
"Tidak salah lagi, Mereka benar-benar tertukar" ucap Alexander dalam batinnya.
Langit yang mendengar Darwin mengatakan jika golongan darahnya adalah AB+, Membuat Langit berjalan cepat keluar ruangan IGD. Langit mengejar dan memanggil dokter Dika yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Dokter Dika, Tunggu. Saya sudah menemukan pendonor untuk Jingga" ucap Langit sambil menatap dokter Dika.
"Oh ya, Bagus. Kita bisa segera melakukan transfusi darah untuk menyelamatkan Jingga" balas dokter Dika sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Dimana orangnya?"
"Ada di ruangan IGD dokter" seru Langit dan kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan IGD itu lagi.
Langit berjalan ke arah ranjang Darwin"Dia orang yang akan mendonorkan darah untuk Jingga, Dokter" ucap Langit setelah tiga di sana.
Darwin yang mendengar itu mengerutkan kecil keningnya"Siapa bilang saya mau mendonorkan darah untuknya"gumam Darwin sambil menoleh pada Langit yang tidak menunjukkan ekspresi apapun di sana.
"Ada atau tanpa persetujuan anda, Transfusi darah akan tetap berlangsung"balas Langit dingin.
Dokter Dika menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal, Cukup bingung dengan situasi saat ini. Dokter itu menoleh pada Darwin yang sudah terdiam.
"Ayo dokter, Tunggu apa lagi. Segera lakukan transfusi darah pada Jingga, Ada atau tanpa ijin darinya sekalipun"
Dokter Dika mengangguk dan langsung meminta suster untuk menyiapkan semuanya.
Di saat dokter Dika mengambil darah Darwin, Alexander menatap Darwin sambil memejamkan kedua matanya sejenak.
"Apa sebaiknya saya melakukan tes DNA untuk lebih meyakini. Jika Jingga bukan putri kandungku, Lalu di mana putri kandungku saat ini" batinnya sambil terus memperhatikan Darwin yang sedang di ambil darahnya.
"Jika sampai Jinggaku kenapa-napa, Siap-siap anda akan menerima akibatnya" ucap Langit yang terdengar sangat dingin.
"Sudah cukup sus" ucap dokter Dika pada suster Wulan. Seorang suster magang yang baru masuk sore tadi.
"Iya, Dokter" balasnya pelan.
"Ambil saja kalau masih kurang" titah Darwin pada dokter Dika.
Entah kenapa saat melihat Jingga terbaring lemah seperti itu membuat hatinya terasa sakit, Sakit seperti teriris. "Ada apa denganku. Kenapa hatiku terasa sangat sakit melihat anak itu terbaring lemah seperti itu" ucap Darwin dalam batinnya sambil memperhatikan Jingga yang masih setia menutup kedua matanya.
__ADS_1
Setelah kepergian dokter Dika dan suster Wulan. Ruangan itu kembali sunyi, Tidak ada yang membuka suara. Langit memilih untuk fokus menatap Jingga sambil menggenggam erat tangannya.
"Cepat sadar, Sayang. Aku mohon jangan seperti ini. Melihat kamu kayak gini duniaku seakan berhenti berputar, Hatiku terasa sangat sakit. Aku mohon bertahan demi aku" ucap Langit sambil mencium tangan Jingga.
"Maafkan om yang selama ini sudah salah paham, Langit. Om benar-benar minta maaf akan hal itu" ucap Darwin secara tiba-tiba.
Mendengar itu membuat Langit menoleh pada Darwin"Apa om tau, Karna kesalahpahaman itu, Langit kehilangan mama, Papa harus hidup dengan bantuan alat medis. Langit kehilangan kasih sayang yang seharusnya masih bisa Langit rasakan" balas Langit yang terdengar sangat lirih.
"Om benar-benar mohon, Maafkan om yang sudah salah alamat, Langit"
"Sayangnya permintaan maaf om tidak akan pernah bisa menghidupkan mama kembali"
Alexander memutuskan untuk keluar dari ruangan IGD itu, Mencari ruangan dokter Dika dan memintanya untuk membantunya melakukan tes DNA terhadap Jingga dengan Darwin.
Setelah menemukan ruangan dokter Dika, Alexander mengetuk pintunya dan langsung masuk.
"Pak Alex, Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Dika pada Alexander.
Alexander tak langsung menjawab, Pria paruh baya itu masih mengambil nafas panjang sejenak.
