
📲:Ngapain di rumah sakit, Kak? Memangnya ada sesuatu hal yang terjadi sama papa?
📲:Ini bukan soal papa, Sayang. Tapi Toni
📲:Toni? Memang nya ada apa dengan Toni, Kak?
📲:Toni meninggal, Sayang
📲:Hah! Jangan bercanda, Kak
📲:Aku gak bercanda, Sayang. Toni memang meninggal
📲:Inalillahi
📲:Sudah dulu ya, Sayang. Ini jenazah Toni sudah mau di bawa pulang
Setelah itu, Sambungan telponnya terputus. Jingga masih terdiam, Terpaku sambil terus menatap layar ponselnya.
"G a k mungkin" ucapnya yang terdengar lirih.
Alexander yang sejak tadi menatap Jingga tentu saja merasa penasaran, Apa yang sebenarnya terjadi. Siapa yang meninggal.
"Ada apa, Sayang? Siapa yang meninggal?" tanya Alexander pada Jingga.
Jingga masih terdiam, Tiba-tiba saja bayangan Toni melintas begitu saja. "Sayang, Siapa yang meninggal?" tanya Alexander lagi.
"Toni, Ayah. Toni meninggal" ucap Jingga pada Alexander.
"Toni, Toni yang sudah pernah menolong kamu bukan?" tanya Alexander sambil menatap Jingga.
"Iya, Ayah. Toni yang waktu itu pernah menolongku"
"Innalillahi, Meninggal karna apa, Sayang?" tanya Toni
"Jingga juga tidak tau, Ayah. Karna kak Langit belum sempat mengatakan apa-apa pada Jingga"
__ADS_1
Di Tempat Lain
"Dari mana kamu Yuna?" tanya Darwin pada Yuna yang baru saja pulang ke rumahnya.
Mendengar suara Daddy nya membuat Yuna tertegun, Karna dia pikir daddy nya tidak ada di rumah. Karna memang Erlangga sempat mengatakan jika malam ini Darwin ada pekerjaan penting yang akan membuat nya lembur hingga pagi.
"D.. Daddy kok sudah ada di rumah? Kapan Daddy pulang? " tanya Yuna sambil terbata.
Melihat keberadaan Daddy nya di rumah membuat wajah Yuna tegang. Pasalnya dia baru saja melakukan hal kriminal bersama dengan seseorang. Karna acara makan malam bersama dengan Langit gagal begitu saja. Membuat Yuna yang kesal langsung mengiyakan ajakan Erlangga untuk melenyapkan Toni. Sosok yang menurutnya cukup membahayakan hidupnya. Karna Toni mengetahui satu hal rahasia besar Yuna.
"Daddy tanya, Kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang? " tanya Darwin lagi.
Mendengar pertanyaan itu membuat Yuna terdiam, Masih bingung dengan jawaban yang tepat untuk dia berikan pada Daddy nya.
"Kenapa diam saja, Yuna?" tanya Darwin sambil menatap Yuna yang sudah terpaku di tempatnya.
"Yu... Yuna tadi habis jalan-jalan aja kok Dad. Iya Yuna habis jalan-jalan. Kalau begitu Yuna ke kamar dulu ya Dad, Mau istirahat" ucap Yuna dan langsung berlalu dari hadapan Darwin.
Hal itu membuat Darwin menatap curiga pada wanita itu. Karna tidak biasanya putri semata wayang nya bertingkah aneh seperti malam ini.
"Ada apa dengan anak itu" ucapnya sambil menatap punggung Yuna yang sudah naik ke lantai atas.
"Galvin, Sini sebentar" ucap Darwin pada Galvin.
"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Galvin sambil berjalan mendekat pada Darwin.
"Saya mau kamu mencari tau apa yang sudah Yuna lakukan malam ini" ucap Darwin sambil menatap Galvin.
Galvin yang mendengar itu seketika menjadi pucat, Pasalnya dia tau apa yang sudah di lakukan oleh Yuna malam ini. Ingatan Galvin kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu.
