
"Siapa orangnya?" tanya Alexander yang terlihat begitu penasaran.
"Atmajaya" jawab Sandi sambil menatap Alexander.
Alexander terdiam sejenak. Mencoba mengingat nama yang gak begitu asing pada indra pendengarannya."Atmajaya? Nama itu seperti familiar. Tapi saya tidak bisa mengingat siapa dia" balasnya.
"Anda memang mengenalnya, Tuan. Karna dia adalah saudara dari Ayudia, Mamanya Langit" terang Sandi lagi.
"Jadi maksud anda, Yang menjadi saksi mata atas pembunuhan Sela adalah saudara Ayudia?"
"Benar, Tuan. Tapi tuan Atmajaya memilih untuk tidak ikut campur dalam masalah itu. Hanya saja setelah kematian Ayudia, Tuan Atmaja sedang mencari partner untuk melawan Erlangga dan juga Darwin yang sudah menghilangkan nyawa saudara satu-satunya yang dia miliki"
Mendengar perkataan Sandi membuat Alexander terkejut, Pasalnya Sandi memang belum mengatakan jika dalang dari insiden yang menimpa Pratama dan juga istrinya adalah ulah Darwin.
"Sebentar, Anda bilang Darwin yang sudah menghilangkan nyawa Ayudia? Maksudnya bagaimana? Saya tidak terlalu paham"
"Iya, Tuan. Darwin yang sudah menyebabkan mobil kedua orang tua Langit kecelakaan satu tahun yang lalu. Tuan Atmajaya sempat memiliki rekaman cctv di mana Darwin sudah menyabotase mobil yang waktu itu mereka gunakan. Tapi entah kenapa saat tuan Atmajaya mau melaporkan kejadian itu pada pihak yang berwajib, Rekaman itu tiba-tiba saja hilang"
"Atas dasar apa Darwin melakukan semua itu?"
"Atas dasar dendam. Karna Darwin masih mengira jika yang membunuh istrinya adalah, Pratama. Bukan hanya itu, Darwin juga mengira jika Pratama yang sudah mengambil 80% uang perusahaan miliknya. Karna kebetulan, Saat itu ada kas keluar atas nama Pratama. Sehingga membuat perusahaan Darwin hampir bangkrut. " terang Sandi.
"Apa! Tapi bukan Pratama yang benar-benar melakukan itu kan?"
"Tentu saja bukan, Tuan. Semua itu adalah ulah Erlangga, Partner kepercayaan Darwin sendiri. Di sini tuan Pratama hanyalah korban atas kelakuan Erlangga"
"Astaga, Kenapa saya baru tau. Kenapa anda bisa menyelidiki sampai kesitu?, Bukan kah saya hanya meminta anda untuk menyelidiki kematian Sela" tanya Alexander sambil menatap Sandi.
"Karna saya ingin semua nya tuntas, Tuan. Semua kejadian itu kan ada sangkut pautnya. Dan dalang dari semuanya adalah satu orang, Yaitu Erlangga"
"Buatkan janji temu antara saya dengan Atmajaya. Sepertinya ini adalah saatnya untuk membalas dua orang tak tau diri itu. Dan ini juga sudah saat nya Darwin tau siapa musuhnya yang sebenarnya"
"Baik, Tuan. Tapi untuk saat ini tuan Atmajaya sedang ada di paris. Biasanya dia akan datang ke indonesia setiap akhir bulan"
__ADS_1
"Baiklah. Saya akan menunggu"
Setelah itu, Sandi keluar dari mansion Alexander. Sedangkan Alexander mengambil ponselnya dan menghubungi Langit untuk mengatakan apa yang sudah dia ketahui.
"Mungkin sebaiknya Langit dan Samudra tau akan hal ini" ucapnya sambil menghubungi nomor ponsel Langit.
📲:Iya halo, Ayah. Ada apa ayah telpon Langit?
📲:Kamu sedang di mana boy? Nanti malam bisa ke rumah ayah?
📲:Langit lagi di jalan mau ke rumah sakit, Yah. Ada apa memangnya yah? Insyaallah nanti setelah dari rumah sakit Langit akan langsung ke sana.
📲:Kamu sudah tau jika tadi siang papamu sempat alfal?
Perkataan Alexander membuat Langit terdiam, Pasalnya dia tidak tau apa yang sudah terjadi dengan papanya hari ini.
