
"Apa jangan-jangan Jingga adalah adiknya Revan. Ahhh, Kenapa aku baru menyadari satu hal, Bukan kah wajah Jingga dengan Revan seperti ada kemitipan. Kenapa aku baru menyadari hal itu" ucap Lexan lagi.
Lexan semankin melajukan cepat motornya. Hingga tak butuh waktu lama pria itu sudah tiba di sekolah Nusa Bangsa bersamaan dengan Damian dan juga Jingga yang baru melepaskan helmnya.
"Terimakasih, Bang Damian" ucap Jingga dan langsung berlalu dari sana.
Jingga melirik sekilas pada Lexan yang masih duduk di atas motornya, Memperhatikan Jingga yang sedang melewatinya, "Cantik" ucap Lexan pada Jingga.
Jingga tak menjawab sepatah katapun dari perkataan Lexan, Wanita itu hanya memberikan lirikan tajam seperti biasa. "Akan aku pastikan, Kamu bertekuk lutut kepadaku, Jingga" batin Lexan sambil terus menatap Jingga tang sudah semakin menjauh.
Tanpa sadar Lexan mengangkat kedua sudut bibirnya, Merasa seperti ada yang aneh dengan tingkahnya sendiri."Ada apa denganku, Kenapa aku malah senyum-senyum sendiri seperti ini saat melihat wanita itu. Aahh, Jangan sampai aku jatuh cinta pada wanita itu" batinnya lagi dan langsung turun dari atas motornya.
Sisil yang sejak tadi memperhatikan kedatangan Jingga bersama dengan Damian membuat Sisil and the geng memikirkan hal yang tidak-tidak. Mereka bertiga ikut masuk ke dalam kelas sambil bergosip tentang Jingga.
"Sebenarnya siapa si Jingga itu ya, Kemaren dia berangkat bersama dengan Langit. Sekarang berangkat bersama dengan bang Damian, Seperti wanita murahan saja" ucap Sisil di sela langkahnya.
"Iya ya, Sekarang berangkat dengan Damian, Pasti besok akan berangkat dengan pria lain lagi"
Di saat mereka sedang menaiki anak-ana tangga, Sisil yang menoleh ke arah kanan tanpa sengaja melihat Jingga sedang mengobrol bersama dengan Samudra di koridor sekolah.
"Eh, Kalian lihat deh. Itu si Jingga lagi bicara sama Samudra kan? Adiknya Langit" ucap Sisil sambil menunjuk pada Jingga dan juga Samudra yang ad di koridor sekolah.
"Iya, Kenapa merek terlihat akrab segitu ya. Rasanya setiap cowok di sekolah ini cepat banget Jingga deketin ya. Padahal kita-kita yang sudah lebih dulu sekolah di sini gak bisa kayak dia" timpal salah satu teman Sisil.
"Iya bener banget, Apa jangan-jangan si Jingga pakai pelet kali ya" timpal salah satunya.
"Jaman sekarang memangnya masih ad yang namanya pelet atau dukun?" tanya Sisil sambil terus menatap Jingga dan Samudra yang sedang terlihat mengobrol serius.
"Menurutmu?"
"Ya mana gue tau, Orang gue gak pernah percaya yang namanya pelet" balas Sisil sambil terus memperhatikan Jingga dan Samudra.
****
__ADS_1
"Jingga, Kak Langit kemana? Kenapa aku telpon gak ada jawaban. Di WA juga gak di baca" tanya Samudra pada Jingga.
"Aku juga gak tau kemana pastinya kak Langit pergi, Sam. Tapi yang pasti, Dia sedang ada urusan penting yang sama sekali gak bisa di tinggal. Ada apa? Ada hal penting yang mau kamu sampaikan tah?" tanya Jingga sambil menatap Samudra.
"Iya, Jingga. Ada satu hal penting yang harus kakak tau, Ini soal istrinya papa"
"Oh iya, Sam. Apa kamu tau hal yang terjadi pada papa kemarin malam?"
Samudra menggeleng sambil mengerutkan kecil keningnya"Tidak, Ada apa memangnya? Aku dari kemaren memang tidak sempat menjenguk keadaan papa, Soalnya lagi pusing sama masalah yang terus saja datang" ujar Samudra sambil mengambil nafas panjang.
"Kemaren malam ada seseorang yang berusaha melakukan percobaan pembunuhan pada papa, Tapi alhamdulilah hal itu di gagalkan sama salah satu suster di sana" Terang Jingga
Berapa terkejutnya Samudra mendengar apa yang baru saja Jingga katakan padanya"Apa! siapa yang sudah berani melakukan hal itu sama papa?"
