
"Gue sangat merindukan lho, Jingga. Apa masih mungkin gue memiliki kesempatan untuk bisa menghabiskan waktu bersama dengan lho seperti dulu. Mengulang hal-hal indah yang dulu sering kita lalui bersama" ucap Gibran lagi sambil terus menatap layar ponselnya.
Gibran memejamkan kedua matanya sejenak. Batin nya terasa pedih saat teringat akan hubungan Jingga dengan Langit. Hatinya pedih sepeti teriris.
"Kenapa aku baru menyadari perasaan ini di saat kamu sudah menjadi milik orang lain, Jingga. Kenapa rasanya begitu sakit saat mendengar jika kamu adalah milik Langit, Ketua geng motor the boys yang lebih segala-galanya dari aku" ucap Gibran lagi.
"Jadi lho mencintai Queen, King?" tanya salah satu anggota geng UKS pada Gibran.
"Heem. Tapi sayang gue menyadarinya di saat yang tidak tepat. Mungkin sudah tidak ada kesempatan untuk gue bisa memiliki Jingga. Karna saat ini, Jingga sudah menjadi milik pria lain" balas Gibran sendu.
"Sabar, King. Jika memang kalian berjodoh, Suatu saat nanti pasti akan ada jalan untuk menyatukan kalian. Tapi kalau memang sudah bukan jodoh, Mau bagaimana lagi. Lho harus bisa ikhlas dan move on dari Queen, King" ucapnya lagi sambil menepuk pundak Gibran.
"Gue ikhlas asal Jingga bahagia. Karna yang terpenting buat gue adalah melihatnya tersenyum bahagia. Itu sudah lebih dari cukup"
****
"Kalian berdua itu kenapa sih. Gak dimana-mana kerjaannya debat mulu. Pusing pala baby" ucap Doni setelah keluar dari dalam bioskop dan menemui Sisil serta Rey yang masih duduk di kursi panjang di sana.
"Ini semua gara-gara lho sih, Rey. Karna lho, Gue sampai harus di geret dari dalam bioskop. Benar-benar memalukan"
"Lah, Kenapa lho malah nyalahin gue mak Lampir. Itu semua salah lho sendiri kali. Makanya kalau jadi cewek itu harus di setel kalem, Jangan terlalu bar bar"
"Terserah gue dong. Mulut-mulut gue. Dasar menyebalkan"
"Stoooppp. Pusing kepala gue liatin lho berdua debat mulu. Jangan terlalu benci. Hati-hari, Karna antara cinta dan benci itu beda tipis. Ayo sayang, Lebih baik kita jalan ke mall, Dari pada di sini hanya menyaksikan mereka berdebat hanya karna hal yang tidak jelas" ujar Langit sambil menarik tangan Jingga.
Tanpa Langit sadari, Ternyata sejak dirinya dan Jingga keluar dari mansion, Sudah ada seseorang yang mengikuti mereka. Siapa lagi kalau bukan Devano.
__ADS_1
Diam-diam Devano memang mengikuti mereka dan ikut masuk ke dalam bioskop itu. Menjadi penguntit atas permintaan kakek Abimana.
"Aduh mau kemana lagi mereka. Rasanya capek juga menjadi penguntit seperti ini. Kakek ada-ada saja, Bagaimana Bisa meminta gue untuk mengikuti orang yang lagi pacaran. Ahhh, Mimpi apa aku semalam" ucap Devano sambil melajukan mobilnya mengikuti mobil Langit yang sudah melesat jauh dari gedung Bioskop.
"Lagian apa alasan kakek mau memisahkan Langit dan Jingga, Kenapa tidak membiarkan mereka hidup bahagia saja. Dan biarkan aku sekolah dengan tenang di sekolahku" ucap Devano kesal.
Aku terus melajukan mobilku mengejar mobil Langit yang sudah kian menjauh. Aduuh, Ada-ada saja si kakek meminta aku untuk menjadi seorang penguntit. Terlebih lagi yang harus aku pantau adalah Langit dengan istrinya.
Aku terus mengikuti mobil mereka, Hingga mobil itu tiba di salah satu plaza atau lebih tepatnya pusat pembelanjaan. Mereka berdua keluar dari dalam mobilnya, Aku pun hanya bisa mengekor dari arah kejauhan. Menjadi sosok yang sangat menyedihkan. Biasanya kalau hari Weekend seperti ini aku menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman ku. Saat ini malah menjadi seorang penguntit. Astaga, Menyedihkan sekali hidupku.