📲:Apa yah, Papa sempat alfal?
📲:Tidak, Ayah. Kalau begitu Langit tutup dulu telfonnya ya.
Langit memutuskan sambungan telponnya. Pria itu menatap layar ponselnya yang menunjukkan ada beberapa panggilan tak terjawab dari Samudra dan juga suster Hera.
"Astaga, Ternyata ada banyak Miss call dari suster Hera dan juga Samudra" ujar Langit yang semakin mempercepat laju mobilnya.
"Ada apa, Kak? Apa yang terjadi?"
"Papa sempat anfal sayang"
"Lalu bagaimana keadaan papa sekarang, Kak?"
"Entah, Ayah tadi tidak bilang bagaimana keadaan papa saat ini. Aku sangat menghawatirkan papa"
"Pelan-pelan, Kak"
__ADS_1
****
"Pulang yuk mak Lampir, Gue capek dari tadi keliling-keliling mulu. Memangnya kaki lho masih kuat?" titah Rey sambil menghentikan langkahnya. Kakinya terasa cukup pegal setelah mengikuti Sisil yang hanya keliling-keliling tidak jelas di dalam mall.
"Gitu aja sudah bilang capek. Baru juga satu jam kita keliling-keliling sudah capek aja. Kayak jompo aja lho Jelangkung"ucap Sisil sambil mengulum bibir.
"Ayo pulang elah, Kaki gue udah berasa mau copot ini. Lagian lho dari tadi keliling mau beli apaan sih, Gak ada tujuan yang bener. Heran"
"Gak usah banyak bacot. Kalau lho udah merasa capek dan mau pulang, Ya sudah pulang saja sana. Tapi siap-siap semua fasilitas yang lho miliki saat ini di sita oleh tante Mariana. Liat tuh, Orang suruhan tante Mariana masih setia mantau kita" ucap Sisil sambil menoleh pada Rey yang sudah terlihat sangat kesal.
"Argghh ngeselin banget sih lho mak Lampir"
Melihat Rey seperti itu membuat Sisil ingin tertawa. Wajahnya benar-benar terlihat sangat lucu dan membuatnya merasa terhibur sejenak.
"Mau kemana lagi?" tanya Rey saat Sisil kembali melangkahkan kakinya.
"Mau makan, Laper gue. Pengen cobain dessert di sini"
Di saat Sisil dan Rey sedang menuju Restoran yang ada di mall itu, Tiba-tiba saja Rey kembali melihat Khanza bersama dengan seorang om-om. Namun sudah beda orang, Bukan orang yang dia lihat siang tadi.
"Khanza, Sama siapa lagi dia" ucap Rey sambil menatap Khanza yang sedang bergelayut manja pada sosok om-om itu.
"Sebenarnya Khanza adalah seorang sugar baby. Dia akan mencari pria kaya yang bisa di jadikan Sugar daddy nya. Menjadi atm berjalan yang bisa memberikan apapun yang Khanza mau" ucap Sisil tiba-tiba.
Mendengar Sisil berkata seperti itu membuat Rey merasa tidak suka"Jangan pernah mengatakan yang tidak-tidak tentang Khanza. Karna mau bagaimanapun dia, Dia tidak seperti yang lho katakan. Khanza itu wanita baik-baik yang tentunya lebih baik dari pada lho!" sentak Rey sambil menunjuk pada Sisil.
"Lho bentak gue! Jahat lho Rey, Padahal sudah jelas-jelas khanza tak sebaik yang lho pikir. Jangan jadi bodoh hanya karna cinta. Semoga lho tidak akan pernah menyesal setelah tau siapa Khanza sebenarnya!"
Setelah mengatakan hal itu, Sisil langsung berlalu meninggalkan Rey yang masih terdiam di sana. Entah kenapa bentakan Rey terasa begitu melukai perasaannya. Hati Sisil terasa begitu nyeri saat mendengar suara Rey dengan nada tingginya.
"Gue benci sama lho, Rey. Bagaimanapun caranya, Gue gak mau jika lho yang menjadi calon suami gue" ucap Sisil sambil naik ke dalam taksi.
Tanpa terasa air matanya meluruh, Entah kenapa bentakan Rey terasa begitu menyakitkan.
__ADS_1