Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Dia adalah


__ADS_3

"Wanita itu benar-benar menggemaskan" ucap Lana dalam batinnya sambil terus memperhatikan yang sedang terlihat bingung.


"Kalo cinta harus gerak cepat, Sebelum penyesalan yang lho rasakan" bisik Langit tepat di telinga kanan Lana.


Mendengar itu membuat Lana menoleh pada Langit yang sudah berjalan keluar dari dalam kelas itu"Tunggu paketu" ucap Lana sambil terus melirik pada Olive. Tanpa sadar, Pria itu hampir saja terjatuh karna pandangannya hanya fokus pada Olivia.


"Lana aw"


Belum sempat Faro menyelesaikan perkataannya, Lana sudah tersungkur ke lantai karna terlalu fokus menatap Olivia.


Brugh


Semua siswa kelas 11 mengulum bibir melihat Lana sudah berciuman dengan lantai kelas di sana."Kamu gak papa kan Lana?" ucap Olive sambil berjalan mendekat pada Lana.


Suara itu membuat Lana mengangkat wajahnya, Jantungnya berdetak cepat saat melihat Olive sedang berjalan ke arahnya.


"Are you oke? Kenapa bisa sampek jatoh sih Lan. Aku tau kalau aku cantik. Tapi gak gitu juga liatnya" ucap Olive sambil membantu Lana berdiri dan mengulum bibirnya.


Lana terdiam. Jantungnya berdetak sangat cepat. Apalagi saat Olive memegang tangannya, Rasanya jantung Lana mau lompat dari tempatnya.


"Astaga jantungku. Kenapa harus berdetak cepat seperti ini. Duh, Jangan sampai Olive denger, Bisa tengsin dong aku" batin Lana sambil menatap Olive.


"Lain kali biasa ajah liatnya ya" ucap Olive sambil mengulum bibir dan menepuk pelan pundak Lana.


Lana terdiam. Tidak ada satu katapun yang bisa keluar dari mulutnya. Saat Olive memegang tangannya, Lana seakan terpaku di sana. Kakinya terasa sangat berat untuk sekedar melangkah keluar dari sana.


"Ehem ehem. Sepertinya sudah lampu ijo itu. Tinggal tancap gas sebelum lampu merah datang" ucap Faro dari tempat duduknya sambil terkekeh.


"Iya nih, Sepertinya kita bakal dapet 2 peje sekaligus Far" timpal Doni sambil melirik pada Rey dan juga Sisil


"Sudah sudah. Sekarang kalian siap-siap untuk remidi. Kumpulkan semua bukunya di depan" ucap bu Tiwi sama semua siswa yang harus menambah nilai ulangan minggu lalu.


"Iya bu" ucap mereka secara bersamaan.


Lana sudah berjalan cepat menyusul Langit yang sudah semakin menjauh. Langit memang tidak tau apa yang sudah terjadi pada Lans barusan.

__ADS_1


"Paketu tungguin gue elah" ucap Lana pada Langit.


Suara itu seketika berhasil membuat Langit menghentikan langkah kakinya. Langit membalikkan tubuhnya dan menatap Lana yang masih berjalan ke arahnya.


"Kenapa lho ketinggalan? Kan tadi kita bareng keluarnya?" tanya Langit pada Lana sambil mengerutkan kecil keningnya.


Lana yang baru saja tiba tak langsung menjawab. Masih mengambil nafas panjang sejenak. "Tadi gue jatoh di kelas paketi. Njir bikin malu aja ya ampun" ucap Lana pada Langit.


Mendengar perkataan Lana membuat Langit terkekeh"Kenapa bisa jatoh? Jangan bilang karna ngeliatin Olive?" ucap Langit pada Lana.


"Kok kamu tau semua ini karna gue ngeliatin Olive, Paketu?"


"Ya tau lah, Secara kan dunia lho bisa teralihkan dengan Olive. Udah paham gue mah"


Lana tak lagi menjawab, Apa yang baru saja Langit katakan memang ada benarnya. Dunia Lana sudah teralihkan dengan Olive.


******


"Ada apa denganku. Kenapa saat teringat sama wajah Jingga membuatku merasa sangat dekat dengan anak itu. Padahal kan, Sebelumnya aku tidak pernah bertemu apalagi kenal dengan anak itu" ucap Darwin sambil menatap ke luar arah jendela di ruangan kerja nya.


