Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Rindu itu berat [ Kata Dilan ]


__ADS_3

Di Tempat Lain


"Kamu sudah siap, Sayang?"tanya Darwin pada Yuna yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


Mendengar suara itu membuat Yuna menoleh ke arah suara bariton yang tak lain adalah Daddy nya. "Daddy, Iya Yuna sudah siap" jawab Yuna pelan.


Darwin berjalan mendekat pada Yuna yang terlihat sangat bahagia. Dari raut wajahnya, Darwin sudah bisa membaca jika anak semata wayangnya sedang di landa asmara.


"Kenapa terlihat bahagia seperi itu, Sayang. Apa yang membuat kamu terus tersenyum seperti itu?" tanya Darwin pada Yuna.


"Gak ada Dad, Hanya saja Yuna bahagia karna bisa kembali lagi ke jakarta, Setelah lima tahun meninggalkan kota itu, Akhirnya sebentar lagi Yuna bisa merasakan masa-masa dulu lagi" balas Yuna yang masih terus mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Jangan bilang ini semua ada hubungannya dengan Langit" tebak Darwin.


"Kok Daddy tau, Memang ini semua ada hubungannya dengan Langit. Setelah kita tiba di jakarta, Yuna akan berusaha mendapatkan Langit dengan cara apapun, Karna hanya Yuna yang boleh menjadi wanita satu-satunya yang memiliki Langit"


"Kamu tenang saja, Sayang. Nanti daddy akan bantu kamu untuk bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Sekarang kita berangkat ya, Siap kan?"


"Sangat siap, Dad. Ayo, Yuna sudah tidak sabar mau masuk di sekolah tempat Langit" kedua sudut bibir Yuna terangkat sempurna, Darwin yang melihat senyuman itu tentu saja tidak mau jika seandainya senyum itu sampai luntur dari bibir anak kesayangannya.


"Bagaimanapun caranya, Daddy akan pastikan jika Langit hanya akan menajdi milik kamu, Anakku" ucap Darwin dalam batinnya sambil menatap punggung Yuna yang memang berjalan di depannya sambil sibuk dengan ponselnya.


"Galvin, Kamu juga ikut ke jakarta, Ada banyak hal yang nanti harus kamu urus, Termasuk antar jemput Yuna sekolah" ucap Darwin pada Galvin yang sejal tadi berdiri di ruang tamu rumah itu.


Yuna yang mendengar perkataan Daddy nya seketika menghentikan langkah kakinya, Wanita ini menoleh pada Darwin sambil mengerutkan kecil keningnya. "Memangnya harus dia yang mengantar jemput Yuna sekolah, Daddy?" protes Yuna

__ADS_1


"Iya, Sayang. Karna hanya dia yang Daddy percaya buat menjaga kamu, Daddy yakin Galvin tidak akan membiarkan kamu kenapa-napa, Sayang" balas Darwin sambil membelai lembut rambut Yuna.


"Yah, Daddy. Tapi Yuna tidak nyaman deket-deket dia terus" rengek Yuna sambil memanyunkan bibirnya.


"Sudah, Daddy tidak menerima protes apapun. Yang pasti Galvin sudah lulus uji seleksi dari daddy. Sudah ayo lebih baik kita segera ke bandara"


Yuna tak lagi menjawab, Wanita itu berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan bibir yang masih terus manyun. Galvin yang melihat itu hanya mengulum bibir. Buat Galvin, Tingkah Yuna yang seperti itu semakin terlihat menggemaskan.


"Yuna yuna, Kenapa aku harus terjebak cinta pada wanita yang memiliki sifat kekanak-kanakan seperti mu" ucap Galvin dalam batinnya sambil mengulum bibir karna melihat tingkah Yuna.


45 Menit kemudian mereka sudah tiba di bandara, Ekspresi Yuna masih saja terus mengerucutkan bibirnya, Merasa tidak suka dengan apa yang dia dengar dari daddy nya.


"Kenapa juga aku harus selalu dekat-dekat sama dia, Uuuh daddy menyebalkan sekali. Bisa-bisanya melakukan itu tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu" ucap Yuna dalam batinnya.


Pesawat itu akhirnya take off meninggalkan paris, Darwin mengambil nafas pelan, Rasanya cukup berat meninggalkan negara itu, Karna cukup banyak kenangan manis bersama dengan mendiang istrinya.