Flashback
*Galvin mengerutkan keningnya saat tak sengaja mendengar Yuna melakukan panggilan telpon dengan seseorang. Melihat Yuna keluar dari rumah dengan tingkah aneh membuat pria itu memutuskan untuk mengikuti Yuna.
"Mau kemana anak itu" ucapnya sambil menatap Yuna yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Setelah memastikan Yuna melajukan mobilnya, Galvin pun ikut masuk dan melajukan mobil yang sudah di berikan oleh Darwin. Hingga wanita itu berhenti di salah satu tempat yang cukup sepi, Gelap dan jauh dari jalan raya.
Melihat Yuna berhenti di sana membuat Galvin semakin merasa penasaran "Mau apa wanita itu di tempat seperti ini malam-malam" ucapnya sambil terus memperhatikan Yuna dari arah yang cukup jauh.
Tak berselang lama, Galvin mendengar suara mesin motor berhenti di sana"Siapa pria itu" ucap Galvin sambil terus memperhatikan Yuna.
"Astaga, Apa yang sedang mereka lakukan. Kenapa orang itu tiba-tiba saja menyerang nya" ucap Galvin saat melihat sosok yang baru saja datang di serang oleh orang yang wajahnya sangat familiar untuk nya.
"Erlangga, Dia kan partnernya tuan Darwin. Kenapa dia menyerang orang itu, Dan kenapa Yuna hanya diam saja" ucap Galvin lagi.
"Astaga, Orang itu bisa mati" ucap Galvin lagi sambil terus memperhatikan dari arah kejauhan.
"Yuna, Kenapa dia malah ikut beraksi. Ada apa sebenarnya? Apa masalah mereka" ucap Galvin sambil terus memperhatikan. Karna mau melakukan sesuatu rasanya tidak mungkin, Melihat si sana ada beberapa orang bertubuh besar.
"Ya allah, Kasian sekali orang itu" ucapnya yang hanya bisa menjadi saksi. Kemudian Galvin mengambil ponselnya dan merekam apa yang saat ini sedang terjadi di depan matanya.
30 menit kemudian, Semua orang itu sudah pergi dari sana, Termasuk juga Yuna yang sudah kembali melajukan mobilnya. Saat sudah memastikan jika di sana tidak ada siapa-siapa, Galvin turun dari dalam mobilnya dan menghampiri Toni yang sudah tak berdaya.
"Bertahan lah, Saya akan membawamu ke rumah sakit" ucap Galvin pada Toni.
"Tunggu, Sebelum aku pergi, Aku hanya mau kamu mengirimkan barang-barang milikku pada markas teman-temanku" ucap Toni
Galvin mengerutkan kecil keningnya "Markas?" ucapnya.
Toni tak langsung menjawab, Pria itu mengeluarkan ponselnya dan mengambil sebuah rekaman. Setelah selesai, Toni meminta Galvin untuk mengirimkan barang-barangnya dalam bentuk paket ke alamat yang sudah dia kirim.
"Tolong kirimkan barang-barang ini ke alamat yang sudah aku tulis. Pergi dari sini sebelum mereka kembali" ucap Toni pada Galvin.
"Tapi, Kamu harus segera di bawa ke rumah sakit. Semua luka ini harus segera mendapatkan penanganan" ucap Galvin panik.
"Tidak perlu, Mungkin ini memang sudah saatnya aku pergi. Sama satu lagi, Aku titip kalung ini, Tolong berikan pada gadis yang sangat aku sayang. Namanya Jingga, Dia sekolah di SMA NUSA BANGSA. Katakan, Aku mencintainya, Aku rela mengorbankan nyawaku demi dia" ucap Toni dan langsung tak bernafas lagi*.
"Galvin, Kenapa kamu malah diam saja"
Suara itu berhasil menyadarkan Galvin dari kejadian beberapa saat yang lalu. "Itu kah yang di namakan rela berkorban demi cinta" ucap Galvin dalam batinnya.
__ADS_1
"Galvin, Kamu kenapa? Kok malah bengong. Kamu dengar saya kan?" tanya Darwin pada Galvin.
"Iy.... iya tuan, Saya dengar"