Entah kenapa tiba-tiba saja Darwin teringat akan wajah Jingga. Wajah yang membuatnya teringat akan mendiang Sela, Istrinya.


Bayangan wajah Jingga melintas begitu saja"Apa anak itu sudah baik-baik saja. Kenapa rasanya hatiku sakit saat melihatnya terbaring lemah seperti itu. Ada apa dengan ku sebenarnya" ucap Darwin lagi.


Tak berselang lama, Ada sebuah panggilan masuk yang ternyata dari resepsionis perusahaannya.


📲:Ada apa?


📲:Maaf, Pak. Ini ada pak Erlangga. Katanya ada urusan penting pada bapak


📲:Biarkan dia masuk.


Setelah mengatakan hal itu, Darwin langsung memutuskan sambungan telponnya. Mendengar nama Erlangga membuat Darwin mengepalkan kuat kedua tangannya. Ternyata selama ini dirinya sudah salah dalam membalas dendam. Karna kesalahan itu, Darwin sampai harus membiarkan saudara sepupunya sendiri kehilangan nyawa karna ulahnya satu tahun yang lalu.


"Kurang ajar! Jadi selama ini yang sudah menghancurkan hidupku adalah orang yang paling aku percaya. Aku bersumpah, Erlangga akan merasakan apa yang sudah dia perbuat. Karna dia, Tanpa sengaja aku melenyapkan saudaraku sendiri" ucap Darwin sambil mengepalkan kuat kedua tangannya.

__ADS_1


"Jika Erlangga menjadi musuh dalam selimut, Maka saya juga bisa menjadi duri di dalam daging. Kita tunggu saja tanggal mainnya, Erlangga" ucap Darwin lagi.


Perkataan Langit masih bisa terngiang jelas pada Indra pendengarannya.


Dasar Bodoh. Tidak bisa membedakan mana Kawan mana Lawan.


"Aku terlalu percaya sama orang yang sudah ku pikir menjadi partner terbaik. Ternyata dia tak jauh dengan ular yang sangat berbisa"


Kecewa sudah pasti iya. Orang kepercayaannya ternyata adalah dalang dari semua hal yang sudah membuatnya hampir kehilangan segalanya.


Tak berselang lama. Darwin bisa mendengar ada suara langkah kaki dan mengetuk pintu ruangan kerjanya. Siapa lagi kalau bukan si penghianat.


Tok ....tok....tok ....


"Masuk" ucap Darwin yang mencoba bersikap biasa saja. Mencoba tidak tau apa yang sudah dia ketahui tentang Erlangga.


"Selamat pagi partner ku" ucap Erlangga sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Siang juga partner terbaikku" balas Darwin sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


Sepertinya orang ini memang cukup membahayakan. Kenapa aku baru menyadari akan hal itu. Astaga, Jadi selama ini aku sudah bekerja sama dengan manusi bertopeng yang sangat ahli dalam memainkan perannya.


Darwin bermonolog sambil menatap Erlangga dengan kedua tangan mengepal kuat.


****


"Ayah. Katakan, Siapa ayah kandung Jingga. Bukan kah tadi ayah tidak sempat mengatakan karna kedatangan dokter Dik" ucap Jingga sambil menoleh pada Alwxander.


Mendengar itu membuat Alexander terdiam. Hatinya terasa sangat sakit saat teringat akan fakta jika ternyata Jingga bukan lah anak kandungnya.


"Ayah kenapa diam saja?" tanya Jingga lagi


Alexander mengambil nafas panjang, Pria paruh baya itu berjalan mendekat pada Jingga serta langsung memeluk erat Jingga. Dadanya terasa sangat sesak. Seakan pasokan oksigen itu sulit untuk sekedar masuk pada paru-parunya...


"Kamu anak ayah, Sayang. Selamanya akan selalu menjadi anak ayah. Kamu hidup dan mati ayah. Kamu segalanya Jingga" ucap Alexander sambil mencium pucuk kepala Jingga.

__ADS_1


"Jingga tau, Ayah. Tapi Jingga hanya ingin tau siapa ayah kandung Jingga yang sebenarnya?" tanya Jingga lagi.


"Dia adalah"


__ADS_2