Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Selamat jalan


__ADS_3

"Siapa kira-kira yang sudah melakukan ini pada Toni? Gue masih gak nyangka, Ternyata selama ini kita sudah salah sangka sama Toni" ucap Rey sambil menatap ke arah Langit yang saat ini sedang menunjukkan raut wajah datar dinginnya.


"Gue juga masih tak percaya, Ternyata kita sudah salah menilai Toni. Apa selama ini Toni pernah punya musu?" tanya Lana sambil menoleh pada Arif dan juga Ferdi.


Mendengar itu membuat mereka berdua saling lirik"Kita gak tau, Bang. Karna memang Toni tidak terlalu terbuka. Abang tau sendiri kan dia anaknya lebih banyak diam dan menyendiri. Makanya tidak ada siapapun yang tau banyak tentangnya" balas Arif pada Lana.


Lana mengangguk"Iya, Gue juga perhatiin itu anak seperti tertutup. Bahkan gue gak nyangka jika dia adalah adik dari Sofia teman kelas kita" balas Lana.


"Bagaimanapun caranya, Gue harus menemukan siapa pelakunya. Kematian Toni sungguh menjadi teka teki, Apalagi setelah mendengar rekaman suaranya" balas Langit sambil mengambil nafas panjang.


Setelah cukup lama di sana. Langit bangun dari duduknya. Pria itu mengajak semua teman-temannya untuk pulang. Karna memang jari sudah semakin larut, Besok mereka masih harus pergi kesekolah.


"Kita pulang sekarang. Jangan lupa, Besok setelah pulang sekolah kita berkumpul di markas" ucap Langit dan langsung pamit pada kedua orang tua Toni dan juga Sofia yang masih terlihat sangat luka.


"Tante, Om. Saya permisi. Om dan Tante tenang saja, Saya janji akan membantu mencaritahu siapa yang sudah melakukan hal ini pada Toni. Siapapun dia, Dia akan menerima ganjaran yang setimpal" ujar Langit pada kedua orang paruh baya itu.


"Iya, Nak. Terimakasih karna sudah mau hadir di acara pemakaman Toni"


"Sama-sama, Tante. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Setelah itu, Langit melangkahkan kakinya keluar, Sejenak dia menatap salah satu anggota geng motornya yang terlihat sedikit aneh. Hal itu tentu saja membuat Langit menaruh rasa curiga pada anak itu.


"Kenapa sejak tadi dia terlihat mencurigakan, Sepertinya gue harus menyelidikinya. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan" ucap Langit dalam batinnya sambil melewati anak itu. Siapa kira-kira orang itu?


****


Erlangga baru saja tiba di mansion nya. Pria paruh baya itu turun dari dalam mobilnya dengan wajah yang tak menentu.


Lexan yang memang kebetulan malam ini stay di rumah atau lebih tepatnya di balkon kamarnya memicingkan kedua matanya. Pasalnya, Sang papa terlihat sangat mencurigakan.


"Ada apa dengan papa, Kenapa wajahnya terlihat begitu ya, Gak kayak biasanya" ucap Lexan sambil terus memperhatikan Erlangga yang berjalan cepat keluar dari dalam mobil.


"Sudahlah, Tak penting juga" ucap Lexan lagi dan mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Parah, Kenapa makin kesini gue makin terbayang-bayang wajahnya wanita itu. Apa ini artinya gue jatuh cinta" ucap Lexan sambil terus menatap foto Jingga yang dia ambil secara diam-diam tadi siang.


"Wanita ini memang berbeda dari yang lain. Sepertinya aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya" ucap Lexan lagi


Di Luar


Setelah turun dari dalam mobilnya, Erlangga masuk ke dalam rumahnya. Naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Setelah tiba di dalam kamarnya, Erlangga langsung masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuhnya dari percikan daran Toni yang sedikit banyak menempel pada pakaiannya.


"Seharusnya yang menjadi korban di sini anaknya si Darwin. Arrggghhh, Dasar anak bodoh, Mau-maunya dia berkorban untuk wanita itu" ucap Erlangga sambil memasukkan baju yang tadi dia gunakan pada tempat sampah.


"Baju ini harus secepatnya aku bakar. Aku tidak mau sampai ada satu orangpun yang tau jika akulah dalang dari semuanya. Biarlah mereka mengira jika pelakunya adalah Yuna" ucap Erlangga sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Dasar bodoh, Mau saja aku kibulin. Kita lihat saja, Yuna. Segalanya akan aku lampiaskan padamu. Dan kamu yang akan menanggung getah malam ini" ucapnya lagi.


****


Bruumm....Brummmm


Mendengar suara mesin motor membuat Jingga yang sejak tadi terdiam tak tenang di sofa rumahnya seketika bangun dari duduknya. Wanita itu berjalan cepat menuju pintu utama.


