
Di Rumah sakit Mandala
"Bagaimana kepastian tentang keadaan papa saya, Dokter? Apa masih ada kemungkinan beliau untuk sadar?" tanya Langit pada dokter Dika. Dokter yang selama ini sudah menjadi dokter kepercayaan Langit untuk memantau keadaan papanya yang tak kunjung bangun.
Dokter dika menatap Langit sambil mengambil nafas panjang"Entahlah, Saya juga tidak bisa berkata apa-apa. hanya ada 10% Kemungkinan tuan Pratama bisa sadar" jawabnya pada Langit.
"Tapi kemungkinan itu masih ada kan, Dok? saya masih ada harapan untuk kesadaran papa saya kan dok?" tanya Langit lagi.
"Insyaallah, Bukan kah tidak ada yang tidak mungkin selama allah menghendaki"
Mendengar itu membuat Langit tak lagi berkata apa-apa. Pandangannya kembali fokus pada sosok papanya yang sudah hidup karna bantuan alat ventilator.
"Cepat sadar, Pa. Jangan terlalu lama tidur, Langit masih begitu membutuhkan papa, Langit mohon bertahan demi Langit, Pa" ucap Langit dalam batinnya.
"Sabar kak. Kita hanya bisa berdoa yang terbaik buat papa. Semoga masih ada keajaiban yang membuat papa tersadar dari tidur panjangnya" ucap Jingga lembut sambil menggenggam tangan Langit.
"Iya tapi harus sampai kapan, Sayang. Selama satu tahun, Papa tidak ada kemajuan. Keadaan nya masih saja terus seperti ini"
"Jangan pesimis kak. Yakin jika papa masih ada harapan untuk bisa sadar"
Tanpa sadar Air mata Langit meluruh begitu saja, Rasanya begitu sakit saat teringat jika Darwin yang sudah membuatnya harus hidup tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya. .
"Kita pulang sekarang, Sayang. Aku masih ada urusan penting yang sama sekali tidak bisa aku tinggal"'ucap Langit sambil menatap Jingga.
Jingga yang melihat ada raut kemarahan dari wajah Langit seketika membuat wanita itu paham, Kenapa Langit mengajaknya pulang secara tiba-tiba.
"Istighfar, Kak. Jangan gegabah. Jangan melakukan sesuatu di saat hatimu sedang kalut. Jingga tau apa alasan kak Langit mengajak Jingga untuk pulang secara tiba-tiba.
"Tidak kok, Sayang. Aku tidak akan melakukan apa-apa" seru Langit yang masih berbohong.
Jingga menatap kedua bola mata Langit"Kak, Aku menjadi istrimu bukan hanya sehari, dua hari. Tapi sudah dua tahun lamanya. Jingga bisa membaca apa yang ada di pikiran kakak saat ini" ucap Jingga sambil terus menatap kedua bola mata itu.
"Tapi saat melihat papa seperti ini, Rasanya aku ingin segera membalaskan rasa sakit hati ini terhadap Darwin"
"Kak, Bukan kah kamu sendiri yang bilang jika semua ada waktunya. Tunggu waktu yang tepat untuk membalaskan rasa sakit hati itu. Jingga tau bagaimana perasaan kakak saat ini. Karna itulah yang saat ini juga Jingga rasakan. Luka mu adalah luka ku, Kak. Aku bisa merasakan apa yang saat ini kamu rasakan kak. Karna aku dan kamu adalah kita" ucap Jingga yang terdengar sangat lembut.
Akhirnya setelah mendengar perkataan Jingga sedikit demi sedikit rasa amarah Langit yang tadi sempat naik ke ubun-ubun sudah mulai mereda. Apa yang di katakan Jingga memang ada benarnya. Jangan pernah melakukan hal di saat hati sedang di penuhi emosi.
"Kita pulang sekarang ya sayang, Aku sudah berjanji pada ayah jika setelah dari rumah sakit akan langsung ke sana. Takut ayah menunggu lama" ujar Langit sambil menoleh pada Jingga.
"Ya sudah, Tapi hati kakak sudah mulai tenang kan?"
Langit mengangguk"Sudak kok sayang" jawabnya sambil tersenyum.
Setelah itu. Langit dan Jingga berjalan keluar dari ruangan Pratama. Namun belum sempat mereka tiba di ambang pintu, Ada sosok yang berhasil membuat Langit dan Jingga menghentikan langkah kakinya.
Deg!
Langit yang melihat keberadaan sosok wanita paruh baya yang sempat dia lihat di rekaman video yang sempat Samudra tunjukkan membuat Langit merasa sangat terkejut.