"Saya butuh bantuan dokter"
"Saya mau dokter Dika melakukan tes DNA terhadap Jingga dengan Darwin"
Lagi-lagi perkataan Alexander membuat dokter Dika semakin mengerutkan keningnya"Untuk apa, Pak?" tanya nya sambil menatap Alexander.
"Saya hanya ingin memastikan, Dokter. Tapi jangan sampai kasih tau hal ini pada siapapun, Termasuk Langit, Jingga dan juga Darwin"
"Baiklah, Saya akan membantu pak Alex untuk hal itu"
"Janji jangan bilang sama mereka ya, Dok"
dokter Dika mengangguk"Iya, Pak. Saya tidak akan memberitahu siapapun. Bapak tenang saja" ucapnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Terimakasih, Dokter. Kalau begitu saya permisi dulu"
*****
__ADS_1
Tanpa terasa malam sudah berlalu, Pagi ini Langit masih setia menemani Jingga yang masih lelap dalam tidurnya. Wanita itu sudah sadar malam tadi jam 00:45.
"Langit, Hari ini kan mau harus sekolah, Pulanglah, Biar ayah yang akan menjaga Jingga di sini" ucap Alexander sambil menepuk pelan pundak Langit.
"Tidak, Ayah. Hari ini Langit tidak akan masuk sekolah. Langit akan di sini menemani Jingga" jawab Langit sambi menoleh pada Alexander.
"Ayolah, Boy. Kamu kan hanya masuk sekolah kemarin, Masa iya hari ini tidak mau masuk lagi. Lagian Jingga kan sudah baik-baik saja, Pulanglah lalu pergi ke sekolah. Biar ayah yang akan menjaga Jingga di sini"
Setelah cukup lama terdiam, Akhirnya Langit mengangguk. Karna apa yang baru saja Alexander katakan ada benarnya. Tidak mungkin jika Langit tidak masuk sekolah lagi hari ini.
"Baiklah, Ayah. Langit titip Jingga ya, Kalau ada apa-apa ayah langsung hubungi Langit"
"Tentu, Boy. Hati-hati di jalan"
Langit mengambil jaketnya dan mencium punggung tangan Alexander. Pria itu keluar dari ruangan Jingga dengan langkah lebar. Karna jam sudah menunjukkan pukul 05:00.
Sedangkan Alexander. Setelah kepergian Langit, Pria paruh baya itu duduk di samping Jingga sambil menatap raut wajah putri kesayangannya. Ada rasa takut yang terbesit dalam benaknya. Bagaikan mimpi jika golongan darah Jingga berbeda dengannya.
"Bagaimana jika seandainya kamu benar-benar anak dari Darwin, Sayang. Ayah tidak pernah terbayang bagaimana hidup ayah tanpa kamu. Kamu hidup ayah, Kamu segalanya" batin Alexander sambil terus menatap raut wajah Jingga.
Tanpa sadar satu butir bening itu berhasil lolos begitu saja. Alexander benar-benar merasa takut akan hal yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
"Ayah tidak tau bagaimana hidup ayah nanti, Jingga. Semua ini terasa seperti mimpi terburuk yang pernah singgah dalam tidur ayah. Ayah sangat takut jika harus kehilangan kamu, Sayang. Kamu anak ayah, Selamanya akan selalu menjadi anak ayah" batin Alexander lagi.
Tak berselang lama, Jingga menggeliat dan membuka kedua matanya. Mengerjab beberapa saat untuk menyesuaikan pencahayaan yang baru saja masuk pada indra penglihatannya.
Jingga menoleh pada ayahnya yang sudah mengusap kedua matanya yang mulai basah"Ayah. Ayah kenapa nangis?" tanya Jingga pada Alexander.
Mendengar suara itu membuat Alexander menatap raut wajah Jingga"Ayah tidak apa-apa, Sayang. Ayah nangis hanya karna takut terjadi sesuatu sama kamu" ucapnya berbohong.
"Ayah tidak berbohong sama Jingga kan?"
"Tentu saja tidak, Sayang. Mana mungkin ayah mau berbohong sama princes nya ayah yang paling ayah sayang" ucapnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Jingga sayang ayah" ucap Jingga sambil menatap Alexander.
"Ayah juga sayang sama Jingga. Sangat"
__ADS_1
"Bagaimana jika rasa takut ayah menjadi nyata, Jingga. Apa yang akan ayah lakukan tanpa ada kamu yang menemani ayah" batinnya