
Dtttt,,,,Dttt,,,,Dtttt
Alexander yang mendengar suara dering ponselnya membuatnya langsung mengeluarkan ponsel itu. Keningnya mengerut kecil saat melihat nama Gibran yang tertera di sana. Tiba-tiba saja pikirannya menjadi tidak enak.
"Ada apa anak itu menghubungiku? Apa jangan-jangan ada sesuatu hal yang terjadi pada Jingga" batinnya dan langsung mengusap tombol hijau di sana.
📲:Halo Gibran. Ada apa?
📲:Gawat Om, Jingga terluka. Saat ini saya sedang di jalan untuk membawanya ke rumah sakit.
📲:Apa!
Setelah itu, Alexander langsung memutuskan sambungan telponnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar kabar jika anak kesayangannya terluka.
"Jingga" ucapnya yang terdengar sangat lirih. Setelah itu, Alexander meminta Langit untuk segera keluar dari sana.
"Ada apa, Om. Kenapa wajah om terlihat panik seperti itu?" tanya Doni yang memang masih ada di dalam mobil.
"Kita harus segera ke rumah sakit, Misi malam ini kita tunda dulu" jawabnya
"Kenapa begitu, Om? Ada apa?" lanjut Faro.
"Jingga terluka. Saat ini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit"
"Inalillahi. Semoga bidadari tidak kenapa-napa"
Langit dan Lana masih sama-sama sibuk mencari berkas yang sudah di ambil oleh Erlangga dari tangan Darwin. Mereka berdua masih setia menggeledah tempat-tempat di sana.
"Di mana si brengsek menyembunyikan berkas-berkas itu. Kenapa tidak ada di mana-mana" ucap Langit kesal.
"Tes tes. Langit, Lana. Keluar sekarang, Malam ini kita sudahi dulu misinya. Ada hal penting yang harus kita urus"
Mendengar itu membuat Langit dan juga Lana langsung keluar dari ruangan itu tanpa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Saat sudah tiba di dalam mobil, Betapa terkejutnya Langit saat mendengar apa yang sudah terjadi pada wanitanya.
"Kita ke rumah sakit MANDALA sekarang" ucap Alexander pada Sandi.
__ADS_1
Mendengar kata rumah sakit membuat Langit dan juga Lana yang belum tau apa-apa langsung mengerutkan keningnya.
"Ke rumah sakit, Untuk apa kita ke sana ayah? Apa ada hal yang terjadi pada papa?" tanya Langit sambil menatap Alexander.
Alexander tak langsung menjawab. Pria paruh baya itu masih mengambil nafas sejenak sebelum mengatakan apa yang sudah terjadi pada Jingga.
"Ayah, Kenapa diam saja? Apa ada hal yang terjadi pada papa?"
Alexander menggeleng"Bukan, Boy. Ini bukan soal papa kamu" balasnya lirih
"Lalu, Kalau bukan soal papa untuk apa kita ke rumah sakit yah?' tanya Langit lagi.
"Jingga terluka"
Mendengar jika Jingga terluka membuat Langit merasa sangat terkejut. "Apa!" balasnya dengan raut wajah yang tak menentu.
"Iya, Boy. Barusan Gibran mengabari ayah jika Jingga terluka"
Langit tak menjawab perkataan Alexander. Pria itu meminta Sandi untuk menepikan mobilnya. Hal itu tentu saja membuat semua orang yang ada di dalam mobil itu merasa cukup heran, Untuk apa Langit malah meminta Sandi menepikan mobilnya.
Setelah Sandi menghentikan mobil itu, Langit turun dari dalam mobilnya dan juga meminta Sandi untuk pindah ke kursi penumpang.
Akhirnya Sandi menuruti perkataan Langit dan pindah ke kursi penumpang.
Setelah itu, Langit melesatkan mobil itu dengan kecepatan di atas rata-rata. Tidak ada yang Langit pikirkan kecuali Jingga untuk saat ini. Bahkan pria itu sampai melupakan keselamatannya sendiri saat ini. Hampir beberapa kali mobil itu mau menabrak pengendara di depannya, Namun karna keahlian Langit, Pria itu selalu saja bisa menghindar.
"Astaga, Hati-hati paketu. Gue masih mau idup" celoteh Doni sambil berpegangan kuat pada safety belt.