"Aku juga tidak tau, Sam. Tapi yang pasti, Saat ini kak Langit sudah membayar beberapa bodyguard untuk menjaga dan menjamin keselamatan papa" ucap Jingga lagi.
Samudra mengepalkan kuat kedua tangannya"Berani sekali orang itu mau mencoba melenyapkan papa.Aku bersumpah, Aku akan mencaritahu siapa pelakunya dan akan menghabisi dengan tanganku sendiri" ucap Samudra dengan mata yang terlihat merah karena menahan amarah yang sudah naik ke ubun-ubun.
"Sabar, Sam. Kak Langit juga sedang berusaha mencari siapa pelakunya. Jangan gegabah, Pelan-pelan saja"
Suara bunyi bel masuk membuat Samudra dan Jingga mengakhiri obrolannya, Mereka berdua masuk ke dalam kelas masing-masing.
"Ji, Hari ini ada ulangan fisika ya?" tanya Olive saat Jingga sudah tiba di dalam kelasnya.
"Iya, Liv. Jangan bilang kamu belum siap buat ulangan" tebaknya
Olive tersenyum"Tau aja kamu kalau aku belum siap, Tapi kamu tenang saja, Insyaallah kalau ulangan fisika otakku tidak terlalu ngeleg kayak matematika sih, Apalagi nanti gurunya cogan Ji"
"Astaga, Kamu ini ada-ada saja deh Liv" ucap Jingga sambil terkekeh.
Tak berselang lama, Guru mata pelajaran fisika sudah datang, Ternyata memang benar apa yang di katakan oleh Olive jika guru mata pelajaran Fisika adalah seorang cowok ganteng.
Jingga menatap Olivia yang sedang memandang pak Keenan tanpa mengedipkan matanya. "Kenapa pak Keenan harus setampan itu ya allah" ucap Olivia pelan.
__ADS_1
Lana sejak tadi memperhatikan Olive yang sedang menatap pak Keenan tanpa berkedip. "Kapan ya Olivia mau menatapku seperti dia menatap pak Keenan. Seandainya Olive tau bagaimana perasanku terhadapnya, Apakah dia akan mau menerima aku menjadi pacarnya" ucap Lana dalam batinnya sambil terus menatap Olivia.
"Makanya, Kalau cinta jangan di tahan. Nanti yang ada kamu akan sakit hati" bisik Faro tepat di telinga kanan Lana.
Mendengar perkataan Faro membuat Lana mengalihkan pandangannya. Pria itu mengambil nafas panjang sambil menoleh pada Faro"Sayangnya gue belum berani mengatakan perasaan gue yang sebenarnya, Far. Gue masih menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan ini" ucapnya yang terdengar sangat lirih.
"Masih menunggu saat yang tepat? Kapan? Nunggu sampai si Olive menjadi milik orang lain" ujar Faro pelan sambil mengeluarkan buku pelajaran Fisika.
"Saran gue sih Lan. Sebaiknya lho ungkapin perasaan lho secepatnya atau selamanya lho gak bakal pernah bisa miliki Olive" Lanjut Faro lagi.
"Gue masih ragu, Far"
"Apa yang masih lho ragukan. Jangan pernah menyesal saat lho sudah benar-benar gak bisa memilikinya"
"Selamat pagi, Anak-anak" ucap pak Keenan pada mereka semua.
"Pagi, Pak" balas mereka secara bersamaan.
"Silahkan kalian letakkan buku pelajaran fisikanya, Sesuai dengan yang saya katakan minggu lalu, Hari ini kita akan melakukan ulangan. Sudah siap kan semuanya" ucap pak Keenan pada mereka semua.
"Siap gak siap harus siap kan, Pak" jawab Rey seperti biasa.
"Sudah mulai pintar kamu ya, Rey" ucap pak Keenan sambil mengangkat kedua sudut bibitnya.
*****
"Sudah siap dengan meeting hari ini kan, Langi" tanya om Iwan pada Langit.
"Siap tidak siap, Langit harus bisa kan om. Langit akan berusaha melakukan yang terbaik untuk perusahaan papa"
"Bagus, Om percaya jika kamu pasti bisa memenangkan tender kali ini. Om yakin kamu pasti bisa membawa Pratama group lebih maju lagi"
"Semoga ya, Om. Bismillah, Langit akan berusaha dengan di iringi doa" jawab Langit pelan.
__ADS_1
"Semangat, Langit. Percayalah jika kamu pasti bisa, Demi Jingga aku harus bisa. Bukan kah ini semua juga demi masa depan ku dan juga Jingga, Wanita yang menjadi duniaku saat ini" batin lagi sambil mengekor di belakang ok Iwan untuk masuk ke ruangan meeting.
"Ini adalah Meeting terakhir, Aku pasti bisa. Semangat Langit"