"Wanita ini. Bukan kah dia orang yang ada di rekaman video yang sempat Sam tunjukkan. Istrinya papa"ucap Langit dalam batinnya sambil menatap wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Bukan hanya Langit, Ayuning pun ikut menatap Langit tanpa mau berkedip. Pasalnya ini adalah pertama kalinya Ayuning berpapasan seperti ini dengan anak dari suaminya.
"Langit, Anak tiriku" batin Ayuning sambil menatap Langit.
Jingga hanya memperhatikan Langit dan Ayuning secara bergantian. "Siapa tante ini" batinnya yang terlihat penasaran.
"Ngapain anda kesini?" ucap Langit dengan nada dingin sambil menatap tajam Ayuning.
"Langit, Maafkan bunda yang sudah merebut papa dari mama kamu. Tapi kamu harus tau kalau pernikahan kami terjadi hanya karna sebuah kesalahpahaman" terangnya
"Jangan pernah berharap saya mau menerima anda sebagai ibu sambung saya dan memanggil anda dengan sebutan bunda. Karna saya tidak akan pernah mau memanggil anda dengan sebutan itu" ucap Langit dan langsung kembali melangkahkan kakinya.
Namun langkah Langit kembali terhenti saat mendengar suara Ayuning menerpa indra pendengarannya lagi.
"Kamu boleh membenci bunda nak, Tapi bunda mohon, Jangan pernah kamu membenci bintang. Karna Bintang adalah darah daging papa. Dia adik kandung kamu" Seru Ayuning yang terdengar sangat lirih.
Langit tak menjawab, Pria itu hanya terdiam di tempat. Tidak tau apa yang harus dia katakan untuk menjawab perkataan yang terlontar dari mama tirinya.
Ayuning berjalan dan berhenti tepat di depan Langit"Coba kamu liat wajah Bintang, Wajahnya terlihat sangat mirip seperti kamu. Wajah kalian benar-benar sama" ucap Ayuning lagi.
Langit hanya melirik sekilas tanpa menunjukkan ekspresi apapun dari wajahnya. Tetap dingin tanpa ekspresi.
"Ternyata wajahnya benar-benar mirip seperti kak Langit" ucap Jingga dalam batinnya sambil menatap Bintang yang sedang terlelap dan damai dalam tidurnya.
"Sudahkan? Kalau begitu biarkan saya pergi" ujar Langit yang terdengar sangat dingin.
Mendengar itu membuat Ayuning mengambil nafas panjang sambil menatap punggung Langit yang sudah keluar dari ruangan itu.
"Maafkan bunda yang mungkin sudah membuatmu terluka dan kecewa, Langit. Tapi bunda tidak pernah ada maksud akan hal itu. Bunda janji, Akan berusaha menghilangkan rasa benci itu dari kamu. Bunda akan berusaha membuat kamu mau menerima Bintang sebagai adik" ucap Ayuning sambil terus menatap punggung Langit yang sudah semakin menjauh.
"Aku tau kamu kecewa, Kak. Tapi mau bagaimanapun, Kamu tidak bisa menolak takdir jika Bintang adalah adik kandung kamu" batin Jingga sambil melirik Langit yang masih setia menggenggam tangannya.
"Maafkan kakak yang belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan ini, Bintang. Kakak hanya perlu waktu untuk bisa menerima semuanya. Menerima kenyataan jika papa kita satu orang yang sama" ucap Langit dalam batinnya.
Setelah tiba di parkiran, Langit dan juga Jingga langsung masuk ke dalam mobilnya. Langit langsung melesatkan mobil itu keluar dari gedung rumah sakit dengan kecepatan yang sedang. Sekilas Langit teringat akan wajah adiknya yang bernama Bintang. Wajahnya memang benar- benar mirip dengan dirinya saat masih kecil dulu.
"Wajah kita memang sangat mirip, Bintang. Tapi maafkan kakak yang belum bisa bersikap selayaknya saudara. Kakak masih butuh waktu untuk menghilangkan rasa kecewa yang sudah terlanjut berlarut hingga menjadi rasa sakit" batin Langit sambil melajukan pelan mobilnya.
45 Menit kemudian. Mobil itu sudah tiba mansion keluarga Jingga. Masih seperti saat sedang di rumah sakit. Tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Jingga memilih dian dan menunggu agar Langit yang berbicara terlebih dahulu.
"Assalamualaikum" ucap Jingga saat sudah masuk ke dalam mansion. Di sana ternyata sudah ada Alexander yang menunggu kedatangan mereka berdua di ruang keluarga.
"Selamat malam, Ayah" seru Jingga sambil mencium punggung tangan ayahnya dengan kedua sudut bibir yang terangkat.