"Iya paketu, Gue masih sayang sama nyawa gue" timpal Faro.
Langit yang merasa kesal mendengar ocehan kedua temannya akhirnya membuka suara yang tentu langsung mampu membuat mereka berdua terdiam dan tak lagi berkata apa-apa.
"Diam atau kalian gue turunin di sini" ucap Langit dan masih tetap fokus mengemudi.
Lana dan Damian yang mendengar perkataan Langit hanya bisa mengulum bibir, Ingin rasanya tertawa untuk saat ini.
"Alamak, masa iya gue yang imut begini mau di tinggal di tempat sepi seperti ini, Nanti yang ada gue di culik tante-tante encong lagi" ucap Doni dalam batinnya sambil membulatkan kedua matanya.
__ADS_1
"Ya ampun, Ngeri juga paketu kalau lagi marah. Ya kali gue mau di tinggal di tempat beginian. Nanti yang ada gue di temenin ocong sama mbk kunti, Ih serem" ucap Faro sambil menggelengkan kepalanya.
30 Menit kemudian, Mobil itu sudah tiba di parkiran rumah sakit MANDALA, Langit keluar dari dalam mobil itu sambil berjalan setengah berlari menuju ke ruangan IGD. Satu hal yang Langit takutkan saat ini, Takut Jingga kenapa-napa dan tidak lagi bisa menemaninya.
Dari kejauhan Langit bisa melihat anggota geng UKS dan juga orang-orang yang cukup asing baginya. Kemungkinan besar orang itu adalah orang-orangnya Darwin.
Langit semakin mempercepat langkah kakinya saat melihat pintu ruangan IGD terbuka. "Dokter Dika, Bagaimana keadaan Jingga?" tanya Langit saat sudah tiba di sana. Karna memang kebetulan malam ini tugas dokter Dika yang berjaga malam.
"Jingga membutuhkan donor darah. Dia kehilangan banyak darah. Dan kebetulan stok darah Jingga di rumah sakit ini sedang kosong" terang dokter Dika pada Langit.
"Apa! Jingga membutuhkan donor darah. Kalau boleh tau golongan darah Jingga apa, Dokter?" tanya Langit pada dokter Dika.
"AB+" balas dokter Dika.
Mendengar itu membuat Langit menoleh pada Alexander yang masih berjalan ke arahnya. Langit sangat berharap jika papa mertuanya memiliki golongan darah yang sama dengan Jingga.
"Bagaimana keadaan Jingga?" tanya Alexander yang baru saja tiba.
"Jingga kehilangan banyak darah, Yah. Dia butuh donor darah secepatnya"
"Apa! Golongan darah Jingga apa dokter?"'
"AB+" balas dokter Dika.
"Apa! AB+. Dokter gak salah kan?" tanya Alexander lagi memastikan.
"Tidak, Pak. Golongan darah Jingga memang AB+. memangnya selama ini pak Alex tidak pernah tau apa golongan darah Jingga?"
Alexander menggeleng, Pasalnya memang selama ini pria paruh baya itu tidak pernah tau apa golongan darah Jingga. Kecuali golongan darah Revan yang memang sama dengannya, A+.
"Coba cek lagi, Dokter. Soalnya gak mungkin kalau golongan darah Jingga AB+. Karna golongan darah saya A+. Sedangkan golongan darah almarhum istri saya O" ucap Alexander lagi.
Mendengar itu membuat dokter Dika mengerutkan keningnya. Satu hal yang langsung terbesit dalam benak dokter Dika. Bagaimana bisa anak kandung tidak memiliki darah yang sama dengan salah satu orang tuanya.
"Apa Jingga bukan anak kandung bapak?" tanya dokter Dika to the poin.
"Jangan ngaco, Dokter. Mana mungkin Jingga bukan anak kandung saya"
__ADS_1
"Tapi, Pak. Yang namanya anak kandung, Tentunya akan memiliki golongan darah yang sama dengan salah satu orang tuanya. Lalu Jingga"
Mendengar perkataan dokter Dika membuat Alexander teringat akan kebakaran yang terjadi di rumah sakit tempat di mana istrinya melahirkan. "Apa jangan-jangan Jingga tertukar saat kebakaran waktu itu" batinnya sambil terdiam