"Itu kak Langit sudah pulang, Yah" ucapnya sambil menoleh pada Alexander.


Setelah pintu utama telah terbuka, Jingga bisa langsung melihat sosok Langit yang sudah tersenyum hangat padanya. "Assalamualaikum" ucapnya yang terdengar sangat lembut.


"Waalaikum salam, Kak" balas Jingga sambil mencium punggung tangan Langit seperti biasa.


"Kenapa kamu belum tidur, Sayang? Ini kan sudah sangat malam" tanya Langit pada Jingga


"Maaf kak. Jingga gak bisa tidur. Bagaimana kejadiannya kak, Kenapa Toni bisa meninggal?" tanya Jingga setelah mereka tiba di ruang tengah.


Mendengar pertanyaan Jingga membuat Langit mengambil nafas sejenak"Entahlah, Sayang. Aku juga tidak tau pasti seperti apa kejadiannya. Tapi yang pasti, Ada seseorang yang saat ini sedang bermain-main. Sampai kapanpun, Aku akan mencari tau siapa dalang dari semua ini. Siapapun dia, Dia harus menerima ganjaran yang setimpal dengan apa yang sudah dia lakukan terhadap Toni" ucap Langit sambil menatap Jingga.


"Sepertinya memang sedang ada yang ingin bermain-main denganmu, Boy. Kamu harus hati-hati, Karna bisa saja pelakunya adalah orang terdekat" ucap Alexander sambil menoleh pada Langit.


"Ayah benar, Ada seseorang yang aku curigai atas kejadian malam ini"

__ADS_1


"Siapa, Kak?" tanya Jingga penasaran.


"Nanti kalau sudah pasti aku kasih tau kamu ya sayang. Untuk saat ini, Biarkan aku mencari tau kebenarannya dulu"


"Baiklah, Kak. Semoga siapapun pelakunya, Dia bisa mendapatkan ganjaran yang setimpal. Gak nyangka, Ternyata tadi siang adalah pertemuan terakhirku dengan Toni" ujar Jingga sambil mengambil nafas pelan.


Perkataan Jingga membuat Langit mengerutkan kecil keningnya"Maksud kamu bagaimana, Sayang? Memangnya tadi siang kamu sempat bertemu dengan Toni?" tanya Langit sambil menatap Jingga.


Jingga mengangguk pelan. Ingatannya kembali pada kejadian tadi siang di rumah sakit.


Flashback rumah sakit.


Jingga membalikkan tubuhnya saat tubuh sang ayah sudah keluar dari dalam kamarnya. Wanita itu memainkan ponselnya karna merasa cukup bosan hanya berdiam di dalam ruang rawat, Terlebih lagi sendirian. Hingga tak berselang lama, Jingga kembali mendengar suara langkah kaki dan pintu yang di buka.


Ceklek


"Ayah gak jadi pulang?"ucap Jingga sambil membalikkan tubuhnya. Namun keningnya mengerut kecil saat melihat jika yang datang bukanlah sang ayah, Melainkan Toni.


Melihat kedatangan Toni, Jingga bangun dari tidurnya."Loh, Toni" ucap Jingga sambil menatap Toni yang sedang berjalan ke arahnya.


"Hai, Jingga. Bagaimana keadaan kamu?" tanyanya.


"Keadaan aku alhamdulilah sudah membaik, Hari ini aku juga sudah boleh pulang. Kamu kok tau aku ada di sini?"


"Saat dengar kalo kamu di rawat di rumah sakit, Aku langsung kesini. Tadi tanya sama resepsionis kamar kamu"


"Terimakasih sudah mau jenguk aku"


"Iya, Sama-sama. Kemungkinan besar ini adalah pertemuan terakhir kita, Karna setelah ini, Aku akan pindah sekolah ke luar negri. Kamu jaga diri baik-baik ya, Maaf aku tak lagi bisa membantu kamu" ucap Toni sambil duduk di depan Jingga.


"Kenapa mau pindah sekolah? Memangnya sekolah di sana kenapa?"


"Aku pindah sekolah di luar negri karna memang ingin aja. Sekalian aku bisa tinggal dengan kakek dan nenekku di sana. Sampai bertemu lagi, Jingga" ucap Toni sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Jadi tadi siang Toni sempat datang ke rumah sakit, Sayang?" tanya Langit sambil terus menatap Jingga.

__ADS_1


Hal itu tentu saja membuat Jingga langsung tersadar dari lamunan kejadian tadi siang.


"Jadi ini maksudnya, Selamat jalan, Toni. Tempat terbaik buat kamu" batin Jingga lirih


__ADS_2