"Selamat malam princes nya ayah. Akhirnya kalian datang juga, Ayah pikir kalian tidak akan datang"
"Maaf ya ayah, Kami berdua datangnya kemalaman. Tadi saat kami berdua sudah mau pulang, Tiba-tiba saja ada wanita itu bersama dengan anaknya" ucap Langit sambil duduk di samping Alexander.
Mendengar perkataan anak menantunya membuat Alexander mengerutkan keningnya. "Wanita itu bersama dengan anaknya? Maksud kamu Ayuning?" tanya nya sambil menatap Langit.
"Iya, Ayah"
__ADS_1
Tanpa terasa malam sudah berlalu.Jingga turun dari kamarnya dengan pakaian yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
"Morning, Ayah, Bang Revan" ujar Jingga setelah turun dari dalam kamarnya.
"Morning adik abang yang paling ngeselin" balas Revan sambil mengulum bibir.
"Ih apaan sih bang, Masih pagi jangan buat Jingga kesel"
"Justru karna sekarang masih pagi adikku sayang. Saat yang tepat untuk menguji kesabaran kamu" ucap Revan lagi.
"Dasar abang bengek emang. Sampai kapan akan selalu bengek dan tidak bisa di rubah. Awas saja, Nanti akan aku aduin sama kak Feli kalau abang itu playboy"
"Dih. Ngapain bawa-bawa Felisa. Awas saja kalau lho sampai ngomong yang tidak-tidak sama Felisa. Gue pecat jadi adek lho"
"Pecat aja, Gue gak takut. Yang penting mah ayah yang tak kan pernah memecat Jingga jadi anak. Wleee"
Revan tak langi menjawab, Pria itu hanya mengangkat sebelah sudut bibirnya sambil menatap Jingga.
Saat sudah memastikan Jingga dan Revan tidak meneruskan perdebatan lagi, Barulah Alexander menjawab sapaan selamat pagi yang baru saja Jingga utarakan padanya.
"Morning princess nya ayah. Suami mu mana , Sayang?" tanya Alexander saat melihat Jingga hanya turun seorang diri.
"Kak Langit sedang ganti baju, Ayah. Ayah mau Jingga buatkan kopi, Sekalian Jingga mau buatkan kopi kak Langit" tawar Jingga sambil berjalan ke arah dapur.
"Mau dong sayang" ucap Alexander cepat.
"Kopi hitam tidak terlalu manis kan yah?"
"Iya sayang. Kamu masih ingat sama kopi kesukaan ayah?"
"Tentu. Jingga tidak akan pernah lupa segala hal yang menjadi kesukaan ayah. Kecuali kesukaan bang Revan yang sudah sejak lama Jingga lupakan.
Revan yang mendengar itu mengangkat sebelah sudut bibirnya"Dasar adik menyebalkan memang. Liat itu yah, Anak ayah sangat menyebalkan" ucap Revan sambil menatap Jingga kesal.
"Tak sadar diri. Perasaan aku ngeselin juga karna didikan dari situ" ucap Jingga pelan.
Melihat raut wajah abangnya membuat Jingga mengulum bibir"Oke oke, Jingga buatkan. Masih tetep suka kopi susu kan?" ucap Jingga sambil menyeduh kopi hitam untuk ayah dan juga suaminya.
Pagi ini mereka hanya sarapan dengan roti bakar yang sudah di siapkan oleh Alexander beberapa saat yang lalu. Karna asisten rumah tangga yang bagian masak sedang ijin tidak bekerja karna suaminya sedang sakit.
Alexander masih mengingat jelas sarapan kesukaan kedua anaknya, Roti panggang dengan selai coklat namun tidak terlalu garing.
Sejak mereka kecil, Alexander selalu bisa menjadi sosok ayah sekaligus ibu yang sangat baik buat kedua anaknya. Pria itu tidak membiarkan Jingga dan Revan kekurangan kasih sayang sedikitpun.
Tak lama kemudian, Langit turun dengan keadaan yang sudah terlihat sangat rapi dan ikut duduk bergabung bersama dengan mereka semua.
"Selamat pagi" ucap Langit sambil duduk di samping Revan
"Pagi" balas Revan dan Alexander secara bersamaan
Langit meneguk kopi hitam yang sudah di siapkan oleh Jingga. Kopi yang sudah menjadi candu buat Langit sejak dua tahun yang lalu.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Strategi yang ayah bilang malam tadi, Boy. Apa kamu setuju?"tanya Alexander sambil menatap Langit.
Langit meletakkan cangkir kopi itu"Boleh, Ayah. Langit setuju dengan strategi yang sudah ayah bicarakan tadi malam. Langit setuju, Sangat setuju. Itu strategi brilian yang perlu kita coba, Ayah" balas Langit sambil tersenyum pada papa mertuanya.