*****


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 22:00. Langit yang baru saja tiba di tempat penginapan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang di sana. Merenggangkan otot-otot tangan dan juga kakinya yang terasa sangat lelah.


"Uuuhhhh, Hari ini rasanya aku sangat lelah. Lebih baik aku mandi lalu sholat dulu, Belum sholat isyak juga" ucap Langit lalu berjalan menuju kamar mandi.


Langit melakukan ritual mandinya dengan sangat cepat tidak seperti biasanya. Setelah keluar dari dalam kamar mandi, Langit mengambil sajadah lalu menggunakan baju koko yang sudah di siapkan oleh om Iwan. Sosok yang selama ini selalu membantu Langit mengurus perusahaan Pratama Group.


Setelah selesai sholat, Langit mengangkat kedua tangannya sambil memejamkan kedua matanya. Rasanya cukup lelah dan capek dengan apa yang saat ini sedang dia hadapi.

__ADS_1


Ya allah, tunjukkan jalan terbaik yang sudah engkau siapkan untukku. Tentukan jalan yang semestinya aku lalui, Jangan pernah engkau biarkan aku mengeluh serta menyerah dengan keadaan yang seharusnya aku lalui. Jika boleh memilih, Ingin rasanya aku menyerah, Karna aku tidak sekuat itu ya allah, Hamba mohon, Kuatkan jiwa serta ragaku dalam menghadapi takdir yang sudah engkau gariskan untukku.


Setelah cukup puas meluapkan isi hatinya, Langit mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Pria itu mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video terhadap wanitanya. Siapa lagi kalau bukan Jingga.


Tut....Tut....tut...


Panggilannya terhubung namun tidak ada jawaban"Apa Jingga sudah tidur ya" ucapnya sambil menatap layar ponselnya yang masih menunjukkan panggilan Video pada Jingga. Berdering namun tak terjawab.


"Mungkin Jingga memang sudah tidur, Lebih baik aku kirim pesan saja. Hufftt, Rasanya aku sangat merindukan Jingga, Padahal baru sehari aku tidak bertemu dengannya. Tanpa aku sadari, Ternyata Jingga sudah menjadi separuh jiwaku. Dia sudah menjadi duniaku untuk saat ini" ucap Langit sambil mengirimkan pesan singkat pada nomor kontak yang dia beri nama My Queen.


Setelah itu. Langit meletakkan ponselnya, Memejamkan kedua matanya yang memang sudah terasa sangat berat. Namun sebelum itu, Langit memasang alarm untuk besok pagi, Karna besok masih ada meeting terakhir yang harus Langit hadiri.


Tanpa terasa malam sudah berlalu dengan sangat cepat, Jingga menggeliat saat mendengar suara alarm sudah mulai mengusik tidurnya. Lehernya terasa sakit karna semalam ternyata Jingga tertidur di kursi meja belajar.


"Astaga, Kenapa aku bisa ketiduran" ucapnya sambil mengerjab kan kedua matanya yang masih terasa sangat berat.


Jingga mengambil ponselnya dan melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 05:00 pagi. "Astag, Kenapa sudah jam segini saja. Aku tidur apa pingsan ya, Kenapa sama sekali tidak kebangun semalaman di sini" ucap Jingga sambil merenggangkan otot-otot tangannya.


Jingga menatap layar ponselnya yang ternyata ada beberapa panggilan video tak terjawab serta pesan masuk dari kontak yang dia beri nama **Surgaku.


Surgaku**


[ Selamat malam, Sayang. Kamu sudah tidur ya, Aku sangat merindukan kamu, Sayang. Ternyata berjauhan dari kamu benar-benar menguji rasa rinduku. Jangan lupa makan ya, Selamat tidur istriku, Sweet dreams. I Love You♥️ ]


Jingga mengangkat kedua sudut bibirnya saat membaca pesan singkat yang Langit kirimkan"Aku juga sangat merindukan kamu, Kak. Cepat kembali, aku merasa sangat kesepian tanpa kakak di sampingku" ucap Jingga sambil terus menatap layar ponselnya.

__ADS_1


"Ternyata benar apa yang di katakan Dilan. Rindu itu berat" ucap Jingga lagi.


__ADS_2