
Setelah membaca pesan broadcast itu, Afif dan Ferdi saling lirik"Toni meninggal" ucap mereka secara bersamaan.
"Toni meninggal? Lalu siapa yang sudah mengirim barang-barangnya ke sini?" ucap Rey sambil melirik pada Doni dan yang lain.
"Kita ke rumah Toni sekarang" ucap Langit sambil membawa jaket serta ponsel milik Toni. Ada rasa bersalah dalam benaknya, Jadi selama ini Langit sudah salah paham terhadap sosok Toni yang sudah rela berkorban demi keselamatan Jingga.
"Sebenarnya siapa yang sudah bermain-main denganku" batin Langit sambil naik ke atas motornya.
Namun sebelum mereka melajukan motornya, Rey menatap Langit "Apa lho yakin kalo si Toni sudah ada di rumah?" tanya Rey pada Langit.
"Lho bener juga, Rey. Arif, Bisa lho telfon siapapun,Tanya keberadaan Toni saat ini" seru Langit pada Arif.
"Baik, Bang"
Orang yang bernama Arif mengambil ponselnya, Menghubungi seseorang yang tak lain adalah kakaknya Toni, Sofia. Teman kelas Langit dan yang lain. Hanya saja tidak ada yang tau jika Toni adalah adiknya Sofia. Sosok wanita yang menjadi incaran Faro.
📞:Halo kak, Mau tanya, Apa Toni sudah ada di rumah? Baru saja aku dapat kabar kalau Toni meninggal. Ini anak-anak mau kesana
📞:Toni masih di rumah sakit. Masih di lakukan beberapa pemeriksaan
📞:Baiklah kak, Kami akan ke rumah sakit sekrang, Kak Sofi yang sabar ya
Setelah itu, Sambungan telponnya terputus. Arif mendekat pada Langit dan mengatakan jika Toni masih ada di rumah sakit.
__ADS_1
"Kata kakaknya, Toni masih di rumah sakit, Bang" terang Arif sama Langit.
"Baiklah, Kita ke rumah sakit sekarang" ucap Langit dan langsung menyalakan mesin motornya.
Di Tempat Lain
"Bagaimana, Apa kamu sudah memastikan jika anak itu sudah mati?" tanya seseorang pada pria yang terlihat ketakutan.
"S... sudah, Tuan. Saya sudah memastikan jika dia meninggal di tempat" balasnya
"Good, Itu adalah akibat karna sudah ikut campur sama urusan saya. Siapapun yang berani melindungi gadis itu, Maka dia harus siap-siap menjadi pelampiasan amarah saya.
Mendengar itu membuat Rendi membulatkan kedua matanya, Rendi menelan ludahnya kasar. Teringat akan insiden yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri dia tahun yang lalu.
"Kita lihat saja, Siapa yang akan menjadi korban setelah ini" ucap orang itu lagi.
Pria yang bernama Rendi semakin merasa ngeri saat mendengar apa yang baru saja terlontar.
"Kok jadi ngeri begini ya ampun" batinnya lagi
Pria yang berkata itu membuat nya teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu, Tepatnya saat dimana dia akan melakukan sebuah rencana untuk mencelakai Jingga.
Flashback beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Seseorang mengikuti Jingga saat melihat Jingga keluar rumah seorang diri, Tanpa ada Langit yang menemaninya. Melihat itu membuat pria berbaju hitam mengukir senyum licik.
"Kita lihat saja, Darwin. Apa yang bisa saya lakukan terhadap anak kandungmu" ucap Pria itu sambil melajukan mobilnya.
Entah apa alasannya melakukan hal itu, padahal orang yang bernama Darwin adalah partner nya sendiri.
Setelah memastikan taksi yang Jingga tumpangi lewat di salah satu jalan sepi, Pria itu mempercepat laju mobilnya dan menghadang mobil taksi yang Jingga tumpangi.
Tepat saat sosok itu sudah menarik paksa Jingga buat keluar dari dalam mobil, Bersamaan dengan itu, ada sebuah motor yang berhenti di sana.
"Lepaskan dia" ucap pria itu
"Tidak usah ikut campur!" Bentak orang yang menggunakan pakaian serba hitam.
"Kalau pengangkut dia, Itu artinya sudah berurusan dengan saya" balas Toni
Sehingga terjadilah baku hantam di sana. Toni yang berusaha melindungi Jingga hampir saja membuatnya terluka, Hanya saja karna keahlian Toni, Pria itu bisa menghindar dengan cepat dan membuat pria berbaju hitam yang terluka.
"Brengsek! Lihat saja, Nanti saya akan membalas kejadian malam ini. Kamu tunggu saja tanggal mainnya" ucap pria itu dan langsung pergi dari sana.
"Saya permisi tuan"
Suara itu membuat Erlangga tersadar dari bayangan kejadian beberapa hari yang lalu. Ya, Dalang dari kematian Toni adalah Erlangga.
__ADS_1