Aku memang sengaja mengikuti mereka dari arah kejauhan, Kurang lebih jaraknya sekitar 7 meter dari jarak mereka.
Untuk saat ini aku menggunakan sebuah celana pendek selutut serta hoodie warna hitam dan kacamata hitam yang tak pernah aku lupakan. Berjalan dengan gaya coll ku. Menjadi penguntit sekaligus mencari calon ayank. Biasanya kalau hari weekend di tempat seperti ini kan akan ada banyak ciwi-ciwi yang sedang healing.
Aku mengikuti Langit sambil mengambil sebuah rekaman Video untuk aku setorkan pada kakek. Namun saat aku sedang fokus mengambil sebuah video, Tanpa sengaja kamera ku mengarah pada sosok orang yang tidak terlalu asing untuk ku.
"Bang Revan" panggil ku sambil berjalan mendekat pada sosok itu.Aku sampai melupakan apa tujuan ku datang kesini. Tapi yang pasti, aku merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan sosok itu lagi.
Bang Revan menoleh ke arahku. Dia terlihat sedikit bingung saat melihat keberadaan ku di tempat ini. "Bagaimana kabarmu Bang?" tanyaku setelah tiba di hadapannya.
Bang Revan masih diam terpaku di tempat sambil terus menatap ku. Mungkin dia sedang berusaha mengingat siapa aku. Secara kita sudah lama tidak pernah bertemu. Bertukar kabar pun sudah tidak pernah lagi. Namun aku masih mengingat jelas dengan wajah bang Revan. Biarpun terakhir kita bertemu sekitar 7 tahun yang lalu. Tepatnya saat aku masih berumur 10 tahun.
"Siapa ya, Lho kenap gue?" tanya nya yang ternyata benar-benar lupa sama aku. Wajar sih, Secara kan dulu aku masih dekil, Kucel, Jelek. Beda dengan saat ini yang sudah bisa di bilang good looking. Hahahahah, Pede banget ya.
"Ini gue bang, Devano" ujarku
"Devano siapa?" jawabnya.
__ADS_1
"Aku Devano kurniawan bang. Bocah kecil yang dulu sering abang katain jelek. Abang ingat kan?" ujarku lagi.
Bang Revan masih saja terdiam. Sepertinya dia sedang berusaha mengingat aku yang mungkin sudah benar-benar di lupakan.
"Devano yang dulu sering membuat nangis adik gue kan?"
Akhirnya setelah cukup lama terdiam. Bang Revan bisa mengingat ku lagi. aku mengangguk cepat"Iya, Bang. Bang Revan masih ingat kejadian 7 tahun yang lalu?" tanyaku penuh semangat.
"Hem. Gue masih sangat mengingat lho yang begitu menyebalkan. Kenapa lho bisa ada di sini?" tanya bang Revan sambil menatapku.
"Iya, Bang. Gue sekolah di sini. Oh iya, Bagaimana kabar Diandra bang?" tanyaku yang memang sangat merindukan sosok gadis kecil yang dulu sering nangis karna ulahku.
"Diandra? Diandra siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan adiknya bang Revan"
Bang Revan menipuk kepalaku pelan"Kebiasaan dari dulu manggil adik gue dengan sebutan Diandra. Diandra hanya nama belakang, Nama depannya JINGGA, J I N G G A"
Perkataan bang Revan membuatku terdiam untuk beberapa saat, Kenapa aku bisa lupa jika nama Jingga adalah nama depan Diandra, Teman kecilku yang dulu sering nangis karna ulahku.
Astaga, Jangan-jangan Jingga istrinya Langit adalah Jingga teman masa kecilku.
"Ah iya, Jingga. Bagaimana kabarnya, Bang?" tanyaku yang cukup penasaran dengan kabar gadis yang biasa aku panggil Diandra.
"Alhamdulilah kabarnya baik. Dia sekarang sudah ada pawang yang menurutku sangat menyayanginya. Namanya Langit. Sosok pria dingin namun begitu hangat dan menyayangi Jingga" ucapnya
Lagi-lagi perkataan bang Revan membuatku merasa sangat terkejut. Jadi wanita yang menjadi istri dari saudara sepupuku adalah teman masa kecilku. Wanita yang menjadi cinta pertamaku. Hanya saja cinta itu hadir saat aku masih begitu dini. Sehingga aku menganggap cinta yang sempat aku rasakan itu adalah cinta monyet.
__ADS_1