rasa sakit dari relung hatinya.
"Sofia, Kamu ada di sini juga?" tanya Rey yang memang juga ikut penasaran.
Mendengar suara Rey menyebut namanya membuat Sofia yang sejak tadi menundukkan wajahnya seketika mengangkat wajah itu. Kedua matanya sudah terlihat sembab. Sangat terlihat jika Sofia benar-benar terluka akan kejadian hari ini.
"Iya lah bang, Kan kak Sofia kakaknya Toni" timpal Ferdi sambil menatap Rey.
"Apa!!" ucap mereka secara bersamaan. Karna memang selama kelas 11 tidak ada yang tau jika Sofia adalah kakak dari Toni.
__ADS_1
"Lho serius?" tanya Rey cepat.
"Ya serius lah bang. Memangnya kalian belum pada tau?"
"Nggak. Selama ini kami tidak pernah tau karna Toni anaknya cukup tertutup" ucap Langit yang sejak tadi terdiam.
"Iya, Toni itu adik satu-satunya yang aku miliki. Dia yang selama ini selalu ngejaga aku, Dan sekarang Toni sudah pergi untuk selamanya" ucap Sofia dengan suara seraknya.
Faro mendekat pada Sofia, Tiba-tiba saja pria itu menarik tubuh Sofia dan membawa tubuh kecilnya dalam dekapannya. Memberikan tempat bersandar ternyaman untuk wanita pujaan hatinya.
"Sabar ya, Sof. Aku tau bagaimana rasanya di tinggal orang yang paling berharga dalam hidup kita. Rasanya memang sangat sakit. Bahkan lebih sakit dari pada apa yang kita bayangkan" ujar Faro lembut sambil membelai rambut panjang Sofia.
"Terimakasih, Faro" balasnya dan masih membiarkan faro mendekap erat tubuhnya.
Tak berselang lama, Pintu ruangan IGD terbuka. Mereka semua bisa melihat jenazah Toni di bawa keluar dari sana.
Setelah di pastikan semua luka yang ada di tubuh Toni di jahit. Pihak rumah sakit memang menyarankan untuk secepatnya membawa Toni pulang dan segera di mandikan.
Di Mansion pratama
"Duh. Kak Langit kemana ya, Kenapa sampek jam segini dia belum juga kembali. Padahal biasanya kak Langit selalu memberikan kabar kemana dia akan pergi" ucap Jingga sambil menatap ke arah pintu utama yang masih tertutup rapat.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa suamimu belum juga pulang?" tanya Alexander yang baru saja kembali dari dapur sambil membawa segelas susu coklat serta roti panggang yang dia buat untuk Jingga.
__ADS_1
"Belum, Ayah. Bahkan kak Langit tidak membuka pesan yang Jingga kirim" sahutnya dengan wajah yang terlihat khawatir.
Alexander mendekat pada Jingga serta meletakkan nampan itu di depan Jingga. Setelah Jingga di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, Alexander memang memutuskan untuk bermalam di mansion malam ini. Karna dia masih trauma kejadian malam itu akan terulang buat yang kedua kalinya.
"Apa kamu sudah coba menghubunginya?" tanya Alexander sambil menatap Jingga.
Jingga menggeleng"Belum, Ayah. Jingga hanya mengirimkan pesan singkat buat kak Langit. Apa Jingga coba telfon saja ya" seru Jingga lagi.
"Lebih baik iya, Sayang. Dari pada kamu gak tenang seperti ini"
Jingga tak lagi menjawab perkataan ayahnya, Wanita itu langsung mengambil ponselnya dan mencari sebuah nama kontak yang dia beri nama Surgaku. Tak butuh waktu lama, Panggilan itu langsung di jawab oleh langit.
📲:Halo kak. Kakak di mana? Kenapa kakak belum juga pulang?
📲:Maaf ya sayang. Aku lagi di rumah sakit
📲:Ngapain di rumah sakit kak? Apa ada sesuatu yang terjadi sama papa?
📲:Ini bukan soal papa, Sayang. Tapi Toni
📲:Toni? Ad apa dengan Toni kak? Memangnya dia sakit?
📲:Toni meninggal, Sayang
__ADS_1
📲:Hah!
📲:Toni meninggal sayang.